Ini adalah cerita tentang seorang remaja yang dianggap sebagai generasi muda terkuat saat ini. Ia tidak hanya kuat, ia juga kaya. Semua ia dapatkan berkat campur tangan gurunya.
Takdir mempertemukannya pada seorang pendekar misterius. Pendekar itu sangatlah kuat, walaupun tingkahnya agak sembrono.
Di kemudian hari ia akan mengetahui identitas dari pria itu. Petualangan mereka berdua akan sangat seru dan penuh intrik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemimpin yang Kehilangan Arah
Gao Rui dan Sha Nuo terus berjalan menyusuri jalan utama yang membelah ibu kota. Di pagi hari itu, lalu lintas para pedagang, kereta kuda, serta para pendekar yang keluar masuk kota mulai semakin ramai.
Tidak lama kemudian, keduanya tiba di gerbang barat ibu kota. Para penjaga yang telah menerima perintah dari istana segera membungkukkan badan dengan hormat ketika melihat Sha Nuo.
"Senior."
Sha Nuo hanya menganggukkan kepala tipis sebelum terus melangkah keluar gerbang bersama Gao Rui.
Baru setelah tembok ibu kota berada cukup jauh di belakang mereka, Sha Nuo menghentikan langkahnya sejenak. Ia menoleh kepada Gao Rui.
"Rui'er."
"Iya, Paman?"
Sha Nuo menunjuk ke arah hamparan jalan yang memanjang ke barat.
"Mulai sekarang kita bergerak menggunakan ilmu meringankan tubuh."
Gao Rui mengangguk.
"Baik."
Namun sesaat kemudian, wajahnya berubah sedikit canggung.
"Maaf, Paman..."
Sha Nuo mengangkat sebelah alisnya.
"Hm?"
Gao Rui menggaruk pipinya pelan.
"Kalau bukan karena aku... Paman pasti bisa langsung terbang menuju reruntuhan itu."
Ia tersenyum pahit.
"Karena aku belum bisa terbang, Paman jadi harus mengurangi kecepatan."
"Aku benar-benar minta maaf."
"..."
Sha Nuo terdiam beberapa saat. Lalu...
"Hahaha!"
Tawa besarnya menggema di jalanan yang lengang.
Gao Rui sedikit terkejut. Sha Nuo menepuk bahunya pelan.
"Tidak masalah."
Ia tersenyum santai.
"Justru sudah lama sekali aku tidak bepergian dengan cara berlari."
Ia mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala.
"Kalau terus-terusan terbang juga membosankan. Sekali-sekali menikmati perjalanan seperti ini tidak buruk."
Mendengar jawaban itu, rasa tidak enak di hati Gao Rui perlahan menghilang. Senyum tipis menghiasi wajahnya.
"Kalau begitu... terima kasih, Paman."
Sha Nuo mengangguk.
"Baik. Ayo kita berangkat."
Selesai berkata demikian, tubuhnya langsung melesat ke depan.
Wush!
Ilmu meringankan tubuhnya membuat langkahnya hampir tidak menimbulkan suara. Dalam sekejap, ia telah melaju puluhan meter.
Gao Rui segera mengedarkan tenaga dalamnya.
Wush!
Tubuhnya ikut melesat menyusul dari belakang.
Keduanya melaju ke arah barat dengan kecepatan tinggi. Jalan berbatu yang membentang panjang mereka lewati begitu saja. Pepohonan di kiri dan kanan berubah menjadi bayangan yang berlalu cepat.
Sha Nuo melirik ke belakang.
"..."
Gao Rui masih mengikuti dengan mudah. Bahkan napas bocah itu masih terdengar stabil.
"Hmm..."
Sha Nuo tersenyum tipis. Tanpa memberi peringatan, ia kembali menambah kecepatannya.
Wush!
Kini tubuhnya melesat jauh lebih cepat.
Medan yang mereka lalui perlahan berubah menjadi jalan menanjak yang membelah perbukitan. Namun beberapa saat kemudian, Sha Nuo kembali menoleh.
