Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 : Gemuruh di Gerban Lembah Barat dan Meriam Tengkorak
Derap langkah ribuan kaki kuda dan deru roda besi menggetarkan tanah di celah Gerbang Lembah Barat—sebuah lorong tebing cadas yang menjadi satu-satunya celah masuk menuju Desa Karang Tumpuk dari arah barat. Awan debu merah membumbung tinggi melintasi puncak-puncak pohon pinus, membawa bau minyak tanah yang terbakar dan uap besi panas.
Di mulut lorong tebing, barisan pertahanan baru telah terbentuk. Empat puluh prajurit zirah perak Kedatuan Pantai Selatan berdiri dalam formasi rapat, memegang tombak-tombak panjang berujung kristal es yang memancarkan pendar biru dingin. Kuda-kuda air transparan mereka memekik nyaring, menciptakan lapisan kabut tipis yang mendinginkan udara lembah yang gersang.
Di barisan paling depan, Pangeran Arya Braja menunggangi kuda putih bermata bara, pedang naga lautnya telah terhunus sepenuhnya. Di samping kanan sang pangeran, Marno berdiri gagah memikul martil besinya yang tebal, sementara Sari berdiri di sisi kiri dengan belati di tangan dan kantong-kantong serbuk penawar herbal di pinggangnya. Si Mbah bertengger anggun di atas bahu Marno, matanya yang tajam mengawasi lekukan tebing di kejauhan.
"Ingat, Marno, Sari," kata Pangeran Arya Braja tanpa menoleh, suaranya tetap tenang di tengah gemuruh gema musuh yang kian mendekat. "Pasukan Tengkorak Hitam tidak bertarung menggunakan aturan kehormatan. Mereka bergerak bagaikan kawanan serigala lapar yang menggunakan meriam peledak tanah dan pasukan gajah berzirah."
Marno menggeretakkan giginya, mengencangkan ikatan kain di lengan kanannya. "Besi martilku sudah melumat Mbah Jiwo Suro. Meriam mereka tidak akan bisa meruntuhkan keberanian orang-orang Karang Tumpuk!"
DUM! DUM! DUM!
Dentuman genderang perang musuh mendadak berhenti. Awan debu merah menyibak, mengungkapkan barisan Pasukan Tengkorak Hitam yang sangat mengerikan.
Ratusan prajurit berbaju zirah kulit hitam berkilat memegang perisai besi berukir gambar tengkorak. Di barisan tengah, empat ekor gajah raksasa berduri besi mengangkut panggung kayu raksasa. Di atas gajah utama, bertengger dua buah meriam perunggu tebal bermotif mulut naga api.
Di atas puncak panggung gajah utama, berdiri seorang pria tinggi tegap berambut merah terurai. Ia mengenakan topeng besi setengah wajah dan jubah hitam berdarah. Di tangannya, ia memegang sebuah cambuk rantai berduri yang memancarkan api membara—Pangeran Jagad Karang, pemimpin tertinggi sekte Lembah Barat!
Pangeran Jagad Karang menghentikan gajahnya lima puluh langkah di depan formasi Pangeran Arya Braja. Matanya yang merah liar menatap lurus ke arah Arya Braja dan Sari.
"Arya Braja!" suara Pangeran Jagad Karang melengking berat, memantul keras di dinding tebing batu. "Kau datang jauh-jaju dari lautan hanya untuk melindungi rakyat jelata dan seorang gadis penumbuk soto? Serahkan Kunci Pusaka Ranubaya itu padaku sekarang, atau aku akan meratakan tebing ini dan menimbun kalian semua di bawah puing-puing batu!"
Pangeran Arya Braja menyeringai tipis, mengangkat pedang naganya ke udara. "Jagad Karang! Kunci pusaka itu sudah kembali ke tangan pemilik yang sah. Kau dan pasukan harammu tidak punya hak atas tanah ini! Kembalilah ke lembah gurunmu sebelum air lautku menenggelamkan barisan gajahmu!"
"Sombong!" raung Pangeran Jagad Karang murka. Ia mengayunkan cambuk rantai apinya ke udara dengan suara lecutan memekakkan telinga! CETARRR!
"KOKANG MERIAM TENGKORAK! HANCURKAN BARISAN PERAK MEREKA!" perintah Jagad Karang histeris.
Para prajurit di atas gajah dengan cepat memasukkan bola-bola besi hitam berbau belerang pekat ke dalam mulut meriam perunggu. Dua prajurit membawa obor membara, bersiap menyulut sumbu peledak!
"Mereka mau menembak!" teriak Sari panik.
"Sari! Ikut aku!" seru Marno mendadak.
Pande besi itu tidak menyuruh pasukan bertahan. Dengan insting penempa besi yang paham betul titik lemah struktur meriam dan bahan peledak, Marno berlari kencang menerjang ke depan! Marno memanfaatkan tonjolan-tonjolan batu di dinding tebing untuk melompat tinggi melintasi barisan depan musuh!
