NovelToon NovelToon
Mengasuh Anak Dari Maduku

Mengasuh Anak Dari Maduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Pengkhianatan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagi Kirana, kesetiaan dalam pernikahan adalah impian mutlak. Namun, kebahagiaan yang ia bangun bertahun-tahun runtuh seketika saat sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawa suaminya, Rendra. Di saat yang sama, rahasia besar terungkap, Rendra meninggal bersama istri keduanya, meninggalkan seorang putri berusia dua tahun bernama Aura.
Melalui pesan terakhirnya, Rendra memohon agar Kirana sudi mengasuh Aura sebagai anak sendiri. Kirana hancur dan berada di persimpangan jalan yang menyiksa batin. Di satu sisi, ia sangat terluka oleh pengkhianatan suaminya. Di sisi lain, ia sudah memiliki seorang putri kandung berusia empat tahun yang harus ia jaga perasaannya dari kehadiran anak madunya tersebut.
Kini, di bawah satu atap, Kirana harus berjuang menekan rasa sakit hati demi membesarkan dua anak perempuan yang hanya terpaut usia dua tahun tersebut.
Mampukah Kirana berdamai dengan masa lalu dan bersikap adil, ataukah kehadiran Aura justru menjadi luka abadi yang terus mengingatkann

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep. 27- Mbak Sri!!

Ep. 27- Mbak Sri!!

Lanjut...

Kirana berlari kecil menembus tirai hujan sore di teras depan, membawa tubuh kecil Aura masuk ke dalam mobil SUV yang sudah menyala.

Di dalam kendaraan yang meluncur membelah lebatnya hujan menuju Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terdekat, Kirana memeluk Aura erat-erat di jok belakang.

Sesampainya di rumah sakit...

Roda-roda brankar rumah sakit berdecit nyaring saat melintasi lantai porselen koridor Instalasi Gawat Darurat (IGD) yang steril dan dingin. Aroma cairan antiseptik yang tajam menyengat hidung, berpadu dengan ketegangan yang membungkus udara malam.

"Pasien anak, balita tiga tahun! Dugaan patah tulang lengan kiri akibat jatuh dari tangga!" teriak salah seorang perawat pria seraya mendorong brankar dengan cepat masuk ke ruang tindakan utama.

Aura terbaring lemas di atas kasur putih tersebut. Wajahnya yang pucat kian memutih, kontras dengan perban sementara yang menyangga tangannya.

Balita itu tak lagi sanggup melengkingkan jeritan, suaranya telah habis, menyisakan isakan kecil yang tertahan dan napas yang tersengal-sengal.

Kirana memandangi tubuh mungil itu digiring masuk ke area steril. Begitu para dokter dan perawat mengerubungi brankar untuk memberikan pertolongan pertama, Kirana segera menahan Mbok Darmi di sampingnya.

"Mbok Darmi, masuk ke dalam," perintah Kirana. "Dampingi Aura di dalam. Jangan tinggalkan dia sendirian bersama dokter."

"Baik, Bu Kirana... Mbok masuk sekarang," sahut Mbok Darmi dengan mata berkaca-kaca, dan segera bergegas menyusup di antara tirai pembatas IGD.

Kirana membalikkan badannya dan menyatukan jemarinya yang mendadak terasa dingin bagaikan es.

Di kursi tunggu lorong IGD, Keisya duduk meringkuk seraya menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan mungilnya. Bahu kecil gadis itu berguncang hebat, air matanya tak berhenti menetes membasahi baju yang belum sempat digantinya.

Kirana berlutut di hadapan putri tunggalnya. Ia merengkuh kedua bahu Keisya dan menarik gadis kecil itu ke dalam dekapannya yang hangat.

"Ssssh... Keisya, Sayang... Cup, cup... Jangan menangis lagi, Nak," puji Kirana seraya mengusap punggung Keisya yang gemetar.

Keisya mendongak dan menatap ibunya dengan mata yang sembap dan merah. "Mama... Aura akan sembuh kan, Ma?" bisik Keisya dengan suara parau yang tersedat-sedat. "Tangan Aura tadi meliuk ... Aura pasti sakit banget, Ma... Keisya takut Aura kenapa-napa..."

