Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Bayangan Amanda di Benak Kamil
Dr. Akmal menutup map berkas di tangannya, lalu berdiri dengan senyum puas.
"Selamat bergabung ya, Mbak. Semoga Mbak dan tim bisa berkembang di sini.”
Raya mengangguk sopan, masih sedikit tak percaya semuanya berjalan secepat ini.
"Besok sudah bisa mulai kerja. Kalau mau, sekarang tim lagi mau ke sana. Mbak Raya ikut saja. Nggak buru-buru, kan? Mereka beberapa karyawan lama dari sini dan karyawan baru juga seperti Mbak Raya.”
"Oh nggak, Dok,” jawab Raya cepat, berusaha terlihat tenang meski hatinya masih berdebar.
"Baik. Ikuti saya, ya. Saya kenalkan ke tim di klinik.”
Raya berdiri, merapikan sedikit bajunya, lalu mengikuti langkah dr. Akmal keluar dari ruangan. Lorong klinik itu masih terlihat baru—catnya bersih, pencahayaannya terang, dan aroma khas tempat perawatan kecantikan samar tercium.
Tak lama, mereka sampai di sebuah ruangan cukup luas. Beberapa orang sudah berkumpul di sana—perawat, admin, dan beberapa staf lainnya. Obrolan kecil langsung mereda saat dr. Akmal masuk.
"Teman-teman,” ujar beliau, “ini Mbak Raya, manager keuangan kita yang baru. Mulai besok beliau akan bergabung di sini.”
Beberapa orang langsung tersenyum ramah, mengangguk, bahkan ada yang menyapa pelan. Tapi di sudut lain, terdengar bisik-bisik halus yang nyaris tak terdengar.
"Itu kan… yang sempat viral itu, ya…”
"Iya, kayaknya dia deh…”
"Serius? Kok bisa di sini…”
Raya jelas menangkap potongan-potongan suara itu. Sekilas, pandangannya sempat beralih ke arah mereka. Namun hanya sepersekian detik.
Ia kembali memasang ekspresi tenang. Seolah tak terjadi apa-apa. Seolah semua itu tidak penting.
Dalam hatinya, ia sudah menyiapkan diri sejak awal—kalau masa lalunya mungkin akan terus mengikutinya. Tapi hari ini, ia memilih untuk berdiri sebagai dirinya yang sekarang.
"Salam kenal,” ucap Raya, suaranya stabil.
Satu per satu mereka menyalami Raya. Ada yang hangat, ada yang sekadar formal, dan ada juga yang masih menatap dengan rasa penasaran.
Tapi Raya tidak goyah. Baginya, ini bukan tentang apa yang orang pikirkan. Ini tentang kesempatan.
Dan kali ini… ia tidak akan menyia-nyiakannya.
"Mbak Raya bawa kendaraan?” tanya dr. Akmal sambil melirik ke arah parkiran.
"Iya, Dok. Saya pakai motor.”
"Baik. Kuncinya titipkan saja ke security, biar security yang bawa. Mbak Raya ikut mobil bersama tim.”
"Iya, Dok,” jawab Raya patuh.
Beberapa menit kemudian, Raya sudah duduk di dalam mobil bersama beberapa anggota tim. Suasananya cukup hidup—ada yang mengobrol ringan, ada yang sibuk dengan ponselnya, dan ada juga yang sesekali melirik ke arah Raya dengan rasa penasaran yang belum benar-benar hilang.
Sementara itu, Raya lebih banyak diam.
Tatapannya lurus ke depan, tapi pikirannya ke mana-mana. Semua ini terasa terlalu cepat.
Baru kemarin ia masih penuh kekhawatiran… dan sekarang, ia sudah duduk di sini, dalam perjalanan menuju tempat kerjanya yang baru, dengan posisi yang bahkan tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Sebuah anugerah. Dan entah kenapa… juga terasa seperti ujian.
Mobil melaju mulus hingga akhirnya berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan desain modern. Kaca-kaca tinggi memantulkan cahaya siang, tulisan nama klinik terpampang elegan di bagian depan.
Raya turun perlahan. Matanya langsung menyapu bangunan itu. Cantik. Bersih. Berkelas. Tanpa sadar, ia menarik napas pelan.
"Ini… tempat aku kerja?” gumamnya dalam hati.
"Yuk, Mbak,” salah satu staf mengajaknya masuk.
Begitu melangkah ke dalam, suasana klinik terasa hidup. Interiornya didesain estetik, dengan perpaduan warna-warna lembut dan pencahayaan hangat. Aroma wangi yang menenangkan langsung menyambut.
