NovelToon NovelToon
Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Di Bawah Kuasa Mantan Suami

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Follow IG @Lala_Syalala13
Subscribe YT @NovelLalaaa

Tiga tahun lalu, Safira Angela memilih berpisah dari Gavin Alvaro Abraham dengan alasan palsu yaitu dia mengaku telah berselingkuh. Padahal, itu hanyalah kebohongan yang terpaksa dibuatnya agar Gavin dan keluarga besar Abraham tidak terseret dalam masalah pelik yang sedang menimpa keluarganya.

Setelah resmi bercerai, Safira pun memilih menghilang demi melindungi pria yang sangat-sangat dia cintai.

Namun, takdir berkata lain. Tiga tahun kemudian, perusahaan tempat Safira bekerja diakuisisi oleh Abraham Group.

Mengetahui keberadaan sang mantan istri, Gavin langsung memerintahkan agar Safira dimutasi ke kantor pusat.

Di sana, Safira terpaksa bekerja di bawah pengawasan langsung mantan suaminya yang kini telah berubah menjadi CEO dingin, penuh kebencian, dan menyimpan dendam mendalam akibat masa lalu.

BAGAIMANA KELANJUTAN CERITANYA????
JANGAN LUPA DI BACA YAAAAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jauh Lebih Berat

"Tuan Gavin..." ucap Safira, suaranya terdengar sangat tipis, serak, dan parau. Ia menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan,

"Terima kasih banyak... karena Anda sudah menolong saya dan memanggil dokter. Saya... saya minta maaf karena sudah merepotkan dan membuat kekacauan di ruangan Anda." tutur Safira dengan penuh rasa bersalah dan memohon maaf.

Gavin tidak menjawab. Pria itu bangkit dari kursi lipat dengan gerakan yang sengaja diperlambat, menampilkan siluet tubuh tinggi tegap yang seketika mengurung atmosfer di sekitar sofa. Ia melangkah satu mendekat, berdiri tegak dengan kedua tangan yang tenggelam di dalam saku celana bahan hitamnya. Ekspresi wajahnya begitu datar, seperti pahatan patung marmer yang tak memiliki emosi.

Melihat respons Gavin yang membisu, Safira meremas pinggiran selimut dengan tangan kanannya. Ketakutan bahwa ia akan segera menerima makian kejam membuat jantungnya berdegup tidak teratur.

"Waktu... waktu sudah sangat malam, Tuan." lanjut Safira lirih, matanya melirik sekilas ke arah dinding kaca yang menampilkan kegelapan pekat kota Jakarta.

"Cairan infusnya juga sudah hampir habis. Jika Anda mengizinkan, saya... saya ingin pamit pulang sekarang. Saya bisa melepaskan jarum ini sendiri atau meminta bantuan di luar." lirih Safira mencoba menghindar dari keadaan ini.

Mendengar kata pulang yang meluncur dari bibir Safira, sesuatu di dalam dada Gavin mendadak tersulut. Rasa khawatir yang luar biasa, ketakutan saat melihat tubuh ramping itu tumbang tak berdaya beberapa jam lalu, serta penyesalan yang sempat menghantui pikirannya sepanjang malam, seketika tertutup rapat oleh ego dan gengsi yang membumbung tinggi.

Gavin menolak untuk terlihat lemah di depan wanita yang telah menghancurkan hatinya tiga tahun lalu. Ia menolak memperlihatkan bahwa ia begadang semalaman hanya untuk memastikan helaan napas Safira tetap berembus teratur.

Gavin terkekeh rendah, sebuah tawa sinis yang langsung menyayat hati Safira yang rapuh.

"Pulang? Kamu pikir tempat ini adalah hotel yang bisa kamu datangi dan tinggalkan sesuka hatimu, Safira Angela?" tanya Gavin, nadanya dingin, tajam, dan penuh dengan penekanan yang merendahkan.

Pria itu sengaja memundurkan tubuhnya, bersandar pada pinggiran meja kerja mahoninya seraya melipat kedua tangan di depan dada.

"Kamu pingsan di ruanganku, mengotori karpetku dengan tubuh payahmu, dan sekarang setelah menyusahkan dokter pribadiku, kamu ingin pergi begitu saja tanpa menyelesaikan tanggung jawabmu?" tegasnya.

