NovelToon NovelToon
Restu Yang Ditarik Kembali

Restu Yang Ditarik Kembali

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:325k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.

​Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.

​Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Restu Yang Ditarik Kembali

Adila mengemudikan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Cengkeramannya pada kemudi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kepalanya, rekaman Meisya yang tersenyum tipis di depan tangga semalam berputar layaknya kaset rusak. Senyum itu bukan senyum adik yang butuh perlindungan, melainkan senyum seorang pemburu yang melihat mangsanya mulai goyah.

​"Kamu salah pilih lawan, Meisya," gumam Adila pelan.

​Sesampainya di rumah sakit, Adila mencoba bersikap profesional. Namun, setiap kali ia melihat jas putih yang ia kenakan di cermin, ia teringat bagaimana Revan menggunakan profesinya sebagai senjata untuk memaksanya berempati pada Meisya. Baginya, itu adalah penghinaan tertinggi.

​Baru saja ia duduk di ruangannya, sebuah pesan masuk dari Revan.

​Revan: Di, bisakah kita bicara nanti malam tanpa emosi? Aku hanya ingin rumah kita tenang. Meisya tadi sampai tidak mau makan karena merasa bersalah. Tolong, jangan terlalu keras padanya.

​Adila hanya membaca pesan itu tanpa niat membalas. Ia justru membuka kembali aplikasi CCTV di ponselnya. Ia ingin melihat apa yang terjadi di rumah setelah ia pergi.

​Di layar ponsel, Adila melihat Meisya masih duduk di meja makan, namun tangisnya sudah reda. Revan tampak berdiri di sampingnya, mengusap bahu Meisya pelan sebuah gestur yang membuat rahang Adila mengeras.

​"Sudahlah, Mei. Kak Adila memang sedang stres karena pekerjaannya di rumah sakit. Makanlah sedikit, nanti kamu sakit," suara Revan terdengar sayup-sayup melalui mikrofon tersembunyi yang dipasang Adila.

​"Meisya cuma mau jadi adik yang baik, Kak Revan. Meisya nggak tahu kalau Kak Adila sebenci itu sama Meisya. Apa Meisya pergi saja ya dari sini?" jawab Meisya dengan suara yang dibuat serak.

​"Jangan. Kamu mau pergi ke mana? Di luar sana tidak aman untukmu. Biar aku yang bicara lagi dengan Adila nanti," tegas Revan.

​Adila tersenyum miring melihat adegan drama picisan itu. Ia kemudian menelepon seseorang.

​"Halo, Bik Ijah?"

​"Iya, Non Dokter?" suara Bik Ijah terdengar berbisik, sepertinya ia takut ketahuan Revan.

​"Bik, nanti siang, saya ingin Bibik membersihkan gudang di belakang. Dan satu lagi, pastikan Bibik membuang semua sisa makanan yang dimasak Meisya tadi pagi. Bilang saja itu instruksi saya karena saya tidak ingin ada makanan yang tidak higienis di meja makan saya."

​"Tapi... Tuan Revan tadi bilang..."

​"Bik," potong Adila dingin. "Siapa yang membayar gaji Bibik setiap bulan? Saya atau Tuan Revan?"

​Hening sejenak. "Baik, Non Dokter. Segera saya laksanakan."

​Siang harinya, bukannya fokus pada pasien, Adila justru melakukan manuver yang tak terduga. Ia tidak pergi ke rumah sakit pusat, melainkan mampir ke sebuah firma hukum milik rekannya, lalu berlanjut ke kantor Revan.

​Revan terkejut saat melihat istrinya tiba-tiba muncul di depan pintu ruangannya pukul satu siang. Masih dengan jas dokter, namun aura Adila jauh lebih mengancam daripada pagi tadi.

​"Adila? Ada apa? Tumben sekali kamu ke sini," Revan bangkit dari kursi kebesarannya, mencoba mencium kening Adila, namun Adila hanya menyodorkan sebuah map cokelat.

​"Apa ini?" tanya Revan bingung.

​"Diagnosis untuk suamiku yang sedang buta," jawab Adila tenang.

​Revan membuka map itu. Isinya bukan dokumen medis, melainkan rincian pengeluaran Meisya selama seminggu terakhir dari kartu kredit tambahan yang diberikan Revan, lengkap dengan bukti sewa apartemen mewah atas nama Meisya yang ternyata masih aktif.

​"Dia bilang padamu dia tidak punya tempat tinggal dan tidak punya uang, kan?" Adila melangkah mendekati meja Revan. "Apartemen itu masih atas namanya, Revan. Dia masih membayar sewanya. Dia tidak 'terusir', dia sedang 'bermain peran' di rumah kita."

​Revan terdiam, matanya menatap angka-angka di kertas itu dengan tidak percaya. "Mungkin... mungkin ini salah paham, Di. Meisya bilang..."

