NovelToon NovelToon
Konslet

Konslet

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Penyelamat
Popularitas:236
Nilai: 5
Nama Author: Heriawan

Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MAK SENDOK DAN KIPAS ANGIN MENJERIT

Pelanggan pertama setelah ultimatum pengosongan bukan orang asing. Pelanggannya justru orang yang mengeluarkan ultimatum.

Mak Sendok datang pukul tujuh lewat sepuluh sambil menyeret kipas angin berdiri. Setiap kali roda kecil pada alasnya menyentuh celah semen, kipas itu mengeluarkan bunyi nyaring seperti babi terjepit pagar.

“Nah,” katanya, menaruh kipas di depan kakiku. “Perbaiki.”

Aku memandang pemberitahuan tiga puluh hari yang masih menempel di rolling door. “Ini ujian atau penghinaan?”

“Pekerjaan.”

“Bayarannya?”

“Kalau selesai sebelum siang, kupotong sewa.”

Aku langsung menarik kipas masuk. “Kenapa tidak dari tadi bilang?”

“Karena aku mau lihat dulu muka pengangguranmu kena matahari.”

Mak Sendok adalah pemilik rumah petak, warung kopi, dan bangunan bengkel kami. Tubuhnya kecil, suaranya besar, dan sendok logam selalu terselip di celemek. Konon julukannya lahir karena ia suka mengetuk punggung tangan orang yang mengambil gorengan tetapi lupa membayar. Menurut orang-orang, sendok itu pernah panas. Menurut Mak Sendok, ingatan orang yang berutang memang suka dilebih-lebihkan.

Aku memutar baling-baling dengan tangan. Bunyi itu muncul sekali setiap satu putaran.

“Motor seret,” kataku.

Mak Sendok menyilangkan tangan. “Kalau cuma itu, sudah kuoles minyak goreng.”

Aku berhenti. “Mak oles apa?”

“Minyak. Biar licin.”

“Minyak goreng?”

“Minyak yang ada di warung. Jangan banyak tanya, kau ini teknisi atau penyiar radio?”

Aku mencabut steker dan membuka penutup belakang. Bapak belum datang. Ia pergi ke toko komponen. Itu berarti tidak ada orang yang akan menyuruhku mengisi formulir pemeriksaan untuk sebuah kipas yang suaranya saja sudah mengaku bersalah.

“Gampang ini,” kataku.

“Semua yang kau bilang gampang biasanya menghabiskan uang orang.”

“Mak mau potong sewa atau ceramah?”

“Dua-duanya gratis.”

Kipas itu tua, tetapi kabelnya masih baik. Kapasitor tidak menggembung. Poros motor memang kotor, namun tidak cukup untuk menghasilkan bunyi jeritan. Aku membuka rumah motor, membersihkan debu, dan mengelap sisa minyak goreng yang sudah berubah lengket.

Mak Sendok duduk di bangku sambil mengawasi. Sesekali ia kembali ke warung untuk melayani kopi, lalu muncul lagi tepat saat aku hendak mengambil jalan cepat.

“Kenapa bautnya sisa dua?” tanyanya.

“Itu belum dipasang.”

“Dari tadi kau bilang selesai.”

“Teknisi perlu ruang berpikir.”

“Bautnya juga perlu tempat pulang.”

Aku memasang kembali penutup. Ketika baling-baling diputar, bunyinya masih ada.

Ngiiik.

Mak Sendok mengangguk puas. “Bagus. Sekarang babinya lebih sehat.”

Aku membongkar lagi. Kali ini kuperiksa tiap bagian. Di dalam penutup depan, dekat pengunci baling-baling, ada benda kecil berkilau. Aku menggoyang rumah kipas. Benda itu bergeser dan menimbulkan bunyi yang sama.

Aku memasukkan ujung tang panjang, menjepit benda tersebut, lalu menariknya keluar.

Sebuah sendok teh.

Mak Sendok berdiri. “Itu sendokku.”

“Sendok Mak masuk ke kipas sendiri?”

“Cucuku.”

“Kenapa cucu Mak masukkan sendok ke dalam?”

“Katanya kipasnya lapar.”

Aku mengangkat sendok kecil itu. “Keluarga Mak punya hubungan tidak sehat dengan alat makan.”

Dari depan bengkel terdengar suara Binsar. Sepupuku muncul mengenakan kaus bertuliskan TEKNISI PROFESIONAL meski satu-satunya sertifikat pelatihannya berhenti pada halaman pendaftaran.

“Apa yang terjadi?” tanyanya.

“Kipas makan sendok,” jawabku.

Binsar membuka mulut, mungkin hendak mengeluarkan komentar panjang tentang teori getaran. Mak Sendok menoleh kepadanya sambil menyentuh sendok besar di celemek.

