NovelToon NovelToon
Benteng Ke-8

Benteng Ke-8

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:243
Nilai: 5
Nama Author: Nana

Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.

Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

Setelah pemuda itu pergi, Evren menendang udara karena merasa kesal. Tapi sedetik kemudian ia terdiam di tempatnya. Menyadari tingkahnya sendiri lalu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil berdehem pelan. Ia akhirnya kembali melanjutkan perjalanannya dengan berjalan kaki. Setelah meninggalkan Vandalia, ia harus melewati sebuah hutan sebelum tiba di Merath, kota terakhir sekaligus pos pemeriksaan terakhir.

Setelah mengurus prosedur keluar dari Vandalia, Evren bergegas menempuh jalur menuju kota Merath. Hari sudah sore dan sebentar lagi gelap menyelimutinya. Selama beberapa hari ini terlalu tenang dan itu membuat Evren sedikit khawatir. Meskipun kelompok pembunuh itu tertinggal jauh dibelakang, tapi tidak mungkin butuh waktu selama ini untuk mereka mengejarnya. Untung saja saat keluar dari penginapan tadi ia menemukan sebuah belati. Ia bisa menggunakannya sebagai senjata kalau nanti ia kembali bertemu dengan kelompok pembunuh itu.

Tepat saat memasuki hutan, hari benar-benar menjadi gelap. Matahari sudah terbenam sepenuhnya dan digantikan dengan rembulan yang menggantung di langit. Evren tetap berjalan namun dengan lebih waspada. Kabut pun mulai menyelimuti dan memperpendek jarak pandangnya. Suara gesekan daun dan hewan-hewan kecil cukup membuat suasana terasa sedikit menyeramkan.

Tangannya terus menggenggam erat belati yang masih disarungkan. Matanya bergerak dengan cepat memindai setiap arah yang dilewatinya.

Kemudian ia melihat siluet dua orang di depan sana. Evren mengeluarkan belati dari tempatnya dan memasang posisi siaga sambil terus berjalan mendekati siluet tersebut.

Saat sudah dalam jangkauan jarak pandangnya, Evren langsung menurunkan belatinya dan menghela nafas pelan. Ketegangan di tubuhnya berangsur menurun lalu ia menatap pemuda di depannya dengan tatapan curiga sekaligus penasaran.

“Kenapa kamu ada di sini?” Tanyanya pada pemuda itu. Pemuda yang tadi pagi menolongnya sekaligus mengatainya pengemis gila.

“roda kereta kudaku terjebak lumpur dan tidak bisa keluar.”

Evren mendekati kereta kuda tersebut lalu melihat posisinya memang cukup sulit dikeluarkan jika hanya mengandalkan kekuatan tiga orang saja. Ia mencoba mencari solusi untuknya sebagai bentuk balas budi karena sudah membantunya tadi pagi. Sekaligus membayar sikap kurang ajarnya.

“Kemana tujuanmu?” tanya Evren.

Ia berjalan mendekati pemuda itu setelah selesai memeriksa kondisi kereta kudanya.

“Perbatasan utara.”

Mendengar nama yang familiar, telinga Evren sedikit berkedut lalu ia mengerutkan keningnya karena merasa heran ada seorang bangsawan terpelajar mau pergi ke tempat menyusahkan itu.

“Kebetulan tujuanku juga sama, kita pakai kudanya saja, keretanya biar ditinggal disini,” usul Evren setelah mempertimbangkan situasinya.

“Lalu dia bagaimana?” Tanya pemuda itu sambil menunjuk sang kusir kuda.

“Tidak apa tuan muda, teman saya besok lewat tempat ini. Saya bisa menumpang keretanya.”

“lalu malam ini bagaimana?”

“kita masih belum terlalu jauh masuk ke hutan, saya bisa berjalan kembali ke desa terdekat.”

“Baiklah, ini untukmu.”

Pemuda itu memberikan dua buah perak untuk kusir kuda tersebut.

“Banyak sekali?” Tanya Evren yang kembali keheranan dengan sifat borosnya itu.

“Sekalian buat beli kudanya.”

“Terimakasih tuan muda,” ucap sang kusir dengan penuh keraguan. Karena kuda dan kereta kuda ini adalah barang milik kediaman tuan mudanya, namun tuan mudanya malah memberi uang untuk membeli barang yang sudah menjadi miliknya.

