Bima mengira ia bisa mengubur masa lalunya yang kelam di Desa . Mantan komandan regu pasukan khusus ini memilih hidup bersahaja sebagai petani jagung dan pemancing di tepi sungai demi melarikan diri dari trauma perang. Namun, kedamaian yang ia bangun susah payah runtuh setiap kali ia teringat pada Joni, sahabat sekaligus anak buahnya yang gugur dalam pelukan Bima akibat terjangan peluru senapan mesin musuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
perjodohan
Pada Minggu sore, alun-alun bergemuruh oleh sorakan penonton yang mengelu-elukan nama Bima. Yah, Bimalah yang menjadi juara pertama pada pertarungan itu. Keberanian dan ketangguhannya di atas arena berhasil menyihir seluruh pasang mata yang menyaksikannya. Tidak terkecuali para penonton wanita yang langsung bersorak histeris tanpa malu-malu.
"Bimaaaaaa, aku cinta kamu...!"
"Bimaaaaa, kita nikaaaahhhh yuukkk!"
"Bimaaa, rahimku hangat...!"
Mendengar seruan yang kelewat berani itu, para penonton lain langsung menoleh serentak ke arah sumber suara. Keheningan sempat tercipta sesaat sebelum akhirnya desas-desus menggelitik mulai terdengar di antara kerumunan pria.
"Hedeh, wanita sekarang memang terlalu agresif," komentar mereka sambil menggeleng-gelengkan kepala, separuh tak habis pikir dan separuh lagi iri dengan pesona sang juara baru.
Bima yang berdiri di tengah arena hanya bisa tersenyum canggung, mencoba mengabaikan sorakan liar yang membuat telinganya sedikit memerah. Di saat riuh rendah penonton masih memenuhi udara sore, tak lama ada seorang pelayan yang mulai menaiki arena dan berjalan menghampiri Bima dengan langkah teratur.
"Maaf, Tuan Bima. Aku disuruh Nyonya Besar untuk menyambut Anda," ucap pelayan itu sambil membungkuk hormat, memotong keriuhan di sekitar mereka.
"Terima kasih, Pak," kata Bima sambil menyeka keringat di pelipisnya. Namun, dia melihat ke bawah, memperhatikan kondisi tubuhnya yang penuh debu arena. "Namun, seperti yang Anda lihat, badan saya lengket dan bau. Saya harus membersihkan diri dulu. Tak pantas rasanya kalau menghadap Nyonya Besar dengan keadaan begini."
Pelayan itu tersenyum tipis, seolah sudah memprediksi kekhawatiran Bima. "Tuan Bima ikut saja. Semua keperluan sudah kami sediakan."
Tanpa memberikan ruang untuk mendebat, pelayan tersebut mengarahkan Bima menuju sebuah mobil hitam mewah yang sudah menunggu di balik barisan pengawal. Bima akhirnya melangkah masuk, membiarkan dirinya dibawa pergi meninggalkan riuh pasar yang perlahan mengecil di kejauhan.
Mobil mewah dengan suspensi empuk itu akhirnya berhenti tepat di depan teras sebuah mansion megah bergaya Eropa klasik. Pintu mobil terbuka, dan Bima melangkah keluar dengan penampilan yang benar-benar berubah drastis.
Pakaian lamanya yang berupa celana kain lusuh penuh noda tanah dan kaus oblong yang pudar telah digantikan oleh setelan modern yang disiapkan khusus untuknya. Bima kini mengenakan celana bahan premium berwarna hitam pekat yang jatuh dengan pas di kakinya, dipadukan dengan kemeja putih bersih yang kancing atasnya sengaja dibiarkan terbuka satu, serta dibalut dengan jas kasual berwarna abu-abu tebal. Potongan pakaian yang pas badan itu mencetak dengan jelas lekuk tubuh Bima yang atletis, dada yang bidang, dan bahu kokoh yang terbentuk dari latihan militer bertahun-tahun.
Rambutnya yang hitam kini tertata rapi setelah basah oleh air. Kombinasi antara wajah maskulin dengan tegas, kulit sedikit kecokelatan yang eksotis, dan gaya berpakaian kasual-elegan tersebut memancarkan aura karisma yang sangat kuat. Siapa pun wanita yang melihat perubahan drastis ini pasti akan langsung terpesona, terpaku memandang ketampanan yang matang dan berwibawa dari sang mantan komandan regu pasukan khusus.
Pelayan tua yang bertemu di depan sepasang pintu gantung berukiran emas yang megah, lalu membukanya dengan gerakan perlahan. "Silakan masuk, Tuan Bima. Nyonya Besar dan Nona Viona sudah menunggu Anda di dalam," ucap pelayan itu sembari membungkuk hormat.
Bima mengangguk kecil sebagai tanda terima kasih, lalu melangkah melewati ambang pintu. Ruang tamu utama mansion tersebut jauh lebih luas dari perkiraannya, didominasi oleh perabotan klasik bergaya Eropa dengan jendela-jendela kaca besar yang langsung menghadap ke arah taman bunga yang asri di area luar. Di salah satu sudut ruangan, tepat di atas sofa beludru berwarna merah marun, duduk dua orang wanita yang menjadi pusat perhatian di tempat itu.
