Ratri adalah potret perempuan sempurna: seorang istri yang berdedikasi sekaligus pilot sukses dengan jam terbang tinggi. Namun, dunianya runtuh dalam semalam ketika kejutan manis yang ia siapkan untuk suaminya, Indra, justru mengungkap pengkhianatan keji. Ratri memergoki Indra berselingkuh dengan sahabat karibnya sendiri, Imelda.
Rasa sakitnya kian menghujam ketika ia menyadari bahwa kedua anak mereka justru berpihak pada sang ayah. Diperlakukan layaknya mesin uang oleh keluarga parasit yang membodohinya, Ratri hanya bisa menangis dalam senyap di dalam lemari, sembari memahat sumpah untuk membalas setiap tetes air mata yang jatuh.
Setelah memutuskan pergi dengan hati yang hancur, Ratri jatuh pingsan di depan bandara karena guncangan hebat. Beruntung, seorang pria bernama Devandra datang menolongnya. Pertemuan tak terduga ini menjadi titik balik bagi Ratri untuk menyembuhkan luka, mengepakkan kembali sayapnya yang patah, dan memulai misi menuntut keadilan mutlak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
...Riuh, bising, dan penuh dengan dentuman musik bass yang menghentak dada, berpadu dengan kilatan lampu neon yang menyilaukan mata di dalam klub malam elite kawasan Jakarta Selatan....
...Malam itu, Rizal sedang berada di puncak performanya sebagai DJ yang tengah naik daun....
...Tangannya begitu mahir memainkan mixer, menghidupkan atmosfer lantai dansa menjadi kian liar....
...Namun, di sudut remang-remang area VIP, sekelompok pengunjung yang tidak senang dengan keangkuhan Rizal mulai bergerak senyap....
...Mereka mengawasi setiap gerak-gerik pemuda tampan itu dengan tatapan penuh rencana busuk....
...Memanfaatkan kelengahan Rizal saat ia turun sejenak dari panggung untuk berinteraksi dengan beberapa pengunjung setia, salah satu dari komplotan tersebut menyelinap ke balik meja DJ....
...Dengan gerakan yang sangat cepat dan terlatih, ia membuka resleting dan menyelundupkan beberapa paket narkoba berukuran sedang ke dalam tas kerja tempat Rizal biasa menyimpan peralatan DJ dan barang pribadinya....
...Setelah memastikan jebakan terpasang sempurna, pria itu menghilang kembali ke dalam kerumunan....
...Tak berselang lama, suasana pesta yang liar itu mendadak pecah oleh kepanikan....
...Lampu utama klub malam tiba-tiba dinyalakan terang-benderang, mematikan total alunan musik....
..."Polisi! Jangan ada yang bergerak! Tetap di tempat masing-masing!" terdengar seruan tegas dari pengeras suara....
...Aparat kepolisian berpakaian preman dan seragam lengkap langsung melakukan penggerebekan dadakan besar-besaran di klub tersebut....
...Semua pengunjung dan staf digeledah tanpa terkecuali....
...Ketika petugas mulai melakukan pemeriksaan barang di area panggung utama, tas kerja milik Rizal tak luput dari pemeriksaan....
...Sersan yang memeriksa seketika mengeluarkan beberapa bungkus plastik klip berisi serbuk putih dari dalam sana....
..."Barang ini milikmu? Kamu ditahan atas kepemilikan narkotika!" tegas petugas....
...Rizal yang melihat hal itu seketika terkejut setengah mati. Jantungnya mencelos....
..."Tunggu! Itu bukan milik saya! Saya dijebak! Saya tidak tahu dari mana barang itu ada di tas saya!" seru Rizal, mencoba memberontak dan mundur saat dua petugas mencengkeram pundaknya....
...Ia tahu betul seseorang telah bermain kotor malam ini....
...Namun, aparat tidak mau mendengar alasan apa pun....
...Dengan gerakan paksa, petugas langsung menarik kedua tangan Rizal ke belakang dan memborgol pergelangan tangannya....
