NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:612
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Bab 4: Pagi di Halte Taman Kota dan Ancaman di Balik Pagar

Matahari pagi baru saja mengintip di ufuk timur, memancarkan cahaya keemasan yang menembus dedaunan rindang di kawasan taman kota. Udara pagi masih terasa sejuk, menyisakan embun yang menempel tipis di atas rumput hijau. Namun, di halte bus kecil yang terletak tepat di sudut taman, suasana hati Keisha Zahra Aurellia sama sekali tidak sejuk.

Gadis itu berdiri gelisah, mondar-mandir kecil sambil terus melirik jam tangan digital yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Pukul 06.12 WIB. Kurang tiga menit dari waktu yang ditentukan oleh sang ketua geng.

Keisha menghela napas panjang, merapatkan ransel di punggungnya. Semalam ia hampir tidak bisa tidur nyenyak. Bayangan tentang kejadian di markas Black Raven, deru motor sport hitam, serta tatapan tajam dan penuh kepemilikan dari Rangga Dewantara Aldebaran terus berputar di dalam kepalanya bagaikan kaset rusak. Di atas kursi belajarnya, jaket kulit hitam besar berlogo sayap gagak milik Rangga terlipat rapi dalam tas plastik putih, siap untuk dikembalikan hari ini.

Kenapa aku harus menuruti perintahnya? batin Keisha merutuki dirinya sendiri. Seharusnya aku tetap naik angkutan umum seperti biasa!

Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, ia tahu alasan di balik kepatuhannya. Ancaman terselubung mengenai kelompok geng motor Viper dan insiden di parkiran sekolah kemarin masih meninggalkan rasa ngeri yang nyata. Hidupnya yang tadinya tenang, lurus, dan jauh dari sorotan kini telah terseret masuk ke dalam pusaran dunia malam yang gelap.

Bum... bum... bum...

Suara deru knalpot racing yang berat dan khas tiba-tiba memecah keheningan pagi di sepanjang jalan raya taman kota. Bulu kuduk Keisha mereminding seketika. Dari kejauhan, sebuah motor sport hitam pekat melesat membelah jalanan sepi, lalu mengurangi kecepatan dan berhenti mulus tepat di depan halte tempat Keisha berdiri.

Pengendara itu melepas helm full-face miliknya, memperlihatkan wajah tampan dengan rahang tegas dan rambut hitam yang sedikit berantakan kena angin. Rangga menatap Keisha dengan sorot mata tenang, seolah kedatangannya tepat waktu bukanlah sebuah hal yang patut diperdebatkan.

"Pagi," sapa Rangga pendek, suaranya terdengar berat khas orang yang baru bangun tidur, namun tetap mengalirkan aura dominasi yang kuat.

Keisha mengerjap kaget, menelan ludahnya susah payah. "Pa... pagi, Kak. Kakak nggak kesiangan? Biasanya anak geng motor bangunnya siang."

Rangga mendengus pelan, menampilkan seulas senyuman miring yang tipis. "Gua nggak pernah kesiangan kalau ada hal penting yang harus diurus." Tatapannya beralih ke kantong plastik putih di tangan Keisha. "Apa itu?"

Keisha langsung mengangkat kantong plastik tersebut ke hadapan Rangga. "Ini jaket Kakak. Makasih sudah dipinjemin semalam. Saya nggak sengaja kotorin, tapi udah saya taruh di tempat aman kok."

Rangga melirik sekilas kantong plastik itu, lalu mendengus pelan lagi. "Simpan aja dulu di tas lo. Hari ini cuaca nggak menentu, nanti sore bisa hujan lagi. Lagian, jaket itu lebih aman ada di tangan lo."

"Tapi, Kak—"

"Gua nggak nerima penolakan, Keisha," potong Rangga mutlak. Ia menepuk jok belakang motornya. "Sekarang, naik. Kita bisa telat kalau lo terus-terusan debat di sini."

Keisha mendengus kesal dalam hati. Pria ini benar-benar diktator! Namun, melihat tatapan mata kelam Rangga yang tidak bisa dibantah, ia akhirnya melangkah mendekat, naik ke boncengan motor dengan hati-hati, dan memastikan tangannya memegang besi pengaman di bawah jok—berusaha menjaga agar tubuhnya tidak sampai menempel pada punggung pria itu.