Hati Kirana terasa diremas oleh perasaan haru melihat betapa besarnya rasa sayang Keisya pada adik tiri yang tak pernah diminta kehadirannya itu. Kirana menyapu air mata di pipi Keisya dengan ibu jarinya, lalu menyunggingkan senyuman paling menenangkan yang bisa ia paksakan.

"Aura pasti sembuh, Sayang. Percaya sama Mama ya," tutur Kirana. "Dokter-dokter di dalam itu hebat sekali. Mereka sedang mengobati tangan Aura supaya tidak sakit lagi. Keisya anak pintar, harus kuat dan berdoa ya?"

"Iya, Mama... Keisya berdoa buat Aura..." sahut Keisya sambil menyandarkan kepalanya di dada Kirana.

Sementara itu, di balik tirai ruang tindakan IGD, suasana berlangsung sangat cepat dan sigap. Seorang dokter spesialis anak bersama tim medis dengan cepat membersihkan luka luar, melakukan pemindaian sinar-X darurat, dan memasang bidai semen sementara untuk menstabilkan tulang lengan kiri Aura yang retak dan bergeser.

Namun, saat dokter perlahan-lahan membuka piyama kuning milik Aura untuk memasang elektroda pemantau detak jantung dan memeriksa area dada serta perutnya dari potensi benturan organ dalam, pergerakan jemari sang dokter mendadak terhenti.

Alis sang dokter bertaut erat di balik kacamata sterilnya.

Di atas kulit mulus balita tiga tahun itu, di area rusuk kiri, punggung bawah, dan pangkal paha, terhampar beberapa bercak kebiruan dan keunguan dengan berbagai ukuran.

Mbok Darmi yang berdiri rapat di samping kepala brankar seraya memegang jemari kanan Aura, ikut menyipitkan matanya saat baju balita itu tersingkap.

Saat itu juga, Mbok Darmi tersentak kaget. Napasnya tertahan di tenggorokan, telapak tangannya menutup mulutnya sendiri yang menganga.

"Ya Allah... itu bekas apa?" batin Mbok Darmi.

"Suster, tolong catat semua temuan fisik ini di rekam medis," bisik dokter anak itu dengan nada suara yang berubah sangat serius. Perawat di sampingnya pun mengangguk cepat seraya mengambil papan catatannya.

Satu jam berlalu.

Kondisi Aura akhirnya berhasil distabilkan secara medis. Lengan kirinya yang patah telah dibebat rapi dengan gips semen tebal, dan balita itu telah dipindahkan ke ruang perawatan observasi khusus di lantai dua untuk pemulihan pascatindakan darurat.

Di dalam kamar perawatan yang tenang dengan pendar lampu temaram, Aura tertidur lelap di atas ranjang dorong berpagar besi. Wajahnya masih pucat, namun napasnya sudah teratur berkat pengaruh obat pereda nyeri yang mengalir melalui slang infus di tangan kanannya.

Mbok Darmi duduk di kursi samping tempat tidur seraya menggenggam lembut jemari Aura, sementara Keisya duduk di sofa tamu di sudut ruangan, ia nampak keletihan hingga tertidur pulas dalam posisi menyandar.

Sementara itu di luar kamar perawatan, di sepanjang koridor rumah sakit yang lengang, Kirana berdiri berhadapan dengan dokter spesialis anak yang tadi menangani Aura.

"Kondisi pasien saat ini sudah jauh lebih stabil, Bu Kirana," ujar sang dokter membuka pembicaraan. "Pendarahan dalam tidak ditemukan, dan posisi tulang lengannya yang patah sudah kami fiksasi dengan gips. Namun, karena ini kasus patah tulang pada balita, proses pemulihannya membutuhkan waktu yang cukup lama dan terapi fisik berkala."

Kirana menghembuskan napas panjang yang sangat lega, seolah beban tonan yang menindih dadanya mendadak terangkat. "Baik, Dok. Terima kasih banyak atas pertolongannya."

Sang dokter melihat ke arah Kirana sejenak dengan tatapan menilai, lalu melirik ke arah pintu kamar perawatan tempat Aura terbaring. Ada sedikit keraguan dan kehati-hatian yang terpancar dari raut wajah tenaga medis beruban itu.