Gao Rui masih berada di belakangnya. Jarak mereka memang sedikit bertambah, tetapi bocah itu sama sekali tidak tertinggal jauh.
"Bisa juga.” gumam Sha Nuo pelan.
Ia kembali mempercepat langkahnya. Kecepatannya meningkat lagi. Angin yang berembus kini bahkan mulai mengeluarkan suara siulan saat membelah tubuhnya.
Namun, beberapa menit kemudian. Gao Rui masih berhasil mengikutinya.
Sha Nuo mulai terkekeh kecil.
"Hehe... Kalau begitu..."
"Mari kita lihat sampai di mana batasmu, Rui'er."
Tanpa ragu, ia kembali menambah kecepatan. Sekali, dua kali, lalu sekali lagi. Setiap kali Gao Rui berhasil bertahan, Sha Nuo kembali menaikkan kecepatannya sedikit demi sedikit. Perjalanan mereka kini berubah menjadi ujian tanpa disadari.
Hingga akhirnya Sha Nuo kembali melirik ke belakang.
Kali ini, ia melihat perubahan pada Gao Rui. Napas bocah itu mulai terdengar berat. Dadanya naik turun lebih cepat. Keringat mulai membasahi pelipisnya.
Langkahnya masih stabil, tetapi jelas membutuhkan usaha jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Meski begitu, tidak sekalipun Gao Rui membuka mulut. Ia tidak meminta Sha Nuo memperlambat kecepatan.
Gao Rui tidak mengeluh, dan tidak pula menunjukkan wajah menyerah. Ia hanya menggertakkan giginya pelan sambil terus mempertahankan langkahnya.
Melihat itu, senyum Sha Nuo perlahan melebar.
"Hehe..."
"Ternyata... bocah ini lebih keras kepala daripada yang kuduga."
Di balik tawa kecilnya, muncul rasa kagum yang tulus. Setidaknya, satu hal sudah dipastikan olehnya.
Apa pun kekurangan pengalaman yang dimiliki Gao Rui, bocah itu bukanlah tipe pendekar muda yang mudah menyerah hanya karena menghadapi kesulitan. Itu adalah sifat yang sangat jarang dimiliki oleh seorang jenius yang tumbuh di lingkungan penuh kemewahan.
Sha Nuo kembali menambah sedikit kecepatannya.
Wush!
Tubuhnya melesat semakin cepat, seolah hanya meninggalkan bayangan samar di sepanjang jalan pegunungan. Di belakangnya, Gao Rui langsung menggertakkan gigi. Ia kembali memaksa mengedarkan tenaga dalam hingga batasnya.
Satu tarikan napas. Dua tarikan napas. Lalu...
"Pa... Paman!"
Suara Gao Rui akhirnya terdengar untuk pertama kalinya sejak mereka mulai berlomba dengan kecepatan.
"Terlalu cepat! Aku tidak bisa mengejar lagi!"
Wush!
Sha Nuo segera menghentikan langkahnya. Tubuh besarnya berputar ringan sebelum mendarat di atas sebuah batu besar di pinggir jalan.
"Hahaha!"
Tawa renyahnya langsung pecah.
"Akhirnya menyerah juga."
Tak lama kemudian, Gao Rui menyusul. Begitu tiba, ia langsung membungkukkan badan sambil menopang kedua lututnya.
"Hah... hah..."
Napasnya benar-benar tidak beraturan. Dadanya naik turun dengan cepat, sementara peluh membasahi wajah dan tengkuknya.
Sha Nuo memperhatikannya beberapa saat. Di dalam hati, ia mengangguk pelan.
"Kurang lebih... segini batas kecepatan bocah ini."
Hasilnya bahkan lebih baik daripada perkiraannya. Ia semula mengira Gao Rui akan menyerah jauh lebih cepat. Siapa sangka bocah itu mampu bertahan begitu lama tanpa sekalipun mengeluh.