Raya diajak berkeliling.
Dari ruang resepsionis, ruang treatment, hingga beberapa ruangan khusus yang dilengkapi alat-alat canggih.
Namun saat mereka menuju bagian belakang, suasananya berubah lebih dinamis. Di sana, aktivitas terlihat jauh lebih padat.
Gudang penyimpanan skincare dan alat kosmetik tampak luas dan tertata rapi, tapi juga sangat sibuk. Beberapa orang sedang fokus packing produk, membungkus pesanan dengan cepat dan rapi.
Di sisi lain, ada beberapa ruangan kecil dengan pencahayaan khusus—ternyata digunakan untuk live media sosial.
Beberapa staf terlihat sedang siaran langsung, berbicara dengan penuh semangat di depan kamera, mempromosikan produk dengan gaya yang sudah sangat terlatih.
"Ini bagian operasional dan marketing digital kita, Mbak,” jelas salah satu tim.
Raya mengangguk pelan, matanya memperhatikan semuanya dengan seksama.
Tempat ini… bukan sekadar klinik. Ini seperti sebuah sistem besar yang bergerak cepat. Dan sekarang, ia ada di dalamnya. Ia kembali menguatkan dirinya.
Apa pun yang orang bicarakan di luar sana…
Di sini, ia akan membuktikan siapa dirinya sebenarnya.
***
Sore itu Kamil sedang rebahan di kamarnya. Proses permohonan pencabutan laporan sudah beres dilakukan. Tapi dia masih ingat perbincangan antara dirinya ada Hakim setelah beres meminta tanda tangan Aldo.
Pintu mobil tertutup cukup keras, menyisakan ketegangan yang belum benar-benar reda. Mesin dinyalakan, dan mobil perlahan meninggalkan area rumah sakit menuju kantor polisi.
Di dalam mobil, suasana terasa berat.
Hakim menyandarkan punggungnya, lalu menoleh sekilas ke arah Kamil yang duduk di kursi samping. Wajah adiknya itu terlihat kaku, rahangnya mengeras seperti menahan sesuatu.
"Mil,” ucap Hakim akhirnya, memecah keheningan, “kamu nggak salah menyukai wanita model Amanda begitu?”
Kamil langsung menoleh cepat. Nada itu… terdengar seperti menghakimi.
"Emang kenapa dia?” jawabnya, tersinggung.
Hakim menghela napas pelan, lalu kembali fokus ke jalan.
"Ya lihat aja. Dandanannya… super seksi gitu. Belum tentu lho Papa setuju.”
Kamil mendengus pelan, jelas tak suka arah pembicaraan itu.
"Sudahlah, nggak usah bahas itu dulu.”
Bukannya berhenti, Hakim justru melanjutkan, suaranya kali ini lebih tegas.
"Dia juga semangat banget jeblosin kamu ke penjara. Padahal kalau proses ini dilanjutkan, dia juga yang bakal viral. Semua orang bisa tahu kalau dia masukin cowok ke apartemennya.”
Ucapan itu membuat suasana semakin dingin. Kamil menatap ke depan, tapi pikirannya jelas terusik.
"Belum tentu juga si Aldo itu nginep di sana, Bang,” bantahnya, meski suaranya tak lagi sekuat tadi.
Hakim tersenyum tipis, tapi bukan senyum hangat.
"Dia nggak membantah kok.”
"Gak mungkin lah Amanda melakukan hal yang nggak baik. Selama kita dekat juga, dia nggak pernah aneh-aneh. Selalu menjaga diri… disentuh aja nggak mau.”
Hakim melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. Sudut bibirnya sedikit terangkat, tapi bukan karena lucu—lebih ke arah menyadari sesuatu yang Kamil belum mau lihat."
"Itu karena kamu bukan cowoknya, Mil.”
Ucapan itu jatuh pelan… tapi menghantam keras.
Kamil terdiam.
Kalimat itu menggantung di udara. Tak ada lagi yang berbicara setelahnya.
Mobil terus melaju, tapi kali ini terasa lebih sunyi—seolah masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri. Kamil mengepalkan tangannya pelan.
Entah kenapa… untuk pertama kalinya, ia mulai meragukan sesuatu yang selama ini ia yakini.
"Benarkah Amanda mengajak Aldo nginap di apartemennya? Terus di sana apa yang mereka lakukan?" Pikiran Kamil tak karuan mengingatnya.
Happy reading guys.... Bantu support novel aku yang lainnya yah!!! Ada yang sudah tamat juga lho. Terima kasih sebelumnya.🙏🏼🙏🏼🥰
mantappp