Binsar menutup mulut lagi. “Aku kerja saja, ya?”

Untuk pertama kalinya, keputusan itu terdengar dewasa.

Aku memasang semua bagian dengan benar. Baling-baling dikunci, penutup dirapatkan, baut dikembalikan ke tempatnya. Sebelum menyalakan, aku memeriksa kabel dan steker. Bukan karena takut pada kipas. Aku hanya tidak mau Bapak pulang dan bertanya apakah sudah diuji.

Sementara aku bekerja, penonton mulai terbentuk. Dua anak duduk di tepi selokan. Penjual sayur berhenti mendorong gerobak. Seorang pelanggan warung membawa kopinya keluar. Rupanya berita bahwa Bang Jepot sedang memperbaiki barang milik Mak Sendok lebih menarik daripada sinetron pagi.

“Tidak ada kerjaan kelen?” tanyaku.

“Ini kerjaan hiburan,” jawab penjual sayur.

Mak Sendok menunjuk mereka dengan dagu. “Kalau dia gagal, ada saksi. Kalau berhasil, ada yang bantu angkat.”

Aku mengencangkan mur terakhir lebih keras daripada perlu. Tekanan publik memang tidak masuk buku panduan teknisi, tetapi pengaruhnya nyata. Binsar bahkan mengambil posisi di samping meja seperti asisten resmi, meski tugasnya hanya memegang obeng dan mengulang setiap perkataanku kepada penonton dengan volume dua kali lebih besar. Ketika kusuruh diam, ia mengumumkan bahwa teknisi utama membutuhkan konsentrasi. Penonton mengangguk seolah kami sedang menangani turbin pembangkit, bukan kipas yang menelan sendok teh. Aku membiarkan kesalahpahaman itu hidup karena untuk sekali ini reputasiku terdengar sedikit profesional.

“Sudah,” kataku. “Sekarang lihat.”

Kipas dinyalakan pada kecepatan satu. Motor berputar halus. Tidak ada jeritan. Aku menaikkan kecepatan dua, lalu tiga. Baling-baling berputar cepat dan meniup udara ke seluruh bengkel.

Aku berdiri dengan dada sedikit maju. “Cemana?”

Mak Sendok mendekat. “Miring sikit.”

“Tidak miring.”

“Anginnya ke atas.”

“Itu bisa diatur.”

Aku menarik kepala kipas ke bawah. Pengunci yang belum rapat terlepas. Dalam satu gerakan yang terlalu cepat untuk dicegah, baling-baling terlepas dari poros, menghantam penutup depan, lalu meluncur keluar.

Baling-baling itu tidak mengenai siapa pun. Syukurlah.

Namun, angin terakhirnya menyapu meja Mak Mina yang baru dipenuhi bungkus cabai. Belasan kantong kecil sambal terbang ke depan bengkel. Tiga menempel pada wajah Mak Sendok. Satu jatuh di kepala Binsar. Sisanya berhamburan ke gang seperti selebaran kampanye.

Anak-anak yang bermain kelereng berhenti. Penjual sayur menoleh. Dua pelanggan warung tertawa sampai meja mereka bergoyang.

Mak Sendok berdiri diam dengan bungkus cabai di pipi.

Aku mencabut steker. “Ini… penguncinya kurang rapat.”

“Hebat,” katanya pelan. “Diagnosismu makin dekat.”

Binsar mengambil sambal dari rambutnya. “Secara teknis, tidak ada korban jiwa.”

Mak Sendok mengangkat sendok besar.

Binsar mundur. “Aku bersihkan gang.”

Aku memasang kembali baling-baling, kali ini memeriksa pengunci tiga kali. Kipas dinyalakan dan tetap utuh. Mak Sendok berdiri di depannya selama satu menit, menguji angin dengan wajah tanpa ekspresi.

“Berapa potongan sewa?” tanyaku.

Ia masuk ke warung, mengambil buku utang kopi, lalu mencoret satu baris.

Aku menunggu angka yang layak. “Berapa?”

“Harga satu kopi.”

“Mak bilang potong sewa.”

“Kopi yang kau utang masuk sewa warung.”

“Itu cuma delapan ribu.”

“Tujuh ribu. Jangan tambah keuntungan sendiri.”

“Pekerjaan ini setengah hari!”

Mak Sendok mendorong kipasnya ke warung. “Kalau tidak menerbangkan sambal, mungkin sepuluh ribu.”

Satu gang kembali tertawa. Aku berdiri di depan bengkel sambil memegang mur pengunci dan menyadari hari pertama mencari uang menghasilkan potongan sewa sebesar harga segelas kopi.

1
Kustri
ini cerita ttg apa thor✌
Kustri
mau ketawa takut karma🫣
Kustri
penasaran ama bang J✌(lbh keren)
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!