NovelToon NovelToon
DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

DxD : Sebagai Pawn Sona Sitri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Anak Genius
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyudi0596

Tidak semua bidak catur bermimpi menjadi Raja. Yudi hanya ingin satu hal: bertahan hidup dan membangun wilayah kecilnya sendiri untuk kaum yang terbuang. Menjadi Pawn rendahan bagi Sona Sitri adalah langkah pertamanya. Dengan [Imperial Tiger Mantle] yang terikat di jiwanya, ia menahan auman sang harimau dan mengubahnya menjadi keheningan yang mencekik lawan.

update Harian 1 bab per harinya sambil menunggu keputusan kontrak., semoga berhasil ya, kalau udah fix dapet kontrak akan kembali normal. Kalau kelewat mungkin akan tambah satu bab di besoknya. semoga gak pernah terjadi dan kalian semua bisa terus membaca kisah ini dengan tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyudi0596, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Lorong lantai dua pada jam istirahat siang selalu dipenuhi oleh lalu lalang siswa yang menuju kantin atau halaman sekolah. Sinar matahari dari jendela mencetak pola bayangan kotak-kotak di atas lantai keramik putih. Di tengah keramaian itu, formasi berjalan Tsubaki dan Yudi menciptakan tontonan yang langsung menarik perhatian.

Tsubaki berjalan di depan dengan langkah yang konstan dan tegap. Sepatu pantofelnya menghasilkan bunyi ketukan yang ritmis. Pandangannya lurus ke depan, tidak mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Sementara itu, Yudi berjalan satu langkah di belakangnya bagian kanan. Langkah kakinya terdengar gontai. Punggungnya ditekuk lemas, dan kepalanya terus menunduk memandangi lantai keramik yang mereka lewati.

Setiap kali mereka melintasi gerombolan siswi, para gadis itu akan menghentikan obrolan mereka dan memandangi Tsubaki dengan tatapan berbinar. "Wah... Tsubaki-senpai anggun sekali," bisik mereka. Namun, begitu pandangan para siswi itu beralih ke sosok pemuda berpostur bungkuk di belakang sang Wakil Ketua OSIS, sorot mata mereka seketika berubah. Senyuman kekaguman itu luntur, digantikan oleh tatapan merendahkan, ketidaksetujuan, dan irisan kebencian.

Di sisi lain, para siswa laki-laki yang sedang berkumpul di sudut lorong berhenti tertawa. Mereka memandangi Yudi dengan mata menyipit tajam. Beberapa dari mereka secara terang-terangan meludah ke lantai atau mendecakkan lidah dengan keras begitu Yudi melintas di depan mereka.

Yudi menelan ludahnya berkali-kali. Tangan kanannya mencengkeram tali tas selempangnya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin kembali mengalir membasahi pelipis dan tengkuknya.

Setelah berjalan selama beberapa menit, mereka mulai memasuki sayap barat gedung akademi. Area ini jauh lebih sepi dari lorong utama karena hanya berisi ruang-ruang komite dan ruang OSIS di ujungnya. Suara bising dari para siswa perlahan memudar, digantikan oleh keheningan yang hanya diselingi suara ketukan sepatu Tsubaki.

Begitu memastikan tidak ada lagi siswa lain di radius pandangannya, Yudi tiba-tiba menghentikan langkah kakinya.

Tsubaki yang mendengar berhentinya langkah di belakangnya, turut menghentikan langkahnya. Ia menoleh sedikit, melirik Yudi dari balik bahunya tanpa memutar tubuhnya sepenuhnya.

Yudi mengangkat kepalanya. Ekspresi wajahnya berkerut. Ia merentangkan kedua tangannya ke depan. "Apa Kaichou sengaja melakukan semua sandiwara jemput-menjemput ini untuk memastikan sisa masa sekolahku dipenuhi dengan penderitaan dan ancaman pembunuhan?" Yudi melontarkan rentetan kalimat protes dengan napas yang memburu, memecah kesunyian di lorong tersebut.

Tsubaki memutar tubuhnya hingga sepenuhnya menghadap Yudi. Wajah cantiknya tidak menampilkan perubahan ekspresi sedikit pun. Matanya menatap datar pemuda di depannya. Tangan kirinya masih memeluk papan klip di depan perutnya. "Apa yang sedang kau pikirkan? Kesimpulanmu terlalu berlebihan," balas Tsubaki.

Suaranya terdengar sangat dingin, nyaris sedingin bongkahan es. "Kurasa, instruksi dari Kaichou ini lebih tepat disebut sebagai bagian dari metode pelatihan mental untukmu."