Wanita pertama adalah seorang lansia berambut putih yang disanggul rapi. Meskipun usianya sudah senja dan wajahnya dipenuhi garis-garis keriput, pandangan matanya tetap terlihat tajam, cerdas, dan memancarkan wibawa yang luar biasa besar sebagai Nyonya Besar dari keluarga konglomerat penguasa wilayah Utara. Sementara di sebelah wanita tua itu, duduk seorang gadis muda yang kecantikannya sanggup membuat siapa saja menahan napas.
Gadis itu adalah Viona. Dia memiliki sepasang mata bulat yang indah dengan bulu mata lentik, hidung mancung yang sempurna, serta bibir tipis kemerahan yang saat ini tampak sedikit dikerutkan. Rambut panjangnya yang berwarna hitam kecokelatan dibiarkan tergerai indah membingkai wajahnya yang oval. Viona mengenakan gaun kasual berwarna biru muda yang mengekspos bagian bahunya, memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya yang sangat proporsional, ramping, sekaligus elegan khas seorang putri bangsawan modern. Namun, di balik penampilannya yang bak malaikat tersebut,
Sifat tsundere-nya masih melekat sangat kuat. Ego dan harga dirinya yang tinggi sebagai cucu tunggal semata wayang dari orang paling berpengaruh di wilayah Utara membuatnya enggan menunjukkan rasa kagum secara terang-terangan kepada orang lain, terutama kepada seorang pemuda yang baru saja datang dari kalangan bawah seperti Bima.
Melihat kehadiran Bima, Nyonya Besar tersenyum hangat dan mengangguk ramah, menyiratkan rasa puas setelah melihat ketegasan pemuda yang memenangkan kompetisi tersebut. Di sisi lain, Viona sempat terkesima beberapa detik saat matanya menangkap sosok Bima yang sekarang. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat melihat betapa gagah dan karismatiknya pria yang berdiri di depannya sekarang. Ada semburat merah tipis yang sempat mampir di kedua pipinya, namun dengan cepat dia memalingkan wajahnya ke arah lain, melipat kedua tangannya di depan dada, dan memasang wajah cemberut yang ketat untuk menutupi rasa gugup serta ketertarikannya.
"Jadi, ini yang namanya Bima? Si pemenang turnamen pasar itu?" ucap Viona dengan nada suara yang sengaja dibuat dingin dan meremehkan. Dia melirik Bima dari sudut matanya dengan dahi berkerut. "Penampilanmu setelah berganti baju memang lumayan, tidak seburuk saat di ring tadi penuh keringat. Tapi tetap saja, aku tidak menyangka Nenek sampai harus mengadakan kompetisi besar-besaran hanya untuk mencari orang seperti ini. Padahal banyak pria terhormat di luar sana yang jauh lebih meyakinkan daripada seorang petarung jalanan."
Mendengar ucapan ketus dari cucunya, Nyonya Besar hanya bisa menghela napas panjang dan menggelengkan kepala perlahan, memaklumi tabiat Vioan yang selalu sulit jujur pada perasaannya sendiri. "Viona, jaga bicaramu. Tidak sopan menyambut tamu kehormatan kita dengan kata-kata seperti itu," tegur Nyonya Besar dengan suara lembut namun sarat akan ketegasan. Beliau kemudian mengalihkan pandangannya kembali kepada Bima, memberi isyarat tangan agar pemuda itu duduk di sofa tunggal yang berada di hadapan mereka. "Silakan duduk, Bima. Jangan masukkan ke dalam hati ucapan cucuku ini. Dia memang anak yang manja dan keras kepala, tetapi sebenarnya dia tidak bermaksud buruk."
Bima tersenyum santai, sama sekali tidak merasa tersinggung oleh sikap sinis yang ditunjukkan oleh Viona. Baginya, intimidasi atau kata-kata ejekan seperti itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan tekanan mental yang pernah dia hadapi di medan pertempuran yang sesungguhnya. Dia melangkah maju lalu menduduki sofa tersebut dengan posisi tubuh yang tetap tegak namun santai.
"Terima kasih atas sambutannya, Nyonya Besar. Saya sama sekali tidak mempermasalahkannya," jawab Bima dengan suara baritonnya yang tenang dan terdengar sangat dewasa. Dia kemudian mendapat kesempatan melirik ke arah Vioan yang masih memalingkan wajah dengan ekspresi angkuh. "Nona Viona benar, saya hanyalah seorang pemuda biasa yang kebetulan beruntung hari ini. Jadi sangat wajar jika Nona merasa sangsi dengan kehadiran saya."
Mendengar jawaban Bima yang begitu tenang dan tidak terpancing emosi, Viona justru merasa sedikit kesal sekaligus penasaran. Biasanya, para pemuda kaya atau pria-pria yang mencoba mendekatinya akan langsung gugup, salah tingkah, atau justru pamer kekuatan di hadapannya demi mendapatkan perhatian. Namun, pria di depannya ini justru bersikap sangat acuh, tenang, dan memiliki sorot mata yang begitu dalam seolah-olah bisa membaca setiap isi pikirannya.
