Dihianati pacar dan sahabat, membuat Danisa atau yang akrab disapa Nisa enggan menjalin hubungan percintaan dan persahabatan dengan perempuan lagi.
Dari itu dia hanya dekat dengan Senopati, atau yang akrab disapa Seno, hanya dengan Seno dia merasa nyaman.
Saking akrabnya, Seno sudah seperti suami bagi Nisa. Sebelas tahun menjalin persahabatan, rasa cinta mulai tumbuh di hati Seno. Namun, tiba-tiba cinta masa lalu Nisa datang lagi.
Apakah Nisa memilih cinta masa lalunya atau berbalik memilih sahabatnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daffo Azhar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Sejak sejam yang lalu Nisa terus menatap sebuah nomor di ponselnya, ia bimbang setengah mati. Apakah ia harus menelepon nomor itu? Atau tidak?
Kemarin Nisa meminta nomor Viko dari Lala. Lala merasa heran kenapa Nisa tiba-tiba meminta nomor Viko, apakah mereka saling kenal? Kemudian Lala meluncurkan pertanyaan-pertanyaan pada Nisa. Dengan enggan akhirnya Nisa menceritakan semuanya.
Lala terperangah, ia beneran kaget tidak menyangka sedikit pun kalau Nisa ternyata adalah tokoh utama di novelnya Viko. Lala memang dari dulu suka sekali membaca novel-novelnya Viko, karena editornya adalah Brian, suaminya. Lala sangat tahu bagaimana Viko selama ini galau oleh satu cewek. Lala tahu karena Viko adalah sahabat Brian. Ia tidak menyangka kalau cewek itu ternyata bernama Danisa Alia, sahabatnya sendiri. Sekarang Lala mengerti kenapa waktu syukuran rumah barunya Nisa mendadak sakit dan pulang, juga kenapa Viko langsung mengejar Nisa keluar.
🌸🌸🌸
Nisa menurunkan kembali ponselnya. Ia benar-benar belum siap. Omongan-omongan Lala kemarin kembali terngiang.
“Nis, gue tahu selama hidupnya Viko cuma cinta sama satu cewek, yaitu tokoh di novelnya, emang Viko bersalah sama lo, tapi lo tahu gak dia hampir jadi orang gila? Dia depresi berat sampe rutin ke Psikiater. Gue tahu banget gimana berjuangnya Viko untuk bertahan hidup dengan rasa bersalahnya sama lo. Jadi please Nis, temuin Viko, bicaralah sama dia. Lo gak usah ngebayangin gimana-gimana dulu, yang penting ketemu aja dulu.”
Nisa menutup wajahnya dengan bantal, lantas ia teriak. Setelah itu ia melempar bantal dan matanya kembali melirik ponselnya.
“Oke, gue akan telepon Viko,” katanya pada diri sendiri.
Jari kurusnya memencet call dengan ragu. Nada sambung itu mulai terdengar, tak lama ada suara berat yang menjawab. Nisa tahu itu suaranya Viko.
“Halo …,” sapa Viko.
“H__halo ...,” sahut Nisa. Viko menahan napas ketika mendengar suara itu, dadanya bergetar hebat. Apakah mungkin ia tidak salah dengar? Bagaimana ia bisa melupakan suara itu? Suara yang sudah ia rindukan selama sebelas tahun.
“N__Nisa?” sahut Viko agak ragu. Nisa terlonjak. Bagaimana bisa pria itu langsung bisa mengenali suaranya?
“Ini Nisa, kan?” Viko mengulang ucapannya. Pria itu tersenyum lebar, seperti ada desiran angin yang berembus di dadanya dan mampu menyejukan seluruh rongga di tubuhnya.
“Iya ini aku.” Nisa menelan ludah dengan susah payah. Ia mendengar napas Viko memburu, sepertinya pria itu sangat senang.
“Hai, apa kabar? Kamu baik-baik saja?” Dengan bingung Viko memulai pembicaraan.
“Iya,” jawab Nisa singkat, tapi nampaknya Nisa tidak ingin berbasa-basi terlalu lama, ia langsung mengatakan maksudnya menelefon.
“Besok ada waktu? Aku mau ketemu," ucap Nisa.
Viko terlonjak, ia merasa aneh Nisa tiba-tiba ingin bertemu, mengingat bagaimana sikap gadis itu waktu di syukuran rumah baru Brian.
