Nayara Zayna Az-Zahra putri kiai besar yang anggun, taat agama, dan berprestasi cemerlang hidup di balik pagar syariat yang ketat. Dunianya yang tenang seketika terusik oleh kehadiran Revan Al-Gibran: bad boy kampus, playboy legendaris, dan mantan kekasih dari lebih dari sepuluh wanita.
Berawal dari sebuah taruhan egois untuk menjadikannya kekasih yang kelima belas, Revan justru terjebak dalam pesona ketulusan dan benteng pertahanan Nayara. Di tengah teror cemburu dari sang ketua geng penindas kampus, pertarungan antara dunia bebas sang pemuda dan dunia suci sang bidadari pesantren dimulai.
" Bisakah seorang bad boy berandalan meluluhkan hati wanita yang dijaga ketat, atau justru keyakinan dan cinta sejatilah yang mengubah segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lembaran Baru di Kota Pahlawan dan Kejutan di Klinik Utama
Suara deru mesin mobil SUV hitam yang dikemudikan oleh Revan Al-Gibran membelah jalan tol Surabaya-Mojokerto dengan kecepatan stabil. Udara pagi hari minggu pertama bulan September terasa hangat, membawa aroma khas pesisir bercampur kesegaran kota metropolitan. Di kursi penumpang depan, Nayara Zayna Az-Zahra duduk tenang sambil menatap ke luar jendela, memperhatikan pemandangan gedung-gedung tinggi pencakar langit Kota Surabaya yang mulai menghiasi cakrawala.
Kepindahan mereka dari Pondok Pesantren Al-Hikmah ke sebuah rumah minimalis modern di kawasan elit Graha Famili, Surabaya Barat, terjadi tiga hari lalu. Rumah dua lantai berdesain Scandinavian itu kini resmi menjadi istana kecil mereka hasil hadiah pernikahan dari Kiai Ahmad Zayna dan keluarga besar Al-Gibran sebagai tempat tinggal mandiri sekaligus pangkalan operasional bagi Revan yang mulai memegang kendali penuh atas ekspansi cabang rumah sakit islam di bawah yayasan keluarga.
"Bagaimana tidurmu semalam di rumah baru kita, Zawjati?" tanya Revan memecah keheningan kabin mobil. Pemuda itu melirik sekilas ke arah istrinya, lalu tersenyum hangat sambil menggenggam lembut tangan kanan Nayara yang bebas.
Nayara menoleh, membalas senyuman suaminya dengan binar mata bahagia. "Sangat nyaman, Mas. Meskipun sempat merasa asing karena tidak mendengar suara santri mengaji seperti di ndalem pesantren, tapi lama-kelamaan aku mulai terbiasa. Apalagi rumahnya dekat sekali dengan kompleks rumah sakit tempatku nanti berdinas."
Revan mengangguk pelan. "Itu memang tujuanku memilih lokasi ini. Supaya jarak antara rumah sakit tempatmu koas dan kantorku tidak terlalu jauh, jadi kalau ada apa-apa, aku bisa langsung datang menemuimu dalam waktu singkat."
Pernyataan posesif namun penuh perhatian itu membuat pipi Nayara merona merah. Meskipun usia pernikahan mereka telah berjalan beberapa bulan, sikap Revan tidak pernah berubah pria itu tetap memperlakukannya bagaikan ratu yang harus dijaga setiap detik.
Hari ini bukanlah hari libur biasa. Setelah menyelesaikan urusan kepindahan dan penyesuaian administratif minggu lalu, Nayara resmi memulai tahap rotasi koasisten lanjutan di Rumah Sakit Islam Al-Hikmah Surabaya—cabang baru rumah sakit rujukan utama yang dikelola langsung oleh yayasan keluarga besar mereka. Sementara itu, Revan dijadwalkan menghadiri rapat koordinasi perdana dengan jajaran direksi rumah sakit dan dewan komisaris bisnis keluarga di ruang rapat utama lantai lima.