Motor melesat meninggalkan kawasan taman kota, membelah jalanan pagi yang mulai padat oleh kendaraan menuju SMA Nusantara.

Sesampainya di area parkir khusus SMA Nusantara, kedatangan Rangga dan Keisha menumpang satu motor yang sama langsung memicu kehebohan luar biasa di kalangan siswa yang baru datang. Bisik-bisik langsung bergemuruh di sepanjang koridor parkiran. Beberapa siswi populer yang biasa bergerombol di dekat kantin tampak menatap ke arah mereka dengan sorot mata penuh kebencian dan rasa tidak percaya.

Bagaimana mungkin? Seorang siswi beasiswa yang pendiam dan kuper, tiba-tiba dibonceng oleh ketua geng motor paling ditakuti di sekolah ini? Itu adalah sebuah kemustahilan tingkat tinggi.

Begitu motor berhenti dan mesin dimatikan, Keisha buru-buru turun. Ia tidak ingin menjadi tontonan lebih lama lagi di tempat terbuka ini. Dengan kepala tertunduk, ia langsung melangkah cepat meninggalkan area parkir menuju koridor utama.

"Keisha," panggil Rangga dari belakang dengan suara baritonnya yang tenang.

Keisha menghentikan langkahnya, lalu berbalik setengah badan. "Apa lagi, Kak? Saya mau langsung ke kelas sebelum gerbang ditutup."

Rangga menyusul langkahnya, berjalan santai dengan sebelah tangan dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. "Pulang sekolah, tunggu di dekat perpus lama. Jangan ke mana-mana sampai gua samperin."

"Tapi, Kak—"

"Gua nggak nerima kata 'tidak' untuk jawaban hari ini," potong Rangga dengan nada rendah namun penuh penekanan mutlak. Setelah mengucapkan kalimat itu, ia berbalik arah dan berjalan bergabung dengan Satria serta Bara yang sudah menunggunya di ujung koridor.

Keisha menghentakkan kakinya kesal ke lantai keramik, merasa jengkel sekaligus cemas memikirkan apa lagi yang diinginkan oleh ketua geng berandalan itu. Dengan perasaan campur aduk, ia melanjutkan langkahnya menuju kelas XI-IPA 2.

Suasana kelas terasa biasa saja pada jam-jam pelajaran pertama, hingga jam istirahat tiba. Sintia, teman sebangku Keisha, langsung menarik kursi ke dekat meja Keisha dengan mata melotot lebar dan ekspresi wajah penuh rasa penasaran yang teramat sangat.

"Keisha Zahra Aurellia!" seru Sintia tertahan, setengah berbisik namun penuh tekanan. "Lu... lu beneran boncengan bareng Rangga tadi pagi? Masuk ke area parkir sekolah bareng dia?!"

Keisha yang sedang merapikan buku catatannya mendadak tersedak ludahnya sendiri. Ia menatap Sintia dengan panik. "Sintia... suaranya kecilin dikit, bisa nggak? Nanti seisi kelas denger."

"Denger? Keish, satu sekolah dari tadi pagi udah gempar gara-gara berita itu!" potong Sintia histeris sambil memegang kedua bahu sahabatnya. "Sumpah, demi apa pun, lu itu siswi paling berani sedunia! Anak-anak geng sosialita di kelas sebelah pada ngamuk tahu nggak? Mereka bilang lu cari muka sama Rangga!"

Keisha mengusap wajahnya dengan kedua tangan, merasa pusing mendadak. "Aku nggak cari muka, Sin. Aku cuma... ya ampun, ceritanya panjang dan rumit banget. Aku sendiri juga nggak pengen terlibat sama dia."

"Terlibat? Keish, kalau lu dekat sama Rangga, artinya lu sekarang ada di bawah perlindungan Black Raven," kata Sintia dengan nada serius, meskipun ada secercah kekaguman di matanya. "Tapi di sisi lain, musuh-musuh mereka di luar sana pasti bakal ngincer lu juga. Terutama anak-anak Viper."

Mendengar nama Viper disebut, bulu kuduk Keisha kembali merinding. Ketakutan yang sempat mereda tadi pagi kini kembali mencengkeram hatinya.

