NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 08 - Napas yang Tidak Boleh Putus

Jam lima kurang sepuluh, Alya sudah berdiri di lapangan.

Langit masih gelap. Udara pagi di perbatasan lebih dingin dari yang dia kira. Beberapa prajurit berbaris dengan wajah segar, seolah bangun sebelum subuh adalah hal paling mudah di dunia.

Alya menahan menguap.

Kapten Rendra datang membawa peluit.

"Pagi, Dokter."

"Pagi."

"Siap?"

"Kalau saya bilang tidak, latihan batal?"

Kapten Rendra tertawa. "Sayangnya tidak."

Damar muncul beberapa menit kemudian. Seragam olahraganya sederhana, kaus gelap dan celana latihan. Tanpa rompi, tanpa senjata, tapi tetap terlihat seperti perintah berjalan.

Matanya berhenti pada Alya.

"Kamu datang."

"Saya bisa membaca jam."

Salah satu prajurit di barisan menunduk menahan senyum.

Damar meniup peluit dari tangan Kapten Rendra tanpa melihatnya.

"Pemanasan."

Alya mengikuti gerakan. Awalnya masih baik. Peregangan, putar bahu, lutut, pergelangan kaki. Tapi ketika lari dimulai, dia mulai memahami perbedaan antara berdiri dua puluh jam di IGD dan mengikuti ritme prajurit.

Lapangan itu seolah tidak ada ujungnya.

Putaran pertama, dia masih bisa bernapas.

Putaran kedua, paru-parunya mulai protes.

Putaran ketiga, kakinya terasa seperti dipinjam dari orang lain.

Damar berlari di samping barisan, tidak terlihat lelah.

"Jaga napas."

Alya tidak menjawab.

"Jangan menahan napas."

Dia ingin berkata, saya dokter, saya tahu cara bernapas.

Tapi saat itu dia memang hampir lupa.

"Tarik dua langkah, buang dua langkah," kata Damar.

Alya mengikuti tanpa sadar.

Sedikit membantu.

Dia membenci fakta itu.

Setelah lari, latihan dilanjutkan dengan merayap rendah, melewati rintangan kayu, dan simulasi berlindung saat ada suara tembakan. Damar tidak memintanya melakukan semua dengan standar prajurit, tapi tetap cukup untuk membuat lengan dan lututnya gemetar.

Saat merayap di bawah tali, kerudung Alya tersangkut.

Dia berhenti setengah detik.

Prajurit di belakangnya ikut berhenti.

Damar melihat.

"Lepaskan, jangan panik."

"Saya tidak panik."

"Tanganmu panik."

Alya menggertakkan gigi, melepas kain yang tersangkut, lalu merayap lagi. Tanah basah menempel di siku. Saat keluar dari rintangan, dia berdiri terlalu cepat dan hampir limbung.

Sebuah tangan menangkap lengannya.

Damar.

Pegangannya kuat, singkat.

"Pelan."

Alya menarik lengannya.

"Saya baik."

"Aku tidak tanya."

"Anda tidak pernah tanya."

Damar menatapnya.

Kapten Rendra segera meniup peluit. "Latihan berikutnya! Simulasi evakuasi korban!"

Suasana tegang terputus.

Untuk simulasi evakuasi, Alya justru lebih cepat memahami. Dia tahu bagaimana mengangkat korban tanpa memperparah cedera, bagaimana membagi beban, bagaimana memeriksa jalan napas sebelum memindahkan.

Ketika seorang prajurit hendak menarik "korban" dari ketiak, Alya langsung menahan.

"Jangan. Kalau cedera tulang belakang, cara itu bisa memperburuk."

"Tapi di lapangan harus cepat, Dok."

"Cepat tidak berarti asal."

Damar mendengar dan tidak membantah.

Mereka mengulang teknik sampai benar.

Latihan selesai pukul tujuh. Alya duduk di pinggir lapangan, menerima botol air dari Bidan Rina yang datang menonton sambil tertawa.

"Dokter masih hidup?"

"Sepertinya."

"Wajah Dokter seperti orang habis jaga tiga shift."

"Lebih buruk. Pasien biasanya tidak menyuruh saya merayap di tanah."

Bidan Rina tertawa.

Damar berdiri beberapa meter dari mereka. Dia ingin mengatakan sesuatu, tapi radio di pinggangnya berbunyi.

"Dan, laporan dari pos tiga. Ada warga digigit ular di kebun dekat sungai kecil. Kondisi menurun."

