Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 32
PERTARUNGAN NAGA
Asap hitam mengepul menutupi seluruh geladak.
Bau besi, bau darah, dan bau kayu terbakar bercampur.
Perlahan asap terbelah oleh angin.
Di tengahnya... Pendekar Naga Hijau tetap berdiri.
Kekuatan yang Dahsyat telah menghantam Naga Hijau Tapi punggungnya tetap tegak. Tato naga di punggungnya seperti hidup.
"Yeeesss.... Masih hidup.. Aman... Aman..." ucap Apis senang.
"Astaga.... Mengerikan sekali pukulan tadi..." ucap Arden.
Jendral Tongji terkejut.
Matanya membelalak. Napasnya tersengal.
"Mustahil... selama 30 tahun bertarung... tak ada seorang pun yang mampu menahan Pukulan Sakti Harimau Merah ku..."
"Hiliiihhh... Pukulan ayam sayur... Tak mempan lah..." ucap Apis.
Pendekar Naga Hijau mengusap noda merah di bibirnya. Lalu melangkah maju satu langkah.
"Sekarang giliranku, Jendral."ucap Pendekar Naga Hijau dengan serius.
Dia menarik napas dalam. Mengumpulkan tenaga.
Seluruh aura hijau di tubuhnya berputar naik ke tangan kanan.
"JURUS ANDALANKU... PUKULAN NAGA HIJAU!!"
_RAAAANGGGGG!!!_ZZZ...... ZZZ
Sebuah cahaya hijau melesat. Bentuknya naga raksasa. Mengaum, menerjang ombak dan hujan.
Kekuatannya 2 kali lipat dari pukulan tadi.
Jendral Tongji tidak punya waktu.
"Hahhh...Bedebah!!!"maki Jendral Tongji.
"Tameng Harimau!!" bentaknya.
_BUUUMM!!_
Sebuah tameng merah muncul di depannya. Tapi kali ini... tameng itu bergetar hebat.
WUZZZZ...!!!!
*DUUUARRRR!!!!!*
Pukulan Naga Hijau menghantam.
_KRAAAKK!!!_
Tameng pecah berkeping-keping.
Cahaya hijau menembus dan menghantam dada Jendral Tongji.
*BUAKKK!!!*
Tubuh Jendral Tongji terpental beberapa meter. Menghantam tiang kapal lalu jatuh ke geladak.
_Gedebuk..._
Hening.
Para prajurit Khan langsung lari menghampiri.
Jendral Tongji terbaring. Baju besinya hancur. Tulang rusuknya patah. Cairan merah mengalir dari mulutnya.
Tapi... dia masih hidup. Matanya masih terbuka.
Dua prajurit membantunya berdiri. Tubuhnya goyah.
Jendral Tongji menatap Pendekar Naga Hijau. Lalu tersenyum pahit.
Dia mengangkat tangan yang gemetar.
"Aku... mengaku kalah." suaranya serak.
"Kau lebih kuat. Kau... layak melindungi Nusantara."
Seluruh armada diam. Tak ada sorakan. Tak ada sumpah serapah.
Hanya suara hujan.
Pendekar Naga Hijau menunduk hormat.
"Kami tidak ingin perang, Jendral. Kami hanya ingin tanah kami damai."
"Tepati Janji mu itu Jendral!!!" ucap Apis bersemangat.
"TARIK JANGKAR!! KITA MUNDUR!! TINGGALKAN NUSANTARA!!"ucap Jendral Tongji ke pasukan nya.
***
*Fajar menyingsing.*
Di kapal merah.
5 Pendekar Nusantara berdiri di atas kapal memperhatikan aktivitas musuh yang bergegas pergi.
Apis ambil kursi dan duduk di samping 4 pendekar Nusantara.
" Duduk dulu gak sih.... Begadang ngantuk..." ucap Apis duduk santai di kursi.
Satu per satu...
Puluhan armada ditarik mundur. Jangkar diangkat. Layar dibentangkan.
_Duuum... Duuum..._
Genderang perang berganti jadi genderang kepulangan.
Ratusan pasukan kerajaan Khan berjalan tertunduk naik ke puluhan kapal perang besar.
Tidak ada lagi sorakan. Tidak ada lagi tombak terhunus.
Hanya dayung yang memecah ombak meninggalkan Nusantara.
*Nusantara menang.*
Di geladak kapal merah, Pendekar Naga Hijau, Arden, Apis, Jendral Kerbau, dan Jendral Garuda berdiri berjajar.
Angin pagi meniup jubah mereka.
Kapal terakhir melintas paling dekat.
Di atasnya... Pangeran Juling duduk di kursi kayu.
Tubuhnya tidak bisa berdiri. Luka-lukanya dibalut perban dan kain. Obat herbal menempel di wajah babak belurnya.
Dia menatap ke arah Pendekar Naga dengan mata kosong. Tidak marah. Hanya lelah.
Di samping Pangeran Juling ada Jendral Tongji yang digotong dua prajurit mengangkat tangan. Memberi hormat terakhir.
"Nusantara penuh dengan Pendekar Sakti dan Pemberani." ucap Jendral Tongji.
Pendekar Naga Hijau maju ke depan haluan. Mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
"*NUSANTARA BEBAS!!*" teriaknya.
*"HIDUP NUSANTARA!!"*
Arden, Apis, dan semua prajurit di kapal ikut bersorak.
Suara mereka menggema sampai ke kapal-kapal Khan yang menjauh.
Bendera merah kerajaan Khan perlahan turun.
