Dihina karena dantiannya cacat, Xiao Bai mendadak mendapatkan Tungku Ekstraksi Surgawi—sebuah artefak gaib yang berfungsi sebagai sistem mutlak. Tanpa perlu berkultivasi dengan cara biasa, ia bisa mengekstrak esensi monster, tumbuhan obat, hingga pusaka kuno menjadi pil murni tanpa cacat! Dari seorang sampah yang diinjak-injak, Xiao Bai bangkit mengekstrak langit dan bumi untuk menjadi penguasa tunggal yang tak tertandingi.
#Romance #Drama #Adventure #Kultivasi #Sistem #Overpowered #BalasDendam #Action-Fantasy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu Yang Berteriak
# TUNGKU EKSTRAKSI SURGAWI
Hari pendaftaran ujian eliminasi tiba lebih cepat dari yang Xiao Bai duga. Selama dua minggu terakhir, ia telah menghabiskan setiap waktu luangnya menyempurnakan kendali atas Tungku Ekstraksi Surgawi, mengumpulkan pil-pil cadangan yang bisa ia gunakan diam-diam jika diperlukan, dan yang terpenting, membuat sebuah keputusan besar yang telah bergulat dalam benaknya sejak malam ia menerima kabar tentang ujian eliminasi itu.
"Aku sudah putuskan," gumamnya pagi itu, berdiri di depan cermin pecah di kamar penginapannya, menghapus perlahan sisa-sisa serbuk mineral yang selama ini menyamarkan wajah aslinya sebagai Ah Chen. "Kali ini, aku akan datang sebagai diriku sendiri. Sebagai Xiao Bai."
> **[Host, apakah kau yakin dengan keputusan ini? Mempertahankan identitas Ah Chen memberikan keuntungan strategis yang signifikan. Mengungkap dirimu sebagai Xiao Bai berarti kembali menghadapi seluruh prasangka dan penghinaan yang selama ini kau hindari.]**
"Aku tahu," jawab Xiao Bai, menatap wajahnya sendiri yang kini kembali seperti semula—lelah, namun matanya memancarkan sesuatu yang jauh berbeda dari pemuda putus asa yang dulu diusir dari sekte. "Tapi kalau aku ingin membalikkan keadaan, aku harus melakukannya sebagai diriku sendiri. Bukan bersembunyi di balik topeng orang lain. Biar mereka semua menyaksikan langsung, bahwa Xiao Bai yang mereka hina, bukan lagi Xiao Bai yang mereka kenal."
---
Alun-alun Sekte Awan Sembilan dipenuhi kerumunan besar pagi itu—jauh lebih ramai dibandingkan hari pengusiran Xiao Bai beberapa minggu lalu, karena kabar tentang ujian eliminasi tahun ini telah menyebar luas berkat provokasi terbuka Lin Hai di alun-alun kota. Ratusan calon murid baru berbaris rapi, menunggu giliran menguji bakat mereka menggunakan Batu Penguji Bakat yang sama—batu yang dulu menyatakan dantian Xiao Bai "cacat total".
Tetua Zhou berdiri di podium utama, wajahnya sedingin biasa, mengawasi barisan panjang calon murid dengan tatapan menilai. Di sampingnya, Lin Hai berdiri dengan jubah kultivasi terbaiknya, dadanya membusung bangga sebagai salah satu penguji pendamping termuda dalam sejarah sekte.
Ketika giliran Xiao Bai tiba, sebuah keheningan aneh menyelimuti kerumunan di sekitarnya—beberapa orang mulai mengenali wajahnya, bisikan-bisikan mulai menyebar cepat seperti api menjalar di rumput kering.
"Bukankah itu... murid yang diusir beberapa minggu lalu?"
"Yang dantiannya cacat total itu? Berani sekali dia kembali!"
Lin Hai, yang sejak awal memperhatikan barisan dengan seringai puas, tiba-tiba membeku begitu matanya menangkap sosok Xiao Bai yang melangkah maju dengan tenang menuju Tetua Zhou. Seringai puasnya perlahan berubah menjadi kemarahan yang tersembunyi di balik ekspresi terkejut.
"Kau," desis Lin Hai, suaranya cukup keras untuk didengar orang-orang terdekat, "benar-benar nekat kembali ke sini setelah semua yang kukatakan?"
Xiao Bai tidak menjawab, hanya menatap lurus ke arah Tetua Zhou yang kini mengangkat alis, mengenali wajah yang pernah ia nyatakan tak berbakat beberapa minggu lalu.
"Xiao Bai," gumam Tetua Zhou, suaranya datar namun ada sedikit keheranan tersembunyi di baliknya. "Kau kembali untuk diuji lagi? Kau tahu hasilnya tidak akan berbeda dari sebelumnya."
"Aku hanya ingin memastikan," jawab Xiao Bai tenang, melangkah ke posisi ujian, "bahwa apa yang dikatakan batu itu beberapa minggu lalu masih berlaku sekarang."
Tetua Zhou mendengus pelan, meski ada sedikit rasa penasaran yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Ia mengangkat Batu Penguji Bakat—kristal bulat yang biasa memancarkan cahaya sesuai tingkat bakat kultivasi seseorang—dan menyentuhkannya ke dada Xiao Bai, tepat seperti prosedur ujian sebelumnya.