...Di bawah sorotan lampu putih klub yang benderang, besi dingin borgol itu bergemerincing, memperlihatkan sekilas tanda lahir berbentuk kupu-kupu unik di pergelangan tangan kirinya yang kini terikat erat oleh rantai besi....
...Tanpa memedulikan teriakannya yang menuntut keadilan, Rizal dibawa paksa keluar menembus kerumunan klub, digiring masuk ke dalam mobil tahanan menuju kantor polisi dengan tuduhan berat yang siap menghancurkan hidupnya....
...Suasana di markas kepolisian Jakarta Selatan malam itu terasa sangat riuh setelah penggerebekan besar-besaran di klub malam....
...Di salah satu sudut ruang penyidikan, seorang polisi senior yang kebetulan merupakan informan sekaligus rekanan yang menerima dana operasional dari Thomas, sedang memeriksa berkas para tersangka....
...Saat matanya beralih pada Rizal yang sedang duduk tertunduk dengan tangan terborgol di depannya, polisi tersebut tertegun....
...Lengan jaket Rizal yang robek sedikit tersingkap, memperlihatkan tanda lahir berbentuk kupu-kupu kecil yang sangat unik di pergelangan tangan kirinya....
...Mengingat instruksi rahasia dan foto yang dikirimkan Thomas beberapa jam lalu mengenai ciri-ciri anak hilang yang sedang diburu oleh Devandra, polisi itu langsung melebarkan matanya....
...Tanpa membuang waktu, ia melangkah ke koridor sepi dan langsung menghubungi Thomas....
..."Pak Thomas, Anda harus ke kantor sekarang. Kami baru saja menjaring seorang DJ muda dalam kasus narkoba besar. Dan di pergelangan tangan kirinya... ada tanda lahir kupu-kupu yang persis seperti yang Anda cari."...
...Mendengar kabar tersebut, Thomas langsung memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta....
...Sesampainya di kantor polisi Jakarta, Thomas melangkah masuk dengan wajah tegang....
...Melalui jeruji besi sel tahanan sementara, ia melihat kondisi Rizal yang tampak berantakan, frustrasi, dan terus menggumamkan kata tidak bersalah....
...Setelah mengonfirmasi langsung tanda lahir di pergelangan tangan kiri pemuda itu, Thomas segera mundur ke area parkir yang sepi dan menghubungi Devandra untuk melaporkan situasi darurat ini secara detail....
...Sementara itu di dalam ketenangan ruang perawatan VVIP rumah sakit di Bandung, ponsel di saku celana Devandra bergetar pelan....
...Ia melangkah sedikit menjauh ke sudut ruangan dekat jendela dan menggeser layar ponselnya....
...Di seberang telepon, suara Thomas terdengar sangat serius, menjabarkan kronologi penggerebekan hingga detail tuduhan kepemilikan narkoba yang kini menjerat Rizal....
...Mendengar laporan tersebut, rahang Devandra seketika mengeras....
...Urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang membakar dada....
...Ia marah pada dalang di balik jebakan maut yang berani menyentuh putra kandung wanita yang dicintainya....
...Devandra perlahan membalikkan tubuhnya, menatap ke arah ranjang rawat....
...Di sana, Ratri sedang duduk di tepi kasur dengan senyuman paling bahagia yang pernah ia lihat selama ini....
...Tangan Ratri bergerak telaten menyuapi bubur ke mulut Sandra, sementara tangan lainnya mengusap lembut rambut putrinya dengan penuh kedamaian yang baru saja kembali setelah belasan tahun terenggut....
...Atmosfer di dalam kamar itu begitu suci dan penuh kehangatan....
...Ketegangan hebat berkecamuk di dalam kepala Devandra....
...Ia dihadapkan pada situasi yang sangat pelik. Dokter baru saja memperingatkan bahwa kondisi psikologis Ratri dan Sandra masih sangat rentan....
