Jeremy Aslan, kepala mafia paling ditakuti, mengira menikahi Claire, putri wakil presiden akan memberikan keuntungan besar pada bisnis senjata yang sedang dia jalankan. Ternyata, yang ia dapatkan adalah ... menghadapi perempuan paling bikin sakit kepala sepanjang dia hidup.
Alih-alih fokus dengan bisnis dunia gelapnya, ia malah fokus dengan segala tingkah laku random Claire seperti, diam-diam menciptakan bom dan meledakkan kantor polisi hanya karena ia punya dendam dengan polisi, merusak rumah pribadi politisi yang dia anggap sering merendahkan ayahnya, dan bekerja di perusahaan Farmasi hanya untuk membuktikan mantan pacarnya adalah gay.
Bagi Jeremy, mengendalikan ratusan anak buah bersenjata jauh lebih mudah daripada menghadapi satu istrinya yang nakal dan sama sekali tidak mengenal kata takut. Jeremy hampir menyerah pada semua kenakalan perempuan itu, sampai Claire tiba-tiba di culik, saat itulah dunia Jeremy hancur. Karena akhirnya ia menyadari, Claire adalah dunianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keras banget
Jeremy terpaku kaku di tempat, seluruh aliran darah di tubuhnya seolah berhenti berdetak sejenak saat bibir hangat Claire kembali mendarat di bibirnya, kali ini tak lagi singkat atau ragu, melainkan mendesak, lembut namun penuh keinginan yang tak disembunyikan.
Belum sempat ia mengumpulkan kesadaran untuk menolak, bibir itu perlahan bergerak menjauh, menyapu sudut bibirnya, naik ke pipi kanan yang tegap, lalu turun lagi ke pipi kirinya seolah sedang menghafal setiap inci wajah itu. Bahkan saat ia mencoba memalingkan wajah, Claire tak menyerah, bibirnya menyentuh pelan kelopak matanya, lalu melumat pelan dagunya dengan gerakan yang polos namun sekaligus penuh gairah, tanpa rasa malu sedikit pun seolah Jeremy adalah milik mutlak yang berhak ia jelajahi sesuka hati.
"Ganteng banget ..." gumamnya pelan di sela-sela ciuman beruntun yang jatuh di wajah dan leher Jeremy, tangannya yang terasa hangat menyentuh rahang laki-laki itu, lalu perlahan turun menelusuri garis leher yang kaku.
"Kulitnya halus... baunya enak... Pokoknya harus aku bikin jadi milikku sendiri, biar nggak ada yang berani ambil dariku ..."
Jeremy mencoba menahan kedua bahu gadis itu dengan lembut namun tegas, berusaha wajah Claire dari dirinya.
"Claire, berhenti." desisnya pelan, suaranya terdengar lebih bergetar dan berat dari yang ia inginkan. Ia berniat bangkit dan menjauh, tapi gerakannya yang sedikit tergesa tak sengaja menyentuh pinggang Claire yang terbalut handuk.
Seketika itu juga, handuk yang hanya tersangkut longgar di tubuh gadis itu melorot perlahan, meluncur turun melewati pinggang, lalu jatuh ke lantai marmer dengan suara pelan. Jeremy terpaku seketika, matanya tak sengaja menangkap pemandangan di hadapannya.
Kulit Claire putih bersih, halus seperti sutra yang baru dibuka, dan tubuhnya yang ramping namun indah sempurna terpampang jelas di depan matanya, payudaranya yang mulus dan penuh, lekuk tubuhnya yang lembut, semuanya tampak begitu memikat.
Sial.
Ia segera memalingkan wajah dengan cepat, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri, sebagai laki-laki normal, tentu saja ia mengakui betapa indahnya tubuh gadis itu. Claire memiliki tubuh yang akan diidamkan oleh semua laki-laki mata keranjang. Tapi ia tidak berniat menyentuhnya, tidak di saat ia tidak memiliki perasaan apa-apa pada gadis ini.
Jeremy akui, kehadiran Claire dalam hidupnya membantunya mulai melupakan ingatannya pada Dami. Tapi, Jeremy juga tahu benar apa itu pernikahan yang didasarkan pada sama-sama saling menguntungkan. Dan selama dia belum ada perasaan itu, dia tidak akan pernah menyentuh gadis ini.
"Hmm, wangi. Kamu pakai minyak wangi apa? Wanginya kayak babi baru habis mandi. Kamu pasti suka wangi babi baru kelar mandi ya? Sama aku juga suka, heheh."
Jeremy menatap gadis yang sudah telanjang bulat di depannya ini dengan wajah kesal setengah mati. Bisa-bisanya wanginya di samakan dengan wangi babi.
"Turun," ucapnya dengan suara rendah dan terdengar sedikit mengancam. Tapi Claire tentu saja tidak peduli apalagi takut.
Gadis itu makin menjadi-jadi karena pengaruh mabuknya. Tangannya mulai menjelajahi tubuh bagian atas Jeremy, ia mengusap dada pria itu yang masih tertutup dengan kemeja mahalnya.
"Keras, kok bisa keras? Kamu pakai papan dalam kemeja kamu biar keliatan dada kamu rata?"
Ini lagi. Benar-benar tidak masuk akal. Manusia gila mana yang akan pakai papan cuma untuk dadanya terlihat rata. Belum sempat Jeremy menjawab, tangan Claire sudah membuka kancing kemejanya satu persatu.
Jeremy menghembuskan nafas kasar. Ia menyandarkan tubuhnya lagi di dinding sofa, membiarkan sampai sejauh mana gadis ini akan melangkah dalam keadaan mabuk.
