"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16: Dr. Farrel
dr. Farrel Wicaksono tiba di RSUD Harapan Bangsa dua hari setelah video operasi otak Rangga menyebar ke luar negeri.
Ia datang dengan jas yang terlalu rapi untuk rumah sakit daerah yang masih berbau antiseptik dan asap bencana. Sepatunya mengilap. Jam tangannya mahal. Senyumnya tipis, seperti seseorang yang sudah terbiasa disambut sebelum mengetuk pintu.
Di ruang rapat kecil, Pak Hendra duduk di kepala meja. Pak Bambang bersandar dengan wajah datar. Rangga duduk di sisi lain, masih dengan lengan bekas luka kecil yang ditutup plester.
dr. Farrel meletakkan kartu namanya di meja.
"dr. Farrel Wicaksono, MD. Saat ini saya praktik di Amerika Serikat dan menjadi peneliti tamu untuk program Prof. Howard Bennett di Universitas Camden."
Pak Hendra mengangguk sopan.
"Silakan, Dokter Farrel."
Farrel menatap Rangga lebih lama daripada menatap yang lain.
"Saya akan langsung. Video operasi Anda menarik perhatian banyak orang. Prof. Bennett menilai kemampuan Anda tidak semestinya terkurung di fasilitas seperti ini."
Ruangan hening.
Pak Bambang mengangkat alis.
Rangga hanya bertanya, "Fasilitas seperti ini maksudnya RSUD Harapan Bangsa?"
"Jangan salah paham. Saya menghormati kerja keras rumah sakit daerah. Menurut saya, pusat riset besar tetap menjadi penggerak utama dunia kedokteran. UGD yang kewalahan tiap malam sulit mengambil peran itu."
Kata-kata itu diucapkan halus.
Justru karena halus, ia terdengar lebih merendahkan.
Pak Hendra tetap tersenyum tipis, tetapi jari-jarinya berhenti mengetuk meja.
Farrel membuka map berisi dokumen.
"Universitas Camden dapat menawarkan akses riset, publikasi internasional, fasilitas neuro-surgery advanced, koneksi industri, dan jalur karier global. Anda bisa menjadi lebih dari sekadar dokter viral."
"Saya tidak tertarik," jawab Rangga.
Farrel berhenti setengah detik.
Mungkin ia terbiasa orang meminta waktu berpikir. Mungkin ia terbiasa orang terpesona pada kata global.
"Dokter Rangga, mungkin Anda belum memahami skalanya."
"Saya memahami."
"Ini kesempatan yang tidak datang dua kali."
"Pasien UGD juga sering tidak datang dua kali."
Pak Bambang menunduk, menyembunyikan senyum.
Farrel menarik napas.
"Anda emosional karena baru terkenal. Saya mengerti. Tapi ketenaran lokal cepat hilang. Di Amerika Serikat, dengan bimbingan Prof. Bennett, kemampuan Anda bisa menjadi standar dunia."
"Kalau kemampuan saya berguna, ia bisa berguna dari sini."
"Dari sini?" Farrel melirik jendela ruang rapat, ke arah koridor yang penuh pasien. "Anda sungguh ingin menghabiskan hidup memadamkan kebakaran kecil di rumah sakit kelas daerah?"
Pak Bambang kini tidak tersenyum lagi.
Rangga menatap Farrel.
"Kemarin kebakaran kecil itu mengambil puluhan korban."
"Saya bicara masa depan Anda."
"Saya juga."
Farrel mengetuk map dengan ujung jari.
"Dokter Rangga, dunia tidak menunggu idealisme. Orang berbakat harus berada di panggung terbesar."
"Panggung terbesar bagi dokter adalah tempat pasien sedang sekarat."
Udara di ruang rapat berubah padat.
Pak Hendra akhirnya berkata, "Dokter Farrel, kami menghargai undangan Prof. Bennett. Tapi keputusan tetap pada Dokter Rangga."
Farrel menoleh cepat.
"Pak Direktur, dengan hormat, rumah sakit Anda juga akan diuntungkan. Nama RSUD Harapan Bangsa bisa masuk jaringan internasional."
"Kalau caranya mengambil dokter terbaik kami tanpa mendengar keinginannya, keuntungan itu terlalu mahal."
Farrel tersenyum, tetapi senyumnya sudah retak.
Sebelum ia bisa menjawab, suara ribut terdengar dari koridor.
"Nak, tunggu sebentar. Ibu cuma mau lihat kamu..."
Suara perempuan tua.
Lalu suara laki-laki yang letih.
"Farrel, Ayah dan Ibu jauh-jauh datang. Lima menit saja."
Wajah Farrel langsung berubah oleh rasa malu.
Malu karena orang-orang di ruangan itu mendengar suara yang menurutnya tidak pantas masuk ke ruang rapat berpendingin.
Pintu terbuka sedikit. Seorang petugas tampak bingung.
"Maaf, Pak Direktur. Ada orang tua Dokter Farrel di luar. Mereka bilang..."
"Saya sudah bilang jangan ganggu," potong Farrel dingin.
Rangga menoleh.
Di koridor, Pak Suhardi berdiri dengan kemeja sederhana yang kusut karena perjalanan. Bu Rohana memegang kantong plastik berisi makanan, mungkin bekal dari rumah. Wajah perempuan itu lelah, tetapi matanya menyala begitu melihat anaknya.
"Farrel, Nak..."
Farrel berdiri cepat.
"Kenapa Ibu datang ke sini?"
Bu Rohana tersenyum gugup.
