Liburan seharusnya menjadi pelarian bagi Cassandra Evans setelah dipecat secara tidak adil dari pekerjaannya. Ia hanya ingin menjauh dari masalah, melupakan tuntutan keluarganya yang terus mendesaknya untuk segera menikah, dan menikmati sedikit kebebasan di Roma, Italia. Namun, siapa sangka? Satu kesalahan kecil justru menyeretnya ke dalam dunia yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan—dunia mafia. Rafael “Rafe” Montenegro bukan sekadar pria kaya dan berpengaruh. Di balik ketampanannya yang dingin, ia menyimpan rahasia gelap. Duda dengan seorang putra kecil ini menjalankan bisnisnya dengan tangan besi, menyingkirkan siapa pun yang menghalangi jalannya. Tidak ada tempat untuk kelemahan dalam hidupnya—terutama setelah dikhianati oleh istri dan sahabatnya sendiri. Ketika Cassandra tanpa sengaja masuk ke dalam kehidupannya, Rafe tidak punya pilihan selain menahannya di sisinya. Awalnya, hanya untuk mengasuh putranya. Namun, semakin lama, Cassandra bukan sekadar pengasuh biasa. Ia menantang, membangkang, dan menghadirkan sesuatu yang sudah lama hilang dalam hidup Rafe—kehangatan. Tapi dunia Rafe bukan dunia yang aman. Dan Cassandra? Ia terlalu polos untuk terjebak dalam kekacauan ini. Namun, semakin ia mencoba melepaskan diri, semakin dalam ia jatuh ke dalam genggaman sang mafia. Di antara bahaya, rahasia, dan batas-batas yang tak boleh dilanggar, Cassandra harus memilih: tetap berjuang untuk keluar, atau menyerahkan hati pada pria yang bisa menghancurkannya kapan saja. Karena ketika mafia menginginkan sesuatu, mereka tidak akan pernah melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3
DOR!
Cassandra terperanjat, jantungnya langsung berdebar kencang. Itu suara tembakan!
Dengan tubuh gemetar, ia melangkah perlahan menuju sumber suara. Akal sehatnya mengatakan agar ia pergi menjauh, tetapi rasa penasaran malah mendorongnya untuk tetap bergerak maju. Ia berhenti di sudut gang, bersembunyi di balik dinding bata tua, lalu mengintip ke arah sekelompok pria yang berdiri dalam bayangan gelap.
Di sana, seorang pria tinggi berjas hitam tengah menodongkan pistol ke arah pria tua yang berlutut di atas aspal. Setetes darah mengotori jasnya, menandakan bahwa ia bukan hanya sekadar mengancam.
Tanpa aba-aba—
DOR!
Pria tua itu tumbang. Darah mengalir membasahi jalanan. Cassandra membekap mulutnya, menahan jeritan yang nyaris lolos dari bibirnya.
"Ya Tuhan! Aku baru saja melihat pembunuhan!"
Ketakutan melumpuhkannya. Ia harus pergi dari sini! Ia harus kabur!
Namun, sialnya, saat ia berbalik, kakinya justru menginjak sebuah botol kosong.
KREKKK!!!!!!
Suara nyaring itu bergema di gang sempit.
Seluruh pria di sana langsung menoleh ke arahnya. Mata mereka tajam dan penuh kewaspadaan. Cassandra membeku di tempat.
"Astaga! Bodoh banget! Kenapa malah bikin suara?!" Batin cassandra panik sendiri.
Tiba-tiba, dua pria bertubuh besar berjalan ke arahnya dengan langkah cepat.
"Mati aku! Aku benar-benar mati kali ini!" batinnya panik.
Cassandra refleks berlari, tetapi baru beberapa langkah, ia langsung ditangkap. Kedua pria itu mencengkeram lengannya erat.
"Tidak! Lepaskan! Lepaskan aku!" teriaknya, tetapi suara protesnya hanya bergema di gang yang sepi.
Dengan mudah, mereka menyeretnya ke hadapan pria yang tadi menembak. Pria itu kini berbalik, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki dengan ekspresi datar.
Cassandra menahan napas.
Ya Tuhan...
Pria ini... tampan.
Sangat tampan.
Tidak, bukan sekadar tampan. Wajahnya begitu sempurna, dengan mata hitam pekat yang tajam seperti elang, rahang kokoh, dan bibir tipis yang terkatup rapat. Sayangnya, pesona itu hancur karena auranya yang begitu gelap dan mengancam.
