NovelToon NovelToon
PENDEKAR NAGA SAKTI

PENDEKAR NAGA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:38
Nilai: 5
Nama Author: Adih Supriadi

Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 31

Jendral Tongji vs Pendekar Naga

"Apis, ayo kita hancurkan dengan api kapal di kanan kiri ini agar tenggelam." ucap Arden bersemangat matanya menyala.

Wajah Pangeran Juling babak belur, tangannya terikat. Terikat di tengah di tiang perahu.

"Kalian... kalian berani?!" geram Pangeran Juling.

"Heiii... Bicara apa kamu... Lihat kondisimu saat ini..." ucap Apis kesal.

Plakkkk... !!!

Satu tamparan dari Apis ke wajah Pangeran Juling.

"Oke kak ayo gas lah ... Kak Arden kapal perang kanan dan saya yang kiri."ucap Apis sambil merentangkan tangan.

*Wusss..!!! WUUDDSS....!!*

Dengan ilmu meringankan diri*, tubuh Arden dan Apis melayang ringan.

Sekali lompat, mereka sudah berpindah ke atas kapal perang musuh di kanan dan kiri.

Arden mengangkat kedua tangannya. Api merah menyala di telapaknya.

"Untuk negeri!" teriaknya. _BRAAKK!!!_ Layar kapal kanan langsung terbakar.

Di sisi lain Apis meniupkan napas. Dari mulutnya keluar lidah api biru. _Duuurrr..._ Tiang kapal kiri langsung patah.

Sementara itu...

Perahu kecil dayung terus melaju membawa Jendral Tongji. Dayung kayu memecah ombak.

"Ada yang datang..." ucap *Jendral Garuda dari buritan, sambil menoleh ke belakang.

Semua memandang. .

Di belakang perahu Jendral Tongji...

Puluhan perahu perang ukuran besar dengan bendera merah menyala, layar penuh, mendayung serentak.

Mereka mengepung kapal perang merah di mana Pangeran Juling berada.

"Pangeran tertangkap!! !" teriak salah satu prajurit.

"Kapal utama terkepung! Jendral Tongji di depan, kita di belakang!" Ucap prajurit.

Ombak makin tinggi. Langit mendung.

Api masih membakar 2 kapal perang.

*Happ.....!!*

Jendral Tongji melesat dari perahu kecil. Dengan ilmu meringankan tubuh tubuhnya seperti daun diterpa angin.

Sekali lompat... dia sudah mendarat di geladak kapal perang merah.

"Siapa kalian?!" bentak Jendral Tongji marah.

Di depannya sudah berdiri 3 orang:

Pendekar Naga Hijau dengan jubah bersisik,

Jendral Kerbau bertubuh kekar bawa gada besi,

Jendral Garuda bersayap jubah hitam.

Jendral Tongji mengepalkan tangan. Marah.

"Berani sekali menyerang armada kerajaan di tengah laut!"

Tapi matanya tiba-tiba tertuju ke tiang utama.

Di sana... Pangeran Juling terikat.

Wajahnya babak belur, tapi masih hidup.

Hati Jendral Tongji bergetar.

_Keponakanku... Juling masih hidup..._

Marahnya berubah jadi lega. Tapi tetap dia harus tegas.

*Happp...!!! Happp!!!*

Dua bayangan melayang turun.

Arden dan Apis mendarat mulus di belakang Pendekar Naga Hijau.

Di samping kiri kanan kapal utama.

Dua kapal perang yang tadi mereka bakar kini sudah tenggelam.

Tinggal asap hitam dan pecahan kayu mengapung.

"Hoyyh... Kami lah yang harusnya bertanya... Dikau ini siapa.... Berani naik ke kapal ini sendirian..." ucap Apis dari belakang.

"Kurang ajar, di tanya eh balik tanya... Baiklah, Saya adalah Jendral Tongji, penanggung jawab dari pasukan Khan ini." ucap Jendral Tongji.

Tapi belum sempat lega...

_Duuum... Duuum... Duuum..._

Suara genderang perang dari segala arah.

Puluhan kapal perang ukuran besar dengan bendera merah darah kini mengepung rapat kapal merah mereka.

Tombak dan panah berjejer di haluan. Pemanah sudah siap.

Jendral Garuda menatap ke segala penjuru. "Kita terkepung Jendral..."

Jendral Kerbau menghentakkan gadanya. "Biar datang seribu kapal saya tidak takut !"

Pendekar Naga Hijau menatap Arden dan Apis. Lalu menatap Jendral Tongji.

"Jadi... ini bala bantuan musuh?"

Jendral Tongji melangkah maju. Pedangnya terhunus.

