Setelah enam tahun berpisah, secara tidak sengaja Vicky dipertemukan lagi dengan Viviane yang dulu adalah pacarnya dan mereka terpaksa dipisahkan saat Viviane sedang hamil.
Bukannya ingin menyia-nyiakan, tapi Vicky yang saat itu masih terlalu muda sangat takut pada orang tuanya meski dia adalah anak yang pembangkang dan sedikit berandalan.
Ane, sapaan Viviane saat ini, telah memiliki seorang putri cantik dan cerdas yang bernama Angelia, tapi dia lebih suka dipanggil Lia.
Vicky yakin jika Lia adalah putrinya meski Ane bersikukuh untuk menyangkal. Karena wajah dan watak anak perempuan biasanya akan menurun dari ayahnya.
Sedangkan kondisi saat ini telah berbeda, Vicky telah berumahtangga dan memiliki seorang putra yang seusia Lia.
Bagaimana bisa putra Vicky seusia Lia?
Bisakah Vicky memperjuangkan haknya sebagai ayah dari Lia?
Dan bagaimana dengan Lia jika tahu bahwa ayahnya seorang yang kaya sedangkan ibunya hanya orang biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bund FF, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lia hilang?
"Papaa...." Johan berteriak senang melihat kedatangan papanya.
"Papa jemput Johan lagi. Johan sangat senang" katanya gembira, sampai membuatnya melompat kegirangan.
"Hai gadis cantik, mau bermain ke rumah Johan?" tanya Vicky, pria itu tahu jika Johan berteman baik dengan Lia. Dan setiap hari, mereka berdua akan selalu bersama untuk menunggu jemputannya.
"Papa mengizinkan Lia datang ke rumah? Yeay... Asyik... Ayo Lia, kita ke rumahku. Aku punya banyak sekali mainan" ajak Johan yang tak mengerti dengan maksud terselubung dari papanya.
"Tapi maaf, tuan. Lia harus kembali bersamaku" kata Gita yang sudah datang dengan sepedanya.
"Tenang saja, kau pun bisa ikut bersama kami. Masalah sepedamu, biar nanti menjadi urusan orang-orangku saja. Kau bisa meninggalkannya disini, dan ikut kami menaiki mobil" bujuk Vicky pada Gita, sepertinya dia harus menaklukkan gadis ini agar bisa membawa Lia.
Melihat mobil mewah nan indah yang ditunjuk oleh Vicky tentu membuat Gita tergiur untuk mencobanya.
"Bagaimana kalau sebelum pulang, kita mampir ke mall untuk sekedar membeli es krim?" bujuk Vicky lagi, dia yakin anak kecil pasti menyukai es krim.
"Yeay, es krim. Oh, come on Lia. Kita makan es krim" bujuk Johan semakin bersemangat.
"Ehm, baiklah. Tapi aku harus meminta izin pada mamaku dulu, tuan" kata Gita sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi mamanya.
"Tentu, silahkan" kata Vicky.
Sembari menunggu Gita, dia memandangi wajah Lia yang memang sangat mirip dengannya.
Hal itu semakin membuat Vicky yakin jika Lia adalah darah dagingnya. Dan dia akan berusaha untuk memperjuangkan gadis itu beserta mamanya sekalian. Untuk menebus segala kesalahan yang telah dia lakukan selama ini.
"Mama mengizinkan kita, Lia. Asalkan kita pulang sebelum jam dua siang. Guru kakak datang di jam itu" kata Gita.
"Oke, ayo kita berangkat" ajak Vicky pada ketiga anak itu.
Semuanya nampak gembira, apalagi Johan yang selama ini tak pernah ditemani oleh Vicky. Bahkan mamanya tak pernah mengantar ataupun menjemputnya, dan lebih mengutamakan kehidupan sosialnya.
"Uwah, rumah kamu besar banget ya Jo" puji Lia yang tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat memasuki kawasan rumah mewah Vicky.
"Ini rumah papaku. Aku sangat bangga padanya" komentar Johan.
Ekor mata Vicky tak pernah lepas untuk melihat Lia. Dan melihat kekaguman yang terpancar dari wajah Lia saat melihat rumahnya semakin membuat Vicky merasa bersalah karena seharusnya semua kemewahan inipun menjadi haknya untuk dinikmati.
"Lihat Lia, ada kolam air mancurnya" kata Gita tak kalah senang.
"Iya kak, bagus banget ya" puji Lia.
Hingga sampai di dalam rumah, langkah mereka terhenti oleh Ruby yang heran karena Vicky yang membawa Johan beserta temannya.
"Sayang, kau seperti pemandu wisata untuk siswa outbond saja. Kenapa kau membawa anak-anak ini datang kesini?" tanya Ruby sedikit tak suka.
"Lia akan bermain denganku, ma. Agar aku tak kesepian sendirian" rengek Johan yang semakin mendekat pada Lia dan Gita.
"Ah, terserah kalian saja" kata Ruby yang tak mendapat jawaban apapun dari Vicky. Dan diapun memilih untuk meneruskan langkahnya entah kemana.
"Kalian mau berenang?" tanya Vicky.
"Disini juga ada kolam renangnya, tuan?" tanya Gita takjub.
"Tentu ada. Dan kalian bisa berenang sepuasnya, tapi tolong jangan panggil aku tuan, ehm, panggil saja om. Bagaimana?" tanya Vicky.