Ombak tenang. Matahari naik.
Asap hitam dari dua kapal yang tenggelam sudah hilang.
Yang tersisa hanya laut biru dan langit cerah.
Perang telah selesai.
***
*Siang Pantai Nusantara.*
Langit cerah, Ombak pelan menampar pasir.
Di tengah pantai berdiri tenda besar warna hijau.
Di dalam tenda...
*Jendral Kerbau* rebahan sambil mengusap perutnya yang kenyang.
*Jendral Garuda* duduk bersila, merawat lukanya.
*Pendekar Naga Hijau* duduk paling depan, memejamkan mata. Istirahat setelah duel tadi pagi.
Di luar tenda...
Arden dan Apis duduk di atas batang kayu besar.
Di depan mereka api unggun menyala. Asapnya naik lurus ke langit.
Apis menusuk ikan ke tusuk bambu. Arden menatap laut yang kini kosong. Tidak ada lagi armada musuh.
_Duuum... duuum... duuum..._
Tiba-tiba terdengar gemuruh tapak kaki kuda dari kejauhan.
Tanah bergetar.
Arden langsung berdiri dan langsung meraih pedang nya.
"Siapa itu?!"ucap Arden.
Dari balik bukit pasir muncul bendera.
Bendera Kencana dan Bendera Rinjani. Warna merah, emas, dan biru.
*Pasukan Nusantara datang.*
Ratusan penunggang kuda. Tombak menghadap ke atas.
Di paling depan... dua sosok yang dikenal semua orang.
" Ihh itu Bapak mu..... Masa ke Ayah nya sendiri lupa hehehe...." ucap Apis ketika melihat Jasiren.
"Aduh... Bikin kaget saja." ucap Arden.
Jasiren dengan baju zirah putih. Dan di sebelahnya...
Pendekar Naga Langit dengan jubah biru dan mahkota bulu rajawali.
Mereka turun dari kuda.
Bersalaman dengan Arden dan Apis, lalu Arden mengantarkan ke tenda.
Berjalan cepat ke tenda.
_Srek..._
Tirai tenda dibuka.
Jasiren langsung menunduk. "Pendekar Naga Hijau... Akhirnya Perang berakhir. "
Pendekar Naga Hijau membuka mata. Tersenyum.
"Rencana berhasil kita sudah menang." ucap Oval senang.
Pendekar Naga Langit menepuk bahu Pendekar Naga Hijau.
"Aku dengar dari utusan. Kalian sandera Pangeran Juling. Duel dengan Jendral Tongji. Dan memaksa mereka mundur."
"Itu... cara paling cerdas mengakhiri perang tanpa membantai ribuan nyawa."
Jendral Kerbau tertawa besar. "Itu ide si Apis ! Otaknya licik! Hehehe..."
Semua orang di dalam tenda tertawa.
Jasiren mengangkat kendi. "Kalau begitu... kita bersyukur."
Semua mengangkat cangkir bambu.
*"UNTUK NUSANTARA!! UNTUK PERDAMAIAN!!"*
_Cling!!_
Di luar, Apis melempar ikan bakar ke Arden.
"Kita menang, Den."
Arden mengangguk. "Iya... dan akhirnya bisa tidur nyenyak."
***
*Sore hari. Pantai Nusantara.*
Matahari mulai turun. Langit jingga keemasan memantulkan cahaya di pasir.
Ombak sudah tenang.
Tidak ada lagi kapal perang. Tidak ada lagi jeritan.
Seluruh pasukan berkumpul.
Ratusan prajurit dari berbagai kerajaan Nusantara berdiri berbaris rapi.
Ada yang membawa tombak, ada yang membawa perban, ada yang membawa bendera sobek tapi tetap tegak.
Di depan barisan...
Pendekar Naga Hijau, Pendekar Naga Langit, Jasiren, Jendral Kerbau, dan Jendral Garuda berdiri sejajar.
Arden dan Apis ikut di barisan depan. Wajah mereka lelah... tapi lega.
Pendekar Naga Langit mengangkat pedangnya tinggi.
"Prajurit Nusantara! Perang telah selesai! Tanah kita aman!"
"*Kita pulang!!*"
_HUAAAHHH!!!_
Sorakan menggelegar. Tapi bukan sorakan perang. Ini sorakan pulang.
*Langkah kaki serentak terdengar.*
_Dum... dum... dum..._
Ribuan tapak kaki menjejak pasir, meninggalkan jejak menuju timur.
Kuda-kuda meringkik. Gerobak logistik ditarik.
Bendera kerajaan Rinjani dan bendera kerajaan Kencana berkibar bersama.
Di belakang, Jendral Kerbau menoleh ke laut sekali lagi.
"Selamat tinggal Khan. Jangan kembali lagi ya."
Jendral Garuda tertawa. "Kalau kembali, kita sambut lagi."
Pendekar Naga Hijau berjalan paling depan bersama Pendekar Naga Langit.
"Kerajaan Kencana menanti kita," bisiknya.
"Rumah. Keluarga. Damai."
Arden menatap ke langit. "Akhirnya... bisa makan di rumah sendiri."
Api unggun di pantai pelan-pelan padam.
Tinggal bara dan asap tipis.
Tapi di hat i semua orang... apinya tetap menyala.
Barisan panjang pasukan berjalan di sepanjang pantai.
Bayangan mereka memanjang ke pasir.
Di kejauhan terlihat pegunungan Kerajaan Rinjani... tempat mereka akan pulang.
*Nusantara menang. Dan sekarang... waktunya pulang.*