SINYAL TERAKHIR
Sinopsis
Tahun 2487.
Persemakmuran Persatuan Manusia (PPM) telah berkembang menjadi peradaban antarbintang yang menguasai ratusan sistem bintang. Dengan bantuan jaringan gerbang antarbintang dan kecerdasan buatan AURA, manusia berhasil membangun koloni di berbagai penjuru galaksi. Meski teknologi berkembang pesat, satu pertanyaan besar belum pernah terjawab: apakah manusia benar-benar sendirian di alam semesta?
Semuanya berubah ketika jaringan observatorium PPM menangkap sebuah sinyal misterius dari Galaksi Asterion, sebuah galaksi yang tidak pernah tercatat dalam jalur eksplorasi resmi. Sinyal itu memiliki pola yang tidak mungkin dihasilkan oleh fenomena alam dan terus berubah seolah merespons sesuatu.
Untuk menyelidikinya, Dewan PPM membentuk ekspedisi rahasia menggunakan kapal eksplorasi tercanggih, ESS Horizon. Misi tersebut dipimpin oleh Kapten Idris, didampingi Wakil Kapten Kael, bersama sepuluh anggota lain yang dipilih langsung dari berbagai bidang keahlian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mirage Ink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 – Persiapan
Rapat berakhir hampir dua jam kemudian.
Sebelum meninggalkan ruangan, setiap anggota tim diminta menyerahkan seluruh perangkat komunikasi pribadi. Sebagai gantinya, mereka menerima sebuah gelang identitas berwarna hitam.
Petugas keamanan menjelaskan fungsinya.
"Gelang ini adalah identitas resmi kalian selama misi. Seluruh akses ke ESS Horizon menggunakan gelang ini, mulai dari membuka pintu hingga mengakses data. Jangan sampai hilang."
Darius memasang gelangnya sambil bergumam, "Kalau hilang?"
"Anda tidak akan bisa masuk ke kamar sendiri."
Beberapa orang tertawa kecil.
Suasana yang sejak tadi tegang mulai sedikit mencair.
---
Di koridor luar, Kael berjalan berdampingan dengan Kapten Idris.
"Kau kelihatan sedang berpikir."
Kael mengangguk.
"Ada yang mengganggu."
"Apa?"
"Kenapa hanya dua belas orang?"
Kapten Idris menatap ke depan.
"Menurutmu berapa kru ideal untuk ekspedisi seperti ini?"
"Lima puluh sampai seratus."
"Itu juga pendapatku."
"Lalu kenapa dua belas?"
Kapten Idris berhenti di depan lift.
"Itu pertanyaan yang sama dengan yang kutanyakan kepada Dewan."
"Jawaban mereka?"
"'Semakin sedikit orang yang tahu, semakin kecil risikonya.'"
"Risiko apa?"
Kapten Idris menggeleng.
"Mereka tidak menjelaskan."
Pintu lift terbuka.
Keduanya masuk tanpa melanjutkan pembicaraan.
---
Sementara itu, Lyra menuju laboratoriumnya untuk membereskan penelitian yang belum selesai.
Asistennya, Nia, sudah menunggu.
"Jadi benar?"
Lyra mengangguk.
"Aku berangkat lusa."
"Berapa lama?"
"Belum ada kepastian."
Nia menghela napas.
"Kalau begitu penelitian tanaman di Vega-12 bagaimana?"
"Kamu yang lanjutkan."
"Aku?"
"Kamu sudah ikut proyek ini selama tiga tahun."
"Tapi..."
"Nia."
Lyra menatap asistennya.
"Kalau aku tidak kembali, seluruh data penelitian menjadi tanggung jawabmu."
Nia terdiam.
Ia ingin membantah, tetapi tidak sanggup.
---
Di hanggar utama, ESS Horizon mulai dipersiapkan.
Puluhan kontainer logistik dimasukkan ke ruang kargo.
Robot pengangkat bekerja tanpa henti.
Insinyur reaktor memeriksa inti energi kapal untuk terakhir kalinya.
"Kondisi reaktor?"
"Stabil."
"Cadangan bahan bakar?"
"Cukup untuk empat tahun operasi."
Darius melihat daftar logistik.
"Kenapa persediaan makanan sebanyak ini?"
Petugas logistik menjawab,
"Perintah langsung dari Dewan."
