Sekar, seorang buruh penimbang paku di sebuah toko grosir bahan bangunan. Hidupnya hanya tentang bertahan hidup dari hari ke hari, hingga sebuah malam kelam dia harus terjebak malam kelam bersama atasannya sendiri, Mas Danu.
Danu bukan CEO dengan jet pribadi. Ia hanyalah pria berusia 32 tahun yang ulet, pemilik toko bangunan warisan orang tuanya yang sukses. Ia tampan dan sangat berwibawa .
Saat Sekar mengetahui dirinya hamil, ia memilih bungkam. Ia sadar posisi ia hanya orang kecil, sementara Danu sudah memiliki kekasih bernama Lidya, wanita kota yang cantik, berpendidikan tinggi, dan setara secara sosial.
Namun, rahasia tak bisa selamanya disimpan. Saat Danu tahu, ia memutuskan untuk bertanggung jawab dan menikahi Sekar, dan memutuskan hubungannya dengan Lidya.
Lalu apa Sekar bisa hidup bahagia dengan pernikahannya, sedangkan yang ia tau Danu terpaksa memutuskan hubungannya dengan Lidya, karena harus bertanggung jawab kepdanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hadiah diantara keriuhan malam
Malam itu, suasana kota kecil tempat tinggal keluarga Subroto tampak lebih meriah dari biasanya. Cahaya lampu warna-warni dari bianglala dan komidi putar menghiasi langit malam, menandakan pasar malam tahunan sedang berlangsung. Riana, dengan sifatnya yang lincah dan penuh semangat, tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengajak Sekar keluar dari rumah yang terasa menyesakkan itu.
"Ayolah Mbak Sekar! Sekali-kali kita hirup udara segar. Mas Danu juga lagi pergi kan? Kita pergi sebentar saja, mumpung Ibu sedang ada acara pengajian di desa sebelah" Bujuk Riana sambil menarik-narik tangan Sekar.
Sekar, yang selalu sulit menolak permintaan orang lain apalagi adik iparnya yang begitu baik, akhirnya mengangguk pelan. Ia mengenakan kardigan pemberian Danu untuk menutupi tunik merah muda yang ia pakai. Di dalam hatinya, ada rasa gugup yang luar biasa, namun ada satu niat yang tiba-tiba muncul dan memberinya keberanian.
Pasar malam itu sangat ramai. Aroma harum gulali, jagung bakar, dan gorengan bercampur menjadi satu dengan suara musik dangdut yang berdentum dari pengeras suara wahana permainan. Riana dengan riang menggandeng lengan Sekar, membawanya berkeliling dari satu stand ke stand lainnya.
"Mbak mau makan apa? Bakso bakar? Atau martabak manis?" Tanya Riana penuh semangat.
"Nanti saja, Riana. Kita jalan-jalan dulu!" Jawab Sekar lembut. Matanya terus menyisir deretan pedagang kaki lima yang berjejer di sepanjang lapangan.
Sekar sedang mencari sesuatu. Ia teringat bahwa satu minggu lagi adalah hari ulang tahun Danu yang ke tiga puluh dua tepat. Selama tinggal di rumah itu, Sekar sering memperhatikan rutinitas suaminya. Danu adalah pria yang sangat menghargai waktu. Setiap pagi, sebelum berangkat ke toko, hal pertama yang dilakukan Danu setelah berpakaian rapi adalah melingkarkan jam tangan peraknya di pergelangan tangan kirinya. Bagi Sekar, jam tangan itu adalah simbol wibawa dan kedisiplinan Danu.
Ia ingin memberikan sesuatu untuk pria yang telah menyelamatkan martabatnya. Namun, Sekar sadar ia tidak punya banyak uang. Uang pemberian Danu selama ini ia simpan dengan sangat irit, dan ia merasa tidak pantas membeli barang mewah menggunakan uang dari pria yang ingin ia beri hadiah itu sendiri.
Tiba-tiba, mata Sekar tertambat pada sebuah lapak kecil yang menjual berbagai jam tangan pria di sudut pasar malam. Jam-jam itu dipajang di dalam kotak kaca sederhana dengan lampu neon kecil sebagai penerangnya.