Setibanya di area drop-off Rumah Sakit Islam Al-Hikmah Surabaya yang megah dan bernuansa modern, mobil Revan berhenti mulus. Gedung rumah sakit berlantai delapan itu tampak sangat sibuk dengan hilir mudik perawat, dokter spesialis, serta pasien yang datang berobat.
Revan bergegas turun dan membukakan pintu untuk istrinya. Nayara melangkah keluar dengan mengenakan jas laboratorium putih bersih yang melapisi gamis abu-abu muda, lengkap dengan stetoskop di lehernya.
"Ingat pesan suami, jangan terlalu memforsir tenaga. Kalau jam istirahat tiba, langsung ke kantin lantai tiga, aku sudah menunggu di sana," pesan Revan sambil merapikan kerah jas lab istrinya dengan penuh kelembutan.
Nayara mengangguk patuh. "Iya, Pak Direktur. Aku ingat kok. Kalau begitu, aku masuk ke bangsal kebidanan dulu ya. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam warahmatullah. Semangat harinya, dokter kesayanganku!" balas Revan melambaikan tangan.
Di lantai tiga bagian Departemen Obstetri dan Ginekologi (Kebidanan dan Kandungan), suasana tampak sangat dinamis. Sebagai dokter muda yang menjalani rotasi di bagian kebidanan, Nayara langsung dihadapkan pada ritme kerja yang serba cepat dan penuh ketelitian.
Pagi itu, ia bergabung dengan kelompok koasnya untuk mengikuti briefing bersama dr. Maya, http://Sp.OG—seorang dokter spesialis kandungan senior yang terkenal sangat teliti, cekatan, namun sangat ramah membimbing para dokter muda.
"Selamat pagi, rekan-rekan dokter muda sekalian," sapa dr. Maya tersenyum ramah di ruang diskusi. "Hari ini kita kedatangan banyak pasien antenatal care (pemeriksaan kehamilan rutin), serta beberapa kasus rujukan dari puskesmas luar kota. Saya harap kalian semua fokus, jaga empati pada pasien, dan cermat membaca rekam medis."
"Baik, Dok!" jawab Nayara dan rekan-rekan koas lainnya serempak.
Kegiatan rotasi berjalan lancar hingga menjelang pukul dua belas siang. Nayara bersama seorang rekan koas prianya, Dimas, mendapat tugas untuk membantu mencatat riwayat kesehatan pasien di ruang pemeriksaan poliklinik kebidanan.
Saat Nayara sedang merapikan lembar rekam medis di meja perawat, pintu ruang poliklinik terbuka. Seorang perawat senior masuk dengan membawa map biru muda, tampak sedikit tergesa-gesa.
"Dokter muda Nayara, tolong siapkan ruang pemeriksaan dua. Pasien rujukan darurat dari klinik pratama baru saja datang dengan keluhan pendarahan ringan pada trimester ketiga kehamilan," lapor perawat tersebut dengan nada profesional.
"Baik, Sus! Saya siapkan sekarang," respons Nayara sigap.
Beberapa saat kemudian, pasien wanita tersebut didorong masuk menggunakan kursi roda oleh suaminya. Wanita itu tampak pucat, memegangi perut buncitnya dengan ekspresi wajah cemas luar biasa, sementara sang suami berdiri di sampingnya dengan napas terengah-engah berusaha menenangkan istrinya.
Nayara langsung melangkah mendekati brankar pemeriksaan. Dengan nada suara yang lembut, tenang, dan penuh empati, ia mencoba meredakan kepanikan pasangan suami istri tersebut.
"Selamat pagi, Ibu, Bapak. Tarik napas dalam-dalam dulu ya, jangan panik. Silakan ceritakan apa yang dirasakan sejak dari klinik tadi," ucap Nayara ramah sambil mengenakan sarung tangan medis.
Sang istri dengan suara bergetar menceritakan keluhannya, sementara sang suami terus menggenggam tangan istrinya erat-erat. Nayara segera melakukan pemeriksaan fisik awal, mengukur tekanan darah, mendengarkan denyut jantung janin menggunakan Doppler, serta mencatat setiap perubahan klinis secara cermat sesuai prosedur medis yang berlaku.