Setelah itu, kusir tersebut melepaskan tali kekang yang mengikat kuda dengan kereta. Kemudian langsung diambil alih oleh Evren. Ia menepuk-nepuk badan kuda tersebut lalu menaikinya dengan sangat mudah.

“ayo naik!”

Pemuda itu melihat kuda yang tingginya hampir sama dengannya lalu melihat Evren yang sudah duduk diatas kuda tersebut.

Evren menyadari sesuatu kemudian ia mengulurkan tangannya. Menariknya agar ia bisa naik ke atas kudanya.

“pegangan yang kencang,” seru Evren sebelum memacu kudanya.

Pemuda itu kebingungan harus berpegangan kemana, namun Evren sudah memacu kudanya dengan kecepatan penuh. Membuatnya terkejut dan langsung memeluk pinggang Evren dengan sangat erat.

“KAMU YAKIN BISA MENUNGGANG KUDA?” Teriaknya di tengah rasa takut dan rasa tidak percaya kepada pemuda di depannya itu.

“...” Tidak ada jawaban. Hanya ada pacuan kuda yang semakin tinggi kecepatannya.

Hingga tiba-tiba Evren berhenti membuat kudanya hampir saja tergelincir jatuh.

“WAAAA, kalau tidak bisa menunggang kuda bilang dong, untung nggak jatuh!” Gerutunya sambil mengelus dada. Ia merasa jantungnya hampir saja copot.

Evren melihat siluet sekelompok orang yang terus mendekat. Secara perlahan, Evren membawa kudanya mundur. Namun dari belakang juga ada sekelompok orang lainnya.

“Kenapa?”

“Ada apa?”

“Kenapa berhenti tiba-tiba?” Tanya pemuda itu secara bertubi-tubi. Ia masih belum menyadari ada bahaya yang mengintai mereka berdua.

“Namamu siapa?” Tanya Evren tiba-tiba.

“Hah? Ah oh anu, Xavier, Xavier von Starling.”

“benar-benar keluarga bangsawan ternyata ya,” ucap Evren setelah mendengar nama pemuda itu.

“Xavier, dengarkan aku baik-baik. Pegang pinggangku dengan erat. Tundukkan kepalamu serendah mungkin. Jangan mencoba melihat atau menoleh ke belakang, cukup percaya padaku dan aku akan melindungi nyawamu.”

“Hah? Tapi kenapa?” Tanyanya yang masih tidak menyadari keberadaan kelompok pembunuh yang sudah mengepungnya dari dua arah.

“Lakukan saja!” Sentak Evren membuat Xavier terkejut.

“Ah iya baik!”

Evren mengeluarkan belatinya lalu bersiap memacu kudanya untuk menerobos kelompok orang di depannya. Sekitar sepuluh orang menghadangnya di depan dan enam orang di belakang. Lebih mudah pergi ke belakang, tapi ia tidak tahu apakah di belakang sana masih ada kelompok pengejar yang lain atau tidak. Jadi ia memutuskan untuk menerobos ke depan.

“Aku tidak akan bertaruh untuk sesuatu yang tidak yakin bisa aku menangkan,” Ucapnya sebelum memacu kudanya. Berharap kalimat itu bisa sedikit menenangkan Xavier di belakang punggungnya.

Evren berteriak, memacu kudanya maju. Tangan satunya memegang belati pendek dan bersiap menerobos barisan musuh. Karena yang dipegangnya kini belati, ia mencoba cara yang lebih efisien yaitu menyayat bagian vital musuh agar mereka lumpuh sesaat dan memberi kesempatan untuknya melarikan diri.

Satu orang, dua orang, tiga orang, empat orang, lalu sepuluh orang berhasil ia lewati. Di tengah kabut yang semakin tebal, Evren benar-benar menggunakan segala cara untuk melawan mereka sekaligus melindungi Xavier di punggungnya.

Setelah melewati sepuluh orang di depannya, Evren langsung memacu kudanya agar berlari sekuat tenaga. Keenam orang di belakangnya pun langsung mengejarnya. Hutan yang biasanya sunyi itu kini dipenuhi suara derap langkah kuda. Xavier masih terus menundukkan kepalanya dan memejamkan mata. Tangannya merangkul pinggang Evren dengan erat. HIngga tiba-tiba ia teringat sesuatu. Matanya langsung terbuka lebar dan ia sedikit mendongak.

“Di depan ada rawa!” Serunya sedikit berteriak untuk memberitahu Evren.

Evren melirik sekilas ke arah Xavier, lalu tersenyum miring.

