Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24: Terbang ke London Bersama
Hari Minggu pagi yang cerah menjadi awal perjalanan baru bagi Sarah. Untuk pertama kalinya, ia akan terbang ke London bersama Samudra. Koper-koper sudah disiapkan sejak semalam, dan Yola sudah membantu Sarah mengemas barang-barangnya dengan rapi.
Sarah mengenakan dress panjang berwarna biru muda, dengan cardigan tipis berwarna putih. Rambutnya diikat kuncir kuda, dan di wajahnya terlihat sedikit riasan tipis. Ia terlihat segar dan cantik.
Samudra sudah menunggu di ruang tamu dengan jas hitam dan kemeja putih. Ia menatap Sarah saat wanita itu turun dari tangga.
"Kamu terlihat sangat cantik pagi ini," puji Samudra.
Sarah tersenyum, merasa sedikit malu. "Terima kasih, Pak. Bapak juga terlihat sangat rapi."
"Kita harus berangkat sekarang. Felix sudah menunggu di depan," ujar Samudra.
Mereka berdua keluar dari mansion, dan Felix mengemudikan mobil menuju Bandara Malpensa. Perjalanan ke bandara memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan, Sarah menatap ke luar jendela, menikmati pemandangan pedesaan Italia yang indah.
Sesampainya di bandara, mereka melewati proses check-in dengan cepat. Samudra sudah memesan tiket kelas bisnis, sehingga mereka bisa melewati jalur prioritas. Sarah merasa sedikit canggung, karena ini pertama kalinya ia bepergian dengan fasilitas mewah seperti itu.
"Mari kita masuk dulu ke lounge," ajak Samudra.
Mereka duduk di lounge bandara, menikmati secangkir teh hangat dan camilan ringan. Sarah minum tehnya perlahan, sesekali menatap Samudra yang sedang membaca tablet.
"Pak, Bapak sudah sering ke London?" tanya Sarah.
"Cukup sering. Aku punya beberapa klien di sana," jawab Samudra. "Kamu sendiri, pernah ke London sebelumnya?"
"Belum, Pak. Ini pertama kalinya saya ke Inggris," jawab Sarah jujur.
Samudra tersenyum. "Kalau begitu, aku akan menunjukkan tempat-tempat terbaik di London. Ada beberapa restoran yang sangat enak, dan pemandangan dari London Eye sangat indah."
Sarah matanya berbinar. "London Eye? Saya pernah melihatnya di film. Rasanya ingin sekali naik."
"Kita bisa naik nanti, setelah acara peresmian selesai," ujar Samudra.
Sarah merasa sangat senang. Ia tidak pernah membayangkan akan bepergian ke London bersama Samudra.
Setelah beberapa menit, pengumuman penerbangan mereka dipanggil. Samudra dan Sarah berjalan menuju pintu boarding, dan masuk ke dalam pesawat. Kursi kelas bisnis sangat luas dan nyaman. Sarah duduk di dekat jendela, sedangkan Samudra duduk di sebelahnya.
Pesawat lepas landas dengan mulus. Sarah menatap ke luar jendela, melihat kota Milan yang semakin kecil. Ia tersenyum, merasa sangat bahagia.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Samudra.
"Sangat senang, Pak. Ini pertama kalinya saya terbang dengan kelas bisnis," jawab Sarah.
Samudra tersenyum. "Kamu layak mendapatkannya, Sarah."
Penerbangan menuju London memakan waktu sekitar dua jam. Samudra sesekali menatap Sarah, memastikan ia baik-baik saja. Ia juga mengingatkan Sarah untuk minum air putih secara teratur, sesuai saran dr. Andini.
"Pak, saya ingin bertanya sesuatu," ujar Sarah di tengah penerbangan.
"Apa itu?"
"Kenapa Bapak mengajak saya ke London? Padahal Bapak bisa membawa Felix atau Marco," tanya Sarah.
Samudra menatap Sarah, lalu tersenyum. "Karena aku ingin kamu melihat dunia di luar kantor. Kamu sudah bekerja keras untukku, dan kamu pantas mendapatkan kebahagiaan."
Sarah menatap Samudra, matanya terasa hangat. "Terima kasih, Pak. Aku benar-benar bersyukur bertemu dengan Bapak."
Samudra meraih tangan Sarah, dan menggenggamnya lembut. "Aku juga bersyukur, Sarah."
Mereka terdiam, menikmati momen yang indah itu. Tangan Samudra yang hangat, dan detak jantung Sarah yang berdegup kencang, membuat mereka semakin dekat.
Pesawat akhirnya mendarat di Bandara Heathrow, London. Saat mereka turun dari pesawat, udara London terasa sejuk dan lembap. Sarah menarik napas dalam-dalam, merasakan sensasi baru.
"Ini London, Pak," ujar Sarah.
"Ya, ini London. Dan kita akan bersenang-senang di sini," jawab Samudra.
Mereka berjalan keluar dari bandara, dan sebuah mobil hitam mewah sudah menunggu mereka. Samudra membukakan pintu untuk Sarah, lalu mereka berdua masuk.
Perjalanan menuju hotel berlangsung sekitar 45 menit. Sepanjang jalan, Sarah menatap pemandangan kota London yang indah. Gedung-gedung bersejarah, sungai Thames yang mengalir tenang, dan Big Ben yang menjulang tinggi.
"Wah, Big Ben!" seru Sarah, seperti anak kecil.
Samudra tertawa melihat semangat Sarah. "Ya, itu Big Ben. Dan di sebelahnya, ada London Eye. Kita akan naik besok malam."
Sarah tersenyum lebar. "Saya tidak sabar."
Mereka tiba di sebuah hotel mewah di kawasan Mayfair. Hotel itu bernama The Ritz, dengan arsitektur klasik yang sangat megah. Sarah terkesiap saat melihat lobi hotel yang dihiasi dengan lampu gantung kristal dan marmer putih.
"Ini sangat mewah, Pak," ujar Sarah.
"Kamu layak mendapatkan yang terbaik," jawab Samudra.
Mereka check-in, dan Samudra memesan dua kamar suite yang bersebelahan. Sarah masuk ke kamarnya, dan melihat pemandangan kota London dari jendela. Ia tersenyum, merasa sangat bersyukur.
Malam itu, mereka makan malam di restoran hotel. Sarah memesan ikan panggang dan salad, sedangkan Samudra memilih daging sapi panggang. Mereka berbincang dengan santai, saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing.
"Sarah, aku ingin bilang sesuatu," ujar Samudra di sela-sela makan malam.
"Apa itu, Pak?"
"Aku senang kamu ada di sini. Benar-benar senang," ujar Samudra.
Sarah tersenyum. "Aku juga senang, Pak. Ini adalah perjalanan yang tidak akan pernah aku lupakan."
Mereka tersenyum satu sama lain, dan malam itu, Sarah merasa bahwa hidupnya telah berubah menjadi lebih baik. Di London, di samping Samudra, ia merasa sempurna.