NovelToon NovelToon
Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Gadis Jalanan Terobsesi Pada CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO
Popularitas:978
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.

Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.

"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)

#CintaRomantis

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Berbulan-bulan ia terus belajar. Ia mengamati produk mana yang paling disukai pelanggan, jenis kulit yang paling sering ditemui pada remaja, hingga pertanyaan yang paling sering diajukan oleh para pembeli.

Tanpa disadari, jumlah penjualannya terus meningkat. Ratusan produk terjual. Lalu menjadi ribuan. Suatu hari, setelah melihat laporan penjualan Dira, Beri berkata, "Kurasa sekarang kamu sudah siap naik ke tahap berikutnya."

"Maksud Kakak?"

"Bukan hanya menjadi reseller." Beri menatap Dira sambil tersenyum. "Saatnya membangun merekmu sendiri."

Kalimat itu membuat jantung Dira berdegup kencang. "Brand... milikku sendiri?"

"Iya." Dengan bantuan Dokter Monik sebagai konsultan formulasi dan arahan Beri dari sisi bisnis serta pemasaran, Dira mulai bekerja sama dengan perusahaan maklon yang memproduksi kosmetik secara legal untuk berbagai merek.

Selama berbulan-bulan, mereka berdiskusi mengenai konsep produk, desain kemasan, target pasar, hingga strategi peluncuran. Dira memiliki satu tujuan yang jelas. Ia ingin menghadirkan produk perawatan kulit yang ditujukan khusus untuk remaja, dengan harga yang tetap terjangkau tanpa mengabaikan kualitas.

Ketika semua persiapan selesai, lahirlah merek pertamanya. Dira Skincare. Saat tim pemasaran mengusulkan menggunakan model profesional untuk materi promosi, Dira justru menggeleng. "Aku ingin menjadi wajah dari produk ini."

Beri tersenyum. "Kenapa?"

"Karena aku adalah bukti bahwa perubahan itu mungkin terjadi. Dulu aku bahkan takut bercermin. Sekarang aku ingin para remaja percaya bahwa merawat diri bukan soal menjadi sempurna, tetapi soal menghargai diri sendiri."

Dokter Monik tersenyum bangga mendengar jawaban itu. Peluncuran produk tersebut mendapat sambutan yang hangat. Banyak pelanggan lama yang telah mengenal kejujuran dan pelayanan Dira langsung memberikan kepercayaan kepada merek barunya.

Perlahan tetapi pasti, Dira Skincare mulai berkembang. Bukan hanya sebagai sebuah produk kecantikan. Melainkan sebagai simbol perjalanan seorang gadis yang pernah hidup di perkampungan kumuh, lalu bangkit dengan pendidikan, kerja keras, dan keberanian untuk mengubah takdirnya sendiri.

Perkembangan Dira Skincare jauh melampaui perkiraan Dira. Pesanan terus berdatangan dari berbagai kota. Jumlahnya semakin hari semakin banyak hingga kamar kecil di yayasan tidak lagi mampu menampung stok barang.

Di saat yang sama, Dira menghadapi sebuah keputusan besar. Ia diterima di perguruan tinggi berkat prestasinya. Namun setelah berdiskusi dengan Bu Emi, Dokter Monik, dan Beri, ia memilih mengambil jeda kuliah selama satu tahun.

"Apa kamu yakin?" tanya Bu Emi.

Dira mengangguk mantap. "Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan kuliah. Tapi saat ini usahaku sedang berada di masa yang menentukan. Kalau pondasinya kuat sejak awal, nanti aku bisa kuliah dengan lebih tenang."

Beri yang duduk di sampingnya tersenyum. "Keputusan ini memang berisiko. Tapi selama kamu punya rencana yang jelas dan tidak melupakan tujuanmu untuk melanjutkan pendidikan, aku mendukung."

Dira mengangguk. "Aku janji. Ini hanya satu tahun. Setelah itu aku akan kuliah."

Keputusan itu pun diambil. Selama satu tahun, Dira memusatkan seluruh tenaganya untuk memperkuat fondasi bisnisnya. Ia mulai menyusun sistem pencatatan yang lebih rapi, memperbaiki layanan pelanggan, membangun jaringan distribusi, dan memastikan kualitas produknya tetap terjaga meski jumlah pesanan terus meningkat.

Karena stok yang semakin banyak, Dira kemudian menyewa sebuah rumah sederhana yang letaknya persis di samping yayasan. Rumah itu diubah menjadi gudang sekaligus pusat pengemasan Dira Skincare.

Rak-rak besi dipenuhi kardus produk. Meja panjang digunakan untuk proses pengecekan dan pengemasan. Setiap sudut rumah dipenuhi aktivitas.

