Seorang Hakim Ketua yang menjunjung tinggi keadilan harus memilih antara hukum, ayahnya, dan cinta kelamnya pada seorang buronan nomor satu yang pernah menghancurkan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yrp putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar Baru dan Kehidupan yang Mekar
Cahaya matahari pagi menyusup dari celah tirai, melukis siluet keemasan di atas lantai kayu *maple* kamar mereka. Pagi di tepi Danau Wakatipu selalu tenang, namun pagi ini rasanya jauh lebih sunyi, seolah semesta tahu bahwa beban terakhir yang mengikat jiwa mereka telah musnah tak bersisa.
Di atas meja nakas, tablet transparan yang semalam menjadi medan perang digital mereka kini tergeletak mati. Benda itu kini tak lebih dari sekadar lempengan kaca tanpa arti, bukti bisu bahwa hantu masa lalu telah benar-benar dikuburkan.
Arjuna membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia cari selalu sama: Aluna. Namun, sisi ranjang di sebelahnya kosong, hanya menyisakan aroma *lavender* dan kehangatan yang mulai memudar.
Dengan kemeja longgar yang tak dikancingkan, Arjuna bangkit dan melangkah keluar kamar. Bau harum kayu manis, mentega, dan apel panggang menuntun langkahnya menuju dapur terbuka yang menghadap langsung ke arah danau.
Di sana, Aluna berdiri membelakanginya. Istrinya itu mengenakan kemeja kebesaran milik Arjuna yang ujungnya jatuh hingga menutupi paha, rambut hitamnya yang bergelombang diikat asal ke atas. Aluna sedang memotong sisa buah apel sambil bersenandung kecil—sebuah melodi ceria yang tidak pernah Arjuna dengar saat wanita itu masih menyandang gelar Sang Hakim Ketua.
Arjuna bersandar di ambang pintu, menyilangkan tangan di dada. Ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pemandangan itu. Tangannya yang dulu terbiasa berlumuran darah, kini hanya tahu cara memahat kayu dan memeluk wanita di hadapannya.
Merasa diperhatikan, Aluna menoleh. Senyumnya mengembang sempurna melihat suaminya yang masih bertelanjang dada dengan rambut berantakan.
"Pai apelnya sudah masuk oven," ucap Aluna, meletakkan pisaunya dan mengusap tangannya pada celemek. "Dan kopi hitammu ada di meja. Tanpa gula, seperti biasa."
Arjuna melangkah maju, namun ia mengabaikan cangkir kopi itu. Ia langsung melingkarkan kedua lengannya di pinggang Aluna dari belakang, menenggelamkan wajahnya di perpotongan leher istrinya.
"Dunia terasa sangat sepi pagi ini, Na," gumam Arjuna, suaranya masih serak khas orang bangun tidur.
Aluna mengelus punggung tangan Arjuna yang melingkar di perutnya. "Itu karena tidak ada lagi radar yang mengawasi kita, Juna. Tidak ada lagi Baskara, tidak ada lagi perburuan. Hanya ada kita."
Aluna memutar tubuhnya di dalam pelukan Arjuna. Ia menatap mata kelam suaminya dengan binar yang aneh—ada kebahagiaan yang meluap-luap, namun juga sedikit kegugupan yang jarang sekali muncul di wajah Sang "Palu Es".
"Sebenarnya... ada satu hal lagi yang belum sepenuhnya sepi, Juna," bisik Aluna misterius.
Arjuna mengerutkan kening. Insting pelindungnya langsung bereaksi, tubuhnya sedikit menegang. "Apa maksudmu? Apa ada sinyal yang lolos semalam? Ada yang melacak—"
"Sstt..." Aluna tertawa pelan, meletakkan jari telunjuknya di bibir Arjuna untuk menghentikan kepanikan pria itu. "Bukan itu. Ancaman dari luar sudah benar-benar mati. Tapi... ada sesuatu yang baru saja 'hidup' di dalam sini."
Aluna meraih tangan kanan Arjuna yang besar dan kapalan, lalu menuntun telapak tangan pria itu untuk bertumpu di atas perut ratanya yang tertutup kemeja.
Arjuna terdiam mematung. Matanya melebar, menatap tangan besarnya yang kini berada di perut istrinya, lalu perlahan mengangkat wajahnya untuk menatap Aluna. Napasnya tercekat di tenggorokan. Sang Algojo dari Timur, pria yang tak pernah gentar menghadapi puluhan laras senapan, kini tampak kehabisan oksigen hanya karena satu isyarat sederhana.
"N-Na...?" Suara Arjuna bergetar hebat. "Maksudmu...?"
Aluna mengangguk pelan, matanya mulai berkaca-kaca oleh air mata bahagia. "Delapan minggu, Juna. Aku baru memastikannya kemarin pagi saat kau pergi membeli kayu ke kota. Aku ingin memberitahumu semalam, tapi tiba-tiba sistem AI itu menyala."
Pertahanan Arjuna runtuh seketika. Pria tinggi besar itu jatuh berlutut di atas lantai kayu, tepat di hadapan istrinya. Kedua tangannya memeluk pinggul Aluna dengan sangat erat, sementara wajahnya ia benamkan di perut wanita itu.
Bahu lebar Arjuna bergetar. Tangis pria itu pecah. Itu bukan tangis penderitaan seperti saat ia dikendalikan oleh ayahnya, melainkan tangis penebusan. Selama hidupnya, tangan itu hanya digunakan untuk merenggut nyawa, menabur kematian, dan menghancurkan masa depan orang lain. Namun kini, wanita yang paling ia cintai tengah mengandung bukti bahwa kehidupan baru bisa tumbuh dari abu masa lalunya yang kelam.
"Terima kasih... Ya Tuhan, Aluna, terima kasih..." isak Arjuna di balik kemeja istrinya, mencium perut Aluna berkali-kali dengan penuh pemujaan.
Aluna menunduk, mengusap rambut hitam suaminya dengan air mata yang ikut menetes membasahi pipinya.
"Kau ingat janjimu saat kau membawaku kabur dari ruang sidang dulu?" bisik Aluna, suaranya bergetar menahan haru. "Kau berjanji akan memberikan dunia yang terang untukku. Kau sudah menepatinya, Juna. Sekarang... giliran kita membesarkan nyawa kecil ini di bawah sinar matahari yang kau ciptakan."
Arjuna mendongak, menatap istrinya dengan wajah yang basah oleh air mata, namun dihiasi oleh senyum paling cerah yang pernah ada di dunia ini. Ia bangkit berdiri, lalu mengangkat tubuh Aluna dan memutarnya di udara, membuat tawa bahagia Aluna menggema memenuhi seluruh penjuru rumah.
Di luar jendela, matahari musim semi bersinar semakin benderang, memantulkan cahaya keemasan di permukaan Danau Wakatipu. Tidak ada lagi bayangan. Tidak ada lagi darah. Cerita tentang Sang Algojo dan Sang Hakim telah usai, ditutup dengan sempurna, dan kini lembaran baru menanti untuk ditulis oleh keluarga kecil Wiraya di tanah kebebasan mereka.