"Aku Jendral Tongji. Lepaskan Pangeran Juling. Atau kalian semua akan tenggelam di laut ini!"ucap Jendral Tongji mengancam.

Arden menyeringai, lalu mengepal kan telapak tangan ke arah Jendral Tongji.

"Kau Rupanya Pendekar Naga Putih.... Hebat sekali kau bisa sampai di sini. "ucap Jendral Tongji mengenali Arden.

Di pertarungan yang lalu di darat, Arden berhasil mengalahkan Jendral Tongji, namun ketika itu Pasukan Arden posisi kalah jumlah dan.

Akhirnya memaksa Arden untuk mundur dan membiarkan Jenderal Tongji yang sudah terkapar.

"Maaf Jendral... kami datang untuk berunding."ucap Jendral Garuda.

Angin laut berhenti. Ombak diam.

Laut mendadak hening.

THUUUTTT BREETTT....!!!

Bunyi Apis kentut di belakang.

Semua menatap Apis.

"Maaf... Maaf... Masuk angin..." ucap Apis cengengesan.

"Gila lu Pis... Kentut di samping saya... Saya gampar lu ya gak sopan...." ucap Arden kesal.

"Maaf Ka.... Maaf.." ucap Apis.

Pendekar Naga Hijau melangkah ke depan haluan. Jubah bersisiknya berkibar diterpa angin.

Matanya menatap lurus ke Jendral Tongji dan seluruh armada yang mengepung.

Suaranya menggelegar, didengar sampai kapal musuh.

"Nusantara ini daerah luas yang aman.

Walaupun terdiri dari beberapa kerajaan... tapi mereka memilih perdamaian dan kebersamaan."

"Beda dengan kerajaan Khan. Kalian datang dari jauh. Membawa perang. Ingin menjajah dan menguasai dengan perang. "ucap Oval dengan lantang.

Para prajurit Khan saling lirik. Ada yang menunduk.

Pendekar Naga Hijau mengangkat satu jari.

"Kami hanya ingin satu hal"

"Bawa pulang seluruh pasukan kerajaan Khan yang ada di Nusantara.

Kapal kalian, prajurit kalian, bendera kalian. Pergi dari tanah ini."ucap Pendekar Naga Hijau.

Dia menoleh ke belakang. Ke arah Pangeran Juling yang masih terikat di tiang.

"Atau... jika tidak dituruti..."

_Diam sejenak._

"...maka Pangeran Juling akan gugur di sini."

"Silahkan memilih."

_Duuum..._

Suara ombak jadi satu-satunya jawaban.

*Jendral Tongji terdiam.*

Tangannya yang memegang gagang pedang mengendur.

Di dalam hatinya dia mengerti.

_Para pendekar ini licik... tapi cerdas._

Mereka tidak menyerang membabi buta.

Mereka langsung memotong kepala ular. Menyandera pemimpin.

Dengan begitu... peperangan besar bisa dihindari. Korban tidak akan jatuh ribuan.

Tapi ini juga penghinaan besar bagi kerajaan Khan.

Menarik mundur pasukan \= mengakui kalah.

Dari tiang, Pangeran Juling berteriak serak.

"Paman Tongji! Jangan turuti mereka! Kita punya 50 kapal! Hancurkan saja!"

Jendral Tongji memejamkan mata.

"DIAM JULING!" bentaknya.

Lalu Jendral Tongji menatap Pendekar Naga Hijau.

"Berikan aku waktu 1 malam. Aku harus kirim burung utusan ke Raja Khan, untuk menanyakan perihal ini."ucap Jendral Tongji.

"Astaga satu malam... Lama woy... Sekarang aja!?!" teriak Apis, pendekar naga hitam.

Angin malam berhenti. 50 kapal diam.

Jendral Tongji menatap lama ke arah Pangeran Juling yang terikat. Lalu menatap ke seluruh armada di belakangnya.

Akhirnya dia menghunus pedangnya... tapi bukan untuk menyerang.

Dia menancapkannya ke geladak. _Clang!_

Pedang tertancap di lantai kayu.

"Baik!!" suara Jendral Tongji menggema.

"Aku setuju untuk mundur. Kami akan melupakan tentang Nusantara ini. Menarik semua pasukan kerajaan Khan!" ucap Jendral Tongji.

Seluruh armada terkejut dan menunggu kata berikutnya.

"Aku punya 1 syarat."ucap Jendral Tongji.

Dia menunjuk lurus ke Pendekar Naga Hijau.

"Bertarunglah denganku. Satu lawan satu."

"Jika kau bisa mengalahkanku... maka aku akan mundur malam ini juga."