Alya langsung berdiri.

Kakinya protes.

Damar menoleh padanya. "Kamu istirahat."

"Tidak."

"Alya."

"Saya dokter di pos ini."

"Kamu baru selesai latihan."

"Ular tidak peduli saya baru selesai latihan."

Damar menatapnya tajam.

"Kamu ikut di kendaraan kedua. Jangan turun sebelum aku pastikan lokasi aman."

"Baik."

Jawaban itu terlalu cepat sampai Damar curiga.

Alya mengambil tas medis, mengganti sarung tangan di perjalanan, dan bertanya pada prajurit tentang jenis ular. Tidak ada yang tahu pasti. Katanya kecil, warna gelap, menggigit saat korban membersihkan semak.

Lokasi kebun berada dekat sungai kecil, jalan setapak berlumpur. Kendaraan berhenti di titik terakhir yang bisa dilalui. Mereka berjalan kaki.

Alya merasakan pahanya gemetar, tapi dia tidak memperlambat langkah.

Damar berjalan di depan dengan dua prajurit. Dia sesekali menoleh, memastikan Alya masih ada.

Korban adalah pria sekitar tiga puluh tahun, namanya Yonas. Dia terbaring di bale bambu depan pondok kebun. Kakinya bengkak di sekitar pergelangan. Wajahnya pucat, keringat dingin. Keluarganya menangis.

Seorang lelaki tua sedang mengikat paha korban dengan kain sangat kuat.

"Lepas," kata Alya begitu melihat.

Lelaki itu marah. "Ini supaya racunnya tidak naik!"

"Kalau terlalu kuat, kakinya bisa rusak. Lepas pelan."

"Kamu siapa?"

"Dokter."

"Kami sudah biasa begini."

Alya berlutut, menjaga suaranya tetap tenang.

"Bapak mau dia hidup dengan kaki utuh atau mau bertaruh dengan cara lama?"

Lelaki itu terdiam.

Damar berdiri di belakang Alya. Tidak bicara. Tapi kehadirannya membuat orang-orang mundur sedikit.

Alya memeriksa luka gigitan. Dua titik kecil. Bengkak bertambah. Dia menandai batas bengkak dengan spidol, mencatat waktu, memeriksa tanda sistemik.

"Jangan disayat. Jangan dihisap. Jangan diberi minum jamu dulu. Imobilisasi kaki. Kita evakuasi."

Istri korban menangis. "Dia akan mati, Dok?"

"Saya tidak akan bohong. Bisa bahaya. Tapi kita masih punya waktu kalau bergerak cepat."

"Serum ular ada di sini?" tanya Damar.

Alya menatap Rina.

Rina menggeleng dengan wajah tegang.

"Stok kosong. Permintaan bulan lalu belum datang."

Damar mengumpat pelan.

Alya langsung mengambil keputusan.

"Rujuk ke RSUD. Hubungi IGD, pastikan mereka punya antivenom atau minta dari Kupang. Kita stabilkan di jalan."

"Jalan ke sana dua jam lebih," kata Kapten Rendra.

"Maka kita mulai sekarang."

Evakuasi tidak mudah. Jalan setapak licin, tandu darurat harus diangkat bergantian. Alya berjalan di sisi korban, memeriksa kesadaran dan napas. Damar beberapa kali mengambil alih bagian berat tandu tanpa banyak bicara.

Di tengah jalan, Yonas mulai mengeluh sesak.

Alya menghentikan rombongan.

"Turunkan pelan."

Dia memeriksa napas, tekanan darah, dan denyut nadi. Kondisi memburuk.

"Oksigen."

Rina menyerahkan tabung kecil.

Alya memasang masker. Tangannya bergerak cepat, tapi pikirannya lebih cepat lagi. Kelelahan dari latihan pagi seperti hilang diganti fokus yang dingin.

Damar berjongkok di seberang.

"Apa yang kamu butuh?"

"Waktu. Jalan lebih cepat. Dan jangan biarkan keluarganya panik."

Damar berdiri.

"Rendra, dua orang amankan jalur depan. Yang lain gantian angkat. Tidak ada berhenti kecuali dokter bilang."

"Siap!"

Istri Yonas mulai menangis keras. Damar mendekatinya.

Alya tidak mendengar semua yang dia katakan, hanya melihat perempuan itu perlahan mengangguk dan berhenti meraung.

Evakuasi dilanjutkan.

