Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 29
"Apa yang kamu lakukan di sini, Mas Damian?" suara Alysia tenang, namun dingin.
"Aku sudah bilang, aku butuh waktu. Dan aku tidak butuh alasan lagi."
"Aku tidak datang untuk memberikan alasan," potong Damian cepat, dia melangkah maju namun tetap menjaga jarak hormat. Dia terlalu takut bahkan hanya untuk menyentuh tangan istrinya saja.
"Aku datang untuk memberitahumu bahwa aku sudah memulai segalanya. Aku sudah melepaskan diri dari mereka. Aku sudah menunjuk hukum untuk membersihkan semua kekacauan yang melibatkan keluargaku."
Alysia menatap Damian dalam-dalam, mencari kebohongan yang biasa dia temukan. Namun hari ini, dia hanya melihat pria yang tampak lelah, namun memiliki tekad di matanya.
"Ini bukan tentang kamu yang melepaskan mereka, Damian," balas Alysia pahit.
"Ini tentang apakah kamu sanggup berdiri sendiri, atau kamu hanya akan mencari pelabuhan baru setelah pelabuhan lamamu hancur."
Damian terdiam. Kalimat itu adalah tamparan nyata. Ia tahu, Alysia tidak akan luluh hanya dengan kata-kata.
"Aku akan membuktikannya, Alysia. Bukan hari ini, mungkin tidak bulan ini. Tapi aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjadi pria yang pantas berdiri di sampingmu. Aku akan pergi sekarang, aku hanya ingin memastikan kalian aman."
Damian berlutut di depan Arkhasa, mencium kening putranya yang menatapnya dengan bingung.
"Sayang... Papa pergi dulu ya, kamu jangan nakal dan membuat Mama juga Uti dan Eyang kesal. Belajar yang rajin, setelah pekerjaan Papa selesai. Papa akan menjemput kalian..." ucap Damian mengusap kepala anaknya.
"Iya Papa... Papa janji kan kalau setelah pekerjaan Papa sekarang selesai. Papa akan ajak aku dan Mama jalan-jalan?" Celetuk Arkha.
"Papa janji, sayang. Maaf karena selama ini Papa terlalu fokus dengan pekerjaan sehingga selalu melupakan janji kepada Arkha dan Mama..."
"Horeeeee... Mama, papa janji akan ajak kita jalan-jalan!" teriak Arkha bahagia.
Arkha melompat kecil, kegirangan dan tanpa beban itu justru menjadi kontras yang menyayat hati di tengah ketegangan yang menyelimuti ruangan. Anak itu menarik-narik ujung jas Damian, matanya yang bening memancarkan harapan yang selama ini jarang sekali ia dapatkan dari ayahnya.
"Papa nanti beli mainan pesawat yang besar ya, Pa? Yang kemarin Arkha lihat di toko, terus kita makan es krim yang banyak di taman kota," celoteh Arkha bersemangat.
"Mama juga ikut kan, Ma? Biar kita bisa foto bareng bertiga. Sudah lama sekali kita tidak foto keluarga, kan?"
Tangan kecil Arkha kemudian meraih tangan Alysia, mencoba menyatukan telapak tangan ibunya dengan tangan Damian yang masih bersimpuh. Alysia merasakan sentuhan hangat di jemarinya, namun hatinya justru terasa seperti diremas. Kalimat polos putranya tentang keinginan untuk berfoto bersama. Terasa seperti pengingat betapa retaknya rumah tangga mereka selama ini.
"Papa nanti ajari Arkha main bola juga ya, Pa? Teman-teman di sekolah sering pamer karena diajarkan ayahnya latihan setiap akhir pekan. Arkha kan juga mau hebat seperti Papa," lanjut Arkha, tidak menyadari bahwa di hadapannya, kedua orang tuanya sedang berjuang menahan emosi yang berbeda.
Damian menelan ludah, tenggorokannya tercekat. Setiap kata yang keluar dari mulut Arkha terasa seperti vonis sekaligus harapan. Dia menatap telapak tangan mereka yang hampir bersentuhan karena usaha Arkha, namun Alysia menarik tangannya perlahan dengan sopan, membuat Arkha menatap ibunya dengan bingung.
"Sayang," Alysia berucap dengan suara yang ia usahakan tetap stabil, meski getaran kecil tak bisa disembunyikan.
"Papa sedang banyak urusan penting sekarang. Kamu jangan terlalu berharap sama Papa, ya? Nanti kita bisa pergi bersama Mama, Uti dan juga Eyang,"
"Tapi Papa janji, Ma! Papa sudah janji tadi!" seru Arkha, sedikit merajuk. Ia menoleh ke arah Damian, mencari pembelaan.