Safira merasakan dadanya sesak, persis seperti dugaan yang ia pikirkan saat pertama kali membuka mata tadi. Tidak ada kelembutan. Tidak ada Gavin yang dulu.

"Saya benar-benar minta maaf, Tuan Gavin." lirih Safira.

Safira menundukkan kepalanya, tidak sanggup lagi menatap binar kebencian di mata pria itu. Rambut panjangnya yang terurai menutupi sebagian wajah kuyu miliknya.

"Saya tidak bermaksud menyusahkan Anda. Untuk biaya dokter dan cairan infus ini, saya akan menggantinya. Anda bisa memotongnya langsung dari gaji saya bulan ini. Tapi tolong, biarkan saya pulang sekarang. Tubuh saya... sudah sedikit lebih baik." ucap Safira.

"Gaji?" Gavin mendengus remeh.

"Kamu pikir berapa besar gajimu sebagai staf pindahan di kantor ini hingga kamu dengan sombongnya menawarkan diri untuk membayar biaya Dokter Adrian? Bahkan jika gajimu ditiadakan selama tiga bulan pun, itu tidak akan cukup untuk membayar waktu yang terbuang dari seorang dokter spesialis." Gavin begitu meremehkan Safira sekali dan wanita itu hanya bisa diam tanpa membalas karena ucapan Gavin memang betul.

Gavin melangkah maju lagi, kali ini berhenti tepat di depan lutut Safira. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya, memaksa Safira untuk kembali mendongak dan menatap dominasi mutlak yang ia miliki.

"Dengar baik-baik, Safira. Kamu tidak akan pergi dari ruangan ini sampai cairan infus itu benar-benar habis dan aku mengizinkanmu keluar." desis Gavin kejam, menyembunyikan fakta bahwa Dokter Adrian melarang keras Safira bergerak atau menerima tekanan psikologis selama dua puluh empat jam.

Gavin sengaja membungkus perintah medis itu dengan ancaman dan kekejaman agar terlihat seperti sebuah hukuman.

"Aku tidak ingin ada rumor yang beredar di luar sana bahwa Abraham Group membiarkan karyawannya mati kelaparan di jalanan setelah keluar dari gedung pusat. Itu akan merusak citra perusahaanku." ucapannya begitu menyakitkan namun ada rasa khawatir dibaliknya yang gengsi untuk dia akui.

Safira menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mendadak mendesak ingin keluar. Rasa sakit di hatinya jauh lebih perih daripada kram lambung yang sedang menyiksanya. Gavin benar-benar menganggapnya sebagai hama yang hanya bisa merusak reputasi dan nama baik.

"Saya mengerti... citra perusahaan Anda adalah yang utama." bisik Safira, suaranya bergetar hebat. Ia mencengkeram kain rok hitamnya dengan genggaman yang erat.

"Saya akan menunggu di sini sampai infusnya habis. Setelah itu, saya bersumpah tidak akan menampakkan wajah payah saya lagi di lantai ini jika tidak Anda panggil." ujar Safira begitu tahu diri posisi dan statusnya.

Gavin merasakan denyut aneh di dadanya saat mendengar getaran parau di suara Safira. Ada bagian dari dirinya yang ingin berhenti memaki, ada dorongan kuat untuk duduk di samping wanita itu, menariknya ke dalam pelukan, dan menyuruhnya berhenti bersikap formal yang menyakitkan.

Namun, bayangan surat perpisahan palsu tiga tahun lalu kembali berkelebat, menampar logikanya untuk tetap menjadi seorang Gavin yang penuh dendam karena pengkhianatan tersebut.

"Bagus jika kamu tahu diri." kata Gavin dingin, kembali menegakkan tubuhnya dan berbalik membelakangi Safira. Ia berjalan menuju dispenser air di sudut ruangan, menuangkan air hangat ke dalam sebuah gelas kaca tanpa menimbulkan suara bising.

Dari tempatnya duduk, Safira hanya bisa memandangi punggung tegap itu dengan pandangan yang buram oleh air mata yang ia tahan di pelupuk mata. Ia tahu, mulai hari ini, kehidupannya akan menjadi jauh lebih berat.

