Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Tanpa Max
Cassia duduk di mejanya dan membuka laptop. Ketika dia akan memulai kerja, ponselnya bergetar. Pesan dari Max.
[Bagaimana? Sesuai?]
Dia membalas cepat. [Ya, ini melebihi ekspektasiku. Terima kasih, Tuan.]
Balasan Max datang hanya beberapa detik kemudian. [Nikmati saja. Ini fasilitasmu.]
Dia mengetik lagi. [Terima kasih, Tuan.]
Cassia menaruh ponselnya menghadap ke bawah di atas meja. Senyumnya tidak mau pergi.
Dia menatap layar laptop, mencoba fokus pada pekerjaan. Laporan menunggu. Email menunggu. Rapat dalam dua jam lagi menunggu. Tapi hari ini, semuanya terasa sedikit lebih membahagiakan baginya.
Bukan karena pakaiannya. Bukan karena tasnya.
Bukan karena nama-nama besar di label-label itu.
Tapi karena seseorang telah repot-repot membelikan semua itu untuknya. Dan seseorang itu adalah orang yang sudah mengisi hatinya selama setahun.
*
*
Seharian itu Cassia bekerja seperti biasanya. Tapi dia tak melihat bosnya, Max, di mejanya. Max hanya bilang ada urusan keluar seharian ini.
Ada sedikit kecewa karena dia tak bisa melihat Max hari ini, tapi dia sudah cukup bahagia karena hadiah dari Max itu.
Jam menunjukkan pukul setengah delapan malam ketika Cassia akhirnya menutup laptopnya. Matanya perih, kepalanya sedikit pusing, tapi setidaknya laporan yang harus diserahkan besok pagi sudah rampung.
Cassia meregangkan tangannya ke atas, merasakan otot-otot punggungnya yang terasa kaku.
Ia beranjak dari kursi, berjalan menuju kaca jendela besar di ruang kerjanya. Dari ketinggian, lampu-lampu kota terlihat seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi.
Mobil-mobil melintas di bawah. Cassia membiarkan keningnya menyentuh kaca dingin, matanya menerawang tanpa fokus.
Ponselnya yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Suara getarnya terdengar terlalu keras di ruangan yang sunyi.
Cassia berbalik, berjalan malas mengambil ponselnya. Siapa lagi yang menelepon jam segini? Max? Tak mungkin. Pria itu biasanya bersenang-senang dengan temannya di waktu seperti ini.
Cassia melihat nama Bryan. Dia tampak ragu untuk menjawab karena Max sudah memperingatkannya untuk tak terlalu dekat dengan Bryan.
Ponselnya masih bergetar. Cassia menatap layar itu dengan bimbang. Akhirnya,, Cassia menggeser layar ke arah hijau.
"Halo?" suaranya terdengar lebih pelan.
"Hei." Suara di seberang sana begitu familiar. "Cassia. Apa kabar?"
Cassia menarik napas panjang. "Hai … aku baik-baik saja.”
"Cassia, aku di depan kantormu sekarang. Di lobi."
“Apa?”
"Ya. Aku datang ke kantormu karena ... aku ingin melihatmu. Mengobrol sebentar karena waktu itu kita hanya sebentar bertemu. Makan malam, mungkin? Aku tahu ini mendadak, tapi ...”
"Bryan, ini sudah malam. Dan aku—"
"Aku sudah di sini, Cassia. Security di bawah sudah konfirmasi kalau kau masih di dalam. Jadi tolong, jangan suruh aku pulang dengan perasaan hampa."
Cassia menutup matanya. Kepalanya berputar. Ada seribu alasan untuk menolak. Badannya lelah. Penampilannya berantakan setelah seharian di kantor.
Dan yang paling penting, karena Max tak akan menyukai ini. Ia tidak ingin membuat Max berpikir yang tidak-tidak pada mereka.
Tapi Bryan selalu baik padanya dan dia tak bisa menolak ajakannya.
"Tunggu aku di bawah. Aku akan membereskan mejaku dulu.”
"Ya. Terima kasih, Cassia."
*
*
Lima belas menit kemudian, lift membawa Cassia turun ke lantai dasar. Pintu lift terbuka, dan Cassia melihat lobi kantor yang masih terang.
Dan di sana, Bryan berdiri di samping meja tamu.
Dia tampak rapi, dan tampan. Mungkin, jika Cassia belum bertemu Max—mungkin dia akan menyukai Bryan yang tampan, baik, dan humoris.
tpi untuk visual max disini bikin aku sedikit 🤏 salting 🤭