“Di arah mana?” Tanyanya dengan santai namun cukup keras untuk didengar oleh Xavier.

“Di sana, ada pohon besar. Di balik pohon itu.”

Xavier menunjukkan tangannya ke arah depan sambil mengangkat kepalanya sedikit lebih tinggi untuk melihat ke arah depan. Tepat setelah itu, sebuah anak panah datang dari belakang dan menyerempet telinga Xavier hingga berdarah. Xavier yang terkejut langsung kembali menundukkan kepalanya di belakang punggung Evren.

“tetap menunduk!” Teriak Evren.

Ia semakin melajukan kudanya untuk memperlebar jarak dengan para pengejar lalu berhenti tepat di depan pohon besar yang Xavier maksud.

“Turun! Lari terus ke depan dan jangan melihat ke belakang. Aku akan menyusulmu,” perintah Evren mutlak tanpa ada celah untuk membantah.

“Terus kamu bagaimana?”

“Aku punya rencana untuk menahan mereka di sini, aku akan segera menyusulmu. Sana pergi!”

Xavier dengan ragu mulai berlari ke depan sesuai petunjuk Evren. Sedangkan Evren masih diam di depan pohon besar itu. Saat kelompok pengejar itu sudah dekat, barulah ia memacu kudanya lagi. Namun kali ini berbelok ke arah belakang pohon. Tempat yang Xavier sebutkan tadi.

Seperti perkiraannya, mereka tanpa ragu terus mengejar dirinya. Karena targetnya memang dirinya, bukanlah Xavier. Evren terus memacu kudanya lalu ia berbelok di detik terakhir hingga hampir saja tergelincir. Orang-orang di belakangnya terkejut dan tidak bisa mengendalikan kuda mereka hingga masuk ke dalam rawa.

Evren menepuk-nepuk leher kudanya sambil mengelusnya pelan lalu kembali ke jalur yang seharusnya. Ia menyusuri jalan dengan lebih pelan untuk menemukan sosok Xavier. Tidak jauh dari pohon besar itu, Xavier masih terus berjalan kedepan dan tidak menoleh ke belakang sedikitpun.

“XAVIER!”

Xavier merasa mengenali suara itu dan langsung menoleh ke belakang. Evren duduk di atas kuda dengan senyumnya. Lalu pakaian dan wajahnya terlihat kotor karena cipratan darah.

“Kamu baik-baik saja?”

“Yahh, tidak terluka.”

“Ini, lap wajahmu pakai ini,” Ucap Xavier sambil mengulurkan saputangan miliknya.

“terimakasih, ayo naik sebelum mereka kembali mengejar kita.”

Xavier dibantu Evren kembali naik ke atas kuda dan melanjutkan perjalanan.

“Sebenarnya siapa orang-orang tadi? Apa mereka perampok atau sejenisnya?”

“...” hening, tidak ada jawaban dari pemuda di depannya.

“Oh iya siapa namamu?” Tanya Xavier, karena ia baru sadar kalau belum berkenalan dengan baik.

“Evren Vance.”

“Evren? Evren jendral muda ibukota? Yang tiba-tiba mau memberontak setelah membawa kemenangan untuk negara ini?”

“kamu tau?”

“Tentu saja aku tau, aku tau semua cerita tentangmu. Kamu tidak tahu saja seterkenal apa namamu di kalangan masyarakat. Mau itu rakyat jelata sampai bangsawan, semua mengenalmu.”

“Benarkah?”

Xavier menatap punggung Evren dengan raut wajah yang tiba-tiba sendu. Sosok yang dulu selalu dielu-elukan masyarakat, sekarang menjadi terpidana yang diasingkan jauh ke bagian utara kekaisaran.

“Jadi kamu ke utara untuk diasingkan?”

“Iya, dan aku tau ada banyak pertanyaan di kepalamu. Tapi aku sangat lelah sekarang, sebentar lagi kita sampai di sebuah desa. Seharusnya ada penginapan di sana.”

Evren sedang tidak ingin mendengar apapun lagi. Karena setiap kalimat yang didengarnya hanya membuat perasaannya semakin buruk. Xavier pun terlihat seperti memahami Evren. Ia duduk diam membiarkan keheningan menyelimuti mereka berdua.

1
Tosari Agung
evren lu Galang kekuatan terus si kaisar anjing itu lu kudeta dan ajarkan ke dia gimana caranya membunuh orang sebelum sampai ke pengasingan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!