Sejak bertemu dengan Gavin di kelab malam The Velvet Room dia dilarang keras oleh Gavin untuk ia datangi lagi dan Safira memang sudah memutuskan untuk benar-benar berhenti dari pekerjaan sampingan itu demi keselamatan rekan-rekan kerjanya dan ia kini sepenuhnya berada di bawah cengkeraman kekuasaan pria ini. Tidak ada lagi jalan keluar, tidak ada lagi tempat bersembunyi.

Gavin kembali mendekati sofa, meletakkan gelas berisi air hangat itu dengan bantingan pelan di atas meja kaca kecil di samping Safira.

"Minum itu," perintah Gavin tanpa memandang wajah Safira dan ucapannya terdengar begitu dinginnya.

"Lalu habiskan sisa infusanmu. Jangan mencoba melakukan gerakan bodoh yang bisa membuat jarum itu patah di dalam pembuluh darahmu. Aku tidak punya waktu untuk mengurus kecerobohanmu lagi malam ini." seru Gavin tidak ada kelembutan sama sekali dalam ucapannya.

"Terima kasih, Tuan Gavin." jawab Safira sangat lirih.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Lusi Hariyani
pagi2 mewek krn safira yg malang...gavin cr th dong knp dl safira pergi jgn jd laki2 pengecut
Arin Payjemz
sudah 30 episode ceritanya masih kayak stuck di tempat ..maaf thor bukan maksud mengkritik ..tapi ceritanya selalu saja ada pengulangan tentang sakit hatinya Gavin tentang surat cerai dan Safira yg takut tentang keadaan teman kantornya ..jadi kayak diulang" itu aja 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🫰🏻
Oma Gavin
kapan part gavin tau kebenarannya dan safira berharap tetap tidak mau rujuk apapun yg terjadi, bila perlu pergi jauh dan tidak bisa diketemukan gavin
Rahma Inayah
lanjut up LG thor
Eliermswati
cerita msh d tmpt aj g ad perubahan sllu aj fura jd sasaran trs g ad rasa kahn gtu, itu mah terlalu kejam g mau nyari bukti dlu😂😂😂
Oma Gavin: ya ngga sabar gavin tau kebenarannya
total 1 replies
Lusi Hariyani
ya ampun safira yg kuat ya...tp sekuat2 y perempuan pasti akn tumbang jg
Rahma Inayah
gregetan ..bcnya knp Fira km GK jujur aja toh skrg km SDH ceria juga akn lbh baik jujur biar Gavin GK slh fatham klu dia TDK percaya y SDH biar Gavin cr tau sendri kebenarnya .
Asni Mariati
lanjuttt
Fitra Sari
lanjutttttt
imel
bilang aja khawatir 🤭
Lusi Hariyani
yahhh kecewa pembaca dech...gavin blm blh disadarkan ternyata ntar klo safira dh diambang kematian br disadarkan gavin y
imel
terkadang hati yang sudah tertutup kebencian tidak akan pernah bisa melihat apapun di depannya bahkan jika itu adalah kebenaran
Oma Gavin
kupikir Gavin sadar lihat safira hampir mati ternyata dendam nya sudah mendarah daging sehingga ego nya lebih memilih untuk balas dendam
Eliermswati
thor kpn gavin sdr nya kahn fira hrs menderita sendiri😭😭 cerita nya menguras esmosi aj thor soalnya ceo nya terlalu angkuh g mau nyari bukti dlu
Asni Mariati
sedihhhh kali kak
kasian ny safira😭😭😭😭
irma hidayat
kamu kejam gavin
Sastri Dalila
🙄🙄
Eliermswati
ayo loh gavin tanggung jawab smpe bkn fira menderita, cb km telusuri knp fira menceraikan mu cri tau biar g mkn nyesel km gavin😂😭smngt thor up nya
Oma Gavin
semoga kamu ngga nyesel gavin setelah tau kebenarannya dan lepaskan safira biarkan dia hidup tanpa tekanan
𝐈𝐬𝐭𝐲
ceritanya sangat menarik dan bikin nagih, semangat thor... 😍💪🏻
Lala_Syalala: Terima kasih Kak sudah baca ceritanya,, semoga selalu suka dan support terus author yaaa🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!