Yudi menjatuhkan tangannya ke sisi tubuh. Mulutnya terbuka sesaat sebelum ia kembali mendecakkan lidah. Tangan kanannya terangkat kembali, menggaruk-garuk bagian belakang lehernya dengan kasar hingga kulitnya memerah.

"Pelatihan mental macam apa yang menempatkanku dalam posisi di mana satu sekolah membenci dan berniat membunuhku secara terang-terangan?!" suara Yudi sedikit meninggi, memantul di dinding-dinding lorong yang sepi. "Hah... padahal aku lebih suka menjalani kehidupan sekolah yang normal. Di mana aku hanyalah seorang remaja biasa yang numpang lewat, belajar tenang tanpa sedikit pun menjadi pusat perhatian semua orang." Yudi menghembuskan napas panjang, kepalanya kembali tertunduk pasrah.

Tsubaki menatap Yudi tanpa berkedip selama tiga detik. "Ya," ucap Tsubaki datar. "Kudoakan semoga impian utopismu itu bisa menjadi kenyataan suatu hari nanti."

Respons itu meluncur begitu saja dari bibir Tsubaki, mengalir di udara lorong yang hening. Tsubaki bersiap membalikkan badannya kembali, namun saat ia melirik ke arah Yudi, gerakannya terhenti.

Yudi berdiri mematung. Kepalanya yang tadinya menunduk kini mendongak cepat. Matanya membelalak lebar, menatap lurus ke wajah Tsubaki dengan mulut sedikit terbuka. Ekspresi kebingungan dan keterkejutan tercetak jelas di wajah pemuda itu.

Melihat tatapan yang tidak biasa itu, alis kanan Tsubaki sedikit terangkat, nyaris tak terlihat jika tidak diperhatikan dari dekat. "Kenapa wajahmu menyiratkan kebingungan yang sangat bodoh seperti itu?" tanya Tsubaki. Tangannya yang tidak memegang papan klip bergerak pelan membetulkan posisi bingkai kacamatanya. "Apa ada sesuatu yang menempel di wajahku?" Tsubaki bertanya lagi, merasa sedikit risih dengan tatapan mengunci dari adik kelas sekaligus sesama pelayan iblisnya itu.

Mendengar pertanyaan itu, raut wajah Yudi yang semula tegang perlahan mengendur. Mulutnya yang terbuka kini melengkung ke atas. Ia menyengir lebar hingga deretan giginya terlihat. Mata paniknya berganti dengan tatapan yang santai dan sedikit jahil.

"Bukan begitu," ucap Yudi sambil menyengir. Ia kembali menyandarkan berat badannya ke satu kaki dan memasukkan tangan kanannya ke dalam saku celana. "Aku hanya tidak menyangka... kalau ternyata kau cukup bisa diajak bicara dan menanggapi omong kosong juga, Fukukaichou."

Twitch.

Sebuah kedutan sangat kecil muncul di sudut pelipis kiri Tsubaki. Urat halus menyembul berkedut di balik kulit putihnya yang nyaris pualam.

"Hah?" Mulut Tsubaki terbuka kecil. "Apa maksud dari perkataanmu barusan?" Nadanya turun setengah oktaf, memancarkan peringatan tersembunyi.

Yudi tidak menghentikan senyumannya, sama sekali tidak menyadari perubahan tekanan udara di sekitarnya. "Iya, habisnya... kau itu terlihat seperti bunga langka yang mekar sendirian di atas puncak bukit bersalju," jawab Yudi dengan santai, tangannya yang bebas membuat gestur ombak di udara. "Sangat indah untuk dilihat dari jauh, tapi sangat dingin dan mustahil untuk digapai. Awalnya, aku bahkan mengira kau hanya akan mengabaikan gumaman-gumaman kesalku tadi seperti patung es."

Tsubaki tidak membalas. Pandangannya terpaku pada wajah Yudi.

"Tapi di luar dugaanku, kau malah menanggapi keluh kesahku. Bahkan, kau mendoakan supaya impianku untuk hidup biasa saja bisa terkabul," Yudi menundukkan kepalanya sedikit sambil terus mempertahankan cengirannya. "Terima kasih atas tanggapannya ya, Fukukaichou."

Keheningan kembali mengambil alih sayap barat gedung akademi. Sinar matahari dari jendela menyinari debu-debu yang melayang lambat di antara mereka berdua.

Langkah kaki Tsubaki yang semula hendak memutar badan terhenti total. Jari-jari tangannya yang memegang papan klip mencengkeram ujung kayu papan tersebut semakin kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Matanya berkedip perlahan di balik lensa kacamatanya. Tatapannya yang sedingin es tidak berubah di permukaan, namun ritme tarikan napasnya mendadak tertahan selama sekian milidetik. Ia memalingkan wajahnya sedikit ke arah jendela, menatap dedaunan pohon yang bergoyang tertiup angin dari kejauhan.

