Aluna adalah seorang gadis yang diangkat oleh keluarga kaya sebagai pengganti anak perempuan mereka yang hilang, Jesselyn. Meski hidupnya tampak bahagia, sebenarnya ia hanya diperlakukan sebagai bayangan dari Jesselyn.
Setelah dewasa Aluna dijodohkan dengan Davion Harold, yang lagi-lagi karena pria itu adalah pria yang dulu Jesselyn sukai. Apapun yang terjadi Aluna harus bertahan dalam pernikahan tersebut, itulah pesan kedua orang tua angkatnya.
Namun pernikahan itu membuat Aluna semakin tersiksa dan merasa tak diinginkan oleh siapapun. Pada akhirnya Aluna mengambil keputusan paling mengerikan di dalam hidupnya, coba keluar dari bayang-bayang Jesselyn dan hidup sebagai dirinya sendiri. Melanggar keinginan orang tua angkatnya untuk pertama kali.
"Dav, aku ingin kita cerai," ucap Aluna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunoxs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PP Bab 18 - Kering Dengan Sendirinya
"Tuan, nyonya Aluna pergi ke rumah sakit Medistra seorang diri. Beliau menemui dokter kandungan dan melakukan tindakan kontrasepsi," lapor Haris, asisten pribadi Davion yang kini dia minta untuk selalu mengawasi istrinya.
Kali ini semua laporan tentang Aluna akan langsung kepada Haris, tidak lagi langsung padanya seperti sebelumnya.
"Wanita itu benar-benar patuh," ucap Davion.
"Dari rumah sakit nyonya Aluna langsung menuju rumah kedua orang tuanya," lapor Haris lagi dan membuat Davion sontak menatap ke arahnya lurus.
Aluna tak mengatakan apapun tentang hal ini. Sejenak Davion lupa bahwa dia pernah mengatakan bahwa Aluna tak perlu meminta izin padanya, karena apapun yang Aluna lakukan Davion tak ingin peduli.
"Cukup," ucap Davion, kini dia tak ingin mendengar lagi tentang wanita tersebut.
Aluna memang mendatangi rumah keluarganya, keluar dari rumah sakit tiba-tiba mama Sarah mengirimnya pesan memintanya untuk datang.
Aluna berpikir mungkin mama Sarah memintanya datang karena rindu, kemarin tak bisa leluasa karena berada di rumah keluarga Harold. Memikirkan hal itu Aluna senang sekali, untungnya kali ini Aluna menggunakan gaun berwarna putih jadi mama Sarah tak akan memarahinya.
Begitu Aluna tiba para pelayan menyambut dengan hangat, hampir dua bulan tidak bertemu dan Aluna tetap saja terlihat cantik sempurna.
"Nyonya Aluna, tuan Pieter dan Nyonya Sarah sudah menunggu di ruang keluarga," ucap seorang pelayan.
Aluna mengangguk kecil meski kepalanya tiba-tiba diisi beberapa pertanyaan. 'Kenapa ada papa juga? Apakah akan ada pembicaraan serius,' batin Aluna.
Karena ia pikir pertemuan ini hanya untuk melepas rindu, biasanya di jam seperti ini pun papa Pieter berada di kantor. Tapi sekarang ternyata ada di rumah dan ikut menunggunya.
Aluna terus melangkah sampai akhirnya tiba di ruang keluarga, benar saja di sana kedua orang tuanya sudah duduk bersama menunggu. "Ma, Papa," ucap Aluna menyapa dengan lembut.
"Akhirnya kamu datang juga, Sayang. Sini duduk dekat Mama," ucap mama Sarah.
Aluna tersenyum menyambut baik perintah tersebut, ia duduk di samping mamanya.
"Aluna, apa semalam kamu dan Davion sudah meminum obat herbal yang mama berikan kemarin?" tanya mama Sarah, dia langsung mengajukan pertanyaan ini begitu saja.
Padahal ini bukanlah hal yang ingin Aluna dengar, setidaknya mereka harus membahas kabar satu sama lain. Karena sungguh, setelah pernikahan itu dan Aluna tinggal di keluarga Davion, itu bukanlah waktu yang mudah.
"Sudah Ma," jawab Aluna bohong.
"Kamu tidak bohong kan?" tanya papa Pieter kemudian.
