NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

22

Tiba-tiba merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. Helda memperhatikan itu. Tentu saja. Dan entah disengaja atau tidak, ia berkata cukup keras, "Anak-anak pasti kangen keluarga ibunya." Kalimat itu membuat suasana sedikit berubah. Sean menunduk. Yuan melirik Vivi. Ella memeluk bonekanya.

Nenek Ema menambahkan dengan suara lirih. "Rumah ini memang terasa berbeda sekarang." Tidak ada yang salah secara harfiah. Namun semua orang menangkap maksudnya. Termasuk Vivi.

Ia tersenyum sopan. "Saya buatkan teh dulu." Vivi berjalan ke dapur. Tetapi bahkan dari sana ia masih bisa mendengar percakapan mereka.

"Sean." Suara Helda. "Sekolah bagaimana? Ayahmu sibuk?" Ada jeda. "Kamu baik-baik saja tinggal di sini?"

Vivi yang sedang menuang air panas berhenti sesaat. Sean tidak langsung menjawab. Mungkin karena Yuan sedang memperhatikannya. Mungkin karena kejadian kemarin. Atau mungkin karena ia sendiri sedang bingung.

Namun Helda tidak membutuhkan jawaban. Karena ia langsung melanjutkan. "Kalau ada yang membuat tidak nyaman, bilang sama Bibi." Yuan mulai mengernyit. "Kalian tahu kan?" Helda tersenyum. "Rumah Nenek selalu terbuka." Kalimat itu terdengar biasa. Namun maknanya tidak biasa.

Vivi meletakkan cangkir teh di atas nampan. Lalu menarik napas panjang. Sangat panjang. Ia teringat perkataan Rini semalam. Sean bukan sedang melawan kamu. Dia sedang melawan ketakutannya. Dan sekarang Ketakutan itu baru saja mendapat bahan bakar baru. Saat Vivi kembali ke ruang tamu membawa teh Ia mendapati Helda sedang memandangi foto almarhumah yang masih tergantung di dinding.

Lalu berkata pelan. Cukup pelan untuk terdengar semua orang. "Kasihan sekali adikku." Ruangan langsung sunyi. Helda menghela napas.n"Rumah yang dulu ia bangun dengan susah payah sekarang sudah punya nyonya baru."

Cangkir di tangan Vivi hampir bergetar. Bukan karena marah. Tetapi karena akhirnya ia mengerti. Kedatangan mereka hari ini bukan sekadar kunjungan keluarga. Mereka datang membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Perasaan bersalah. Perasaan kehilangan. Dan kemungkinan besar Perlawanan baru terhadap keberadaannya di rumah itu.

Sementara Sean yang duduk di sofa mulai menundukkan kepala lagi. Karena untuk pertama kalinya sejak percakapan dengan ayahnya kemarin Keraguan yang mulai retak itu perlahan dibangun kembali oleh seseorang yang sangat ia percayai.

Ruang tamu yang sejak tadi sudah terasa tidak nyaman mendadak menjadi jauh lebih dingin. Vivi baru saja meletakkan cangkir teh di atas meja ketika Helda menatapnya lurus. Tanpa basa-basi. Tanpa sopan santun. Tanpa memberi kesempatan untuk bersiap. "Langsung saja." Vivi mengangkat kepala. "Apa benar kamu tidak akan pernah punya anak?"Ruangan mendadak sunyi. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang bernapas terlalu keras. Bahkan Saka yang biasanya tidak bisa diam langsung membeku. Helda melanjutkan dengan nada yang terlalu santai untuk pertanyaan seperti itu. "Maksud saya... kamu mandul?"

Jantung Vivi seperti berhenti sesaat. Bukan karena pertanyaannya. Melainkan karena pertanyaan itu diucapkan di depan semua orang. Di depan Sean. Yuan. Saka. Ella. Bahkan Nenek Ema. Vivi berdiri mematung. Matanya perlahan beralih ke Sean. Dan saat melihat ekspresi anak itu Ia langsung mengerti. Sean tahu. Tentu saja Sean tahu. Semalam Baskara pasti menceritakannya. Mungkin untuk menjelaskan kenapa Vivi tidak akan menggantikan ibu mereka dengan anak baru. Mungkin untuk menenangkan ketakutan Sean. Mungkin niatnya baik. Tetapi sekarang Kekurangan yang selama bertahun-tahun menjadi luka paling dalam dalam hidupnya sedang dibahas di ruang tamu seperti topik obrolan biasa.