Lantas Dokter itu membetulkan letak stetoskop di lehernya, lalu bertanya dengan intonasi yang pelan, "Maaf, Bu Kirana... apakah pasien ini putri kandung Anda?"

DEG.

Kirana sedikit tersentak. Pertanyaan itu memukul dinding pertahanannya yang paling sensitif. Otaknya mendadak berputar cepat, apakah dokter ini mengetahui status Aura? Apakah ada prosedur legal yang harus ia tunjukkan?

Namun, sebelum Kirana sempat menyusun kalimat jawaban, sang dokter memotong halus seraya mengangkat sebelah tangannya, lalu memutarkan penjelasannya.

"Mohon maaf, maksud saya bukan ingin mencampuri urusan pribadi keluarga Anda, Bu," pangkas dokter itu. "Memang, anak seusia Aura ini sedang sangat aktif. Sangat wajar jika mereka sering jatuh saat berlari, tergelincir, atau terbentur perabotan rumah."

Kirana mengerutkan keningnya dan menangkap sinyal yang tidak biasa dari arah pembicaraan ini. "Lalu... ada apa, Dok?"

Dokter itu menghela napas tipis, lalu mendekatkan jarak berdirinya agar suaranya tidak terdengar oleh perawat yang melintas. "Tapi, dari hasil pemeriksaan fisik menyeluruh yang kami lakukan di ruang tindakan tadi... yang saya lihat di tubuh pasien, luka lebamnya terlalu banyak untuk ukuran anak yang hanya jatuh dari tangga."

"Luka lebam?" ulang Kirana, matanya membelalak heran. Pikirannya melayang pada momen ketika Aura berguling di tangga tadi sore. "Bukannya lebam itu akibat benturan keras saat dia jatuh dari tangga tadi, Dok?"

"Bukan," jawab sang dokter. "Luka lebam akibat jatuh dari tangga tadi sore tentu ada, dan warnanya merah kebiruan yang masih segar. Tapi, ada beberapa bercak lebam lain di area rusuk dan punggungnya yang bukan akibat kecelakaan ini."

TEG.

"Maksud Dokter..."

"Lukanya sudah agak lama, Bu Kirana," terang dokter itu dengan pandangan yang menembus langsung ke mata Kirana. "Sebagian warnanya sudah berubah menjadi keanekaan hijau kekuningan, artinya memar itu didapat setidaknya beberapa hari atau bahkan seminggu yang lalu dari benturan atau tekanan yang berulang."

Seluruh persendian Kirana mendadak kaku. Kata-kata sang dokter memantul-mantul keras di dalam kepalanya bagaikan gema di dalam gua hampa. Memar lama? Tekanan berulang?

"Sebagai pihak medis, kami memiliki kewajiban untuk memastikan keselamatan pasien," lanjut sang dokter dengan sedikit penekanan. "Saya sangat menyarankan Ibu untuk memeriksa kembali lingkungan pengawasan anak di rumah."

Sepeninggal sang dokter yang pamit kembali ke ruang jaga, Kirana berdiri mematung di tengah koridor rumah sakit yang dingin. Rasa terkejut, bingung, dan firasat buruk yang mengerikan berbaur menjadi satu.

Tanpa membuang waktu semenit pun, Kirana memutar gagang pintu kamar perawatan dan melangkah masuk dengan gerakan yang cepat namun tanpa suara.

Mbok Darmi yang sedang mengusap kepala Aura terperanjat melihat kedatangan majikannya dengan wajah pucat pasi dan mata yang memancarkan amarah serta ketakutan.

"Bu Kirana... ada apa, Bu?" bisik Mbok Darmi cemas.

Kirana tidak menjawab. Ia hanya melangkah lebar menghampiri sisi ranjang, dimana Aura terbaring disana. Dengan jemari yang sedikit gemetar Kirana menyibak selimut tipis rumah sakit yang menutupi tubuh balita itu.

Lalu, dengan hati-hati Kirana membuka kancing-kancing piyama katun kuning yang dikenakan Aura dan menyingkap kainnya hingga memperlihatkan seluruh area dada, perut, dan punggung mungil anak itu.

DEG!