Namun yang paling membahagiakan bagi Dira bukanlah ramainya pesanan. Melainkan orang-orang yang bekerja bersamanya. Ia sengaja merekrut beberapa kakak tingkat di yayasan yang telah lulus SMA dan belum mendapatkan pekerjaan tetap.

"Aku ingin kita sama-sama maju," kata Dira kepada mereka. "Dulu kita sama-sama diberi kesempatan oleh yayasan. Sekarang, kalau aku sudah mampu, aku juga ingin membuka kesempatan untuk kalian."

Mendengar itu, Bu Emi sampai menitikkan air mata. Ia tidak menyangka gadis yang dulu datang dengan tubuh kurus, rambut menggimbal, dan penuh ketakutan kini telah mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi anak-anak yayasan lainnya. Dokter Monik tersenyum bangga.

Sedangkan Beri hanya mengangguk pelan. "Aku tidak salah menaruh harapan padamu, Dira."

Dira memandang gudang kecil yang dipenuhi aktivitas itu dengan mata berbinar. Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang seberapa besar keuntungan yang diperoleh. Tetapi tentang seberapa banyak tangan yang bisa ia genggam agar ikut bangkit bersamanya.

***

Satu tahun berlalu. Keputusan Dira untuk menunda kuliah ternyata membuahkan hasil. Pondasi Dira Skincare kini jauh lebih kokoh. Sistem operasional telah berjalan rapi, gudangnya semakin sibuk, dan tim kecil yang dibangunnya mampu menangani ribuan pesanan setiap bulan.

Melihat usahanya mulai stabil, Dira akhirnya menepati janjinya. Ia mendaftar ke salah satu universitas bergengsi dan diterima di Fakultas Bisnis.

Hari pertama kuliah menjadi awal dari babak baru dalam hidupnya. Dira sadar, dunia kampus yang akan dimasukinya berbeda dengan lingkungan yang selama ini ia kenal. Banyak mahasiswanya berasal dari keluarga pengusaha, pejabat, dan kalangan berada. Karena itu, ia tidak hanya mempersiapkan kemampuan akademiknya. Ia juga mulai mengubah penampilannya. Rambutnya dipotong dengan model yang lebih elegan. Cara berpakaiannya menjadi lebih sederhana, tetapi berkelas. Riasannya tetap natural, menonjolkan kulit sehat yang menjadi ciri khasnya. Tak ada lagi kesan gadis kumuh yang dulu berusaha menyembunyikan wajahnya. Yang ada sekarang adalah seorang perempuan muda yang anggun dan percaya diri.

Namun perubahan terbesar bukanlah pada penampilannya. Melainkan pada caranya membawa diri. Atas saran Beri, Dira mulai mempelajari etika pergaulan di kalangan profesional dan pebisnis. Ia belajar cara memperkenalkan diri dengan percaya diri. Belajar menyusun kalimat yang sopan dalam rapat. Belajar etika makan dalam jamuan bisnis. Belajar memilih pakaian sesuai acara. Belajar berbicara di depan umum.

Bahkan Beri sesekali mengajaknya menghadiri seminar bisnis dan forum kewirausahaan agar Dira terbiasa berinteraksi dengan para pengusaha. "Ingat," kata Beri suatu hari. "Kesuksesan bukan hanya ditentukan oleh kemampuanmu menghasilkan uang." Dira menatapnya penuh perhatian. "Tetapi juga oleh kemampuanmu membawa diri di mana pun kamu berada."

Dira mengangguk. Ia menyadari bahwa ilmu bisnis tidak hanya dipelajari dari buku. Tetapi juga dari cara menghargai orang lain, membangun jaringan, dan menunjukkan profesionalisme.

Setiap hari ia terus belajar. Belajar menjadi pengusaha. Belajar menjadi pemimpin. Belajar menjadi perempuan yang mampu berdiri sejajar dengan siapa pun tanpa melupakan dari mana ia berasal.

Di dalam hatinya masih tersimpan satu nama yang tak pernah benar-benar hilang. Adrian Maulana.

Kini, untuk pertama kalinya, Dira mulai merasa bahwa jarak di antara mereka tidak lagi sejauh dulu. Ia belum sampai di puncak. Tetapi setidaknya, ia telah memulai perjalanan menuju dunia yang sama dengan lelaki yang selama ini menjadi alasan ia bangkit dari keterpurukan.

1
Inde Hara
sepertinya Beri suka Dira🤭
Inde Hara
Ceritanya bagus
Fitria
Jangan lupa tinggalkan Like dan komen agar author semangat update. Terimakasih.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!