"Tapi jika aku menang... lepaskan Pangeran Juling, dan kalian pergi tanpa syarat!"

Para prajurit Khan bersorak. "Jendral!! Jendral!!"

Pendekar Naga Hijau diam sebentar. Matanya menyipit.

Di belakangnya Arden berbisik, "Kak... dia jendral terkuat Khan. Hati-hati."

"Gasss lah... Kuy.. Kuy..." ucap Apis memberi semangat.

Pendekar Naga Hijau melangkah maju ke tengah geladak.

Jubah bersisiknya lepas. Di punggungnya tampak tato naga hijau melingkar.

"Ehh tato bikin kapan tuh... Keren... Permanen apa temporary tuh..." ucap Apis terkejut.

Pendekar Naga hijau mendekati Jendela Tongji.

Dia tersenyum.

"*Aku setuju.*"

_Wuuus..._

Sebilah pedang naga terhunus. Bilahnya berkilau hijau seperti sisik.

"Kalau begitu... kita selesaikan di sini.

Demi Nusantara. Demi perdamaian."ucap pendekar Naga hijau.

Jendral Tongji geram dan marah.

"Nama ku Tongji. Murid terakhir Perguruan Harimau Langit."

Dua bayangan berdiri berhadapan.

Di sekeliling mereka... 1000 prajurit menahan napas.

Ombak pun seolah ikut berhenti.

Arden dan Apis mundur. Jendral Kerbau dan Jendral Garuda ikut menepi.

*Pertarungan penentu nasib dua kerajaan... akan dimulai.*

_BRAK!!!_

Hujan deras mengguyur. Geladak licin.

*Duel dimulai.*

Jendral Tongji meraih pedang nya dan menyerang Pendekar Naga Hijau.

_Clang! Clang! Clang!_

Pedang Naga Hijau vs Pedang Harimau Langit. Percikan api beterbangan tiap benturan.

Kecepatan Jendral Tongji luar biasa. Setiap tebasannya berat seperti palu.

Pendekar Naga Hijau lincah, memutar, menangkis, membalas.

10 jurus. 20 jurus.

_TING!!_

Pedang Jendral Tongji terpental. Terlepas dari genggaman. Jatuh ke laut.

Jendral Tongji menunduk dan menghajar Naga Hijau, lalu kaki nya menendang tangan Naga Hijau sehingga pedang Naga Hijau pun terlepas.

_Sraattt..._ Pedang Pendekar Naga Hijau juga terlepas. Tertancap di tiang.

Tanpa senjata. Mereka saling maju.

Jendral Tongji: pukulan keras, lurus, menghancurkan.

Pendekar Naga Hijau: gerakan mengalir, menangkis dengan siku, membalas dengan telapak.

_DUK! BUK! BUAK!_

Noda merah mulai keluar dari sudut bibir keduanya.

Para prajurit menahan napas. Arden mengepalkan tangan.

Tiba-tiba Jendral Tongji mundur 3 langkah. Mengambil kuda-kuda.

"Ini pukulan terakhirku!" teriaknya.

"Selamat jalan Pendekar Naga Hijau..." ucap Jendral Tongji yakin akan menang.

Tubuhnya memanas. Urat-uratnya menegang.

Dari dadanya keluar *cahaya merah menyala*. Panas. Seperti bara.

*"JURUS ANDALAN: PUKULAN SAKTI HARIMAU MERAH!!"*

_WHUUUSSS!!!_

Sebuah gelombang pukulan merah melesat. Berbentuk kepala harimau raksasa. Mengaum. Membakar udara.

Semua orang terbelalak. Gelombang itu bisa menghancurkan satu kapal.

Pendekar Naga Hijau tidak lari. Dia menutup mata. Menarik napas.

Tangannya membentuk segel.

*"PELINDUNG NAGA!!"*

_BUUUMMM!!!_

Dari tubuhnya meledak cahaya hijau.

Sebuah tameng bulat seperti gelembung besar menyelimutinya.

Di dalam tameng itu tampak bayangan sisik naga berputar.

_DUUUARRRR!!!!!_

Pukulan merah menghantam tameng hijau.

*Ledakan dahsyat.*

Air laut naik setinggi 10 meter.

Angin mendorong 50 kapal mundur.

Cahaya merah dan hijau bertabrakan, saling mengikis.

_KRAAKK!!!_

Geladak kapal retak. Tiang utama goyang.

Asap dan uap menutupi seluruh geladak. Tidak ada yang bisa melihat.

"KA... KAK!!" teriak Apis panik.

Hening 3 detik... Asap mulai pudar...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!