Mata Kirana membelalak lebar.

Di atas kulit perut dan rusuk mungil Aura yang mulus, terpampang nyata beberapa bercak memar oval berwarna kebiruan dan kekuningan.

Bekas-bekas lebam itu melingkar di area yang tak mungkin terkena benturan biasa, seolah-olah ada jemari dewasa yang pernah mencubit, meremas, atau menekan tubuh kecil itu dengan sangat keras dan penuh kebencian!

Kirana syok setengah mati. Tubuhnya gemetar hebat, tangannya yang menyingkap baju Aura terpaku di udara.

Lalu, pikirannya melayang secepat kilat ke beberapa pekan terakhir, mengingat Aura yang akhir-akhir ini sering menangis tanpa sebab yang jelas, Aura yang mendadak takut dan menarik diri, Aura yang selalu menangis histeris setiap kali berada di dekat... Mbak Sri.

"Mbak Sri!"

Nama ART baru itu meledak di dalam kepala Kirana bagaikan petir di siang bolong. Semuanya mendadak masuk akal, alasan mengapa Aura menangis histeris sambil memegang perutnya tadi sore, alasan mengapa anak itu menatapnya dengan raut wajah panik seolah memohon pertolongan, dan alasan mengapa anak itu ketakutan setiap kali dibawa masuk ke dalam oleh ART baru tersebut!

Aura tidak sedang merajuk manja. Balita itu... telah menjadi korban penganiayaan di dalam rumahnya sendiri!

Kini, dada Kirana berombak keras menahan gejolak amarah yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Rasa bersalah yang teramat sangat menghantam jiwanya tanpa ampun.

Selama ini, karena kebutaan hatinya oleh dendam masa lalu, ia telah menelantarkan perlindungan terhadap balita tak berdosa ini dan menyerahkannya bulat-bulat ke tangan seorang monster berpakaian ART.

Kirana mengepalkan kedua tangannya. Matanya menatap wajah lelap Aura dengan binar perlindungan yang baru pertama kali menyala.

"Mbok Darmi..." bisik Kirana.

"I-iya, Bu Kirana?"

"Jaga Aura di sini," tegar Kirana seraya memasang kembali kancing baju Aura dengan lembut. "Saya dan Keisya mau pulang ke rumah sekarang."

Bersambung...

1
Lisa
Aura keras kepala juga y..hayo g bisa dibiarin tuh.
Lisa
Wah Aura mulai ngambek nih 😊
Lisa
Aura ingin juga disuapi sama Kirana...teruslah bersikap adil pada kedua putrimu Kirana..
Lisa
Wah sepertinya Aris ini bakal jadi teman deketnya Kirana..lucu banget 2 pengawal cilik itu 😊
Aurora: entahlah... othor belum kepikiran jodo buat Kirana 🤭
total 1 replies
Lisa
👍👍 ayo Kirana lawan si nenek itu..
Anonim
Kok gini sih
Enak banget si Hendra sama si ayu
Yg gk sala Karina nanggung sesak seumur hidup
Lisa
Benar Kak.
Lisa
Syukurlah Kirana sudah menyadari kesalahannya dan mau menyayangi Aura..
Lisa
Cpt sembuh Aura..Kirana kamu harus sadar jgn dendam terus pada Aura..
Lisa
Amin..kasihan banget Aura..moga Kirana mampu menyayangi Aura..
Lisa
Ceritanya bagus Kak
Aurora: terimakasih.../Rose/
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Suka banget Kak
total 2 replies
Banu Tyroni
... akhirnya Aura mendapatkan kasih sayang seorang ibu.
Banu Tyroni
Aura.... kasihan kamu 😭
Banu Tyroni
... siapin tisu yg banyak.
Banu Tyroni
... sedih banget lihat Aura, besok kedepannya bagaimana ya? 😭
Banu Tyroni
... menarik.
Aurora: terimakasih /Rose/
total 1 replies
Banu Tyroni
Baca di awal ini nampaknya cerita akan penuh konflik dan menguras air mata... siap² tisu 😄
Irmha febyollah
lanjut lagi kk.
Aurora
kaya tega banget ya Kirana 🤭
Tapi emang lukanya belum sembuh...🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!