Aura Luminar bukan lagi gadis naif yang bisa dibodohi. Bangkit dari kematian akibat pengkhianatan tunangan nya dan selingkuhannya, dia datang dengan jiwa yang baru, membawa dendam untuk menghancurkan orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kaisar Zane Caliber, dingin, dominan, dan tidak tersentuh. Pria kejam yang tidak pernah memberi ampun pada musuhnya, gila kerja, dan tidak pernah tertarik dengan wanita mana pun, membuat takhta Permaisuri kosong tanpa pendamping.
Sebuah permainan berbahaya dimulai saat Aura sengaja memancing perhatian sang Kaisar, untuk belas dendam dengan mantan tunangan nya, sang Pangeran yang telah mencampakkan nya.
Akankah Zane tetap berdiri kokoh sebagai penguasa yang tak tersentuh, atau justru terjerat dalam pesona dan perangkap yang diciptakan Aura?
_____________
"Lahirkan keturunan untuk ku, akan kuberikan kekuasaan di bawah kaki mu."~ Kaisar Zane Caliber
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL KEHANCURAN
Sora menelan ludahnya susah payah sebelum berbisik heboh.
"Itu... Pangeran Luis... maksud saya mantan Pangeran Luis, Nona!" bisik Sora dengan mata melotot lebar.
"Kenapa dengan si pangeran tidak tahu diri itu?" potong Duke Daren tajam.
"Katanya saat diseret ke ruang tabib tadi, beliau terus-terusan berteriak menyebut nama Nona Aura!" cerita Sora antusias.
"Dia bilang Nona Aura pakai sihir hitam dan minta agar Nona ditangkap!" lanjut Sora melipat kedua tangannya di dada dengan raut wajah kesal.
"Apa? Hahahahaaa...."
Aura langsung tertawa lepas mendengar laporan dari pelayannya itu, suara tawa nya yang santai membuat beberapa bangsawan di sekitar mereka melirik heran.
"Sihir hitam?" ulang Aura menggeleng tak habis pikir.
"Pria itu benar-benar makin stres dan makin bodoh ya," cibir Aura penuh penghinaan.
"Dia yang tidak punya otak untuk membalas pisauku, malah dibilang aku pakai sihir hitam," lanjut Aura tersenyum miring.
Duchess Clara ikut menyunggingkan senyum sinis nya.
"Dasar pecundang, sudah kalah, dicopot statusnya, sekarang malah meracau tidak jelas," cibir Duchess Clara penuh rasa puas.
"Baguslah kalau dia makin gila di dalam penjara. Itu hukuman yang pas untuk orang yang sudah menyakitimu," lanjut sang Duchess.
Duke Daren menepuk bahu Aura pelan sembari tersenyum puas melihat ketegaran putrinya.
"Sudahlah, tidak usah bahas sampah itu lagi. Malam makin larut, sebaiknya kita pamit dan pulang ke kediaman," ajak Duke Daren.
"Benar, Aura butuh istirahat untuk persiapannya besok pagi," ucap Duchess Clara, setuju.
Aura mengangguk pelan, menyesap sisa minuman di gelasnya lalu meletakkannya di atas meja.
"Ayo kita pulang, Ibu, Ayah, pesta malam ini sudah sangat cukup memuaskan untukku," ucap Aura santai.
Sembari berjalan berdampingan keluar dari aula pesta yang megah itu, Aura sempat melirik sekilas ke arah singgasana utama untuk terakhir kalinya.
Di atas sana, Kaisar Zane masih duduk tenang tanpa mempedulikannya.
"Sampai jumpa besok pagi, Yang Mulia Kaisar yang dingin," batin Aura tersenyum tipis dengan mata berkilat penuh misteri.
✨✨✨✨✨✨✨✨✨✨
Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk ke dalam jendela kamar Elisabeth Velis.
Pranggg
Sebuah cangkir teh melayang dan hancur menghantam dinding kamar hingga pecah berkeping-keping.
"Sialan! Sialan kamu, Aura!" jerit Elisabeth histeris sembari mengacak-acak rambutnya.
Matanya sembap dan merah karena menangis semalaman tanpa henti, gaun merah mewahnya yang semalam tampak begitu agung kini tergeletak kotor di lantai, dipenuhi noda lumpur akibat diseret keluar dari istana secara tidak hormat.
"Kenapa bisa jadi seperti ini?!" teriak Elisabeth lagi, membanting kaca rias di depannya hingga retak.
Rambutnya berantakan, wajahnya pucat tanpa riasan, kehilangan pesona wanita bangsawan yang kemarin dipamerkannya di hadapan semua orang.
BRAKK
Pintu kamar terdorong keras dari luar, memperlihatkan sosok Baroness Olivia yang masuk dengan raut wajah panik dan penuh amarah.
"Elisabeth! Hentikan kelakuan gila mu ini!" bentak Baroness Olivia sembari menarik kasar tangan putrinya.
