Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MIMPI ZENAYA, HATI EROS
Pagi yang hangat menyelimuti mansion megah itu setelah sarapan mereka usai.
Aroma hidangan yang masih tersisa berpadu dengan suasana tenang di ruang makan. Para pelayan telah membereskan meja, menyisakan Zenaya dan Eros yang masih duduk saling berhadapan.
Eros menyandarkan tubuhnya pada kursi sambil menatap wajah istrinya yang tampak sedikit memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba ia teringat percakapan mereka beberapa waktu lalu.
"Oh ya, bukankah kau pernah mengatakan ingin membicarakan sesuatu saat aku masih di Sydney?" tanyanya pelan.
Zenaya tersenyum tipis. Memang, sejak awal ia berniat menyampaikan hal itu setelah sarapan nya selesai.
Namun ternyata Eros lebih dulu mengingatnya.
"Tentu saja," jawab Zenaya lembut.
Eros mengangkat sebelah alisnya. "Lalu?"
Zenaya menarik napas perlahan sebelum mulai menjelaskan.
"Sebenarnya... Tuan Lucian menawariku untuk bermain dalam sebuah film bergenre action. Aku akan memerankan tokoh antagonis." Suaranya terdengar lembut, namun menyimpan antusiasme yang sulit disembunyikan.
"Bermain film adalah impianku sejak kecil."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Eros dengan sorot mata yang tulus.
"Tapi sekarang aku sudah menjadi istrimu. Karena itu, aku ingin meminta izin terlebih dahulu. Aku tidak ingin mengambil keputusan sebesar ini tanpa sepengetahuanmu."
Sesaat ruangan menjadi hening.
Eros memperhatikan wajah Zenaya yang tampak sedikit gugup menunggu jawabannya.
Beberapa detik kemudian, senyum hangat menghiasi wajah pria itu.
"Kalau memang itu yang kau inginkan, ambillah kesempatan itu."
Zenaya mengangkat wajahnya, seolah tidak menyangka jawaban itu akan datang secepat ini.
"Aku tidak pernah berniat membatasi impianmu, Zenaya," lanjut Eros. "Kau boleh bekerja dan mengejar kariermu. Aku hanya punya satu syarat."
Zenaya menatapnya penuh perhatian.
"Jangan terlalu memaksakan diri. Aku tidak ingin melihatmu kelelahan hanya karena ingin memenuhi semuanya sekaligus."
Kalimat sederhana itu membuat dada Zenaya menghangat.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Perhatian dan kepercayaan yang diberikan Eros terasa jauh lebih berharga daripada sekadar izin.
Senyum bahagia perlahan menghiasi wajah cantiknya.
"Terima kasih, Eros," ucapnya tulus.
"Aku berjanji tidak akan melupakan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku akan tetap menjaga keseimbangan antara pekerjaanku dan rumah tangga kita."
Tatapan Eros dipenuhi keyakinan.
"Aku percaya padamu."
Hanya tiga kata, tetapi cukup untuk membuat hati Zenaya dipenuhi rasa haru. Kepercayaan yang diberikan pria itu menjadi hadiah terindah baginya malam ini.
Tanpa sadar, senyum mereka saling bertemu. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa saling membatasi. Yang ada hanyalah dua insan yang mulai belajar membangun rumah tangga dengan saling menghargai mimpi, kepercayaan, dan cinta yang perlahan tumbuh semakin dalam di antara mereka.
Hari demi hari berlalu, namun hubungan Zenaya dan Eros masih berjalan seperti biasa. Tidak banyak perubahan yang terlihat di antara mereka, hanya saja perlahan Eros mulai lebih dekat dengannya.
Kesibukan menjadi batas di antara keduanya. Waktu mereka sangat terbatas, bahkan mereka hanya bisa bertemu saat pagi dan malam hari. Terkadang, Zenaya sudah lebih dulu pergi sebelum Eros bangun karena pekerjaannya yang menuntutnya datang lebih awal.
Meski begitu, keduanya tetap berusaha menciptakan kedekatan kecil di sela kesibukan mereka.
Percakapan singkat saat sarapan, makan malam bersama, atau sekadar bertukar cerita tentang hari yang mereka lalui menjadi kebiasaan baru dalam kehidupan mereka sebagai pasangan.
Bahkan, ia mengabaikan saran Joana yang pernah memintanya untuk lebih berani dalam meminta hak batinnya.
Zenaya memilih untuk tidak melakukannya. Ada rasa gengsi yang membuatnya enggan menjadi pihak yang memulai. Meskipun secara hukum Eros sudah menjadi suaminya dan seluruh dirinya telah menjadi bagian dari kehidupan pria itu, Zenaya tetap memilih mengikuti langkah Eros.
Ia membiarkan semuanya berjalan perlahan, menunggu sampai Eros sendiri yang membuka jarak di antara mereka dan meminta hak nya.
Anehnya, Zenaya tidak merasa kecewa. Baginya, perhatian kecil dari Eros sudah cukup membuat hatinya hangat. Sikap pria itu yang perlahan berubah, meski tidak banyak.