Pernikahan mewah Rowan Vale-Knight dan Cathez hampa tanpa kehadiran buah hati.
Terobsesi pada kebebasan, Cathez terus menolak hamil hingga melontarkan tantangan gila: mengizinkan Rowan mencari wanita lain untuk melahirkan keturunannya.
Dikuasai rasa dikhianati, Rowan menerima tantangan tersebut.
Di malam yang sama, takdir mempertemukannya dengan Rossi Widmer—gadis terbuang yang nekat melompati mobil Rowan demi melarikan diri dari jebakan penjualan diri oleh ayahnya sendiri.
Terdesak ancaman bahaya dan pengaruh obat perangsang, penyatuan tak terduga terjadi di antara mereka.
Rowan yang terkesan oleh kemurnian Rossi memboyong gadis itu dalam pernikahan sah demi mendapatkan anak, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Rossi sebenarnya adalah adik kandung Istrinya yang diasingkan sejak kecil.
Di antara keputusasaan, perlindungan tulus, dan intrik masa lalu yang membayangi, akankah benih cinta sejati tumbuh di tengah hubungan transaksi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Jarum jam di dinding menunjukkan pukul tiga lebih empat puluh lima menit sore ketika sebuah sedan hitam berjangka panjang berhenti halus di pelataran samping gedung catatan sipil.
Suasana di luar tampak mendung, dihiasi rintik hujan tipis yang membasahi kaca jendela mobil, menciptakan garis-garis air yang meluncur turun bagaikan jejak air mata.
Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat.
Rowan duduk di balik kemudi, kembali mengenakan setelan jas hitamnya yang rapi, meski tanpa dasi. Garis rahangnya tegas, dan pandangannya lurus menatap bangunan bercat krem di hadapannya.
Di sampingnya, Rossi duduk mencengkeram tali gaun kasual berwarna krem pucat yang baru saja dibelikan Rowan beberapa jam lalu. Gaun sederhana itu menutup rapi bekas-bekas kehangatan intens yang baru saja membakar tubuh mereka di dapur penthouse.
"Kau siap?" suara Rowan memecah kesunyian. Nada suaranya rendah, tanpa gejolak emosi berlebih.
Rossi mengalihkan tatapannya dari jendela, menatap profil samping pria di sebelahnya. Tidak ada bunga, tidak ada gaun pengantin putih berenda, tidak ada sanak keluarga yang merayakan, dan tidak ada senyum bahagia dari seorang calon pengantin pria.
Ini hanyalah prosesi penandatanganan dokumen legalitas—sebuah transaksi resmi yang dibungkus oleh hukum negara.
"Aku siap," jawab Rossi singkat.
Mereka turun dari mobil di bawah perlindungan payung hitam besar yang dibuka oleh Rowan. Pria itu merangkulkan tangannya di pinggang Rossi, menuntun langkah gadis itu agar tidak tersandung saat menaiki anak tangga gedung yang licin.
Sentuhan itu terasa protektif, namun Rossi tahu betul bahwa itu hanyalah gesture formalitas seorang pria gentleman.
Proses pendaftaran berlangsung begitu cepat dan hening.
Di dalam sebuah ruangan kecil bersuhu dingin dengan bau kertas tua yang khas, seorang petugas catatan sipil paruh baya duduk di balik meja kayu besar.
Di atas meja tersebut, beberapa lembar dokumen berstempel resmi telah tertata rapi, menunggu goresan tinta dari dua orang manusia yang disatukan oleh takdir yang aneh.
"Rowan Vale-Knight..." Petugas itu membetulkan letak kacamatanya, menatap Rowan lalu beralih pada Rossi. "...dan Rossi Widmer. Apakah kalian bertindak atas kesadaran penuh, tanpa paksaan dari pihak mana pun, untuk mengikatkan diri dalam pernikahan hukum ini?"
"Ya," sahut Rowan mantap, suaranya nyaris tanpa keraguan.
Petugas itu menatap Rossi, meminta konfirmasi yang sama. Rossi menarik napas dalam-dalam, merasakan dada dan tenggorokannya menyempit. Namun bayangan wajah ayahnya yang kejam dan ingatan akan syarat lima bulan ke depan kembali menguatkan tekadnya.
"Ya," bisik Rossi pelan namun terdengar jelas di ruangan yang sepi itu.
"Baiklah. Silakan tanda tangan di bagian bawah formulir kesepakatan ini, diikuti dengan pengucapan sumpah ikatan sipil."