"Wahhh... Bukan papan... Dada beneran!" mata Claire yang membulat lebar dan berbinar cerah menatapi dada rata Jeremy yang amat menggoda. Dan Jeremy, entah kenapa matanya terus menatapi buah dada gadis itu yang begitu menantang di depan matanya.
Jika dipikir-pikir, mereka memang menikah secara sah. Tidak ada salahnya dia melihat pemandangan indah itu. Anehnya, dia jarang tertarik melihat pemandangan seperti ini. Tapi malam ini, entah kenapa matanya terus menatapi puting merah muda yang seakan menantangnya untuk menghisapnya.
Itu normal Jeremy. Kau laki-laki normal.
Ucapnya dalam hati berulang kali.
"Agkhh!"
Jeremy kaget karena merasakan sakit luar biasa di dadanya. Begitu melihat apa yang di lakukan oleh Claire di puting payudaranya, Jeremy tersentak hebat, tangannya refleks menekan bahu gadis itu tanpa berani mendorong kasar. Claire ternyata tak segan, ia menekan dan menggigit pelan namun cukup kuat tepat di puting dadanya, seolah sedang menguji tekstur benda baru yang ia temukan.
"Kau ... apa yang kau lakukan?" desis Jeremy napasnya tersendat, rasa sakit bercampur sensasi aneh yang menjalar seketika ke seluruh tubuhnya membuatnya hampir kehilangan kendali.
Claire mendongak dengan mata yang masih sayu namun berbinar nakal, bibirnya sedikit basah.
"Keras... dan ada asinnya juga, kayak lemon." gumamnya polos, lalu kembali menempelkan pipi di dada bidang itu sambil mengusap-usapnya dengan pipi.
"Lembut ... tapi ada bagian yang keras. Aneh ya tubuhmu ini."
Jeremy memejamkan mata rapat-rapat, berusaha sekuat tenaga menahan badai di dalam dadanya. Ia tahu gadis ini mabuk, tak sadar apa yang dilakukannya. Meski demikian, sentuhan tanpa beban Claire perlahan meluluhkan pertahanan logisnya. Ia bisa merasakan kehangatan kulit gadis itu, detak jantungnya yang cepat, dan aroma wangi sabun yang menyatu dengan udara di ruangan itu.
"Berhenti ... Claire ..." suaranya makin berat.
Namun lagi-lagi Claire tidak mendengarnya. Tangannya kembali mengusap benda berbiji itu.
"Ih, aneh ya. Kenapa punya aku besar, punya kamu rata? Kok bisa?"
Jeremy terus menahan diri, tapi mulai terpancing dengan sensasi sentuhan yang dia rasakan dari Claire. Tidak, dia harus menghentikan ini sebelum gadis ini semakin menjadi-jadi.
Belum sempat Jeremy menarik tangan gadis itu menjauh, jemari Claire yang penasaran sudah meluncur turun melewati perutnya yang kencang, menyusuri garis pinggang hingga akhirnya menyentuh benjolan keras yang menonjol di balik kain celana panjangnya.
Mata Jeremy seketika melotot lebar, napasnya tertahan sepenuhnya di tenggorokan. Tubuhnya yang tadi sudah kaku kini seolah melengkung spontan, setiap serat ototnya menegang kaku seketika. Sensasi hangat dari telapak tangan Claire yang menekan tepat di sana membuat aliran darahnya berpacu liar, wajahnya memerah padam hingga ke telinga.
"Damm ..." desisnya tertahan, suaranya pecah berubah menjadi napas berat.
Namun Claire sama sekali tak berhenti, ia malah menekan dan meremasnya dengan kuat, seolah sedang menguji kekerasan benda asing yang baru ditemukannya itu.
"Wah... ini apa lagi?" gumamnya dengan mata yang semakin membulat penasaran, gerakannya tak berkurang sedikit pun.
"Keras banget ... kok bisa?"
Jeremy merasakan seluruh pertahanan dirinya runtuh seketika. Tubuhnya bereaksi sepenuhnya di luar kendali, rasa panas menjalar dari titik yang disentuh itu ke seluruh ujung sarafnya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat berusaha menahan erangan yang hampir lolos, jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar. Laki-laki manapun yang di sentuh di situ tentu saja akan merasakan sensasi aneh. Kecuali laki-laki impoten.
"Claire ... berhenti ..." suaranya kini terdengar lemah dan bergetar, tak lagi tegas seperti tadi. Ia berusaha menyingkirkan tangan itu, namun tenaganya seolah habis diserap sensasi yang begitu nyata dan memabukkan.
Gadis itu malah semakin asyik, memiringkan kepala dengan wajah polos tanpa dosa, tak sadar sama sekali apa yang baru saja ia lakukan pada dirinya.
"Kok kamu bergetar? Dingin ya? Tapi di sini malah panas sekali..." bisiknya, lalu melanjutkan gerakannya lagi, membuka resleting celana Jeremy.
kirain bom rakitan claire berbahaya hanya bikin gosong, mom thalia dan claire dan sahabat-sahabatnya aja🤣
claire nanti ketahuan mister jem dihukum kamu nakal banget, diam-diam keluar dari rumah sama sahabat2 kamu tanpa ijin mister jem😄
mommy thalia bergabung aja geng mafia mommy thalia jadi ketuanya, claire dan teman2nya anak buahnya pasti sangat seru dan menarik🤣🤭
Thalia cocok ni ketemu Claire yg nakal dan unik 🤣🤣🤣🤣bisa bikin group mafia cewe ni🤣🤣🤣🤣