"Mulai dari sekarang kamu adalah putraku, kamu yang akan menduduki tahta naga. Gantikan posisi kaisar, injaklah keparat itu."
Sang permaisuri berbisik sembari tersenyum, menatap ke arah seorang pangeran kecil berpakaian lusuh di istana terbuang.
Lin Krisan, merupakan putri tunggal dari jendral yang berkuasa. Diangkat menjadi permaisuri, setelah mendukung suaminya dari status pangeran hingga menjadi kaisar.
Namun, kasih sayang tidak didapatkannya. Kaisar lebih menyayangi para selirnya. Hingga pada akhirnya permaisuri Lin meninggal di istana dingin, setelah diracuni oleh kaisar.
Wanita yang terlahir kembali, kembali mengulangi waktu.
"Aku tidak akan berusaha merebut cintamu lagi. Tapi aku akan merebut tahtamu."
Menjadikan istana bagaikan papan catur, melucuti kekuasaan kaisar pengkhianat. Menjadikan putranya yang manis sebagai kaisar baru.
Tapi lebih dari itu, mata perdana menteri mengawasinya...atau menginginkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepaskan Tanggung Jawab
“Bawa selir Shen keluar. Selir Shen akan dikurung di istana dingin, tidak diizinkan keluar kecuali atas perintah dariku.” Itulah hukuman yang diucapkan oleh ibu suri.
Dua orang dayang menariknya pergi, selir Shen yang terlihat gemetar ketakutan.
“Bibi! Tia tidak bersalah, hamba tidak bersalah…bibi tolong!” Selir Shen diseret.
Permaisuri menikmati tehnya, hukuman yang benar-benar ringan. Itu sudah diduga olehnya, hanya sekedar menghukumnya untuk dikurung di istana dingin. Permaisuri dapat menebaknya, beberapa minggu setelah masalah ini mereda, Ibu Suri akan mengeluarkan selir Shen.
Dirinya mengangkat salah satu alisnya. Selama keluarga Lin masih berkuasa, wanita tua ini tidak dapat melakukan apapun padanya.
“Permaisuri, tindakanmu yang sudah menendang selir Shen benar-benar sudah keterlaluan. Walaupun selir Shen melakukan kesalahan. Seharusnya permaisuri hanya menegurnya, atau dapat melaporkan dan memberikan perintah hukuman padanya.” Kalimat yang begitu tegas dari ibu suri.
Ini benar-benar menyebalkan, wanita tua ini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghujatnya. Dan menyatakan dirinya bertindak tidak sesuai dengan moral dan tata krama yang berlaku.
Namun, selalu ada cara untuk memanfaatkan kesempatan yang ada.
“Permaisuri, untuk menarik perhatian Kaisar seharusnya kamu introspeksi diri. Seharusnya kamu merenung bagaimana menjadi permaisuri yang baik.” Itulah yang diucapkan oleh ibu suri. Seperti merasa sebagai makhluk yang paling benar.
“Benar! Seorang permaisuri seharusnya memiliki citra yang lemah lembut. Tidak berbuat terburu-buru, tidak menggunakan emosinya. Selalu berbudi luhur dan mengetahui sopan santun, Bagaimana yang mulia permaisuri dapat begitu ceroboh. Yang mulia Kaisar benar-benar menyukai tipikal wanita yang lemah lembut. Karena itu, permaisuri tidak seharusnya bertindak seperti itu untuk kesempatan berikutnya.” Selir Agung bergerak, menuangkan teh untuk ibu suri.
Apa yang akan dilakukan oleh permaisuri? Wanita ini pasti sudah akan mengikuti semua kata-katanya. Selir mana yang tidak mengetahui bahwa permaisuri sama sekali tidak pernah menghabiskan satu malam pun dengan Kaisar.
Lebih tepatnya, Kaisar tidak menyentuh permaisuri sama sekali.
Hujatan tentang permaisuri yang mandul. Itu sengaja disebarkan oleh mereka, agar suatu hari nanti dapat dengan mudah menurunkan permaisuri dari tahtanya.
“Apa yang dikatakan oleh selir Agung ada benarnya. Sebagai permaisuri seharusnya kamu tidak bertindak seperti itu.” Kalimat yang begitu tegas dari ibu suri.
“Permaisuri hanya tidak memahaminya. Mohon yang mulia Ibu suri memakluminya. Itu semua karena permaisuri merupakan anak dari Jenderal besar. Tentu saja kurang memahami etika bangsawan. Permaisuri menghabiskan masa kecilnya di perbatasan. Tolong Ibu suri benar-benar memahami bagaimana perilaku permaisuri dapat seperti ini. Itu karena pendidikan rendah daerah perbatasan, makanya dapat begitu kasar seperti pengungsi.” Kalimat demi kalimat yang benar-benar terdengar sopan, tapi di saat yang sama ingin menghasut Ibu Suri dan mempermalukannya di hadapan semua orang.
Memang selir Agung terdengar membelanya. Tapi sebenarnya selir Agung berniat menjerumuskannya.
Karena selir Agung ingin menjerumuskannya. Bagaimana jika dirinya memutuskan untuk terjerumus? Ingin rasanya permaisuri tertawa melihat semua permainan ini.
Papan catur raksasa yang berada di istana, semua pion dapat digerakkan ke mana saja.
Permaisuri bangkit dari tempatnya duduk.