Rowan menyambar pulpen berujung emas di atas meja. Dengan gerakan tangan yang terlatih dan cepat, ia membubuhkan tanda tangannya di atas garis hitam. Tinta hitam mengalir lancar, mengukir nama besarnya di samping nama Rossi.
Selanjutnya, pulpen itu berpindah ke jemari Rossi yang terasa dingin dan sedikit gemetar.
Rossi menatap kolom namanya. Rossi Widmer. Nama yang selama bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, kini bersanding rapat dengan nama keluarga Kaya.
Dengan jemari yang dipaksakan stabil, Rossi mengukir tanda tangannya di sana.
Setelah penandatanganan selesai, petugas berdiri dari kursinya, merapikan kertas-kertas tersebut.
"Di hadapan hukum negara yang sah," ucap petugas itu dengan suara lantang dan formal, "Dengan ini saya menyatakan kalian berdua resmi terikat sebagai suami dan istri. Semoga pernikahan ini membawa kedamaian dan kepastian hukum bagi kalian berdua."
Sah.
Satu kata sederhana itu terucap di udara. Tidak ada tepuk tangan riuh, tidak ada tiupan terompet atau lemparan kelopak bunga mawar.
Hanya desis pendingin udara dan suara rintik hujan di luar jendela yang menjadi saksi bisu atas momen tersebut.
Rowan memutar tubuhnya, menatap Rossi. Tanpa mengucapkan kata-kata romantis, pria itu meraih tangan kanan Rossi, lalu menyelipkan sebuah cincin polos berbahan platinum yang simpel namun sangat elegan ke jari manis gadis itu.
Cincin itu pas melingkar di jari Rossi, terasa dingin menempel di kulitnya. Rossi menatap cincin itu dengan perasaan asing yang membuncah di dadanya.
"Terima kasih," gumam Rowan pelan saat mengelus punggung tangan Rossi yang mengenakan cincin tersebut.
Prosesi gila itu selesai kurang dari tiga puluh menit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Perjalanan kembali ke penthouse dilalui dalam diam. Kota yang dibasahi hujan tampak remang-remang di balik kaca mobil yang gelap.
Rossi menyandarkan kepalanya pada jendela, memperhatikan lampu-lampu jalanan yang mulai menyala satu per satu. Di jari manisnya, cincin platinum itu memantulkan cahaya redup, seolah terus mengingatkannya bahwa statusnya telah berganti secara radikal dalam hitungan jam.
Ketika mobil berhenti di basement penthouse, Rowan mengantar Rossi naik menggunakan lift pribadi. Pintu lift terbuka langsung menyajikan kehangatan ruang tengah penthouse yang serba mewah.
Rowan berjalan di samping Rossi, menuntun langkah gadis itu melewati koridor panjang hingga mereka masuk ke dalam kamar tidur utama. Kamar berukuran luas dengan tempat tidur king-size itu masih tertata rapi, beraroma lembut gabungan antara kayu cendana dan wangi tubuh Rowan.
Rossi melangkah beberapa tindak ke tengah kamar, lalu membalikkan tubuhnya menghadap Rowan yang berdiri di dekat ambang pintu. Rossi mengira pria itu akan segera berbalik pergi atau memberikan instruksi lain.
Namun, hal berikutnya yang dilakukan Rowan membuat Rossi terperanjat di tempatnya.
Pria jangkung bersetelan jas mahal itu perlahan berlutut di atas karpet tebal di hadapan Rossi. Satu lututnya bertumpu pada lantai, sementara matanya yang pekat menengadah, menatap lurus ke dalam manik mata Rossi dengan kedalaman emosi yang sulit diartikan.
"Rowan... apa yang kau lakukan?" bisik Rossi terperanjat, refleks melangkah mundur satu tindak karena merasa tidak pantas diperlakukan seperti itu oleh pria seperti Rowan.
Rowan tidak bergeming. Pria itu meraih kedua tangan Rossi yang dingin, menggenggamnya erat di dalam kedua telapak tangannya yang besar dan hangat.
"Terima kasih," ucap Rowan dengan suara rendah yang sarat akan rasa ketulusan yang teramat sangat. "Terima kasih untuk kesekian kalinya, Rossi. Kau... kau tidak tahu seberapa besar arti tindakanmu hari ini bagi hidupku."
Rossi mematung, dadanya berdesir heboh mendengarkan ketulusan yang mengalir dari nada suara pria itu. Berlutut di hadapan seorang gadis desa yang terbuang bukanlah hal yang wajar dilakukan oleh seorang seperti Rowan Vale-Knight. Namun di kamar ini, pria itu melepas seluruh keangkuhannya, menunjukkan kelemahannya yang paling dalam di hadapan Rossi.