"Aluna tidak pernah bohong pada kita, Pa. Jangan mengajukan pertanyaan seperti itu," sahut mama Sarah.
"Baguslah kalau begitu, karena kamu memang harus secepatnya hamil," tegas papa Pieter.
Aluna tergugu di tempatnya duduk, waktu itu sang ayah membuatnya merasa seperti terjual. Dan sekarang papa Pieter memposisikan dirinya seperti alat pencetak anak.
Hati Aluna sakit sekali, kapan dia akan benar-benar diterima sebagai anak dengan tulus? tanpa ada tujuan yang terselip.
"Maaf Pa, kenapa aku harus segera hamil?" tanya Aluna kemudian, dia tak kuasa memendam pertanyaan tersebut. Tiba-tiba terlontar begitu saja di mulutnya.
Satu pertanyaan dari Aluna yang membuat Pieter dan Sarah langsung menatap Aluna dengan tajam, karena satu pertanyaan itu sama dengan sikap membantah Aluna yang tak pernah mereka sukai.
"Kamu tidak perlu tahu apa alasannya, yang harus kamu lakukan hanyalah patuh pada kami," tegas mama Sarah.
"Iya Ma... Tapi, saat ini Davion belum ingin memiliki anak."
"Itu tugasmu untuk menggodanya," balas mama Sarah lagi.
Kedua mata Aluna sampai melebar mendengar ucapan tersebut, karena rasanya semakin lama tindakan mama Sarah dan papa Pieter begitu jauh dari rasa kasih sayang.
"Ma, aku tidak bisa melakukan itu," jawab Aluna lirih.
Amarah Pieter langsung terpancing saat mendengar hal tersebut, namun belum sempat dia berucap Sarah sudah lebih dulu bicara...
"Jadi sekarang kamu membantah perintah mama dan papa?"
"Aku, aku bukannya ingin membantah Ma. Aku hanya ingin tahu kenapa aku harus hamil, dengan begitu aku bisa membicarakannya dengan Davion."
"Karena jika kamu hamil, papa akan meminta kompensasi dalam jumlah besar pada keluarga Harold." Pieter yang menjawab dengan tegas, kesabarannya mudah sekali habis jika bicara dengan Aluna.
Dan kata-kata itu membuat Aluna tersentak hatinya,l seketika tak mampu bicara apapun lagi. Namun harapan yang sempat membumbung tinggi kini hancur berkeping-keping.
"Harusnya hal seperti ini tak perlu papamu jelaskan Aluna, selama ini kami sudah merawatmu dengan baik, balas budi lah. Saat ini perusahaan keluarga Myles sedang mengalami kesulitan," ucap Sarah bercampur marah.
Dan di titik ini Aluna akhirnya benar-benar menyadari bahwa ia tak pernah sekalipun dianggap sebagai keluarga, apalagi anak.
Hatinya mencelos.
Kedua mata Aluna terasa begitu panas, menggenang air mata yang ia tahan kuat-kuat agar tak jatuh. Dengan sisa-sisa keberanian yang Aluna punya, ia memberanikan diri untuk bertanya satu hal penting...
"Ma, sebenarnya aku ini siapa bagi Mama?" tanya Aluna lirih.
Namun mama Sarah pun telah muak untuk menjelaskan hal tersebut. "Kamu adalah putri pengganti untuk anakku Aluna, apa lagi yang ingin kamu dengar? Lagipula tanpa keluarga Myles kamu bukanlah siapa-siapa!"
"Sudah lah, sekarang kembalilah ke rumah suamimu dan lakukan apapun agar bisa secepatnya hamil!" putus Pieter tak bisa digangu gugat.
Saat Aluna berkedip air matanya pun jatuh juga, namun ia tak menghapus air mata itu. Dibiarkannya kering dengan sendirinya.
ya Allah kasihan sekali Nasih aluna
dikira dianggap sebagai pengganti Jeslyn nantinya Aluna akan dapat kebahagiaan sebagai seorang anak ,ternyata oh ternyata sebagai alat pemenuhan kekayaan mereka...
Masih mau patuh kah kamu Aluna??
bahkan orang tua yang kamu anggap keluarga justru menganggap mu budak kekayaan tak lebih...