"Udah, ah. Jangan dibahas lagi," ujar Keisha lemas, menutup buku catatannya dengan kasar. "Aku mau ke perpustakaan sebentar buat pinjam buku referensi biologi."

"Eh, temenin dong!" pinta Sintia.

"Nggak usah, aku sendiri aja. Sebentar kok," balas Keisha cepat, lalu beranjak dari bangkunya. Ia ingin mencari ketenangan di perpustakaan lama yang letaknya agak jauh dari kebisingan kantin sekolah.

Perpustakaan lama SMA Nusantara terletak di sayap timur lantai dua, sebuah bagian gedung sekolah yang sudah jarang dikunjungi karena bangunannya yang lebih tua dan sebagian ruangannya dialihfungsikan menjadi gudang penyimpanan arsip lama. Suasana di koridor sayap timur ini tampak jauh lebih sepi, remang-remang, dan berbau debu buku tua.

Keisha berjalan menyusuri rak-rak buku kayu jati yang tinggi, mencari buku biologi edisi lama yang ia butuhkan. Suasana di sini begitu tenang, kontras dengan keributan di kantin sekolah.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Kring... krik...

Suara langkah kaki seseorang yang mencurigakan terdengar dari ujung lorong sebelah perpustakaan—arah menuju tangga darurat belakang. Keisha menghentikan langkahnya di balik rak buku, menahan napas dan memasang telinga baik-baik.

"Yakin anak itu anak buah si Rangga?" sebuah suara asing terdengar berbisik tajam, terdengar tidak ramah dan bernada mengancam.

"Yakin. Kemarin sore gua lihat sendiri si Rangga melotot ke arah anak-anak kita gara-gara cewek itu ngeliat transaksi di parkiran," jawab suara kedua yang terdengar lebih berat. "Kalau kita culik cewek itu sebentar buat kasih pelajaran ke Rangga, mental ketua Black Raven itu pasti bakal hancur."

Deg!

Jantung Keisha seolah berhenti berdetak. Darahnya mendadak mendingin hingga ke ujung jari. Suara itu... mereka adalah anggota geng Viper! Musuh bebuyutan Black Raven yang sedang membicarakannya!

Tanpa pikir panjang, Keisha segera memutar arah, berniat melangkah mundur secara perlahan menuju pintu keluar perpustakaan. Namun, kepanikannya membuat gerakannya menjadi ceroboh.

Bruk!

Siku tangan Keisha tanpa sengaja menyenggol setumpuk majalah tua di ujung rak, membuat benda-benda berdebu itu meluncur jatuh ke lantai keramik dengan suara yang cukup nyaring di tengah kesunyian lorong.

"Sial! Ada orang di sana!" bentak suara berat dari balik rak buku.

Keisha membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan untuk meredam napasnya yang terengah-engah. Rasa takut yang luar biasa menusuk dadanya. Tanpa menunggu waktu lagi, ia berbalik dan langsung berlari kencang keluar dari lorong perpustakaan menuju arah koridor utama.

"Kejar! Jangan sampe lepas!" teriak suara itu dari belakang.

Langkah kaki berlari mengejarnya terdengar semakin dekat, menggema di lantai koridor yang sepi. Keisha berlari sekencang tenaga, air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya. Di tengah kepanikan itu, ia teringat pesan terakhir Rangga pagi tadi: —tunggu di dekat perpus lama. Jangan ke mana-mana sampai gua samperin.

Tetapi para pengejar itu sudah semakin dekat. Napas Keisha memburu, paru-parunya terasa terbakar. Tepat ketika ia membelok di tikungan koridor lantai dua, sebuah tangan kekar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, lalu menarik tubuhnya masuk ke dalam sebuah ruangan kosong yang gelap—ruang penyimpanan barang bekas yang pintunya tidak terkunci rapat.

Sebelum Keisha sempat menjerit ketakutan, sebuah telapak tangan hangat menangkup mulutnya dari belakang, meredam setiap suara yang nyaris keluar dari tenggorokannya.

"Ssst... diam," bisik sebuah suara bariton yang sangat ia kenal tepat di dekat telinganya. Suara dingin, tenang, namun memancarkan otoritas mutlak yang seketika meredakan separuh kepanikan di hatinya.

Rangga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!