Sean langsung menunduk. Karena ia sadar dari tatapan Vivi bahwa sesuatu telah terjadi. Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi.

Helda masih menunggu jawaban. "Jadi benar?"

Vivi menelan ludah. Tangannya perlahan mengepal. Selama bertahun-tahun ia menerima banyak pertanyaan. Kapan menikah?bKenapa belum punya pasangan? Kenapa tidak mencoba berobat lagi? Namun pertanyaan ini terasa berbeda. Karena bukan rasa ingin tahu yang ia dengar. Melainkan penilaian. "Maaf." Suara Vivi akhirnya keluar. "Saya tidak mengerti kenapa hal itu perlu dibahas."

Helda tersenyum tipis. "Karena ini menyangkut masa depan anak-anak."

Kalimat itu membuat Yuan langsung mengernyit. Bahkan Nenek Ema tampak tidak nyaman. Namun Helda terus berbicara. "Saya hanya ingin memastikan."

"Memastikan apa?" Untuk pertama kalinya Vivi balik bertanya.

Helda menyilangkan tangan. "Memastikan bahwa alasan keluarga Baskara memilihmu memang karena itu."

Kini bahkan Sean mengangkat kepala. Karena kalimat itu terdengar jauh lebih kasar daripada sebelumnya.

"Karena kalau memang benar..." Helda menatap Vivi dari atas ke bawah. "Berarti kamu memang aman."

Aman. Satu kata. Tetapi rasanya seperti tamparan. Vivi akhirnya mengerti. Helda tidak sedang bertanya tentang kesehatannya. Helda sedang memastikan bahwa Vivi tidak akan melahirkan anak yang bisa "mengancam" posisi Sean dan adik-adiknya. Seolah dirinya adalah sebuah solusi. Sebuah alat. Bukan manusia. Untuk beberapa detik, Vivi tidak mengatakan apa-apa. Karena kalau berbicara sekarang Ia takut suaranya akan bergetar. Selama bertahun-tahun ia belajar menerima vonis itu. Belajar berdamai dengan kenyataan bahwa mungkin ia tidak akan pernah mengandung. Tidak akan pernah melahirkan. Tidak akan pernah mendengar seseorang memanggilnya Ibu karena darah dagingnya sendiri. Dan semua perjuangan itu Kini direduksi menjadi satu kata. Aman. Akhirnya Vivi tersenyum. Namun senyum itu tidak sampai ke matanya. "Kalau saya bisa atau tidak bisa punya anak..." Ia menatap Helda lurus. "Itu urusan yang cukup pribadi."

Helda hendak menjawab.

Namun Vivi melanjutkan. "Dan saya rasa tidak pantas dibahas di depan anak-anak." Ruangan kembali sunyi.

Sean merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Karena untuk pertama kalinya ia melihat luka di wajah Vivi. Bukan marah. Bukan tersinggung biasa. Melainkan terluka. Sungguh-sungguh terluka. Dan mendadak ia teringat semalam. Saat Ayah berbicara dengannya. Saat ia bertanya apakah Vivi akan punya anak sendiri. Saat Ayah menjelaskan bahwa Vivi pernah didiagnosis tidak bisa memiliki keturunan. Saat itu Sean menganggap informasi itu biasa saja. Lalu pagi tadi, Saat Bibi Helda menelepon Ia menceritakannya. Tanpa berpikir panjang. Tanpa menyadari bahwa itu adalah rahasia seseorang. Kini untuk pertama kalinya Sean merasa bersalah.

Sementara Vivi menarik napas panjang. Lalu berdiri. "Kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas, saya mau ke dapur dulu." Ia berbalik sebelum siapa pun melihat matanya yang mulai memerah. Dan berjalan menuju dapur. Meninggalkan ruang tamu yang mendadak terasa sesak.

Di belakangnya, Sean hanya bisa menatap punggung itu. Dan untuk pertama kalinya sejak Vivi datang ke rumah mereka Ia menyadari bahwa perempuan itu juga punya luka.Luka yang mungkin sama menyakitkannya dengan kehilangan yang selama ini ia rasakan.

Vivi berdiri sendirian di dapur. Tangannya sibuk mencuci cangkir yang sebenarnya sudah bersih. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Hanya agar ada sesuatu yang bisa dilakukan selain memikirkan apa yang baru saja terjadi. Air keran mengalir pelan. Rumah di belakangnya masih terdengar ramai. Suara Helda. Suara Nenek Ema. Suara anak-anak. Namun semuanya terdengar jauh. Seolah ada dinding tak kasat mata yang memisahkannya dari mereka.

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!