Wajah wanita paruh baya itu tampak sangat kusam dan lelah, garis-garis kepanikan tergambar jelas di dahinya setelah semalaman tidak bisa tidur memikirkan nasib keluarga mereka yang hancur dalam sekejap.
"Bagaimana aku bisa tenang, Ibu?!" jerit Elisabeth menangis histeris.
Elisabeth menghempaskan tangan ibunya dengan kasar, matanya menatap tajam penuh kebencian yang mendalam.
"Gara-gara wanita jalang itu, Pangeran Luis ditangkap dan kita diusir dari istana! Pasti semua orang sedang menertawakan ku saat ini! Aku malu Ibu! Aku tidak terima!" lanjut Elisabeth dengan napas memburu.
Elisabeth mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih menahan rasa malu dan emosi yang meluap-luap.
"Bukan cuma itu, Elisabeth! Status bangsawan kita dicabut oleh Kaisar!" ucap Baron Kenny yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar dengan langkah gontai.
Pria paruh baya itu memegangi kepalanya yang terasa mau pecah, wajahnya yang biasa penuh kesombongan kini tampak sangat putus asa dan tidak berdaya.
"Para prajurit kerajaan baru saja mengantarkan surat pengusiran! Rumah ini dan seluruh harta kita akan disita dalam waktu tiga hari!" lanjut Baron Kenny dengan suara gemetar hebat.
Elisabeth membelalakkan matanya tidak percaya, melangkah mundur hingga menabrak tepi tempat tidur.
"A-apa? Disita?" bisik Elisabeth terbata-bata, tenggorokannya mendadak terasa sangat kering.
Wajahnya makin pucat pasi mendengar kenyataan pahit bahwa hidup mewahnya akan segera berakhir.
"Ini semua gara-gara kamu, Elisabeth!" bentak Baroness Olivia tiba-tiba, menunjuk muka putrinya dengan emosi meledak-ledak.
Rasa sayang seorang ibu yang biasa dipamerkannya seketika sirna ditelan ketakutan akan kemiskinan yang membayang di depan mata.
"Coba saja kalau kamu tidak bertindak bodoh dan gatal mendekati Pangeran Luis! Dan mencari masalah dengan Aura Luminar!" lanjut Baroness Olivia mencaci-maki tanpa ragu.
Elisabeth menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya, dadanya naik turun menahan rasa tidak terima dituduh sendirian.
"Kenapa Ibu menyalahkan aku?!" ucap Elisabeth berteriak tidak terima.
Elisabeth melangkah mendekati ibunya dengan mata merah membara, merasa dikhianati oleh orang tuanya sendiri.
"Kemarin Ibu dan Ayah sendiri kan yang paling antusias menyuruhku menggoda Pangeran Luis?! Ibu yang bilang kalau aku berhasil jadi Permaisuri, keluarga kita bakal kaya raya!" cecar Elisabeth tanpa ampun.
Baron Kenny mendengus kasar, memukulkan kepalan tangannya ke atas meja rias hingga berbunyi nyaring.
"Sudah! Jangan malah saling menyalahkan begini!" bentak Baron Kenny frustrasi.
Pria itu berjalan bolak-balik di dalam kamar dengan napas terengah-engah, mencoba mencari jalan keluar yang sebenarnya sudah tertutup rapat.
"Yang harus kita pikirkan sekarang adalah bagaimana caranya menyelamatkan diri dari kemiskinan ini!" lanjut Baron Kenny berteriak panik.
Elisabeth memegang kepalanya yang pening, berusaha berpikir keras di tengah rasa malunya yang membumbung tinggi.
"Aku harus menemui Pangeran Luis..." gumam Elisabeth dengan suara bergetar.
Matanya berkilat penuh obsesi gila yang belum juga padam meski keadaan sudah hancur lebur.
"Pangeran Luis pasti bisa menyelamatkan kita kalau dia berhasil keluar dari penjara bawah tanah," lanjut Elisabeth penuh keyakinan buta.
Baroness Olivia tertawa sumbang, tertawa meremehkan kegilaan putrinya yang masih mengharapkan seorang pria yang sudah runtuh.
"Kamu pikir Luis masih punya kekuasaan, Elisabeth?!" cibir Baroness Olivia tajam.
Wanita itu menyilangkan tangannya di dada dengan tatapan penuh penghinaan.
"Status pangeranan nya sudah dicabut oleh Kaisar Zane sendiri! Dia sekarang cuma bekas pangeran bernoda yang membusuk di sel bawah tanah!" lanjut sang ibu menekan setiap kata-katanya.
Elisabeth menggelengkan kepalanya keras-keras, menolak menerima kenyataan bahwa pria kaya dan berkuasa yang digapainya kini tak lebih dari seorang tahanan.
"Tidak! Ini tidak boleh berakhir seperti ini! Aku adalah calon permaisuri kerajaan Caliber!" jerit Elisabeth histeris.
effort nya ga main-main loo
🥰🥰🥰
good luck kaisar💪
Coba ajak makan, klo jawabannya terserah, brati tambah runyam urusan menahklukan hatinya 😛