Baca dulu "CALLIE SI BOCAH GENIUS"
Pergerakannya tidak bisa ditebak. Tingkahnya sangat random seperti remaja lainnya. Namun otaknya hampir 24 jam bekerja untuk membuat senjata dan sistem, meretas, dan melakukan eksperimen. Dunia bawah dan laboratorium khusus yang diwariskan padanya dari sang Opa, membuat gadis remaja itu tumbuh menjadi sosok yang cerdik. Dia adalah Callie Noura Eleanor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Trauma
Mama...
Papa...
Onty Callie, tolong.
Oma jahat sama Kai dan Mama,
Huaaaa...
Eh...
Saat tidur, Rachel terbangun setelah mendengar suara igauan dan tangisan yang keras. Semua itu berasal dari Kai yang tidur di sampingnya. Air mata mengalir padahal Kai masih memejamkan matanya. Hal itu membuat Rachel langsung menegakkan badannya dan menghapus air mata Kai yang masih mengalir. Rachel mencoba menenangkan Kai yang terus menggelengkan kepalanya. Seakan ada sesuatu yang ingin dibuang dalam ingatan bocah cilik itu.
"Kai, bangun." Rachel mencoba membangunkan Kai dengan menepuk pelan lengan dan pipinya.
"Tahu begini, mending kamu tinggal di sini aja sama Oma. Lagian juga Oma sendirian di rumah. Kalau ada kamu kan jadi ramai. Kenapa kamu malah tinggal sama Nenek peyot itu?" ucap Rachel sambil menghela nafasnya pelan.
"Rumah sepi, Kai. Callie dan Arthur udah nggak bisa diuyel-uyel lagi. Mereka sibuk," Bukannya segera membangunkan Kai, malah Rachel curhat tentang kondisi rumahnya yang sepi.
Callie dan Arthur jarang sekali pulang ke rumah siang atau sore hari. Pasti keduanya pulang malam, begitu juga dengan Lucky. Jika pun mereka pulang sore, pasti setelahnya langsung masuk kamar atau ruang kerja lagi. Rachel ingin pergi hang out dengan teman-temannya tapi mereka sibuk. Dia memang mempunyai butik, tapi sudah jarang datang. Dia lebih sering mengontrol semuanya dari rumah.
Mama...
Hah... Hah... Hah...
"Akhirnya kamu bangun juga," ternyata Kai langsung menegakkan badannya setelah berteriak memanggil Mamanya. Sepertinya Kai tengah bermimpi buruk.
"Untung nggak demam," Rachel memeriksa dahi dan badan Kai yang ternyata aman, tidak demam sama sekali.
"Mama Mika dan Papa Axel mana, Oma?" tanya Kai pada Rachel yang tengah mengambilkan minum untuknya.
"Minum dulu," Rachel kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Kai. Walaupun bukan keturunan asli dari keluarga Roberto, tapi Kai ini sangat cerdas menilai sesuatu. Dia tahu saat seseorang itu sedang bohong atau tidak.
Glek... Glek...
"Makasih, Oma."
"Sekalang jawab peltanyaan Kai," ucap Kai mengingatkan Rachel kembali setelah menghabiskan satu gelas air putih yang disodorkan kepadanya.
Rachel berulangkali menghela nafasnya pelan. Seperti ada sebuah beban berat dalam pundaknya saat ingin mengatakan sesuatu. Kai menatap mata Rachel dengan tatapan menuntut jawaban. Rachel membawa Kai duduk dalam pangkuannya dan berhadapan dengannya. Kedua telapak tangan Rachel berada pada pipi Kai sambil sedikit mengusapnya dengan lembut.
"Mama dan Papa Kai sekarang sedang ada di rumah sakit sama Onty Callie," ucap Rachel sambil tersenyum.
"Masa? Onty Callie aja tadi bilangnya mau tidul kok," ucap Kai dengan tatapan menyelidik.
"Oma nggak bohong," Rachel mengambil ponselnya di atas nakas kemudian memperlihatkan pesan dari Lucky.
"Nih... Opa tuh ijin sama Oma pergi sama Onty Callie mau bawa Mama dan Papa Kai ke rumah sakit," ucap Rachel yang membuktikan ucapannya.