...Ia tidak boleh menghancurkan kebahagiaan sesaat yang baru saja mekar ini dengan berita mengerikan bahwa putra kandung Ratri—kakak kembar Sandra—ternyata adalah seorang DJ berandalan yang saat ini sedang meringkuk di dalam sel tahanan atas kasus narkoba berat....
...Devandra menarik napas dalam-dalam, menekan seluruh gejolak badai di dalam dadanya hingga tak berbekas pada ekspresi wajahnya....
...Dengan langkah yang diatur setenang mungkin, ia berjalan mendekati ranjang rawat dan berdiri di samping Ratri....
...Devandra mengulurkan tangannya, membelai lembut pipi Ratri dengan ibu jarinya, lalu mengalihkan tatapan matanya yang mendadak melembut ke arah Sandra....
..."Ratri," panggil Devandra dengan suara baritonnya yang hangat dan stabil, menyembunyikan getaran amarah di dalamnya....
..."Aku harus kembali ke Jakarta malam ini juga untuk mengurus beberapa bisnis penting yang sangat mendesak di maskapai."...
...Ratri menghentikan gerakan sendoknya sejenak, mendongak menatap Devandra dengan sedikit rasa berat hati, namun ia memahami posisi pria itu....
..."Apakah ada masalah besar, Dev?"...
...Devandra menggelengkan kepalanya perlahan, memberikan senyuman menenangkan yang sengaja ia pasang agar kondisi psikologis Ratri tidak kembali drop....
..."Hanya urusan administrasi internal yang butuh tanda tanganku langsung. Jangan khawatir. Setelah semuanya selesai, aku akan langsung kembali ke sini untuk menjemput kalian berdua ke Jakarta."...
...Devandra menunduk sedikit, mengecup kening Ratri sekilas, lalu menepuk pelan bahu Sandra....
..."Jaga mamamu ya, Sandra. Makan yang banyak."...
..."Iya, Om. Terima kasih banyak," jawab Sandra dengan nada yang jauh lebih tenang dari sebelumnya....
...Setelah memastikan tidak ada kecurigaan di mata Ratri, Devandra membalikkan badannya....
...Begitu ia melangkah melewati pintu kamar VVIP dan pintu tersebut tertutup rapat, ekspresi hangat di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh sorot mata dingin yang mematikan....
...Devandra melangkah cepat menyusuri koridor rumah sakit menuju lift, mengeluarkan ponselnya, dan langsung menghubungi Thomas kembali dengan nada mutlak....
..."Thomas, siapkan tim hukum terbaik kita. Aku sedang menuju bandara sekarang. Jangan biarkan satu media pun mengendus kasus ini, dan pastikan tidak ada yang menyentuh anak itu sampai aku tiba di Jakarta."...
...Devandra membelah kegelapan menuju jet pribadinya, bersiap menerjang badai kotor di Jakarta demi menyelamatkan sang putra mahkota yang terancam hancur reputasi dan masa depannya....
tinggal tunggu karmaa yg menghampiri kalian ,,
sama2 gx punya maluu ,, sama2 gx tau diri ,, dan sama2 haus harta yg bukan milik ny ,, 😏😏😏😏
jgn hidup ngandelin keringat orang lain ,, apa lagi istri yg sbntar lgi jd mantan ,, gx maluu tuuh ma b*lalai ,,
😒😒😒😒😒😒😒😒
tp tdk memungkinkan badai yg sebenarnya baru aj di mulai ,,
😒😒😒
semoga cepat bisa di temukan ,
gregeet bangeet
😒😒😒😒
😒😒😒😒
udh numpang hidup tp gx tau diri ,,
jgn2 si indra juga gx kerja ,, hidup Dr uang istriny Selama ni ,,
dasar tak tau malu ,,
skraaang masa aktif ATM berjalan kalian sudah habis ,,
waktuny kerja keras sendri buat gaya hidup kalian ,,, 😒😒😒😒