"Papa kan sudah janji, Ma? Papa bukan pembohong, kan?"
"Iya sayang. Papa janji. Setelah semuanya selesai, Papa akan jemput kalian dan kita akan berlibur... Bukan hanya main di taman kota dan beli mainan!" jawab Damian semakin membuat Arkha kegirangan.
"Mas! Kamu jangan membuat janji kepada Arkha jika kamu tak sanggup menepatinya!" kesal Alysia. Dia tahu selama ini Damian selalu membuat janji kepada Arkha tapi pada akhirnya di batalkan karena urusan pekerjaan. Damian berdiri dan menghadap Alysia.
"Aku tidak sedang membuat janji untuk menenangkan Arkha atau kamu, Alysia," ucap Damian pelan.
Dia melangkah satu langkah lebih dekat, memberikan ruang yang cukup namun cukup dekat agar Alysia bisa melihat kesungguhan di matanya.
"Selama ini, aku adalah pengecut yang bersembunyi di balik kata 'tanggung jawab' untuk mengabaikan hal yang paling penting di hidupku. Aku membiarkan pekerjaan menjadi pelarianku, dan aku membiarkan ibuku mendikte definisi kebahagiaan kita."
Damian menunduk sejenak, melihat ke arah Arkha yang masih menatap mereka dengan mata berbinar, lalu kembali menatap istrinya.
"Mungkin benar katamu, aku belum terbukti bisa berdiri sendiri. Tapi untuk pertama kalinya, aku sudah membuang jaring pengamanku. Aku memutus rantai kendali mereka, Alysia. Aku tidak lagi peduli pada jabatan atau warisan yang mereka agungkan. Yang kumiliki sekarang hanyalah tekad untuk menebus dosa-dosaku padamu."
Alysia memalingkan wajah, namun bahunya sedikit bergetar.
"Tapi kamu selalu punya cara untuk membuat janji terdengar sangat meyakinkan, hingga akhirnya hari Senin datang dan kamu kembali menjadi orang asing di rumah ini."
"Aku tidak meminta maaf untuk dimaafkan hari ini," potong Damian tegas, meski suaranya melembut di akhir kalimat.
"Aku tahu kamu sudah terlalu lelah untuk percaya. Tapi biarkan aku membuktikannya melalui tindakan, bukan sekadar kata-kata. Jika setelah ini aku gagal lagi, maka pintu itu akan selalu tertutup selamanya untukku, dan aku akan menerimanya sebagai hukuman yang pantas."
Suasana mendadak hening. Hanya terdengar suara napas Arkha yang sesekali membetulkan posisi mainannya di lantai.
Damian melirik jam tangannya, menyadari bahwa ia tidak bisa berlama-lama jika ingin memastikan langkah hukumnya berjalan mulus tanpa intervensi. Dia kemudian berbalik, menatap Arkha sekali lagi dengan senyum tipis yang tulus.
"Jagoan, Papa harus pergi sekarang. Jadilah anak baik, ya?"
Tanpa berani menyentuh Alysia, Damian berjalan mundur menuju pintu keluar. Dia memutar knop pintu, berhenti sejenak di ambang pintu, dan menoleh sekali lagi ke arah wanita yang masih mematung di sana.
"Aku akan kembali, Alysia. Bukan sebagai Damian yang dulu, tapi sebagai laki-laki yang berani mempertaruhkan segalanya hanya untuk berdiri di sisimu lagi."
Setelah pintu tertutup rapat, hanya menyisakan derit pelan, Alysia jatuh terduduk di sofa. Pandangannya kosong, menatap pintu yang tertutup itu. Arkha yang tidak mengerti kerumitan orang dewasa, menghampiri ibunya dan memeluk lututnya.
"Mama, jangan sedih. Papa kan sudah janji. Kalau Papa bohong, nanti Arkha yang akan memarahi Papa!" ucap anak itu polos.
Alysia memeluk putranya erat, air mata yang ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah juga. Dia tidak tahu apakah Damian kali ini akan benar-benar berubah, atau apakah ini hanyalah fase lain dari kekecewaan yang akan menghancurkannya lebih dalam lagi. Namun untuk pertama kalinya, ada sesuatu di mata Damian yang membuatnya tidak bisa begitu saja menutup pintu hatinya.
lanjut lg thooorrrr🥳🥳🥳🥳
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,