"Cassandra, ini bukan waktunya untuk mengagumi pembunuh!" batinnya menegur diri sendiri.
Pria itu melangkah lebih dekat, auranya mendominasi udara di sekitarnya.
"Apa yang dilakukan seorang gadis Asia di malam hari seperti ini?" suaranya berat, dalam, dan terdengar sangat mengintimidasi.
Cassandra menelan ludah.
"A-aku... tersesat," jawabnya dengan suara nyaris bergetar.
Pria itu menatapnya lama, seolah sedang menilai apakah ia berkata jujur atau tidak.
"Kau mendengar sesuatu?" tanyanya lagi.
Cassandra langsung menggeleng cepat. "T-tidak! Aku tidak melihat apa pun! Aku tidak mendengar apa pun! Aku hanya berjalan dan... dan—"
"—dan kebetulan kau menemukan lokasi ini?" potongnya dingin.
Cassandra terdiam.
Astaga. Dia benar-benar akan mati kali ini.
"Ya Tuhan, aku belum siap mati! Aku bahkan belum sempat minta maaf pada orang tuaku karena sering membolos sekolah minggu! Aku juga belum sempat makan carbonara asli dari Roma! Aku belum menikah! Aku bahkan belum punya pacar! Mati konyol di tangan gensters bukan rencana hidupku!"
Air matanya hampir tumpah saat ia mulai berpikir semakin absurd.
Pria itu mengangkat tangannya, Cassandra langsung menutup mata dan berdoa dalam hati.
"Ya Tuhan, tolonglah! Aku janji kalau aku selamat, aku akan jadi orang yang lebih baik! Aku akan menyumbangkan setengah gajiku untuk anak yatim! Aku akan berhenti marah-marah pada customer ku! Aku akan—"
Tapi bukannya ditembak, dagunya justru diangkat oleh jemari dingin pria itu. Cassandra tersentak.
"Kau tahu?" suaranya rendah, tajam. "Aku bisa saja menghabisimu sekarang juga."
Cassandra mengangguk cepat, setuju. "Ya, ya, aku tahu, Tuan! Tapi aku bersumpah, aku tidak akan mengatakan ini pada siapa pun!"
Pria itu menatapnya dalam diam. Lalu, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Ia tertawa kecil.
Bukan tawa bahagia, melainkan tawa yang terdengar seperti pemangsa yang baru saja menemukan mangsa baru yang menarik.
Sial.
"Tuan Montenegro, apa yang harus kita lakukan dengannya?" salah satu anak buahnya bertanya.
Cassandra membelalakkan mata.
Montenegro?
Rafael Montenegro?
Seorang CEO yang namanya terkenal di seluruh dunia?! Ia hanya tau namanya saja pasalnya ia sempat membeli majalah mahal ksrena ketipu penjualnya.
Cassandra semakin ingin pingsan di tempat.
Pria itu, Rafael Montenegro, menatapnya sebentar lalu menyelipkan pistolnya ke dalam jas.
"Siapa namamu?" tanyanya.
"Cassandra," jawabnya lirih.
Senyum kecil terlukis di wajah Rafael.
"Aku ada tawaran untukmu, Cassandra," ucapnya santai.
Cassandra menelan ludah.
"Apa itu, Tuan?"
Rafael memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jasnya, menatapnya dengan mata gelap yang sulit ditebak.
"Bagaimana kalau kau bekerja denganku?"
Cassandra hampir saja membantah. Pekerjaannya di supermarket jauh lebih aman dibanding—
"Sebagai pengasuh anakku."
Cassandra: "...."
Otaknya seketika mengalami error.
Tunggu.
APA?!
...➰➰➰➰...
Sekarang Cassandra duduk di kursi belakang dengan tubuh kaku seperti patung. Mobil yang membawanya kini melaju pelan meninggalkan gang sempit yang menjadi saksi bisu bagaimana ia nyaris kehilangan nyawanya malam ini.
Di sampingnya, seorang pria berjas hitam dengan wajah dingin duduk tanpa ekspresi. Rafael Montenegro.
Nama yang baru saja ia dengar beberapa menit lalu masih terasa asing, tetapi aura yang dimiliki pria itu berbicara lebih keras dari sekadar nama. Ia bukan orang biasa. Dia seseorang yang berbahaya, seseorang yang tidak segan menghabisi nyawa dalam hitungan detik.