Uuk! Uuk! Si Mbah meluncur dari bahu Marno, membawa dua kantong berisi serbuk belerang kunyit dan garam murni penawar api ghaib milik Sari!
"Tahan tembakan meriam dengan tembok es!" teriak Pangeran Arya Braja memberi perintah kepada pasukannya.
Empat puluh prajurit zirah perak menancapkan tombak es mereka ke dalam tanah secara bersamaan! BOMMM! Sebuah dinding es raksasa setinggi sepuluh meter mencuat seketika dari dalam tanah, membentang rapat melindungi barisan pertahanan.
BLARRR! BLARRR!
Dua meriam perunggu musuh meledak bersamaan! Bola-bola besi hitam membara meluncur kencang melintasi udara dan menghantam dinding es Pangeran Arya Braja dengan dentuman dahsyat! Ledakan api merah menyembur hebat, menghancurkan separuh dinding es dan melontarkan serpihan es tebal ke segala arah.
Namun, di tengah kepulan asap hitam meriam yang membumbung pekat, Marno telah berada tepat di bawah perut gajah raksasa pemikul meriam utama!
"HURAAAGH!"
Marno mengayunkan martil besinya dengan seluruh kekuatan fisik penempa besi. Hantaman martil itu mendarat telak pada tiang kayu penyangga panggung meriam di atas punggung gajah!
KRAKKK! BUMMM!
Tiang kayu raksasa itu patah terbelah dua! Panggung kayu beserta dua meriam perunggu tebal di atasnya hilang keseimbangan, terbalik dan jatuh menghempas tanah dengan suara dentuman logam yang sangat keras! Bola-bola besi peledak yang tersisa di panggung rolled keluar dan meledak menghantam barisan prajurit Tengkorak Hitam sendiri!
BOM! BOM! BOM!
Jeritan kesakitan para prajurit musuh bergema saat api meriam mereka sendiri membakar barisan depan mereka! Gajah raksasa yang panik akibat suara ledakan meliuk-liuk liar, mengamuk dan menginjak-injak perisai-perisai besi pasukan barat.
"Keparat kau, Pande Besi!" jerit Pangeran Jagad Karang dari atas gajah utama yang tersisa. Wajahnya yang tertutup topeng besi merah padam oleh kemurkaan yang tak tertahan.
Jagad Karang melompat turun dari panggung gajahnya, melayang di udara dengan cambuk rantai apinya yang menderu-deru. Ia mendarat lima langkah di depan Marno, mengayunkan cambuk apinya tepat ke arah leher Marno!
CETARRR!
Marno menangkis sabetan rantai api itu menggunakan gagang besi martilnya. Percikan api murni membumbung tinggi saat rantai berbatu membara itu melilit rapat gagang martil Marno! Suara daging terbakar berbau sangit tercium saat hawa panas cambuk merembet ke telapak tangan Marno.
"Kau pikir otot besimu sanggup menahan Api Pelebur Otot milikku?!" gelak Jagad Karang kejam, memperketat tarikan rantai apinya untuk merebut martil Marno.
Namun sebelum api ghaib itu sempat membakar telapak tangan Marno lebih dalam, sebuah bayangan meluncur kilat dari samping!
Sari melompat dengan belati terhunus, menyiramkan sebotol cairan penawar garam dan bunga kemuning murni tepat ke arah rantai api Jagad Karang!
PSSSSSSST!
Rantai api membara itu seketika padam total, berubah menjadi rantai besi hitam yang rapuh dan dingin!
Jagad Karang tersentak kaget, melangkah mundur dua langkah. "Cairan apa ini?!"
Marno memanfaatkan kelengahan musuhnya. Dengan satu hentakan kuat, Marno menarik rantai yang sudah rapuh itu hingga putus, lalu melayangkan pukulan tangan kiri kaku yang dilapisi pelindung besi tepat ke wajah bertopeng Pangeran Jagad Karang!
BUKKK!
Topeng besi Jagad Karang pecah berantakan! Pemimpin sekte barat itu terhuyung mundur dengan hidung berdarah-darah, memperlihatkan wajah aslinya yang penuh dengan guratan racun hitam pekat.
Di saat yang sama, Pangeran Arya Braja bersama empat puluh prajurit berkuda es menerobos masuk menyapu sisa-sisa Pasukan Tengkorak Hitam yang sudah panik akibat amukan gajah dan hancurnya meriam utama. Tombak-tombak es bertabrakan dengan pedang-pedang musuh, menciptakan gema pertempuran yang menentukan nasib tanah Karang Tumpuk.
Di tengah kecamuk perang di celah Gerbang Barat, Pangeran Jagad Karang yang mukanya berdarah-darah menatap Sari dan Marno dengan mata menyala penuh kebencian—menyadari bahwa babak akhir dari ambisinya merebut Kunci Pusaka Ranubaya kini harus dipertaruhkan dalam pertarungan adu tanding ilmu puncak di atas puing-puing tebing yang runtuh.