"Riana, itu... aku mau lihat aksesoris rambut di sana sebentar. Kamu beli jagung bakar dulu saja, sepertinya antreannya panjang" Ucap Sekar, mencoba mencari alasan agar bisa memisahkan diri sejenak.
"Oh, oke Mbak! Aku antre dulu ya, Mbak jangan jauh-jauh!" Sahut Riana tanpa curiga.
Begitu Riana menjauh, Sekar bergegas menuju lapak jam tangan itu. Jantungnya berdebar kencang. Ia melihat deretan jam tangan dengan berbagai model. Matanya tertuju pada sebuah jam tangan dengan tali kulit berwarna cokelat gelap dan angka-angka yang tegas. Jam itu terlihat sederhana namun elegan, mengingatkannya pada sosok Danu yang kaku tapi memiliki sisi lembut yang tersembunyi.
"Pak, yang ini harganya berapa?" Bisik Sekar pelan.
"Itu lima puluh ribu, Neng. Sudah termasuk kotak" Jawab si penjual.
Bagi Danu, uang lima puluh ribu mungkin hanya seharga baut atau paku di tokonya. Namun bagi Sekar, itu adalah uang yang sangat berarti. Ia merogoh dompet kecilnya, mengeluarkan lembaran uang yang ia lipat rapi. Setelah membayar, ia segera memasukkan kotak jam itu ke dalam tas kainnya, menyembunyikannya di balik botol air minum agar tidak terlihat oleh Riana.
Hatinya terasa membuncah oleh kebahagiaan yang sederhana. Mungkin ini tidak sebanding dengan jam tangan mahal Mas Danu, tapi aku membelinya dengan niat tulus, batin Sekar.
Tanpa terasa, waktu berlalu begitu cepat. Riana mengajak Sekar melihat pertunjukan sirkus kecil dan mencoba beberapa jajanan, membuat mereka lupa waktu. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Langit sudah sangat gelap, dan suhu udara mulai menurun.
Sementara itu, di rumah besar keluarga Subroto, sebuah mobil pickup hitam masuk ke halaman dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Danu turun dari mobil dengan wajah yang tampak sangat lelah namun juga tegang. Ia baru saja menyelesaikan urusan mendadak di gudang cabang. Langkah pertamanya adalah menuju kamar utama, kosong. Kemudian ia menuju dapur.
"Mbok Sum! Di mana Sekar?" Tanya Danu, suaranya bariton dan berwibawa, namun terselip nada panik di sana.
"Anu Mas, Mbak Sekar tadi diajak pergi jalan-jalan ke pasar malam sama Mbak Riana" Jawab Mbok Sum takut-takut.
Rahang Danu mengeras. Matanya melirik jam dinding. Pukul sepuluh kurang seperempat malam. Ia tahu Sekar sedang hamil muda, kondisinya belum stabil, dan udara malam tidak baik untuknya. Apalagi pasar malam adalah tempat yang sangat ramai dan penuh sesak. Rasa khawatir yang luar biasa kembali menyerang pria berusia tiga puluh dua tahun itu.
Danu merogoh ponsel di saku celananya. Ia langsung mendial nomor Riana. Panggilan pertama tidak diangkat karena berisiknya suasana pasar malam. Danu mencoba lagi, kali ini dengan napas yang memburu.
Di pasar malam, Riana baru menyadari ponselnya bergetar di dalam saku tasnya. Begitu melihat nama Danu di layar, ia langsung menelan ludah.
"Halo, Mas?" Ucap Riana ragu.
"KAMU BAWA KABUR KEMANA ISTRI MAS?!!" Bentak Danu melalui telepon. Suaranya begitu keras hingga Riana harus menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Ini sudah jam berapa, Riana?! Sekar itu sedang hamil! Kamu tahu betapa bahayanya dia di keramaian seperti itu malam-malam?!"
Riana menciut. Ia baru sadar ia telah melakukan kesalahan besar. "M-maaf Mas, tadi kami keasyikan. Kami di pasar malam lapangan..."
"Tetap di tempat! Jangan bergerak sedikit pun! Mas ke sana sekarang!" Tutup Danu secara sepihak.
