"Dendanya lima miliar rupiah, Clara. Atau... kamu tanda tangani kontrak tiga tahun jadi asisten pribadi saya!"
Berniat kabur dari masa lalu dan hidup mandiri, Clara justru terjebak dalam jaring laba-laba Elzio Mahendra—CEO tampan, kaya raya, dan obsesif yang tak mempan digertak. Hanya demi mengikat Clara di sisinya, Elzio tak ragu membeli perusahaan tempat Clara melamar dan menjeratnya dengan kontrak denda bernilai fantastis.
Segala cara Clara lakukan agar Elzio ilfil—mulai dari bersikap super galak, memboroskan uangnya, hingga kabur naik KRL. Namun, bukannya menyerah, sang CEO gila justru makin gila dan posesif padanya.
Di tengah intrik perjodohan elit dan trauma masa lalu yang menghantui, akankah Clara berhasil bebas dari jerat denda lima miliar, atau justru akhirnya bertekuk lutut dalam pelukan sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
"El... please... udah, El..."
Suara Clara bergetar parau di antara helaan napasnya yang putus-putus. Keringat dingin membasahi pelipis dan dadanya yang naik turun memburu. Tubuhnya tremor hebat, kejutan pekat dari pelepasan beruntun yang baru saja dialaminya membuat seluruh persendiannya mati rasa.
Namun, Elzio sama sekali tidak menghentikan pergerakannya. Pria itu terus mendominasi, menanamkan ritme yang makin dalam dan menuntut di atas kasur berukuran king size itu.
"Belum, sweetheart..." bisik Elzio parau, suara begitu rendah dan berat di dekat telinga Clara. "Saya belum selesai."
"Tapi aku... aku udah gak kuat, Elzio!" cicit Clara hampir menangis, jemarinya meremas sprei dengan erat. "Udah berkali-kali... aku beneran lemes banget..."
"Tatap saya, Clara. Tatap mata saya," perintah Elzio mutlak.
Dengan jemari tegapnya, Elzio mencengkeram rahang Clara lembut namun tegas, memaksa wanita itu menatap lurus ke dalam iris mata hitamnya yang membara oleh pusaran obsesi dan gairah yang tak tumpah-tumpah.
"Kamu milik saya," desis Elzio rendah, menekan tubuhnya makin rapat tanpa memberi celah. "Biarkan saya menanamkan diri saya seutuhnya di dalam kamu malam ini."
"Elzio... kamu gila..." rintih Clara pasrah, memejamkan mata saat gelombang sensasi dahsyat kembali menyengat seluruh sarafnya, membawanya melayang lebih tinggi dari sebelumnya.
"Memang. Saya memang gila karena kamu, Clara!" bentak Elzio pelan di depan bibir Clara, lalu membungkam rintihan istrinya dengan ciuman yang luar biasa panas dan posesif.
Pria itu bergerak tanpa ampun, mengabaikan permohonan lelah istrinya, terus memburu puncak kenikmatan yang sengaja dia tahan demi memuaskan dahaganya akan tubuh dan jiwa Clara. Setiap sentuhan, setiap deru napas, dan setiap kecupan Elzio seolah berteriak bahwa Clara adalah satu-satunya hak milik yang tak akan pernah dia lepaskan.
Sementara itu, di dalam sebuah mobil SUV hitam yang terparkir samar di seberang area hotel megah di pusat kota Zurich.
Layar laptop di dalam mobil itu memancarkan kilatan titik merah yang berkedip-kedip, menampilkan sinyal pelacak lokasi unit presidential suite tempat Elzio dan Clara menginap.
"Nona Karenina, target ada di lantai paling atas," ujar seorang pria bersetelan serba hitam sambil menyesap rokoknya. "Pengamanan dari tim internal AetherCorp sangat ketat, tapi kita sudah berhasil meretas sistem CCTV koridor belakang."
Karenina yang duduk di kursi penumpang belakang menyunggingkan senyuman dingin yang mengerikan dari balik kegelapan mobil. Tangannya mengelus sebuah foto lama dirinya bersama Elzio sewaktu di Zurich tiga tahun lalu.
