"Kadang yang paling kita cari, selalu ada di dekat kita, tapi tetap terasa begitu jauh."
Nayla Lauren Alveric dan Zavier Kael Mahendra berada dalam satu ruang lingkup yang sama, berjalan berdampingan, dan saling menatap mata satu sama lain setiap hari. Namun secara emosional, jarak tak kasat mata membentang begitu lebar di antara mereka.
Meskipun raganya dekat di mata, perasaan ragu, konflik masa lalu, dan rahasia yang tersembunyi membuat hati mereka terasa jauh di hati. Di tengah liku-liku takdir dan pergolakan rasa, dapatkah cinta mereka menemukan jalannya untuk menyatukan dua hati yang saling bertolak belakang ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DENTANG PERTAMA DI UJUNG Fajar
Fajar belum sepenuhnya menyingsing di atas langit ibu kota. Garis jingga keperakan baru menyapu tipis puncak-puncak pencakar langit, membiaskan cahaya dingin ke atas lantai parkir bawah tanah Alveric Tower. Di tempat yang biasanya steril dan hening itu, deretan kendaraan mewah milik direksi telah terparkir rapi, menandakan bahwa rapat darurat konsorsium akan digelar jauh sebelum jam kerja resmi dimulai.
Langkah kaki tegap berirama dari Zavier Kael Mahendra memecah kesunyian lorong semen tersebut. Ia tak lagi datang mengendarai motor besar dengan jaket kulit hitamnya, melainkan mengenakan kemeja putih berpotongan tegas tanpa dasi, dilapis jas mantel gelap yang ringkas. Di tangannya, sebuah map dokumen berwarna abu-alunya tergenggam santai.
Di dekat pintu lift khusus eksekutif, langkah Zavier terhenti. Ethan Mahendra dan Raka Mahendra sudah berdiri di sana, didampingi dua pengacara senior klan.
Raka menyunggingkan senyum miring, memandangi adik bungsunya dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. "Lihat siapa yang datang. Anak Emas yang sudah dilucuti hak aksesnya, masih berani menapakkan kaki di gedung ini? Mau mendaftar jadi staf magang, Zav?"
Ethan melirik Raka dengan peringatan dingin, lalu menatap Zavier dengan kening berkerut dalam. "Zavier, Papi sudah mencabut kartu izin masukmu untuk lantai eksekutif. Kamu tidak seharusnya ada di sini sebelum rapat konsorsium dimulai. Jangan bikin situasi makin rumit."
Zavier membalas tatapan kedua abangnya dengan raut wajah yang amat tenang, hampir tanpa ekspresi. "Aku berada di sini bukan atas nama Mahendra Group, Bang Ethan."
Raka terkekeh sinis. "Lalu atas nama siapa? Jangan bilang kamu mau berakting jadi pengawal pribadi Nayla Alveric lagi."
Zavier tidak menjawab provokasi itu. Ia merogoh saku dalam jasnya, mengeluarkan sebuah kartu akses perak polos dengan lambang pita emas terselubung, kartu otorisasi tingkat tinggi milik Vanguard Capital, sebuah lembaga investasi independen yang selama lima tahun terakhir diam-diam memegang sepuluh persen saham mengambang di anak perusahaan utama Alveric dan Barito Group.
Mata Ethan membelalak seketika. "Kamu... dari mana kamu dapat kartu akses Vanguard?"
"Papi dan Om Alexander terlalu sibuk membagi persentase saham di permukaan," ujar Zavier datar seraya mengetukkan kartu tersebut pada sensor lift. Pintu dentam baja terbuka dengan bunyi deng. "Mereka lupa kalau pasar modal selalu menyisakan celah bagi siapa saja yang paham cara membaca arus."
Zavier melangkah masuk ke dalam kabin lift, berbalik, dan menatap kedua abangnya yang membeku di luar. Sebelum pintu lift menutup sepenuhnya, Zavier menambahkan, "Sampai jumpa di ruang rapat, Bang."
Sementara itu, di lantai dua puluh delapan, ruang rapat utama Alveric Tower telah dipenuhi aura ketegangan yang pekat. Alexander Alveric duduk di kursi pimpinan bersama Adrian dan Julian. Di sisi kanan, Gatan Rain dan Gadrian memamerkan senyum penuh percaya diri. Sementara di sisi kiri, Kael Mahendra duduk mengawasi dengan wibawa dingin yang tak tergoyahkan.
Nayla duduk di sudut belakang meja pimpinan, didampingi Eleanor. Sesuai perintah Alexander, Nayla dipaksa hadir untuk menandatangani berkas formalitas penyerahan aset yayasan sebagai bagian dari pengikat aliansi baru dengan Barito Group. Namun, di balik gaun hitam formal yang dikenakannya, jemari Nayla meremas pelan gawai kecil tanpa pelacak yang diselipkan Zavier semalam.