​"Berhenti membela dia, Revan! Sampai kapan kamu mau jadi pria bodoh yang disuapi kebohongan?" bentak Adila, suaranya memenuhi ruangan kantor. "Aku memasang CCTV bukan karena aku tidak percaya padamu, tapi karena aku tahu ada predator di rumah kita. Dan benar saja, semalam dia menunggu di bawah tangga, menunggumu keluar kamar saat kita sedang bertengkar!"

​Revan terduduk lemas di kursinya. "Dia... dia menunggu di bawah tangga?"

​"Lihat sendiri," Adila menyodorkan ponselnya, memutar rekaman semalam.

​Wajah Revan berubah pucat. Ia melihat Meisya berdiri dalam gelap, menatap ke arah kamar mereka dengan tatapan yang sangat jauh dari kata polos.

​"Sekarang, pilihannya ada di tanganmu," ujar Adila sambil merapikan jas putihnya. "Kamu yang menyuruhnya pergi dengan cara baik-baik hari ini, atau aku yang akan menyeretnya keluar dengan cara dokter menangani tumor ganas: dipotong paksa sampai ke akarnya."

​Adila berbalik tanpa menunggu jawaban. Ia sudah memberikan dosis obat yang cukup kuat untuk suaminya. Sekarang, ia tinggal menunggu apakah 'pasiennya' itu akan sembuh atau tetap memilih untuk sakit.

1
Kaifstoryy
nama suaminya ganti2 mulu🤭

terus dibilang kerangka. berarti meninggalnya udah bertahun kan? jadi Meisya hamil anak siapa? 🤭
Ida Sriwidodo
Lohh.. katanya Revan ngga tau status Dila sebagai putri bungsu keluarag Wijaya.. piye ki thor? 😭😭🤔🤔
Ida Sriwidodo
Ini aneh lagi..
Meisya pergi kan diusir sama Revan sendiri.. dibeliin tiket pulkam one way.. bukan Meisya yang mencampakkan Revan karena dah jatoh misqueen...🤔🤔🤔
Sarifah_Aini97
Sumpah, bau-bau ada rahasia atau konflik besar yang bakal meledak nih🙂‍↕️
Sarifah_Aini97
Aduh, Adila kenapa nih? Pasti abis lihat atau baca sesuatu di HP-nya sampai tangannya gemeteran gitu.
Ida Sriwidodo
Lhah.. di bab terdahulu katanya mau ambil obgyn karena Dila mo fokus sama kesehatan reproduksi wanita 🤔😬
Ida Sriwidodo
Sampai sini jadi pen komen.. Hadi suaminya Meisya di bab ini katanya dah meninggal bertahun lalu.. tapi koq Meisya nya hamilnya baru sekarang yaa..? 🤔
Wulan Azka: apa saya salah ingat ya, yang saya ingat nama suami di Meisya itu Bayu 🤔
total 2 replies
Yuli Yuliawati
suami nggak dan keluarga g d otak tinggalin aja
Yuli Yuliawati
isteri sah tersakiti
awas aja pelakor dan suami durjana nggak dapat balasan nya
Yuli Yuliawati
Tinggalin aja suami durjana mu
Mama lilik Lilik
nama suami meysa, dari Bayu, Hadi,Danang,orang meninggal bisa ganti nama sampai 3x🤣
Wulan Azka: nah kan barusan di bab sebelumnya saya ikut komen soal nama suami Mesya, seingat saya namanya Bayu, kenapa jadi si Hadi
total 2 replies
Bunda
awal yang menarik,ijin baca kak🙏
Nay Chan
sebagai wanita aq suka sikap Adila💪🤣 buang yg lama cari yg baru🤭
Eric ardy Yahya
the punishment has begun Tiara . waktunya mendapatkan siksaan sesuai Peringatan Adila
Eric ardy Yahya
enak rasanya Tiara ? makanya kamu jadi orang gak usah kayak MONYET yang suka mengumpat
Eric ardy Yahya
gimana ya Rasanya Revan ? udah tersiksa ? semua tidak akan terjadi kalau otak kamu bukan Otak' Taik
Eric ardy Yahya
makanya Meisya , kalau punya otak dipakai , jangan malah kamu orang baik jadi wanita malam . gini kan rasanya dihina?
Eric ardy Yahya
makanya Revan , kalian enak ancam Adila bilang kamu akan menyesal blah blah blah dan seterusnya , sekarang ? kamu sendiri menyesal kan ? emak kamu udah tutup usia , Tiara jadi sole survivor alias ngekost , kamu dipecat , rumah kamu disita dan apa lagi yang mau dibanggakan? gak ada sama sekali
Eric ardy Yahya
makanya Revan , Adila udah kasih peringatan aja udah tepat sasaran , namun kamu sendiri yang tidak tau diri berlagak udah hebat , sekarang terima nasib kamu
Eric ardy Yahya
MAMPUS KAU REVAN , makanya jadi orang jangan kayak MONYET
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!