"Kau sudah memberikan harapan pada hidupku yang hampir mati," lanjut Rowan, menyapu punggung tangan Rossi dengan bibirnya sejenak, memberikan kecupan lembut yang hangat di atas cincin pernikahan mereka.
"Aku tahu situasi ini gila bagimu. Aku tahu kau tertekan dengan semua ini. Tapi aku berjanji... selama kau berada dalam lindunganku, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu."
Rossi menatap rambut tebal Rowan yang berada tepat di bawah pandangannya. Tenggorokannya terasa tersumbat oleh gumpalan emosi yang tak bernama. Pria ini begitu mendambakan seorang anak, begitu merindukan arti sebuah keluarga utuh hingga rela melakukan apa saja—termasuk berlutut di hadapan wanita yang baru dikenalnya dalam semalam.
"Berdirilah," kata Rossi pelan, mencoba menarik tangannya secara halus. "Kau tidak perlu berlutut padaku."
Rowan berdiri perlahan, membenarkan letak jasnya yang sedikit kusut. Senyum tipis yang hangat kembali menghiasi wajah tampannya, mengikis sisa-sisa ketegangan yang menyelimuti mereka sejak dari kantor pendaftaran sipil.
"Malam ini aku akan pulang," kata Rowan tiba-tiba, mengubah topik pembicaraan dengan nada bicara yang kembali tenang dan terkontrol.
Rossi mengedipkan matanya. "Pulang? Ke rumahmu?"
"Ya," Rowan mengangguk pelan. "Aku perlu waktu untuk mengatakan pada istriku malam ini. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah kumulai dengannya, dan memberi tahu keputusan yang sudah kuambil."
Rossi terdiam sejenak. Menyebut kata istriku langsung mengembalikan Rossi pada kenyataan pahit yang membentang di antara mereka. Rumah tangga Rowan yang retak, dan kakak kandungnya sendiri yang berada di ujung lain dari konflik ini.
"Apa kau... yakin ingin memberitahunya malam ini?" tanya Rossi pelan, sedikit khawatir akan ledakan emosi yang mungkin terjadi di rumah mewah Bel Air tersebut.
"Harus," pukas Rowan tegas, matanya memancarkan ketetapan hati yang tak bisa digoyahkan. "Dia harus tahu bahwa permainannya sudah selesai. Aku tidak akan membiarkannya menggantung hidupku lebih lama lagi."
Rowan maju satu langkah, menepuk bahu Rossi dengan lembut. "Aku sudah menyiapkan semua kebutuhanmu di sini. Koki pribadi akan mengantarkan makananmu nanti malam, dan pengawal di luar akan menjaga pintu dua puluh empat jam. Kau aman di sini, Rossi."
"Aku mengerti," sahut Rossi pasrah.
"Aku akan kembali besok pagi," janji Rowan, menatap wajah Rossi untuk terakhir kalinya sebelum berbalik. "Istirahatlah yang cukup. Kau tampak sangat lelah."
°°°°
Rowan melangkah keluar dari kamar tidur, membiarkan pintu kayu berukir itu tertutup dengan ketukan halus.
Suara langkah kakinya menjauh di koridor luar, disusul oleh suara pintu utama penthouse yang terkunci rapat dari luar. Seketika, keheningan yang luar biasa besar kembali menyergap seluruh sudut ruangan penthouse yang luas itu.
Rossi berdiri sendirian di tengah kamar mandi dan tempat tidur besar yang mewah. Ia berjalan perlahan menuju dinding kaca kamar, menatap ke luar jendela tempat Hujan sore kini telah reda, menyisakan pemandangan gemerlap lampu-lampu kota yang mulai menyala terang di bawah langit gelap.
Rossi mengangkat tangan kanannya, menatap cincin platinum di jari manisnya.
Malam ini, Rowan pergi untuk menghadapi istrinya. Rossi tidak tahu badai apa yang akan meledak besok pagi saat Rowan kembali ke penthouse ini. Namun di dalam kesendiriannya yang dingin, Rossi mengusap perut ratanya yang masih kosong.
Akankah benih itu tumbuh di sana? Ataukah lima bulan ke depan akan menjadi akhir dari seluruh drama gila ini?
Rossi memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan kesenyapan penthouse membungkus tubuhnya yang lelah, bersiap menghadapi esok hari yang penuh dengan ketidakpastian.
bikin semua kejahatan catzhes terbongkar
aku pasti baca thor mpe abis🥰🥰🥰