"A__ada, jam berapa?” tanyanya kikuk.
“Jam enam sore. Nanti aku SMS kan tempatnya.”
“Baiklah.”
🌸🌸🌸
Ada kalanya hidup itu harus menoleh ke belakang. Dengan begitu kita bisa melangkah dan menyelesaikan satu masalah yang dihadapi dengan mengambil pelajaran darinya. Selama sebelas tahun ini Nisa berusaha tidak sedikit pun menoleh ke belakang, tapi ia tidak bisa membiarkan masalah ini terus bercokol di pikirannya. Ia harus menyelesaikannya, tidak peduli nanti hatinya akan tergores lagi atau tidak.
Nisa duduk termangu sambil mengaduk-aduk cappuccino dengan sendok plastik, ia tengah menunggu Viko di sebuah café. Mereka janjian jam enam sore, tapi Nisa datang lima belas menit lebih cepat. Sekarang sudah jam enam lebih sepuluh menit, Viko belum datang juga. Nisa mulai jengah, ia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Viko, tapi niatan itu ia urungkan. Ia tidak boleh terkesan sangat menginginkan pertemuan ini.
Saat Nisa kembali memasukan ponselnya ke tas, tiba-tiba ada yang menyapanya dari belakang.
“Hai.” Nisa sedikit terlonjak. Ia tahu betul suara itu milik siapa. Nisa mendongak karena Viko sudah ada di hadapannya. Tidak banyak yang berubah dari pria itu selain tambah tinggi dan putih bersih. Senyumnya dan sorot matanya masih tetap sama seperti dulu.
“Duduklah,” sahut Nisa dengan berusaha terlihat tenang saat berhadapan dengan pria itu.
“Apa kabar?” tanya Viko setelah duduk. “Baik. Kamu?”
“Aku tidak baik,” jawab Viko. Nisa mengernyit.
“Selama sebelas tahun ini aku tidak baik, tapi sekarang aku merasa mulai membaik,” tutur Viko. Nisa menelan saliva, pria itu sudah memulai, dan itu membuat Nisa lebih gampang untuk membicarakan masalah itu.
Nisa tersenyum sinis. “Kalau hari itu tidak terjadi apa-apa, mungkin kamu akan baik-baik saja selama sebelas tahun ini,” kata Nisa. Viko menunduk sambil menggigit bibir lalu ia mendongak lagi. “Nis, kenapa kamu enggak tanya kenapa aku melakukan itu dengan Gita?”
Nisa mengerjap. “Sebenarnya aku tidak ingin tahu alasan kamu dan Gita melakukan itu di belakang aku, tapi setelah aku membaca novelmu, aku jadi penasaran. Karena kamu tidak menulisnya di sana.”
Viko mendelik kaget. “Kamu membaca novelku?” tanyanya tidak percaya, lalu seulas senyum terbit di bibir Viko tanpa bisa ia tahan.
“Iya, aku membaca novelmu, awalnya aku tidak tahu kalau novel 'My Endless Love' itu tulisan kamu, tapi saat aku membaca keseluruhan ceritanya, rasanya itu tidak asing.”
Viko benar-benar terlihat bahagia. “Aku sengaja menulis novel itu untuk mencari kamu. Dan aku juga sengaja tidak menuliskan alasan aku melakukan itu dengan Gita karena aku cuma ingin mengatakannya sama kamu. Sepertinya Tuhan mendengar doaku selama sebelas tahun ini. Aku tahu apa yang aku lakukan adalah sebuah kesalahan, tapi kesalahan itu bukan bermaksud untuk menyakitimu, aku melakukan itu untuk kita. Untuk menyelamatkan hubungan kita. Karena demi Tuhan, aku hanya mencintai kamu, tidak ada yang lain__sampai sekarang.”
Nisa terhenyak. Bagaimana mungkin ia bisa menerima hal itu. Walaupun itu demi hubungan mereka, tapi itu sudah termasuk perselingkuhan.
Lagi-lagi Nisa tersenyum sinis. “Apakah kamu melakukan ciuman itu demi hubungan kita? Melakukan ciuman dengan wanita lain karena demi aku? Heh lucu sekali.”