Cassandra menelan ludah. Ia mencoba mengatur napas, tetapi udara di dalam mobil ini terasa begitu menyesakkan.
Tidak ada satu pun suara yang terdengar selain desiran roda yang melaju di jalanan berbatu khas kota tua Roma. Lampu jalan yang redup memantulkan cahaya samar ke dalam mobil, menampilkan refleksi samar wajah Rafael yang duduk di sampingnya dengan ekspresi tanpa emosi.
"Ed, berikan kontraknya," perintah Rafael dengan suara rendah, tetapi penuh otoritas.
Pria yang mengemudi, yang kini diketahui Cassandra bernama Ed, mengulurkan sebuah map berisi beberapa lembar dokumen.
Cassandra menerimanya dengan tangan gemetar.
Jari-jarinya mengusap halaman pertama, lalu matanya mulai membaca.
"Kontrak Kerja – Pengasuh Anak"
Bagian itu langsung menarik perhatiannya. Ia membaca lebih lanjut.
- Kontrak berlaku selama batas yang tidak ditentukan
- Upah: 10000 euro per bulan.
Tugas utama: Merawat, menjaga, dan mendampingi kedua anak dari Tuan Rafael Montenegro selama 24 jam.
- Tidak diperbolehkan meninggalkan kediaman tanpa izin.
Cassandra mengernyit. 10000 euro? Itu hampir setara dengan gajinya selama setahun di perusahaan mungkin lebih!
Cassandra menoleh ke samping, ragu. "Tuan Montenegro... maksud Anda, saya harus tinggal di rumah Anda selama apa ?" tanyanya pelan, suaranya hampir bergetar.
Rafael mengalihkan pandangan dari jendela, matanya gelap dan menusuk.
"Kontraknya sudah jelas. Kau akan tinggal di sana selama masa kerja, bertanggung jawab penuh atas anakku. Tidak ada yang bisa menjaganya, dan aku tidak punya waktu untuk mengurusnya."
Nada suaranya tegas, tak memberi ruang untuk perdebatan.
Cassandra menelan ludah lagi. Ia ingin bertanya lebih lanjut, tetapi tatapan dingin Rafael membuatnya memilih diam.
Sementara itu, mobil terus melaju melewati jalanan berbatu sempit khas Roma. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur klasik tampak berjejer di kedua sisi jalan, seakan mengantarkan mereka menuju dunia yang berbeda.
Setelah beberapa menit, kendaraan mulai memasuki jalan yang lebih luas, lalu melaju lebih cepat ke arah luar kota. Lampu kota yang tadinya masih terlihat perlahan menghilang, digantikan oleh hamparan jalanan kosong yang gelap.
Cassandra menatap ke luar jendela, matanya mulai dipenuhi kekhawatiran baru.
"Ini aku dibawa ke mana?"
Mobil terus berjalan selama hampir satu jam, melewati jalan-jalan berkelok yang dikelilingi pepohonan rimbun. Tidak ada tanda-tanda pemukiman, hanya kegelapan yang terasa semakin pekat.
Cassandra menggigit bibir.
"Bagaimana kalau ternyata ini jebakan? Bagaimana kalau aku dijual ke perdagangan manusia? Bagaimana kalau aku tiba-tiba menghilang dan tidak ada yang tahu?!"
Saking paniknya, otaknya mulai menciptakan berbagai skenario mengerikan.
"Aku belum sempat berbuat baik di dunia ini! Aku belum sempat membalas jasa mama dan papa! Aku bahkan belum sempat makan pizza asli dari Italia! Sial, kalau aku tahu aku bakal mati begini, aku pasti sudah makan sepuasnya sebelum tersesat tadi!"
"Berhenti berpikir macam-macam," tiba-tiba Rafael berkata, seolah bisa membaca pikirannya.
Cassandra tersentak, kepalanya menoleh cepat ke arah pria itu.
"M-maaf?"
"Aku bisa melihat dari wajahmu. Kau berpikir aku akan menculik dan menjualmu, bukan?"
Cassandra membelalakkan mata. Bagaimana dia bisa tahu?!
Rafael mendengus pelan. "Aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu."
Cassandra terdiam.
Oke, itu memang tidak menjawab seluruh ketakutannya, tetapi entah kenapa kata-kata itu sedikit membuatnya tenang.
Tak lama, mobil akhirnya melambat.
Mari kita berdoa berjamaah semoga dapat suami yg kaya, gagah, setia dan mencintai kita selamanya. Amin🤔🤗🥰👏