Sekar yang berdiri di samping Riana melihat wajah adik iparnya yang pucat pasi.
"Ada apa, Riana?"
"Mas Danu, Mbak. Dia marah besar. Kita habis ini kena semprot" Bisik Riana lemas.
Hanya butuh waktu kurang dari sepuluh menit bagi Danu untuk sampai ke lokasi. Ia memarkir mobilnya sembarangan dan berlari masuk ke area pasar malam yang mulai berangsur sepi. Sosoknya yang tinggi tegap dan berwibawa tampak menonjol di antara kerumunan. Dengan langkah lebar, ia menyisir area makanan hingga matanya menangkap dua wanita yang sedang berdiri mematung di dekat stand jagung bakar.
Danu menghampiri mereka dengan tatapan mata yang tajam dan rahang yang kaku. Aura kepemimpinannya terpancar nyata, membuat orang-orang di sekitar mereka menoleh dengan segan.
"Mas, maaf" Cicit Riana saat Danu sudah berdiri di depan mereka.
Danu tidak melihat ke arah Riana. Matanya langsung tertuju pada Sekar. Ia melihat wajah istrinya yang tampak kelelahan dan sedikit pucat karena angin malam. Tanpa berkata-kata, Danu segera melepas jaket kulit yang ia kenakan dan menyampirkannya ke bahu Sekar, membungkus tubuh kecil itu dengan kehangatan tubuhnya yang masih tertinggal di jaket tersebut.
"Mas Danu, jangan marah sama Riana. Sekar yang mau ikut" Ucap Sekar penurut, suaranya lirih dan penuh rasa bersalah. Ia menunduk, tidak berani menatap mata suaminya.
Danu menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya yang meledak-ledak. Ia memegang bahu Sekar, memaksanya untuk sedikit mendongak.
"Mas tidak marah karena kamu pergi jalan-jalan, Sekar. Mas marah karena ini sudah larut malam. Kamu tahu kamu sedang membawa nyawa lain di dalam perutmu? Kalau kamu pingsan atau terhimpit kerumunan, apa yang harus Mas lakukan?"
Suara Danu kini tidak lagi membentak, namun terdengar penuh tekanan dan kekhawatiran yang mendalam. Sikapnya yang begitu protektif membuat Sekar merasa sangat dihargai sekaligus malu.
"Ayo pulang!" Ajak Danu tegas. Ia merangkul pinggang Sekar dengan sangat erat, seolah tidak mau melepaskannya barang sedetik pun. Ia melirik Riana dengan tajam.
"Riana, masuk ke mobil. Kita bicara di rumah!"
Sepanjang perjalanan pulang di dalam mobil, suasana sangat hening. Riana duduk di kursi belakang dengan kepala menunduk, sementara Sekar duduk di samping Danu. Tangan kiri Danu tetap berada di atas tangan Sekar yang dingin, sesekali meremasnya lembut untuk memastikan istrinya baik-baik saja.
Di balik kecemasannya, Sekar meraba tas kain di pangkuannya. Di dalamnya ada sebuah jam tangan murah yang ia beli dengan sembunyi-sembunyi. Meskipun ia baru saja dimarahi, meskipun Danu tampak sangat menyeramkan saat panik tadi, kekaguman Sekar pada suaminya tidak berkurang. Ia justru merasa semakin terlindungi.
"Mas Danu, tunggu satu minggu lagi. Aku akan memberikan ini untukmu" Janji Sekar di dalam hatinya. Ia tidak peduli jika Danu mungkin akan menertawakan hadiah murahannya, asalkan ia bisa menunjukkan bahwa ia sangat menghargai setiap detik yang Danu berikan untuk menjaganya.
Sesampainya di rumah, Danu mengantar Sekar langsung ke kamar dan memintanya segera tidur. Kedewasaan Danu dalam mengelola emosi, dari yang tadinya meledak hingga menjadi sangat perhatian setelah sampai di rumah, membuat Sekar merasa bahwa pria berusia tiga puluh dua tahun ini benar-benar sosok pelindung sejati.
"Mas Danu mau kemana?" Tanya Sekar karena melihat Danu berjalan meninggalkan kamar.
"Ke kamar Riana!"
Deg....