Saat sampai kendaraan, Alya hampir jatuh karena lututnya lemas. Damar menangkap sikunya lagi.

Kali ini dia tidak langsung melepas.

"Masuk. Aku antar."

"Saya ikut pasien."

"Aku tahu."

Di perjalanan, Alya terus memantau Yonas. Dia memberi laporan via radio ke RSUD, meminta persiapan antivenom dan ruang resusitasi. Suaranya tetap stabil meski keringat dingin mengalir di punggung.

Damar mengemudi dengan kecepatan tinggi tapi terkendali.

Sekali, di tikungan tajam, tangan Alya hampir terlepas dari alat.

Damar langsung memperlambat sedikit.

"Jangan lambat," kata Alya.

"Aku tahu batas mobil ini."

"Saya tahu batas pasien."

"Maka kita sama-sama jangan melewati batas."

Alya tidak menjawab.

Yonas tiba di RSUD dalam kondisi kritis tapi masih hidup. Tim IGD sudah siap. Setelah serah terima, Alya berdiri di lorong, tubuhnya akhirnya sadar bahwa ia sudah berlari, merayap, berjalan di lumpur, dan menangani emergensi tanpa makan sejak subuh.

Dunia berputar.

"Alya."

Suara Damar terdengar dekat.

"Saya baik."

Dia mengatakan itu terlalu cepat.

Langkahnya goyah.

Damar menangkap bahunya sebelum dia jatuh.

"Kamu tidak baik."

Alya ingin menepis, tapi tubuhnya tidak menurut.

Damar membawanya duduk di kursi lorong. Dia mengambil botol air, membukanya, dan menyerahkannya.

"Minum."

Dia menurut.

Damar berjongkok di depannya, memeriksa wajahnya.

"Kamu pucat."

"Terima kasih atas observasi medisnya."

"Masih sempat menyindir berarti belum pingsan."

Alya tertawa lemah.

Sesuatu berubah di mata Damar. Hanya sebentar. Seperti kekhawatiran yang tidak sempat disembunyikan.

Alya melihatnya.

Damar juga sadar dia melihat.

Dia langsung berdiri.

"Setelah ini kamu makan."

"Saya harus cek kondisi Yonas."

"Setelah itu makan."

"Komandan memberi perintah medis lagi?"

"Tidak. Suamimu memberi perintah."

Kalimat itu membuat Alya membeku.

Damar sendiri tampak terkejut dengan ucapannya.

Lorong IGD mendadak terlalu sunyi.

Alya menunduk, menggenggam botol air.

"Bukankah Anda bilang itu hanya status?"

Damar tidak menjawab.

Pintu ruang tindakan terbuka sebelum dia sempat mengatakan apa pun.

Dokter jaga keluar.

"Keluarga pasien Yonas?"

Alya berdiri refleks.

Damar juga.

Untuk sementara, mereka sama-sama memilih pasien sebagai tempat bersembunyi.

1
Sanjaria Abubakar
jual mahal Alya jangan langsung Nerima semangat Alya 💪
Sanjaria Abubakar
jadi gemes
Mun awaroh
penasaran kanjutanyya
Si Memeh
cerita nya bagus thor 👍👍👍 konflik berat, keren, mantap, tp sy ngga sanggup mikirin nya thor 🤭
Bundanyafatiyah
ceritanya bagus cuma terlalu berbelit2 banyak. pengulangan cerita...
Leni Maulani
ia ngambang
Janah Husna Ugy
q baca nya teliti bgt,meresapi,,
Nonce Yusnita
mestinya di jelaskan ..bab yang kemarin arka SDH tidur dgn ayah dan mamanya
Nonce Yusnita
bingung menyelamatkan arka nah arka bersama ayah dan ibunya
yuqana
aku maraton bacanya kak, aku syuka bgt bgt bgt novel ini, 😍😍😍😍😍
Lovely Fictions
Nadia jadi Marlina... Wiranata apa Wiratama jadi Pradipta.... Lara's dulu kakak sdh menikah skrg jd Adik
sry batlolona
lanjut ceritanya
santi robby
cie JD seru ini..
Dewi Asih
lanjut kak
Inne Ermalia Inot
membingungkan mkn k sini ceritanya
sdit bis
lucu
sdit bis
next
Faried Zhie
uwuuu
bunda fafa
tidak usah di balas .jd kakak kok egois banget si laras itu
Desifa Juni Raya
ini dh selesai pa blom
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!