"Baiklah."
Sha Nuo turun dari batu besar.
"Kita istirahat sebentar."
Gao Rui langsung mengangguk berkali-kali.
"Baik... Paman."
Tanpa membuang waktu, ia mengusap cincin ruang di jari tangannya. Kilatan cahaya tipis muncul. Sebuah kendi air segera berpindah ke tangannya.
Gluk... gluk... gluk...
Ia meneguk air itu beberapa kali sebelum mengembuskan napas lega.
"Hah..."
Setelah itu, Gao Rui berjalan menuju batang pohon besar yang telah tumbang di tepi jalan. Ia duduk di atas batang pohon tersebut sambil menikmati hembusan angin yang melewati perbukitan.
Pandangannya perlahan menyapu sekeliling. Pepohonan tinggi memenuhi hampir seluruh wilayah itu. Jalan berbatu yang mereka lalui membelah hutan kecil dengan beberapa bukit di kejauhan.
"..."
Ia benar-benar belum pernah menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Semuanya terasa asing. Namun justru karena itulah, perasaannya dipenuhi rasa penasaran.
Dengan nada santai, ia menoleh kepada Sha Nuo.
"Paman."
"Hm?"
"Sekarang... kita sudah berada di mana?"
"..."
Pertanyaan sederhana itu membuat Sha Nuo ikut menoleh ke sekeliling. Tatapannya berkeliling perlahan. Bukit, pepohonan, jalan tanah, lalu bukit lagi.
"..."
Sejujurnya Kekaisaran Zhou yang ada sekarang benar-benar berbeda dibandingkan Zhou yang pernah dikenalnya.
Sudah terlalu banyak waktu berlalu sejak dirinya disegel oleh para pendekar karena tubuh monsternya. Ketika akhirnya ia terbangun kembali, dunia sudah berubah.
Jalan-jalan baru bermunculan. Beberapa kota telah menghilang. Sebagian pegunungan bahkan telah berganti nama.
Sha Nuo kembali mengamati arah matahari. Lalu melihat jalan di depan. Kemudian menoleh lagi ke arah bukit di sebelah kanan.
"..."
"Eh..."
"Ini... aku masih berada di jalur yang benar, bukan?" gumam Sha Nuo pelan.
Untuk sesaat, bahkan dirinya sendiri mulai ragu.
Namun, harga dirinya sebagai pemimpin tim jelas tidak mengizinkannya mengakui hal itu pada Gao Rui. Bagaimanapun juga, dialah orang yang memimpin perjalanan ini. Kalau sampai berkata bahwa ia tidak tahu sedang berada di mana, bukankah itu terlalu memalukan?
Beberapa detik kemudian, Sha Nuo tertawa lepas.
"Hahaha!"
Ia menepuk dadanya dengan penuh keyakinan.
"Tenang saja! Kita berada di jalan yang tepat."
"Tidak mungkin salah."
Nada suaranya terdengar begitu mantap hingga seolah tidak menyisakan sedikit pun keraguan. Gao Rui yang mendengarnya langsung tersenyum lega.
"Begitu ya. Kalau Paman bilang begitu... berarti kita memang berada di jalur yang benar."
Ia sama sekali tidak meragukan ucapan Sha Nuo.
Di mata Gao Rui, pria bertubuh besar itu adalah pendekar senior yang telah menjelajahi dunia persilatan dalam waktu yang lama. Tentu saja ia tahu arah tujuan mereka. Sementara itu Sha Nuo ikut tersenyum puas melihat Gao Rui mempercayainya tanpa syarat.
Namun, baik Sha Nuo maupun Gao Rui sama sekali tidak menyadari satu kenyataan. Sejak beberapa waktu yang lalu, jalur yang mereka tempuh telah perlahan menyimpang dari jalan utama menuju reruntuhan kota kuno di wilayah barat.
Bahkan pada hari pertama perjalanan mereka, keduanya telah melenceng dari arah yang seharusnya mereka tuju.