NovelToon NovelToon
Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Ages Sabiru,Duda Kaya Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: R²_Chair

Sejak istrinya memilih pergi demi pria lain, hidup Ages Sabiru hanya memiliki satu tujuan yaitu membesarkan putra semata wayangnya, Kalandra Sabiru. Dengan kasih sayang yang tak pernah berkurang, Ages berusaha menjadi ayah sekaligus tempat pulang terbaik bagi anaknya.
Tahun demi tahun berlalu. Kalandra tumbuh menjadi remaja yang ceria, sementara Ages menjelma menjadi sosok ayah yang selalu mengutamakan putranya di atas segalanya. Di balik candaan, sarapan sederhana, dan perjalanan pulang bersama, tersimpan ikatan yang tak tergantikan.
Namun, ketika masa lalu yang telah lama mereka tinggalkan kembali muncul, hubungan ayah dan anak itu akan diuji. Mampukah cinta dan kepercayaan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun bertahan menghadapi kenyataan yang selama ini disembunyikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R²_Chair, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kala yang marah dan kesal

Suara bola yang memantul terdengar berulang kali di lapangan basket SMP Bintang Nusantara.

Kalandra menggiring bola dengan lincah dengan dua gerakan lalu ia melakukan lay-up dan berhasil memasukkan bola ke dalam ring.

"Masuk!"

Raka yang berdiri di pinggir lapangan langsung bersorak.

"Jelas masuk. Yang lempar gue." Kalandra menoleh.

"Tapi yang keren itu bolanya, bukan elo nya."

"Yang penting berasal dari tangan ajaib gue."

Jevan yang berada di dekat mereka hanya menggeleng. "Percaya diri lo ini memang nggak ada obat,Kal."

Raka tertawa sedangkan Kalandra hanya mengangkat bahunya.

Suasana latihan basket siang itu berlangsung seperti biasa.Sampai tiba-tiba suara seorang gadis terdengar dari arah pinggir lapangan.

"Kala!"

Kalandra yang baru saja mengambil bola menoleh.Seorang siswi berdiri di sana.Di belakangnya terdapat beberapa teman yang terlihat berbisik-bisik sambil menahan tawa.

Kalandra mengerutkan kening. "Kenapa?"

Gadis itu berjalan mendekat.Wajahnya terlihat tegang.

"Kalandra, aku mau ngomong sesuatu."

Kalandra memegang bola basket di tangannya. "Ngomong aja."

Gadis itu menarik napas dalam-dalam.

"Aku suka sama kamu."

Lapangan yang sebelumnya ramai langsung mendadak hening.

Kalandra terdiam sedangkan Raka dan Jevan saling menatap.

Di sekitar lapangan, beberapa siswa mulai berkumpul.

"Aku tahu kamu juga suka sama aku," lanjut gadis itu.

Kalandra mengerutkan keningnya,ia tak menyela dan masih memilih diam.

"Dan aku sudah lama menyimpan perasaan ini sama kamu,Kal."

Beberapa siswa mulai berbisik.

"Dia nembak Kalandra!"

"Serius?"

"Di tengah lapangan?"

Kalandra semakin merasa tidak nyaman.Ia melihat semakin banyak orang yang memperhatikan mereka.

Gadis itu kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil.

"Aku tahu mungkin ini mendadak, tapi apa kamu mau jadi pacar aku?"

Kalandra menghela napas. "Gue nggak bisa."

Gadis itu terdiam. "Kenapa?"

"Karena gue nggak suka."

Beberapa orang di sekitar mereka mulai berbisik.Kalandra sebenarnya tidak bermaksud mempermalukan gadis itu.Namun, situasi yang semakin ramai membuatnya semakin risih.

"Tapi gak apa-apa,aku cuma mau kamu tahu perasaanku."

"Ya udah,sekarang gue udah tau kan?"

Gadis itu menunduk."Kamu marah?"

Kalandra mengerutkan kening."Enggak."

"Terus kenapa kamu kelihatan marah?"

Kalandra menarik napas. "Karena gue nggak suka lo ngelakuin ini di depan semua orang."