Untuk sesaat, tidak terjadi apa-apa, dan beberapa orang di kerumunan mulai terkekeh mengejek, mengantisipasi hasil yang sama seperti sebelumnya.
Namun tiba-tiba, batu itu mulai berdenyut—bukan cahaya redup seperti sebelumnya, melainkan kilatan keemasan terang yang membuat seluruh kerumunan terdiam mendadak. Cahaya itu semakin membesar, semakin terang, hingga akhirnya batu kristal itu memancarkan sinar sekuat matahari kecil, membuat Tetua Zhou sendiri terhuyung mundur karena terkejut, hampir menjatuhkan batu itu dari genggamannya.
"Apa—apa ini?!" Tetua Zhou berteriak, matanya membelalak menatap batu yang kini berdenyut liar di tangannya, cahayanya begitu terang hingga beberapa orang di barisan depan harus menutup mata mereka.
Seluruh alun-alun terdiam total. Bahkan Lin Hai yang biasanya penuh percaya diri kini berdiri membeku, wajahnya pucat pasi menyaksikan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Perlahan, cahaya keemasan itu mulai stabil, membentuk pola-pola rumit yang melayang di udara sekitar Batu Penguji Bakat—simbol-simbol kuno yang bahkan Tetua Zhou sendiri, dengan pengalaman puluhan tahun mengajar di sekte, hanya pernah membacanya dalam catatan-catatan sejarah kuno yang nyaris terlupakan.
"Tidak mungkin," bisik Tetua Zhou, suaranya bergetar hebat, matanya menatap tak percaya ke arah Xiao Bai yang berdiri tenang di tengah pancaran cahaya itu. "Ini... ini adalah tanda Akar Ekstraksi Sembilan Wujud. Sebuah jenis akar bakat yang catatan sejarah sekte kita sebut hanya muncul sekali dalam beberapa generasi—akar yang konon dimiliki oleh Pendiri Sekte Awan Sembilan sendiri, ribuan tahun lalu!"
Gemuruh kekagetan langsung meledak di seluruh kerumunan. Orang-orang yang tadinya mencemooh kini saling berbisik dengan mata terbelalak, beberapa bahkan mundur beberapa langkah seolah menyaksikan sesuatu yang di luar nalar mereka.
"Dantian yang kau nyatakan cacat beberapa minggu lalu," Tetua Zhou melanjutkan, suaranya masih bergetar antara syok dan sesuatu yang menyerupai ketakutan, "sebenarnya adalah dantian dengan wadah paling langka yang pernah tercatat dalam sejarah sekte—jenis dantian yang secara alami menolak qi biasa karena ia diciptakan khusus untuk menampung kekuatan yang jauh lebih besar dan lebih murni. Kesalahanku... kesalahan kita semua, adalah menilai wadah paling istimewa ini dengan standar kultivasi biasa yang sama sekali tidak berlaku baginya."
Xiao Bai berdiri diam di tengah kerumunan yang kini menatapnya dengan campuran rasa takjub, penyesalan, dan ketakutan—sebuah pembalikan total dari penghinaan yang ia terima di tempat yang sama beberapa minggu lalu. Matanya menatap lurus ke arah Lin Hai yang kini berdiri gemetar, wajahnya pucat pasi menyadari betapa fatalnya kesalahan yang telah ia lakukan selama ini.
"Kalian semua mengusirku," kata Xiao Bai akhirnya, suaranya tenang namun menggema jelas ke seluruh alun-alun yang kini hening total, "karena kalian menghakimi sesuatu yang bahkan tidak kalian pahami sepenuhnya. Sekarang, kalian menyaksikan sendiri apa yang selama ini kalian buang begitu saja."
Tetua Zhou, dengan tangan masih gemetar memegang Batu Penguji Bakat yang perlahan mulai meredup kembali, menatap Xiao Bai dengan raut wajah yang sulit dijelaskan—campuran antara rasa hormat yang terpaksa dan ketakutan akan konsekuensi dari kesalahan besar yang baru saja terungkap di depan seluruh sekte dan penduduk kota.
"Xiao Bai," katanya akhirnya, suaranya kini jauh berbeda dari nada dingin yang biasa ia gunakan, "sebagai perwakilan Sekte Awan Sembilan, aku... aku memohon maaf atas kesalahan penilaian yang telah kami buat. Jika kau bersedia, sekte ini akan sangat berbesar hati menerimamu kembali, bahkan dengan status yang jauh lebih terhormat dari sebelumnya."
Seluruh kerumunan menahan napas, menunggu jawaban dari sosok yang beberapa minggu lalu mereka anggap sebagai sampah tak berguna, kini berdiri sebagai pemilik bakat paling langka yang pernah tercatat dalam sejarah sekte—sementara Lin Hai berdiri mematung di sampingnya, menyadari bahwa segala penghinaan dan ancaman yang telah ia lontarkan selama berminggu-minggu, kini berbalik menjadi bumerang yang akan menghancurkan reputasinya sendiri di depan seluruh kota.