NovelToon NovelToon
Tanah Luka Dan Persahabatan

Tanah Luka Dan Persahabatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:169
Nilai: 5
Nama Author: Dini Sinaga

Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22. Mencari Bola. Kecurangan Souleh.

Pemain penjaga mencari dan terus mencari, namun apalah daya, malang tak dapat diraih. Bola yang sebelumnya terlempar jauh oleh pukulan dari Emil tidak ditemukan juga.

Sedangkan Emil yang tersadar oleh teriakan teman setimnya dan juga umpatan keras dari Naina, segera berlari sangat kencang sekali, Dia melewati setiap base satu persatu hingga kembali ke home base dengan lari yang sangat kencang.

Nama dan para pemain yang lain melihat dengan takjub. Mereka tidak menduga Emil akan berlari secepat itu.

Kecepatan Emil, sudah seperti pembalap MotoGP yang meninggalkan jauh dan mengasapi para pesaingnya hingga garis finish.

Sementara di tempat lain, masih berada di lingkungan sekolah.

Adun tampak sekilas berada tidak jauh dari tempat mereka, para siswa tim jaga mencari bola kasti, namun anak-anak kelas 4 tidak juga menemukan bola tersebit. Mereka tidak ada yang berani mengusiknya, apalagi untuk sekedar bertanya pun tidak.

Mereka semua tetap berusaha keras mencari, namun di dalam hati dan pikiran mereka sudah mulai tImbul sedikit rasa curiga terhadap keberadaan Adun di sekitaran tempat itu.

Merasa sedikit lelah, sehingga beberapa anak kelas 4a itu pun mulai mengeluh dan mengeluarkan suara dan kata-kata berisi sungut-sungut.

"Ah, Ntah kemanapun bolanya..."

"Sudah di cari kemana-mana pun tidak ada juga. Capek sekali pun, Woy..."

"Ntahlah woy, kita sudah berusaha... Kita kasih tahu mereka saja dahulu, agar mereka juga membantu kita."

Beberapa kata-kata yang layak dituliskan sebagian dari sungut-sungut pemain tim jaga yang sedang sibuk mencari bola kasti yang belum diketemukan itu.

Seorang siswa yang berbadan besar di kelas 4a, lelaki berusia 10 tahun yang akan berulang tahun 4 bulan lagi itu, memberanikan diri, mengambil keputusan, "Ya, sudah. Aku saja yang akan memberi tahu mereka, kalian lanjutkan saja mencari bolanya." tutur Souleh yang sudah tidak tahan mendengar ocehan para siswa yang juga adalah teman sekelasnya itu.

Di dalam hatinya Souleh sendiri sudah merasa bosan sekali mencari bola tersebut.

Dengan bergegas Souleh yang cukup disegani di dalam ruangan kelasnya itupun segera beranjak dari tempatnya berada menuju ke lapangan dimana siswa tim pemukul berada.

Melihat Souleh datang dengan tanpa di ikuti siswa lainnya, para siswa tim pemukul merasa sedikit bingung dan resah.

Dugaan banyak berkembang diantara mereka.

*Bagaimana, sudah di temukan, kah bolahnya?" tanya Naina penasaran, ketika Souleh sudah berada di dekat tempat mereka berada.

"Bagaimana mau di temukan, kalian sendiri disini enak-enakan duduk. Kami disana kerepotan mencari, kalian bukannya membantu mencari!!!" jawab Souleh dengan ketus, tanpa rasa bersalah.

Nama dan siswa lain yang berada di tempat itu sontak, bereaksi.

"Enak saja, itu-kan sudah tugas kalian sebagai tim jaga." jawab Naina ketus. Naina yang biasanya tidak suka menyakiti perasaan orang lain, merasa marah atas ucapan Souleh.

"Ya, itu benar!!!" jawab beberapa siswa lainnya membenarkan ucapan Naina.

Souleh tidak kalah, "Iya benar tugas tim jaga, namun kini bola tidak ditemukan juga. Kalian sih memukul bolanya terlalu jauh sehingga sulit ditemukan." balas Souleh dengan seenaknya.

Mendengar ucapan Souleh, Naina tidak mau kalah.

"Kamu ingat, sebelumnya bola yang kamu pukul juga sulit ditemukan, tetapi kami terus berupaya mencari tanpa bantuan tim kalian. Kalian semua menolak membantu, bahkan Kamu tertawa dengan angkuhnya." jawab Naina yang merasa sedikit emosi, sambil mengenang kejadian sebelumnya.

"Bahkan hal seperti ini sudah sering terjadi dan kalian selalu saja menolak membantu dan seolah-olah menikmati keadaan saat itu, sambil mengolok-olok kami. Kau masih ingat itu" tanya Naina melanjutkan perkataannya.

Souleh terdiam sejenak, mengingat kembali semua peristiwa yang sudah sering terjadi itu, sebab tim Naina sering sekali menjadi tim jaga. Emil selalu saja gagal memukul bola, atau setidaknya pukulannya sangat lah pelan sehingga dengan mudah tim Souleh menembak Emil atau rekan setimnya.

Souleh masih terlarut dalam ingatannya.

Emil tiba-tiba berkata, "Baiklah kalau begitu Aku ikut membantu mencari bola tersebut."

"Apa?" teriak Naina.