"Biarkan Elzio bersenang-senang dulu dengan mainan barunya malam ini," bisik Karenina tajam, matanya berkilat benci. "Besok pagi, saat cewek kampung itu melangkah keluar... aku sendiri yang akan menghancurkan khayalannya. Aku akan buat dia sadar kalau dia cuma sampah pengganti buat Elzio!"
Di dalam kamar yang temaram, hening akhirnya kembali bertengger usai badai gairah yang meluluhlantakkan kekuatan Clara sepenuhnya.
Elzio merebahkan tubuh tegapnya yang penuh keringat di samping Clara. Pria itu akhirnya mencapai puncaknya, menyemburkan seluruh benihnya di dalam rahim Clara. Tanpa jeda satu detik pun, Elzio langsung menarik tubuh lemas Clara ke dalam dekapannya, melingkarkan lengan dan kakinya seolah takut wanita itu menguap begitu saja.
Clara menyandarkan kepalanya di dada bidang Elzio yang kembang kempis. Napasnya masih terengah-engah, matanya terasa sangat berat oleh kantuk dan kelelahan fisik yang luar biasa.
"Elzio... kamu bener-bener jahat..." gumam Clara parau, memukul dada Elzio lemah dengan sisa tenaganya.
Elzio terkekeh rendah, mengecup puncak kepala Clara yang basah oleh keringat dengan penuh kasih sayang yang amat dalam.
"Maafkan saya, sweetheart," bisik Elzio lembut, mengelus punggung mulus Clara tanpa henti. "Saya cuma tidak pernah merasa cukup kalau menyangkut kamu."
Clara mendongak pelan, menatap rahang tegas suaminya di bawah temaram lampu kamar. "Kamu gak pernah puas ya? Dari tadi malam sampai subuh begini..."
"Tidak akan pernah puas," sahut Elzio jujur, menatap balik iris mata Clara dengan binar penuh kejujuran yang pekat. "Dengar saya baik-baik, Clara. Di dunia ini... kamu adalah satu-satunya wanita yang saya cintai. Saat ini, besok, dan sampai saya mati."
Hati Clara berdesir hangat mendengar ketegasan dari suara bariton suaminya. "Kenapa kamu bisa seyakin itu, El?"
Elzio mempererat kuncian lengannya di pinggang Clara, memajukan wajahnya hingga napas mereka menyatu.
"Karena tanpa kamu, saya cuma sosok kosong yang tidak punya arah," bisik Elzio parau, matanya memancarkan kegelapan obsesi yang pekat namun amat tulus. "Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dari saya, Clara. Bahkan kalau kamu mencoba lari ke ujung dunia sekalipun... saya akan berburu dan menemukan kamu."
Clara tersentak kecil melihat intensitas mata Elzio. "El..."
"Saya tidak main-main," tegas Elzio rendah, menekan ibu jarinya di bibir bawah Clara. "Kamu tidak akan pernah bisa pergi dari saya. Bagaimana pun caranya, dengan jalan apa pun... kamu adalah takdir saya, dan saya adalah penjara sekaligus pelindung kamu."
Clara menyunggingkan senyum tipisnya yang amat manis. Dia menyusupkan tangannya ke leher Elzio, memangkas sisa jarak di antara mereka dan mencium bibir suaminya penuh kepasrahan.
"Aku gak bakal ke mana-mana, Elzio," bisik Clara di depan bibir Elzio. "Aku udah terikat sama kamu. Aku milik kamu."
Elzio tersenyum puas, membalas ciuman itu dengan kelembutan yang dalam sebelum menenggelamkan wajah Clara di dadanya.
"Tidur, sweetheart," bisik Elzio pelan. "Biarkan saya menjaga kamu sepanjang malam."
Di dalam dekapan tegap pria yang sudah gila dan terobsesi padanya itu, Clara akhirnya tertidur lelap—tanpa menyadari bahwa badai dari masa lalu Elzio siap menerjang kebahagiaan mereka esok hari.