"Padahal misi ini diperkirakan kurang dari satu tahun."
"Perintahnya tetap empat tahun."
Darius saling berpandangan dengan Kael.
Tidak ada yang mengomentari lagi.
---
Sore harinya seluruh anggota tim mendapat kesempatan memeriksa kapal.
Kapten Idris memimpin tur singkat.
"Ini dek komando."
"Di bawahnya ruang mesin."
"Dek tiga berisi laboratorium."
"Dek empat adalah ruang medis."
"Dek lima untuk tempat tinggal kru."
Ia berhenti di depan sebuah pintu besar.
"Ruangan ini hanya bisa diakses oleh saya, Kael, dan AURA."
Seorang analis data bertanya.
"Isinya apa?"
"Pusat data rahasia."
"Termasuk data sinyal?"
"Ya."
Tidak ada pertanyaan lanjutan.
---
Ketika rombongan tiba di laboratorium biologi, Lyra mulai memeriksa fasilitas yang tersedia.
"Peralatannya baru semua."
Kepala teknisi mengangguk.
"Laboratorium ini dibangun sesuai daftar yang Anda kirim enam bulan lalu."
Lyra terlihat heran.
"Enam bulan?"
"Ya."
"Saya tidak pernah mengirim daftar."
Teknisi membuka tabletnya.
"Permintaan itu memakai identitas Anda."
Lyra mengambil tablet tersebut.
Di layar memang tercantum namanya.
Namun tanggal pengirimannya membuat dahinya berkerut.
Enam bulan yang lalu.
Saat itu ia sedang berada di planet Argen dan tidak memiliki akses ke jaringan pusat PPM.
"Ini aneh..."
"Ada masalah?"
Lyra mengembalikan tablet.
"Mungkin kesalahan administrasi."
Meski berkata demikian, ia sama sekali tidak yakin.
---
Malam menjelang.
Sebagian besar anggota tim sudah kembali ke tempat tinggal masing-masing.
Kael memilih tetap berada di hanggar.
Ia memperhatikan ESS Horizon yang kini hampir selesai dipersiapkan.
"Aku tahu kau ada di sini."
Kael menoleh.
Darius datang membawa dua gelas kopi.
"Satu untukmu."
"Terima kasih."
Mereka berdiri menghadap kapal.
"Kau percaya sama sinyal itu?" tanya Darius.
"Percaya."
"Maksudku, kau percaya itu berasal dari makhluk lain?"
Kael meminum kopinya sebelum menjawab.
"Aku tidak tahu."
"Tapi kalau Dewan merahasiakannya selama tiga minggu, berarti mereka menemukan sesuatu yang tidak ada dalam laporan resmi."
Darius mengangguk pelan.
"Itu juga yang kupikirkan."
---
Di waktu yang hampir bersamaan...
Di sebuah ruangan yang jauh lebih dalam dari markas armada, hanya ada tiga orang.
Laksamana Rowan.
Ketua Dewan PPM.
Dan seorang wanita tua yang memimpin Divisi Intelijen.
Sebuah layar menampilkan data yang tidak pernah diperlihatkan kepada dua belas anggota ekspedisi.
Ketua Dewan memecah keheningan.
"Apakah mereka sudah diberi seluruh informasi?"
Wanita tua itu menjawab singkat.
"Belum."
"Bagian mana yang disembunyikan?"
Ia menyentuh layar.
Peta Galaksi Asterion muncul.
Kemudian muncul beberapa titik kecil berwarna biru.
Jumlahnya puluhan.
"Itu apa?" tanya Rowan.
"Ekspedisi."
"Maksud Anda..."
"Ya."
Wanita itu menarik napas pelan.
"Dalam seratus lima puluh tahun terakhir..."
"...PPM telah mengirim dua puluh tiga ekspedisi ke arah Galaksi Asterion."
Rowan langsung menatapnya.
"Dua puluh tiga?"
"Benar."
"Lalu kenapa arsip resmi hanya mencatat satu?"
"Karena dua puluh dua lainnya..."
Wanita itu menghentikan kalimatnya sejenak.
"...tidak pernah kembali."
Ruangan kembali sunyi.
Ketua Dewan mematikan layar.
"Kalau begitu, semoga ekspedisi kedua puluh empat membawa jawaban."