"Tentu, om. Kami mau" kata Gita senang, dan Liapun juga nampak bahagia. Dia menurut pada Gita.
"Baiklah, biar bibik menyiapkan semuanya. Kalian tunggu saja di kolam renang. Johan, ajak mereka kesana" perintah Vicky.
"Tentu papa. Ayo Lia, kak Gita, kita ke kolam" ajak Johan antusias. Pertama kali baginya mengajak teman ke rumah. Dan itu membuatnya sangat senang.
Vicky menyuruh pembantunya menyiapkan baju renang dan juga makanan untuk para gadis kecil fan juga Johan.
Lalu segera bergabung dengan Lia yang sudah menunggu di area kolam.
"Apa kau bisa berenang, Lia?" tanya Vicky.
"Bisa, om. Aku sering berenang bersama mama, Kak Gita dan juga mama Lisa setiap liburan sekolah" kata Lia.
"Siapa nama mamamu?" tanya Vicky seolah-olah tidak tahu.
"Mama Viviane, tapi mama lebih suka dipanggil Mama Ane. Om pernah sekali melihat mamaku waktu sakit kemarin, kan?" tanya Lia mengingatkan Vicky.
Mendengar itu, membuat Ruby yang ingin pergi ke kamarnya menghentikan langkahnya dan sedikit terkejut mendengar penuturan Lia.
"Viviane? Jangan bilang Vivi mantan pacar Vicky" gumam Ruby sambil mempertajam telinganya.
"Ya. Wajah mamamu seperti teman lama om dulu" kata Vicky.
"Tante Ane sangat cantik kan, papa?" tanya Johan.
Vicky hanya tertawa mendengarnya. "Apa kau menyukai rumah ini, Lia?" tanya Vicky.
"Tentu, om. Rumahnya sangat bagus. Tidak seperti rumah kami. Iya kan kak Gita?" tanya Lia.
"Tentu saja Lia. Kita kan hanya mengontrak rumah" kata Gita.
Saat melihat pergelangan tangannya, sudah waktunya Vicky kembali ke kantor. Jadi, dia mempercayakan Johan, Lia dan Gita pads beberapa pembantunya dan menyuruh supir untuk mengantar mereka kembali sebelum pukul dua siang.
Dan setelah kepergian Vicky, Ruby memastikan kebenaran semuanya dengan bertanya langsung pada Lia dan Gita tentang Viviane.
"Ah, sialan!!! Kenapa dia harus kembali hadir di kehidupan Vicky" geram Ruby yang sudah berada di kamarnya sendiri.
Otaknya sudah berfikir keras untuk mengamankan keadaan. Bagaimanapun, dia harus mempertahankan posisinya sebelum Viviane melangkah terlebih dahulu.
"Hai sayang... Do you miss me?" tanya seorang pria saat Ruby menelponnya.
"Tutup mulut busukmu, Rob. Aku ada tugas untukmu. Lakukan dengan sangat baik hari ini juga. Dan pastikan semua aman seperti biasanya" perintah Ruby.
"Everything for you, honey. Sedalam cintaku padamu, apapun akan aku lakukan untukmu. Tapi jangan lupa dengan bayarannya" kata Robi.
"Tak ada cinta yang memerlukan imbalan, bodoh!" geram Ruby.
"Oh come on, honey. Kita bertemu week end ini di hotel X setelah semua tugas ini berhasil, bagaimana?" tanya Robi tak tahu malu.
"Oke. Tapi aku minta lakukan semua ini dengan aman dan rapi. Ingat, mereka pulang sekitar pukul setengah dua siang" kata Ruby yang langsung menutup panggilan teleponnya.
"Hahaha, rasakan kau Viviane. Rupanya kau sengaja memancing Vicky menggunakan anakmu. Baiklah, kita singkirkan satu per satu" gumam Ruby dengan senyum jahatnya.
"Lia, biarkan aku ikut kalian. Aku juga ingin tahu dimana rumahmu" rengek Johan tanpa sepengetahuan Ruby yang sudah pergi sejak tadi untuk menemui teman-teman sosialita nya.
"Tapi nanti bibik dimarahi sama tuan, den Johan. Lebih baik aden dirumah saja ya" kata Bibik.
"No. Bibik diam saja. Lagipula aku hanya ikut mengantar Lia pulang dan akan segera kembali" kata Johan dengan tegas.
Dan hal itu membuat bibiknya tak bisa berbuat lebih untuk mencegah keinginan tuan mudanya.
Menggunakan mobil keluarga Alexander, Johan mengantar Lia dan Gita pulang sore ini setelah puas bermain bersama.
Tapi hingga senja menjelang, kediaman Alexander malah dibuat heboh karena tuan mudanya yang belum juga kembali sejak tadi sore. Hingga saat Vicky pulang ke rumahnya, pria itu dibuat marah saat mendengar mobil yang dikendarai supir dan tiga orang anak di dalamnya tak jua kembali.
Panik tentunya, karena dialah yang mengajak Lia dan Gita datang ke rumahnya. Dan kini, malah anaknya sendiri juga ikut hilang tak ada kabar.
Padahal mereka juga sudah bertanya tentang keberadaan Gita dan Lia yang ternyata juga belum sampai ke rumahnya.
Tentu hal itu semakin membuat keluarga mereka merasa khawatir.
.
.
.
oh siapa jodoh lia saat dewasa nanti? johan / bayu?