Di tengah proses pemeriksaan yang intens itu, tiba-tiba pintu ruang poliklinik terbuka lebar.
Seorang pria bertubuh tegap berjas hitam rapi melangkah masuk ke dalam ruangan. Bau parfum gaharu yang sangat khas langsung menyeruak, memenuhi ruangan kecil tersebut.
Revan.
Pria itu menyusul masuk karena urusan rapat di lantai lima telah selesai lebih cepat dari perkiraan, dan ia berniat mengajak istrinya turun ke kantin untuk makan siang bersama. Namun, begitu melihat Nayara tengah serius menangani pasien darurat dengan jas laboratorium putihnya, langkah Revan mendadak terhenti di dekat pintu.
Pria itu tidak bersuara sedikit pun. Ia berdiri tegap di sudut ruangan, melipat kedua tangannya di dada sambil memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya.
Melihat bagaimana Nayara berbicara dengan begitu tenang, tegas, penuh wibawa, namun tetap memancarkan kelembutan keibuan kepada pasien yang ketakutan, dada Revan bergemuruh hebat oleh gelombang rasa bangga yang luar biasa besar.
Wanita di hadapannya bukanlah lagi gadis penakut yang dulu sering menangis di koridor kampus akibat teror Jessica. Nayara Zayna Az-Zahra kini telah bertransformasi menjadi seorang dokter muda yang hebat, mandiri, dan siap menyelamatkan nyawa banyak orang.
Setelah sepuluh menit pemeriksaan selesai dan kondisi pasien dipastikan stabil sambil menunggu dr. Maya datang untuk visite lanjutan, Nayara merapikan alat-alat medisnya.
Saat ia membalikkan badan untuk mencuci tangan di washbasin, manik matanya tak sengaja menangkap sosok suaminya yang tengah bersandar di dekat pintu sambil tersenyum hangat menatapnya.
Pipi Nayara merona merah seketika. Ia tidak menyangka suaminya akan datang langsung ke ruang pemeriksaan poliklinik.
Dimas, rekan koas pria yang berdiri di samping Nayara, sempat melirik ke arah Revan, lalu menyenggol pelan lengan Nayara sambil berbisik usil, "Nay, itu suami kamu yang sering diceritain anak-anak kampus dulu ya? Sumpah, aslinya jauh lebih karismatik dibanding cerita kamu!"
Nayara hanya tersenyum salah tingkah, melepas sarung tangan medisnya, lalu berjalan menghampiri Revan yang kini sudah merentangkan sebelah tangannya menyambut kedatangan sang istri.
"Kamu kok malah nyampe sini, Mas? Katanya mau nunggu di kantin?" bisik Nayara malu-malu saat ia sudah berdiri tepat di hadapan suaminya.
Revan merangkul pinggang ramping istrinya dengan sangat natural di hadapan para perawat dan rekan koas, lalu mengecup sekilas puncak kepala Nayara yang berhijab rapi.
"Aku nggak sabar nunggu di kantin, Zawjati," jawab Revan dengan suara baritonnya yang rendah namun terdengar jelas oleh orang-orang di ruangan itu. "Aku tadi sengaja naik ke sini karena pengen lihat langsung dokter hebatku bekerja. Dan... aku sama sekali nggak salah pilih ratu untuk hidupku."
Mendengar pujian romantis di tengah jam sibuk rumah sakit itu membuat wajah Nayara semakin merah padam menahan malu, sementara perawat dan rekan koas di ruangan tersenyum geli menyaksikan kebucokan sang pengusaha muda terhadap istrinya.
Badai masa lalu telah lama berlalu, menyisakan kebahagiaan sejati yang kini bersemi indah di setiap jengkal langkah kehidupan mereka. Di bawah bimbingan agama, cinta suci, dan dukungan tanpa batas, Revan dan Nayara melangkah bersama menyongsong masa depan yang cerah di Kota Pahlawan.
bawangnya kebanyakan thor