“Karena Gita mengancamku, dia akan merusak hubungan kita. Dari sebelum kita jadian, Gita sudah suka sama aku, tapi aku tidak suka sama dia, aku sukanya sama kamu. Dia sangat cemburu, dan ia juga sangat membencimu, tapi dengan polosnya kamu tidak menyadari hal itu. Kamu masih aja menganggap Gita sahabat terbaikmu. Selama kita pacaran Gita terus aja merongrong padaku. Dia sangat menggangguku. Jujur aja, aku sangat frustasi.” Viko menghela napas sebentar. Nisa melihat di mata Viko ada genangan air mata yang siap tumpah.
“Lalu puncaknya saat kelulusan sekolah kita. Gita bilang padaku, kalau aku menciumnya, dia tidak akan mengganggu hubungan kita lagi, dia akan mundur dan pergi. Dan bodohnya aku malah menerimanya. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud untuk menghianatimu. Saat melihat kamu tertabrak mobil karena aku, saat itu aku benar-benar ingin mati. Aku takut banget. Aku takut kamu pergi ninggalin aku untuk selamanya.”
Nisa menarik napas dalam-dalam, selama ini ia benar-benar tidak tahu kalau Gita menyukai Viko dari sebelum mereka jadian. Nisa menyeruput cappuccino untuk menenangkan diri.
“Ko, kamu belum memesan minuman,” sahut Nisa mengalihkan pembicaraan. Viko mengerjap, ia meraih buku menu yang ada di meja lalu mengacungkan tangan memanggil pelayan. Sementara Viko sedang memesan, Nisa memandang Viko diam-diam. Apakah semua ini benar? Kalau iya, Viko sebenarnya korban. Nisa teringat novel yang sudah ia baca, bagaimana hari-hari Viko sangat berat setelah kejadian itu, bagaimana Viko yang hampir gila, bagaimana frustasinya sehingga ia tidak kuliah dan membuang mimpinya menjadi dokter bedah. Viko, apakah aku sudah sangat keterlaluan? Kalau saja dulu aku tidak lari dan mendengar setidaknya sedikit saja penjelasan kamu, mungkin kita berdua tidak akan tersiksa selama sebelas tahun ini. Sekarang aku harus bagaimana?
Namun, saat bayangan ciuman mereka terlintas lagi, Nisa masih merasa muak dan belum bisa menerimanya.
“Nisa, terima kasih kamu sudah memberi aku kesempatan untuk menjelaskan semua ini sama kamu. Jujur, sekarang aku sangat lega, aku tidak peduli kamu mau memaafkan aku atau enggak, yang penting aku sudah menjelaskan semuanya,” tutur Viko setelah pelayan itu pergi.
“Sekarang Gita di mana? Aku ingin ketemu sama dia.”
Viko mengerjap. “Kamu yakin?” Nisa mengangguk mantap.
“Dia di Bandung, setelah lulus kuliah dia langsung nikah, dan yang aku dengar dia sudah punya dua anak. Kalau kamu mau, aku bisa mengantar kamu ke sana.”
“Tidak usah, aku bisa sendiri, aku minta alamatnya saja.”
Viko membuang napas, ia sedikit kecewa Nisa tidak mau diantar. “Baiklah.” Viko mengambil ponsel di saku bajunya lalu ia mengetik sesuatu, tak lama kemudian satu pesan masuk ke ponsel Nisa. Isinya alamat Gita.
“Terima kasih, weekend ini aku mau ke sana sama Seno.” Viko sedikit terkejut ketika Nisa menyebut nama Seno.
“Apakah Seno pacarmu?”
“Dia sahabatku,” jawab Nisa lugas. Tanpa sadar Viko menghela napas lega dan bibirnya sedikit menyunggingkan senyum.
“Nisa, aku masih berdiri di tempatku, aku akan tetap berdiri menunggumu menoleh dan datang padaku. Selamanya__sampai aku mati.”
Nisa mengerjap lalu berkata, “Jangan lakukan itu! Kamu jangan mengharapkan aku lagi. Hiduplah dengan baik mulai sekarang."
Viko menelan saliva. Pekataan Nisa sudah membuat dadanya seperti tertusuk belati tajam. Walaupun Nisa menyuruhnya demikian, tapi dia tidak akan menurutinya begitu saja.
'Aku akan perjuangin kamu lagi, Nis. Aku pastikan kamu akan kembali ke pelukanku!' batin Viko.
🌸🌸🌸
sumpah
lanjutt thorr