Setelah tiga detik yang terasa panjang, Tsubaki kembali menoleh ke arah Yudi. Matanya menatap lurus, mengunci kornea mata pemuda di depannya.

"Melihat sikap dan caramu berbicara tadi..." Tsubaki berkata dengan nada yang bahkan lebih datar dan lebih lambat dari sebelumnya, "...sepertinya aku harus meminta Sona Kaichou-sama untuk memberimu porsi tekanan dan penderitaan yang jauh lebih banyak ke depannya."

Mendengar pernyataan balasan itu, cengiran di wajah Yudi lenyap dalam sekejap mata.

"Heh?!" Yudi tersentak mundur satu langkah. Kedua tangannya terangkat ke udara dengan panik. Matanya membelalak lebar, pupilnya bergetar liar. "K-Kenapa tiba-tiba kesimpulannya jadi begitu mengerikan, Fukukaichou?!" Yudi berseru kencang, memeluk kepalanya sendiri.

Tsubaki sama sekali tidak menanggapi kepanikan teatrikal tersebut. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun lagi, gadis berambut hitam panjang itu membalikkan badannya dengan anggun. Ia kembali melangkahkan kakinya menyusuri lorong menuju ruang klub OSIS, membiarkan Yudi yang kebingungan di belakangnya.

Suara ketukan pantofel Tsubaki kembali bergema secara ritmis di sepanjang koridor. Postur punggungnya terlihat tegap dan sempurna seperti biasa, tidak menunjukkan celah atau emosi apa pun dari luar. Namun, jika pada detik itu Yudi cukup jeli untuk berlari mendahuluinya dan melihat wajah sang Wakil Ketua dari arah depan, ia akan mendapati sebuah pemandangan yang mampu membuat jantung pria mana pun berdetak lebih cepat.

Di balik wajah yang selalu sedingin es abadi itu, kedua pipi Tsubaki memunculkan semburat merah tipis yang sangat kontras dengan kulit putihnya. Sudut bibirnya perlahan melengkung ke atas secara asimetris, membentuk sebuah senyuman kecil, hangat, dan sangat lembut—sebuah ekspresi yang teramat langka, yang mekar perlahan di bawah terpaan cahaya mentari lorong sekolah siang itu.

1
Bayuon So7
anjirlah, kata garis miring ini kayak sebuah klu atau apa dah kok tetiba gitu ya😄
Bayuon So7
jantungan si Sona cuk🤭
Bayuon So7
ini reaksinya kayaknya lebih natural dari yang sebelumnya, karena gua bacanya juga kagum cuy am kekuatan nih karakter Falbium🤭
Bayuon So7
anjay dipancing
Bayuon So7
mana bisa anjir🤣
Bayuon So7
nah kan, kena Lo. di cibir langsung sam Fuiukaicho sama🤭
Bayuon So7
geli gua dengarnya 🤣
Bayuon So7
Damn, bro beneran gosong parah si Saji di sini brok. Lu bikinnya make sense lagi Thor, gua tadi berpikir lu lagi mau injak karakter ini serampangan tapi lu mendesainnya dengan apik. jadinya gak jadi gua hujat anjirlah 🤣
Bayuon So7
wah keren lu Thor, alih-alih mempermalukan dengan aneh. lu bikin ada reason pada tindakan Sona sebelumnya dan kemarahan dia di sini beneran make sense
Bayuon So7
damn, lu juga pernah dipegang tangannya kan. ah ealah
Bayuon So7
iya, abis chef Tsubaki. sekarang chef Sona. wah beneran dibuat gosong ini sajinya.
Bayuon So7
Thor, lu kayaknya punya dendam pribadi Ama saji deh. kok serem amat penghakimannya cok.
Bayuon So7
Absolute cinema, cukup chef ini sudah gosong jangan dilanjutkan.🤭
Bayuon So7
Weh ada chef yang mau masak, pastikan bikin masakan yang lezat dan bergizi. chef Tsubaki Shinra.
Bayuon So7
ngimpi lu anying gak logis banget dah pikirannya si saji ini ya.
Bayuon So7
gua juga ngedown kalau cewek paling polos tetiba natap dengan tajam gini. artinya lu bikin masalah super serius.
Bayuon So7
oh Ice king ini loh, kalau marah meski gak meluap-luap rasanya bikin berdebar-debar
Bayuon So7
waduh Sona udah mulai kepancing emosi nih
Bayuon So7
Alasannya masuk akal tapi entah kenapa rasanya jadi klise denger omongan lu saji🤭
Bayuon So7
Efek dibuat senyum tadi siang kah, kok tetiba jadi perhatian gini 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!