"Mengapa kamu mengatakan hal demikian Emil? Sebaiknya kita biarkan saja mereka mencari bola tersebut seperti sudah seharusnya mereka tim jaga lakukan." Naina terkejut aKan perkataan Emil.

"Iya benar Mil, Mereka kan tim jaga, sudah sewajarnya mereka yang mencari bola yang hilang itu." jawab Sari siswa temah sekelas dan setim Emil.

"Iya, benar itu." jawab beberapa siswa mendukung perkataan Naina dan Sardi.

Souleh merasa kecewa, sebab awalnya dirinya merasa senang, sebab Emil menyetujui untuk ikut mencari bola, namun perkataan Naina dan Sardi, membuatnya kembali tertekan, sebab selama ini, tim jagalah yang berkewajiban mencari bola adalah idenya dan sudah menjadi kesepakatan yang tidak tertulis.

"Ya, sudah kalau kalian tidak mau membantu, Aku juga tidak mau mencari. Biar sekalian bolanya hilang dan kamu Emil yang harus bertanggung jawab kepada Pak Slamet." ungkap Souleh menumpahkan semua kesalahan kepada Emil, sekalian mendesak Emil dan teman setim Emil untuk ikut membantu atau menanggung bersama akibatnya.

"Semua sudah terjadi, yang kita lakukan hanyalah harus mencari bola itu, kalau tidak kita harus menanggung akibat ini. Aku sebagai orang yang memukul bola, tentu saja harus bertanggung jawab untuk mencari juga." Emil sudah tahu kebiasaan Pak Slamet jika terjadi hal yang tidak baik seperti saat ini. Mereka pastilah dihukum berat.

Naina dan teman-teman setimnya juga memahami maksud Emil. Mereka pasti akan terkena masalah nantinya.

Dengan berat hati, Naina beserta siswa lainnya menuruti perkataan Emil, bukan permintaan Souleh yang menurut mereka tidak masuk diakal itu.

"Ya, sudah kami ikut membantu mencari, tetapi lain kali tim kalian juga harus ikut mencari ketika kejadian seperti ini terjadi." jawab Naina yang merasa sedikit malas membantu tim jaga mencari bola.

Souleh merasa senang, dan hanya bIsa menyetujui permintaan Naina untuk saat ini.

Seluruh siswa sudah bersama-sama mencari bola kasti ditempat yang mungkin menjadi tempat bola tersebut berada.

Namun meskipun mereka semua sudah bersama-sama mencari, bola tersebut masih saja tidak diketemukan juga.

Souleh dan beberapa siswa setimnya mendekati keberadaan Emil, Naina yang berada tidak jauh dari Emil menyadari hal tersebut dan turut mendekat juga.

"Ada apa kalian mendekati Emil bersama-sama?" tanya Naina penuh rasa curiga.

"Ti.. Tidak." jawab Souleh.

"i.. Iya benar Nai." jawab siswa yang lain teman setim Souleh.

"Sabar, Nai." pinta Souleh, sebelum melanjutkan perkataannya.

"Jadi begini Nai, tadi saat kami mencari bola kasti, di sekitar gudang sekolah ada Bang Adun. Kami curiga Bang Adun yang mengambil atau menyembunyikan bola kasti itu." Souleh menjelaskan, peristiwa sebelumnya.

Naina masih merasa bingung dan penuh rasa curiga pun mulai faham maksud dan tujuan Souleh dan rekannya.

"Jadi kalian Ingin, Emil yang menanyakan hal ini kepada Bang Adun, anak nakal itu?" Tanya Naina setelah menyimpulkan maksud mereka.

Souleh dan rekannya menganggukkan kepala membenarkan tebakan Naina.

"Tidak... Tidak!!! Itu tidak boleh terjadi, Bang Adun pasti akan marah dan menghajar atau membully Emil nantinya. Aku tidak setuju." jawab Naina.

Souleh dan rekan merasa kecewa, ada yang sampai menepuk jidatnya, sebab mereka tidak menduga Naina mengerti ketakutan mereka, sehingga mereka berencana meminta Emil yang akan melakukan tugas itu.

"Tapi... Nai..." belum sempat Souleh menyelesaikan perkataannya, Naina segera menjawab.

"Tidak... Titik. Enak saja kalian hendak mengorbankan Emil. Tidak!!! Pokoknya, Tidak..." ungkap Naina penuh keseriusannya yang tampak dari sorot mata dan caranya mengepal tangan.

Emil yang sedari tadi diam saja dan hanya bisa mendengar dengan serius sebab sebelum dia berkata Naina selalu saja sudah lebih dahulu berbicara.

Akankah Emil berbicara?

Bersediakah Emil mengorbankan diri bertanya kepada Adun, siswa terbesar dan ternakal di sekolah itu?

Benarkah Adun yang menyembunyikan bola tersebut?

Dapatkah bola tersebut ditemukan?

1
Dini
okey bagus
👍
Dini
💪baru setiap harinya

yuk diikutin dan di like
Dini
bagus, cara bercerita yang berbeda
tema yang baru
Zidan
GG bang bagus , saling folow yuk jangan lupa baca novel ku juga kalau boleh 🙏
Zidan
GG bang saling folow yuk bang
Dini: 🙏ok sudah
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!