"Ibu lihat berita. Katanya kamu pulang ke Indonesia. Ibu masak sedikit. Kamu dulu suka..."
"Ibu tidak perlu melakukan ini."
Kalimat itu jatuh seperti pintu besi.
Pak Suhardi mengerutkan wajah. "Nak, ibumu cuma kangen."
"Ayah juga. Jangan membuat keributan di tempat kerja saya."
Bu Rohana membeku.
Kantong plastik di tangannya bergetar.
Beberapa perawat berhenti di koridor. Suster Yuni, yang baru datang membawa dokumen, langsung memperlambat langkah. dr. Alya muncul dari arah UGD, wajahnya berubah ketika melihat suasana.
Rangga berdiri.
"Dokter Farrel, mereka orang tua Anda?"
"Ini urusan pribadi."
"Mereka memanggil Anda dengan baik-baik."
Farrel menoleh tajam.
"Anda tidak tahu apa-apa tentang hidup saya."
"Saya tahu cukup untuk melihat seorang ibu membawa makanan dan diperlakukan seperti gangguan."
Wajah Farrel memerah.
"Jangan sok mengajari saya. Anda mungkin pahlawan untuk internet, tapi bukan siapa-siapa di kehidupan saya."
Pak Suhardi maju setengah langkah.
"Farrel, Nak, jangan bicara begitu. Dokter ini..."
"Ayah diam."
Suara itu membuat seluruh koridor senyap.
Rangga menatap Farrel dengan mata yang perlahan menjadi dingin.
"Kamu bisa jadi dokter hebat di Amerika, tapi kamu tidak bisa jadi anak yang baik untuk orang tuamu?"
Kalimat itu tidak keras.
Tetapi semua orang mendengarnya.
Bu Rohana menunduk. Air mata jatuh ke punggung tangannya.
Farrel tampak seperti ditampar di depan umum.
"Cukup."
Ia meraih tangan ibunya dan menarik perempuan itu menjauh dari pintu ruang rapat.
"Pulang. Sekarang."
"Farrel, Ibu cuma..."
"Pulang!"
Tarikan itu terlalu kasar.
Bu Rohana kehilangan keseimbangan.
Kantong plastik jatuh. Kotak makanan terbuka di lantai. Tubuh perempuan tua itu terdorong ke samping dan menghantam dinding sebelum jatuh terduduk.
"Ibu!" Pak Suhardi berteriak.
Rangga bergerak sebelum pikirannya selesai membentuk kata.
Tangannya mencengkeram kerah jas Farrel, mendorongnya keras ke dinding koridor.
Brak.
Punggung Farrel menghantam tembok.
Rangga tidak memukul.
Tetapi jarak wajah mereka hanya satu kepalan.
"Kalau kamu berani menyentuh ibumu sekali lagi..."
Suaranya rendah.
Lebih menakutkan daripada teriakan.
Farrel terengah, matanya melebar. Untuk pertama kalinya sejak datang, tidak ada keangkuhan di wajahnya. Yang ada hanya rasa terkejut bahwa seseorang berani memperlakukannya seperti manusia biasa yang bisa salah.
"Lepaskan saya," desisnya.
"Minta maaf pada ibumu."
"Anda gila?"
Rangga menekan kerahnya lebih kuat.
"Minta. Maaf."
Pak Bambang berdiri di belakang Rangga, tidak menariknya.
Pak Hendra tidak memanggil keamanan.
dr. Alya sudah berlutut di samping Bu Rohana, memeriksa bahu dan kepala perempuan itu.
"Bu, bisa dengar saya? Ada pusing? Sakit di tangan?"
Bu Rohana menangis, tetapi masih mencoba melihat anaknya.
"Farrel jangan disakiti... dia cuma capek..."
Kalimat itu membuat beberapa perawat memalingkan wajah.
Bahkan setelah didorong, ibu itu masih membela anaknya.
Rangga melepaskan Farrel perlahan.
"Lihat," katanya. "Orang yang kamu dorong masih mengkhawatirkan kamu."
Farrel merapikan jasnya dengan tangan gemetar.
Ia menatap sekeliling.
Tidak ada satu pun wajah yang membelanya.
Suster Yuni berdiri tegak.
"Kalau Ibu ini perlu perawatan, kami akan buat laporan kejadian."
Pak Hendra menambahkan, suaranya dingin, "Dokter Farrel, pembicaraan kita selesai. RSUD Harapan Bangsa menolak undangan Anda."
Pak Bambang menatapnya dari atas ke bawah.
"Dan sebagai sesama dokter, saya malu melihat caramu memperlakukan pasien pertama dalam hidupmu: ibumu sendiri."
Farrel membuka mulut, tetapi tidak ada kalimat yang cukup kuat untuk melawan koridor penuh saksi.
Ia mengambil map dari meja dengan gerakan kasar.
Sebelum pergi, ia menatap Rangga.
"Kamu akan menyesal menolak Camden. Dunia kedokteran bukan hanya Indonesia."
Rangga menjawab datar, "Kalau dunia kedokteran membuatmu lupa cara menjadi anak, dunia itu tidak sebesar yang kamu kira."
Wajah Farrel mengeras.
Ia berbalik dan berjalan cepat keluar.
Di halaman rumah sakit, ia masuk ke mobil, membanting pintu, lalu mengeluarkan ponsel.
Napasnya masih kasar.
Ketika sambungan terhubung, suaranya kembali tertata, tetapi matanya penuh dendam.
"Prof. Bennett, dia menolak. Tapi saya punya rencana lain..."