Pintu ganda ruang rapat mendadak terbuka lebar.
Seluruh pasang mata di dalam ruangan berputar menatap sosok yang baru saja melangkah masuk. Kehadiran Zavier yang begitu tenang dan percaya diri membuat Kael Mahendra menyipitkan matanya tajam, sementara Alexander mengetukkan jarinya ke meja dengan kening berkerut.
"Zavier?" Kael membuka suara dengan intonasi rendah yang sangat menekan. "Siapa yang mengizinkanmu melangkah ke ruangan ini setelah keputusan Papi kemarin?"
Gadrian ikut berdiri dengan raut wajah gusar. "Om Alexander, kenapa anak sekolah yang sudah dikeluarkan dari jajaran direksi ini bisa menembus pengamanan lantai utama?"
Zavier melangkah mantap menuju ujung meja mahoni panjang, berhenti tepat di titik netral antara klan Alveric, Mahendra, dan Barito. Ia meletakkan map abu-abu yang dibawanya ke atas meja, membiarkannya terbuka sedikit.
"Aku berdiri di sini sebagai perwakilan pemegang saham independen dari Vanguard Capital," tegas Zavier dengan suara bass-nya yang menggelegar tenang di seluruh penjuru ruangan. "Dan sesuai klausul addendum konsorsium pasal tiga belas, hak suara perwakilan independen wajib didengar sebelum penandatanganan pengalihan aset dilakukan."
Alexander tertawa dingin, menyandarkan punggungnya. "Vanguard Capital? Kamu pikir gertakan anak kemarin sore bisa menghentikan aliansi tiga klan besar, Zavier?"
"Ini bukan gertakan, Om Alexander," balas Zavier lancar tanpa ada sedikit pun jejak kegugupan. Ia menatap Alexander, lalu beralih menatap Kael dan Gatan Rain secara bergantian. "Vanguard telah membeli hak opsi atas seluruh obligasi jatuh tempo milik Barito Group di pasar Singapura pagi ini. Artinya... jika Alveric memaksa menyerahkan aset yayasan kepada Barito demi menekan Mahendra, seluruh likuiditas Barito akan langsung terbekukan oleh gugatan pembatalan opsi."
Ruangan itu seketika pecah dalam gejolak. Gatan Rain mendadak berdiri dengan wajah pucat pasi, menatap dokumen di meja dengan tidak percaya. "Bagaimana bisa... dari mana kamu mendapat modal untuk mengambil opsi itu?!"
Zavier tak menjawab pertanyaan Gatan. Matanya berpindah mengunci tatapan Nayla yang duduk di sudut ruangan. Di dalam manik mata jernih gadis itu, Zavier melihat pancaran kebanggaan dan keberanian yang kini merekah sempurna.
Nayla berdiri dari kursinya. Ia mengabaikan usapan panik dari Eleanor dan tatapan tajam dari Adrian. Nayla melangkah mendekati meja pimpinan, meraih berkas penyerahan aset yang sejak tadi disiapkan untuknya, lalu merobeknya menjadi dua bagian di hadapan Ayahnya dan Gatan Rain.
"Nayla!" bentak Alexander dengan suara memendam amarah yang luar biasa.
Nayla menatap ayahnya tanpa sedikit pun rasa takut yang tersisa. "Aku sudah bilang kemarin, Ayah. Aku bukan aset yang bisa dipindahkan atau dijual untuk menutupi celah likuiditas aliansi ini."
Nayla membalikkan tubuhnya, melangkah menghampiri Zavier dan berdiri tepat di samping pria Mahendra itu. Untuk pertama kalinya di hadapan seluruh petinggi tiga klan terbesar ibu kota, Nayla menyambut uluran tangan Zavier, menyelipkan jemarinya ke dalam genggaman erat Zavier yang tak tergoyahkan.
Kael Mahendra menatap anak bungsunya dalam diam. Di balik guratan ketegasannya, pimpinan tertinggi Mahendra itu menyadari satu hal: anak emas yang dicabut posisinya kemarin kini tidak lagi membutuhkan takhta Mahendra, karena ia telah membangun kekuatannya sendiri untuk melindungi apa yang ia cintai.
"Ayo kita pergi, Nay," bisik Zavier lembut di samping telinga Nayla.
Nayla mengangguk mantap. Bersama Zavier, Nayla membalikkan badan dan melangkah keluar dari ruang rapat yang kini dipenuhi kekacauan dan perdebatan antar-penguasa. Di balik tembok kaca Alveric Tower yang mulai diterpa sinar matahari pagi, rantai kekuasaan yang selama ini mengurung mereka akhirnya patah sepenuhnya menyisakan jalan panjang menuju kebebasan sejati yang mereka pilih bersama.
kekny zavier ini tipe aku 🤭