Mata Kai menyipit, mencoba membaca pesan dari Lucky pada layar ponsel Rachel. Omanya ini memang sangat menyebalkan. Padahal tahu kalau Kai belum terlalu lancar dalam membaca. Akhirnya Kai hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Biar lah Omanya pikir bahwa dia sudah bisa membaca pesan itu. Lucky memang mengirimkan pesan pada Rachel bahwa Mika dan Axel sudah ditemukan. Mereka ada di rumah sakit dengan ditemani oleh Callie dan pengawal. Namun Rachel baru membukanya saat tadi mendengar pertanyaan dari Kai. Sehingga dia bisa berucap santai padahal tadi sudah bingung akan membuat alasan apa.
"Ayo susul ke lumah sakit, Oma. Kai mau beltemu Mama dan Papa. Pasti meleka lindu belat sama Kai," ucap Kai dengan yakin.
"Besok siang aja. Sekarang masih jam 2 pagi. Oma mengantuk," ucap Rachel yang kemudian membawa Kai berbaring di atas kasur.
"Kebulu lin..."
"Mama dan Papa Kai masih tidur jam segini. Istirahat biar segera sembuh," sela Rachel yang kemudian berbaring di samping Kai.
"Lagian lebih berat nggak punya duit daripada rindu, Kai." lanjutnya sambil memeluk Kai dengan erat.
Oma Achel pasti cuma alasan doang. Pasti ada yang disembunyikan sama Oma,
***
Sedangkan di rumah sakit, keadaan begitu menegangkan. Operasi sudah berjalan 2 jam hingga membuat Callie dan Lucky khawatir. Walaupun sudah dibantu dengan cairan buatan Callie dan Ronand, ternyata sudah ada penggumpalan darah pada kepala. Pasalnya mereka baru ditemukan setelah 4 jam kejadian kecelakaan.
"Uncle Onand lama sekali lho ini, Papa. Butuh bantuan Callie ini kayanya," ucap Callie yang langsung berdiri dan mencoba mengintip di balik pintu kaca ruang operasi.
"Nggak, Uncle-mu nggak butuh bantuan Callie. Kalau kamu masuk ke dalam, yang ada bisa sobek semua itu kepala Mika dan Axel." ucap Lucky sambil bergidik ngeri.
"Papa ngawur kali. Mana ada begitu," Callie menatap sinis pada Papanya yang terdengar meremehkan dirinya.
"Ya bisa aja. Kamu kan bukan seorang dokter, Callie." ucap Lucky membela diri.
Lucky rasanya sangat kesal menghadapi Callie yang tidak sabaran. Sama persis dengan Julian yang main asal ingin cepat selesai. Padahal semua harus melalui prosedur tertentu. Walaupun memang menunggu orang yang kita sayangi sedang berjuang di ruang operasi itu, waktu pasti akan berjalan begitu lambat. Apalagi tadi sempat mendengar obrolan perawat tentang cairan milik Ronand dan Callie hanya berpengaruh 80 persen saja. Hal itu membuat Callie sedikit khawatir dengan keadaan Mika dan Axel.
"Callie emang bukan dokter, tapi bisa menyembuhkan segala penyakit. Contohnya orang yang punya penyakit hati, Callie tembak dor dor dor. Hilang semua deh itu penyakitnya," ucap Callie sambil memeragakan bagaimana dia sedang menembak.
"Itu namanya membu..."
"Membuatku merasakan, indahnya jatuh cinta. Indahnya dicin..."
Hmph...
"Malah nyanyi. Udah tahu suaranya kaya bunyi kaleng dipukul begitu, bikin pasien rumah sakit terganggu." Lucky segera saja membekap bibir Callie dengan telapak tangannya.
Bertingkah konyol adalah trik dari Callie untuk menghilangkan rasa khawatir dan paniknya. Entah mengapa bayangan Opanya yang tak terselamatkan saat ini menghantuinya. Walaupun dulu dia masih kecil saat Papa Fabio tiada, tapi Callie masih teringat. Terutama saat Opanya itu meninggal dan melambaikan tangan ke arahnya. Callie pun waktu itu tampak biasa saja, raut wajah sedih seadanya. Namun tanpa keluarganya tahu, Callie menyimpan rasa trauma akan perpisahan dan sakit tiba-tiba begini.
Ceklek...
"Uncle Onand, gimana keadaan plastik Mika dan Kak Axel? Baik-baik aja kan? Ndak insomnia kan? Ndak..."
Hmph...
"Ngomong terus. Tunggu Unclemu menjelaskan. Lagi apa pula itu insomnia. Amnesia kali," Lucky lagi-lagi harus membuat Callie bungkam setelah tadi sempat melepaskan bekapannya.
Saat ini...
Uncle, diam dulu. Ada orang yang tengah memata-matai kita,
Deg...