Gadis itu terdiam sejenak."Tapi selama ini kamu selalu baik sama aku."

"Gue baik sama semua orang"

"Gak." Jawab gadis itu cepat."Baik kamu ke aku itu beda,Kala."

"Gue gak ngerasa gitu."

"Tapi aku yakin,kalau kamu juga suka sama aku."

"Apaan sih lo,gak jelas banget." Kala mulai kesal di buatnya.

"Maaf,kamu jangan marah."

Kalandra semakin merasa tertekan karena semua mata tertuju kepada mereka.

"Kalau mau ngomong, nggak perlu bikin satu sekolah ngumpul bisa kan?." Nada suaranya mulai meninggi.

"Aku cuma..."

"Udah!"

Kalandra akhirnya membentak. "Gue bilang gue nggak suka! Jadi jangan paksa gue!"

Lapangan langsung hening.Gadis itu terdiam.Matanya mulai berkaca-kaca.Kalandra sendiri baru menyadari bahwa suaranya terlalu keras.

Namun, semuanya sudah terlambat.

Air mata gadis itu jatuh.Ia langsung berbalik dan berlari meninggalkan lapangan.

Beberapa siswa mulai menatap Kalandra.

"Kal..."

Raka segera menghampirinya."Lu keterlaluan."

Kalandra mengusap wajahnya."Gue nggak bermaksud..."

"Tapi lu membentak dia."

"Gue risih!"

"Gue sama Raka juga tahu." Jevan ikut mendekat. "Tapi dia juga pasti malu."

Kalandra menghela napas kasar.

"Dan lo pikir gue gak malu?Gue risih,gue gak nyaman,kenapa harus di depan semua orang?"

"Ya karena mungkin dia berani di sini."

"Gue nggak minta dia kaya gini."

"Memang dia salah?"

Kalandra terdiam.

Jevan menatapnya. "Lu berhak nolak."

Kalandra menatapnya.

"Tapi cara lu menyampaikannya mungkin terlalu keras."

Kalandra menunduk,ia juga akui memang salah.Namun ia sudah memberi tahukan gadis itu,tapi nyatanya gadis itu masih tetap melakukannya.

Suasana lapangan yang semula ramai mulai kembali normal.

Namun, bisik-bisik siswa masih terdengar.

"Kasihan."

"Kalandra galak banget."

"Padahal cuma ditembak."

Kalandra mendengar semuanya.Dan itu membuatnya semakin kesal.

Raka kemudian menepuk bahunya."Udah.Jangan pikirin omongan mereka."

"Gue nggak peduli orang mau ngomong apa,lo pasti tau gue paling gak suka ada orang yang paksa gue ngelakuin hal yang gak gue suka sama sekali."

"I know,terus kalau nggak peduli, kenapa muka lo begitu?"

Kalandra langsung menatap Raka.

"Diem lo."

Jevan tersenyum tipis. "Lu sebenarnya merasa bersalah kan?."

Kalandra tidak menjawab.Ia hanya melihat ke arah gadis tadi pergi.Rasa kesalnya perlahan berkurang tergantikan rasa bersalah yang mulai muncul.

"Gue harus minta maaf?"

Raka mengangguk."Kalau menurut gue, iya."

Jevan juga mengangguk. "Lu nggak harus nerima perasaan dia ataupun jadi pacarnya dia."

Kalandra diam.

"Tapi lu bisa minta maaf karena sudah membentak."

Kalandra menghela napas."Kalau dia nolak?"

"Ya sudah."

"Kalau dia nangis lagi?"

"Ya jangan bikin nangis lagi."

Kalandra menatap Jevan. "Jawaban lo nggak ngebantu banget kampret."

Jevan tertawa.Raka kemudian menepuk bahunya.

"Ayo."

"Ke mana?"

"Cari dia."

Kalandra masih diam.Kemudian ia mengangguk.

Mereka bertiga berjalan meninggalkan lapangan.Sementara di belakang mereka, beberapa siswa masih membicarakan kejadian yang baru saja terjadi.

