Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Setelah sampai di apartemen, mereka langsung memarkirkan motor masing-masing lalu naik ke unit tempat mereka tinggal sekarang. Sementara Rey mandi, Emily merapikan seluruh isi belanjaan yang tadi mereka beli di supermarket.
"Ih, ini si Rey gila apa ya beli kayak ginian? Ih, beneran gue kok ngelihatnya... Oh my God!" ucap Emily saat melihat beberapa permen warna-warni itu.
"Aaaah gue beneran mau iclik, ahh... Ngga, gue belum siap. Ahh si Rey modus emang, katanya gak mau nyentuh gue, tapi malah persiapan begini... Tanpa persetujuan gue lagi! Pea emang!"
Tak lama, Rey keluar hanya menggunakan kaos tipis dan juga celana boxer.
"Ngapain lo pakai baju begitu? Mau godain gue?" ucap Emily dengan tatapan heran.
"Lebih enak gak pakai baju, tapi, Ily. Apa gue telanjang aja, ya?" jawab Rey santai.
"Gila lo, Rey!"
"Serius, Ily. Ini kita gak mau malam pertamaan? Haaah?" goda Rey sambil mendekat.
"Reyy! Jangan gila!" Emily mundur, tapi Rey semakin mendekat.
Rey meraih Emily yang berdiri di dekat meja dapur, lalu tiba-tiba mengangkatnya duduk di atas meja. Tangannya menarik tengkuk Emily, menghisap bibirnya, mengecapnya dalam-dalam.
Cup… cup…
"Ahhh, Reyyy…" desah Emily, tubuhnya mulai melemah.
"Sttt... Diam. Bibir lo manis bikin candu," bisik Rey, napasnya berat.
Ciuman panas itu masih berlangsung. Emily sudah terdudukkan di meja dapur, sementara tangan Rey mulai liar masuk ke dalam piyama tipisnya.
Emily yang awalnya menolak, lama-lama ikut larut.menikmati bibir suami nya . Desahan halus keluar setiap kali Rey meremas dadanya.
"Ssstttt… ahhh Reyy, please jangan dulu..." pinta Emily dengan wajah merah.
"Kenapa sayang? Gue normal… si Joni pengen keluar," balas Rey sambil tersenyum miring.
"Taa… aaahhh… tapi gue belum… gue takut… ahhh Reyyy…" suara Emily bergetar, apalagi tangan Rey semakin nakal masuk ke bawah celananya.
"Ahhh Reyyy… ahhhhhh!"
"Main tangan dulu aja… atau main lidah. Kalo lo udah siap, baru gue masukin. Gimana?" bisik Rey di telinganya.
"Haaahh… iyaaa… ahhh… coba ajahhh…" Emily akhirnya menyerah.
"Iya, gue buat lo sampai keluar air mancur. Tapi lo juga harus bantu gue… tidurin si Joni sampai tidur ya," bisik Rey sambil menahan tawa nakal.
"Haaah… aaahhh… gue… gue gak bisa… gue gak pernah…" suara Emily bergetar lagi.
"Gak apa-apa sayang, gue ajarin. Ayo, kita pindah ke kamar," ajak Rey lembut.
Ciuman itu kembali membara. Emily yang masih digendong Rey, akhirnya dibawa masuk menuju kamar…
Rey merebahkan Emily di tempat tidur lalu membuka kancing piyamanya. Tangannya mengusap leher hingga ke dada, membuat Emily langsung merenggangkan badannya.
"Ahhh Reyyy… ahhh… heuuhhh… aaahhh… geli begooo… pelan, perih… ahhh…" rintih Emily saat Rey terus mengesapnya.
"Tahan sayang… ini belum apa-apa," ucap Rey lirih.
Rey terus membuat kismark di dada Emily.
"Reyy, please… jangan di leher… kelihatan bangetttt…" ucap Emily terengah.
"Oke, aku buat di dada aja yang banyak ya," jawab Rey.
"Ahhh Reyyy… pelan anjjj… ahhh!" Emily sudah tidak terkendali.
Setelah melepas semua pakaiannya, Rey membuka kaki Emily.
"Jangan dimasukin dulu, Rey…" pinta Emily.
"Nggak sayang, gue pakein jari dulu," ucap Rey lembut.
"Ahhh…" Emily kembali mendesah. "Ahhh Reyyy… ahhh… perihhh Reyyy… ahhh…"
"Sayang, ini baru pake dua jari," bisik Rey di telinganya.
"Ahhh Reyyy… ini rasanya… ahhh…" Emily terus mengerang, tubuhnya bergetar.
"Terus mendesah, sayang… ouh aku suka," timpal Rey, langsung mempercepat gerakan tangannya.
"Ahhh awsshhttt Reyyy… ahhh… stttttt Reyyy… ahhh!" jerit Emily, mencengkeram sprei.