Selir Agung mengepalkan tangannya. Tidak apa-apa disiram sekali, asalkan segel Phoenix lepas dari tangan permaisuri. Sudah pasti jika permaisuri menganiayanya di tempat ini, maka Ibu Suri yang murka akan mengambil segel Phoenixnya. Sebuah segel yang mengendalikan istana belakang.
Ibu Suri juga diam-diam tersenyum. Dirinya sedikit demi sedikit akan mengintimidasi permaisuri. Kemudian melucuti kekuasaannya, barulah menginjak wanita yang berani mempermalukan keponakannya ini.
Wanita yang benar-benar sudah tidak berguna. Ibu Suri juga menunggu bagaimana permaisuri akan memukul selir Agung.
Tapi.
Tiba-tiba saja permaisuri berlutut di hadapan Ibu suri. Wanita yang menunduk menangis memohon ampun.
“Yang mulia Ibu suri…hamba menyadari semua kesalahan dan kekurangan hamba. Selir Agung memang lebih baik daripada hamba yang menghabiskan waktu di perbatasan. Hamba bahkan tidak mengetahui etika dasar sebagai bangsawan. Mau bagaimana lagi, hamba sudah kehilangan sosok Ibu dari kecil.”
Suasana tiba-tiba hening, permaisuri melakukan hal di luar dugaan. Berlutut dan memohon ampun? Mereka menelan ludahnya.
Tapi bukankah itu lebih bagus? Itu artinya permaisuri kembali tunduk.
Ibu Suri juga mulai tersenyum. Wanita ini memang harus tunduk dan patuh padanya jika tidak ingin kehilangan segel Phoenix.
Diam-diam permaisuri yang berlutut memberi hormat tersenyum. Ini adalah saatnya serangan pamungkas, bukan serangan pamungkas. Lebih tepatnya, ini adalah saatnya untuk memanfaatkan kesempatan. Mereka ingin dirinya memohon ampun kemudian menyerahkan kekuasaan bukan? Itu memang akan dilakukan olehnya…
“Karena itu…karena itu…hamba berniat menyerahkan urusan ulang tahun Kaisar kepada selir Agung. Saat ulang tahun Kaisar, para bangsawan besar akan hadir. Raja-raja dari daerah sekitar juga akan berdatangan. Pemimpin negara lain akan memasuki istana. Perilaku hamba yang tidak pantas ini, mungkin dapat mengacaukan acara…” wanita yang memberikan tugas yang sulit. Sedangkan dirinya tinggal menikmati perjamuan dan makan kuaci.
Tapi selir Agung malah tersenyum. Menganggap setelah tugas ini maka akan mendapatkan perhatian lebih banyak dari Kaisar dan ibu suri.
Dirinya mendekati permaisuri yang berlutut.”Yang mulia permaisuri tidak perlu seperti itu. Kemampuan hamba tidak begitu bagus…” itulah yang diucapkan selir Agung, memegang jemari tangannya.
Ibu Suri mengangkat sebelah alisnya. Itu bagus juga, perlahan permaisuri akan kehilangan otoritasnya. Jika semua bangsawan yang hadir mengetahui perjamuan tidak disiapkan oleh permaisuri. Maka nama permaisuri akan terkikis di fraksi bangsawan.
Melucuti kekuasaan permaisuri dan keluarga Lin sedikit demi sedikit. Itulah tujuan mereka.
“Memang benar, ulang tahun Kaisar sebaiknya disiapkan oleh selir Agung.” Ibu Suri berucap dengan nada tenang menikmati tehnya.
Tentu saja selir Agung bersorak di dalam hatinya. Apa yang dikatakan oleh permaisuri, apa yang dikatakan oleh ibu suri. Tentu saja dirinya akan mempersiapkan pesta sebaik-baiknya. Jabatan sebagai permaisuri tinggal selangkah lagi.
“Hamba benar-benar setuju dengan ibu Suri kali ini. Riri ambilkan…” perintah dari permaisuri.
Dayang yang segera mengambil buku kas, serta kunci gudang harta.
“Rincian anggaran pendanaan, selir Agung sendiri yang dapat atur. Beberapa tahun ini aku sudah kesulitan untuk mengaturnya. Mungkin karena memang bakatku yang kurang. Aku harap ketika selir Agung mengaturnya nanti, bisa menjadi perjamuan yang paling indah dan megah.” Permaisuri memegang jemari tangan selir Agung. Kemudian memberikan kunci gudang harta dan buku kas.
“Hamba tidak akan mengecewakan permaisuri.” Itulah yang diucapkan oleh selir Agung. Semuanya akan menjadi miliknya, mahkota Phoenix akan segera bertengger di kepalanya. Itulah yang ada di pikiran selir Agung.
“Kesehatan hamba sedikit memburuk. Hamba memohon pamit yang mulia Ibu suri…” permaisuri menunduk memberi hormat, kemudian berlalu pergi meninggalkan istana Ibu Suri bersama dengan dayangnya.
Dalam perjalanan menelusuri lorong, Riri bertanya kepadanya.
“Yang mulia permaisuri, bagaimana jika selir Agung memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan dukungan bangsawan?” Sang dayang terlihat cemas.
“Burung unta ingin menjelma menjadi burung phoenix? Menjijikan…” permaisuri tetap dapat tersenyum kali ini. Wanita yang tertawa begitu lepas menyadari, untuk mengadakan pesta besar setingkat dengan pesta ulang tahun Kaisar, pendanaan sama sekali tidak cukup.
Betapa bodoh hal yang akan terjadi nanti.
kalau Indomie baru selera ku🤭🤣🤣
🤣🤣🤣