Hari itu, satu sekolah akhirnya mengetahui bahwa Kalandra Sabiru memang tampan,cerdas,populer,dan disukai banyak gadis.Namun, ternyata Kalandra Sabiru juga bisa menjadi sangat menyebalkan ketika sedang merasa tidak nyaman.

Kalandra harus belajar bahwa menolak seseorang tidak berarti harus menyakiti perasaannya.

Kalandra,Raka dan Jevan mencari gadis bernama Luna itu ke kelasnya namun sayang gadis itu tak ada.

Mereka kemudian pergi ke kantin setelah mengetahui keberadaan gadis itu.

Tiba di kantin,suasana begitu ramai.Mata ketiganya mengedar bebas mencari Luna.Dan tepan di tengah kantin gadis itu sedang duduk bersama teman-temannya.

"Ekhm."

Suara Kalandra terdengar berat membuat perhatian para penghuni kantin menoleh padanya.

"Kala."

Luna terkejut melihat kedatangan Kala bersama teman-temannya.Wajahnya yang sembab berubah berseri.

"Kala kamu nyari aku?" Tanya nya dengan penuh binar.

"Gue mau..."

Senyum Luna semakin merekah."Aku tau kamu pasti kesini buat bilang kalau kamu juga suka sama aku kan?"

Kalandra membeku,keningnya berkerut.Dia datang untuk minta maaf tapi gadis di depannya malah berasumsi lain,membuat mood Kala kembali berubah.

"Maksud lo?"

"Udah ya Kal,gak usah nyangkal lagi.Kamu pasti juga punya perasaan yang sama seperti aku." Celotehnya.

Raka dan Jevan sampai melongo mendengarnya,sungguh ajaib sekali kelakuan gadis kecil itu.

Perasaan keduanya berubah was-was,apalagi melihat raut wajah Kala yang tiba-tiba berubah.

"Jadi mulai sekarang kita pacaran ya,Kal." Putus Luna seenaknya membuat darah Kala kembali mendidih.

Luna berdiri dan bersiap menarik tangan Kala,namun secepat kilat Kala menghempaskannya.

Kala menatap tajam Luna. "Jaga sikap lo!"

"Gue datang kesini buat minta maaf karena udah bentak lo tadi,bukan dengerin omong kosong lo itu." bentak Kala.

"Tapi sekarang gue tarik kata maaf itu"

Suaranya masih meninggi dengan wajah merah padam.Ia sudah tak peduli lagi dengan pandangan orang-orang yang melihatnya.

Kala berbalik dan hendak pergi,namun sebelum melangkah suaranya kembali terdengar namun kali ini terdengar rendah dan penuh penekanan.

"Gue anggap gak pernah kenal sama lo."

Langkah Kala semakin menjauh di ikuti Raka dan Jevan.Luna terduduk lemas di kursi kantin,ia menatap punggung Kala yang semakin menjauh.Ada rasa sesal dan kecewa menyelimuti hatinya.Namun nasi sudah menjadi bubur,semua terjadi tanpa bisa ia kendalikan.

.......

.......

.......

...♡ Sabiru ♡...

1
Puji Hastuti
/Sob//Sob//Sob//Sob//Sob/
Puji Hastuti
kala sabar yaa
Puji Hastuti
ayo kala, bangun.
Nurgusnawati Nunung
seruuuu... ramai... saling menghargai yaaa
Nurgusnawati Nunung
Kalandra.. jadi sedih yaaa
Nurgusnawati Nunung
Ampun... se tengil itu namanya Kalandra. hahaha
Nurgusnawati Nunung
Mamanya Kalandra bakal hadir..
Nurgusnawati Nunung
hadir.. kompak ya papa sama anak..
Puji Hastuti
kala kamu harus kuat
Puji Hastuti
gue kecewa ama lu ages
Puji Hastuti
Nadia, kampret lu
Puji Hastuti
keluarga yang solid
Danny Muliawati
bagus cerita nya
Puji Hastuti
tapi up nya jangan lama lama
Puji Hastuti
sukaaaa AQ ceritanya kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!