Rey kembali membuka kaki Emily lebih lebar, lalu menciuminya di bawah.
"Ahhh Reyyy… ini rasanyaaa… ahhh!"
"Kenapa sayang? Hhaaah… enak, hmm?" ucap Rey sambil terus bermain.
"Heummm… ahhh Reyyy!" Tubuh Emily menggelinjang seolah turun naik, sementara Rey masih sibuk bermain dengan mulutnya di bawah tapi tangan nya masih setia di dada Emily , membuat Emily semakin mendesah naik turunkan badan nya, Rambut Rey dijambak kuat oleh Emily.
"Ahhh Reyyy… enakkk… ahhhhh… Reyyy pelan… tapi enak… ahhh…"
"Sayang, ayo terus mendesah… enak kan?" goda Rey.
"Ahhh iyaaa… enakkk… ahhh… aku nggak kuat… mau pipis, Reyyy!" jerit Emily sambil menahan diri.
"Ayoo pipis aja… itu bukan pipis," bisik Rey nakal, terus membuat Emily tak berdaya.
"Ahhh Reyyy… ahhh nggak kuatttt Reyyy… ahhhhhhhhhh… aaaahhhh… sttttttttthhh… heuuhhh!" teriak Emily, tubuhnya melemas, wajahnya basah oleh peluh.
"Ahhh Reyyy… gilaaaa…"
“Sayang, air mancurnya banyak banget…” desah Rey ,,
“Ahhh, Rey! Gila lo!” serunya sambil menepis pelan.
“Gila banget kan, sayang? Enak, hmm,” ucap Rey dengan senyum puas.
“Haaahhh… enak, tapi geli, Rey…” Emily masih terengah, napasnya tersengal.
“Duduk, sayang. Ayo, sekarang giliran aku,” bisik Rey di telinga Emily, membuatnya merinding.
“Haaahhh… gimana caranya, Rey? Gue nggak bisa…” lirih Emily ragu.
“Gue ajarin. Nih, pegang si Joni-nya,” ucap Rey sambil menuntun tangannya.
“Rey! Gila… gede banget!” mata Emily melebar kaget.
“Apa lagi kalau dimasukin… pasti enak banget,” Rey terkekeh kecil.
“Gamau!” jawab Emily cepat.
“Yaudah, sekarang buka mulut lo. Jilat pelan-pelan dulu… anggap aja ini ice cream langka.”
“Haaahhh… apa? Gpp, Rey? Gue geli…” Emily meringis, menatap ragu.
“Gpp sayang. Lo udah gue bikin enak kan? Sekarang giliran gue. Ayo…” bujuk Rey lembut.
Perlahan, Emily mencoba seperti yang Rey ajarkan. Di awal, ia sempat mual.
“Oueeehh…” Emily refleks menahan rasa eneg.
“Ga perlu jijik, Ily. Nanti juga lo ketagihan. Mimew lo aja udah gue obok-obok,” Rey terkekeh sambil mengelus kepalanya.
Akhirnya Emily mencoba lagi
“Ahhh… iya, bener sayang… pelan-pelan…” sahut Rey, suaranya berat.
“Gila lo, Rey… ngajarin gue sesat!” Emily mendesis, masih mencoba mengikuti.
“Kita udah nikah, sayang. Ga ada yang salah. Ahhh… Ilyyy… ahhh, enak, sayang. Terus! Mentokin di mulut terus! Ahhh… stttt… ahhh…” Rey mengerang sambil memejamkan mata.
Emily terus mengulum si Joni. Meski awalnya kaku, Rey terus mengajarinya agar rileks.
“Ahhh sayang… terus, sayang… ahhh stttt… lebih kenceng, Ily! Ahhh… ahhh!” Rey menahan desah.
“Reyy… ini udah lama… mulut gue keram… kenapa si Joni ga tidur juga?” keluh Emily sambil menarik napas.
“Dia emang kuat, Ily. Lo pernah menyepelekin dia kan? Nih, liat deh… di mulut aja tahan lama. Apalagi kalo di sarangnya.” Rey terkekeh.
“Mau nggak mau,” Emily akhirnya meneruskan, meski wajahnya memerah.
“Ahhh… iyaaa, ahhh Ily, sayang… aw! Jangan digigit bego… ahhh! Ahhhhhhhhhh!” Rey mengerang keras.
Akhirnya Emily sempat melepeh air mancur yang pecah di mulutnya.
“Oueeeh… gue mual, Rey!” Emily buru-buru menutup mulut.
“Telen sayang… telen dikit aja. Telen… ahhh… susah gue ngeluarinnya,” pinta Rey, suaranya terengah.
“Ahhh… oueeekk!” Emily kembali mual, lalu cepat-cepat menenggak air. “Ahhh, gila lo, Rey!”