"Hmph! Baguslah kalau kamu sadar diri," sahut Viona ketus, meskipun dalam hatinya dia mulai mengagumi ketenangan yang ditunjukkan oleh Bima. Dia membetulkan posisi duduknya, lalu menatap Bima dengan pandangan menyelidik. "Jangan kira karena kamu sudah menang tarung tangan kosong di luar sana, kamu bisa bersikap santai di sini. Menjadi pemenang di kompetisi itu hanya memberimu kesempatan untuk mengenalku, bukan berarti kamu bisa langsung menjadi bagian penting dari keluarga ini. Uang 100 juta itu sudah lebih dari cukup untuk membayar keringatmu, kan?"
"Viona, cukup," potong Nyonya Besar, kali ini dengan nada yang sedikit lebih berat, membuat cucunya itu akhirnya terdiam dan memilih untuk mengerucutkan bibirnya melirik ke jendela luar. Nyonya Besar kemudian menatap Bima dengan tatapan yang penuh arti dan kehangatan. "Bima, aku sengaja menyuruh pelayanku untuk membawamu langsung ke sini karena aku tidak hanya mencari seorang pemenang pertarungan. Kompetisi yang diadakan hari ini sebenarnya adalah cara terselubung untuk menyaring pemuda-pemuda terbaik di kota ini."
Nyonya Besar menjeda kalimatnya sejenak, melirik ke arah Vioan yang mulai tampak gelisah, lalu kembali menatap Bima dengan senyum penuh rencana. "Vioan adalah cucu tunggal sewenang-wenangku, satu-satunya penerus silsilah keluarga konglomerat Utara yang tersisa. Aku sudah terlalu tua untuk terus mengurusnya, dan aku membutuhkan seorang pria yang kuat, bermental baja, serta mampu membimbingnya di masa depan. Singkatnya, Bima... aku ingin menjodohkanmu dengan cucuku, Viona."
Mendengar pernyataan blak-blakan dari neneknya, Viona langsung melompat berdiri dari sofanya dengan mata terbelalak kaget dan wajah yang memerah sempurna sampai ke telinga.
"Apa?!
Nenek, apa-apaan ini?!
Dijodohkan?!
Kenapa tiba-tiba bicara soal perjodohan, apalagi dengan orang asing yang baru beberapa menit lalu masuk ke rumah kita ini?!
Aku tidak mau! Aku tidak sudi dijodohkan dengan pria dari pasar!" protes Viona dengan nada suara yang meninggi dan napas yang terengah-engah. Dada besarnya naik turun menahan rasa campur aduk antara kesal, malu, dan debaran jantung yang tiba-tiba berpacu sangat liar membayangkan dirinya menjadi istri dari pemuda gagah di depannya.
"Duduk kembali, Viona. Keputusanku tidak bisa diganggu gugat," ujar Nyonya Besar dengan nada tenang namun mematikan, seketika membuat Viona mati kutu. Gadis cantik itu akhirnya dengan terpaksa menghempaskan kembali tubuhnya ke sofa dengan kasar, memalingkan wajahnya sejauh mungkin ke arah jendela luar, menutupi rona merah merona di pipinya yang semakin matang. Dia terus mendengus kesal dengan melipat tangannya erat-erat, benar-benar menunjukkan sisi tsundere-nya yang sedang meledak-ledak.
Sementara itu, Bima tertegun di tempat duduknya. Lamaran mendadak ini benar-benar di luar kalkulasinya. Menolak mentah-mentah tawaran dari penguasa Wilayah Utara tentu akan menutup semua jalannya untuk bertahan di kota ini. Namun di sisi lain, menerima perjodohan ini berarti dia akan masuk ke dalam lingkaran kekuasaan tertinggi Kota Barat—sebuah posisi yang sangat strategis untuk mengumpulkan dana besar, membangun relasi, dan mempermudah segala tujuannya di masa depan untuk menepati janji pada mendiang Joni. Hadiah 100 juta saja sudah di tangan, dan kini status sebagai calon menantu konglomerat Utara terbuka lebar di hadapannya.
Bima menarik napas dalam-dalam, menatap Nyonya Besar dengan pandangan mata yang mantap dan penuh rasa hormat. "Nyonya Besar, sebuah kehormatan yang luar biasa bagi saya yang hanya orang biasa ini. Jika Nyonya Besar menaruh harapan sebesar itu kepada saya untuk mendampingi Nona Vioan, maka saya tidak memiliki alasan untuk menolaknya. Saya bersedia menerima perjodohan ini."
Mendengar kalimat persetujuan Bima yang terdengar begitu jantan, tegas, dan tanpa keraguan, jantung Viona kembali berdenyut hebat bagai dihantam ombak. Dia melirik Bima dari balik helaian rambutnya, menggigit bibir bawahnya karena merasa kalah telak. Namun dasar sifat gengsinya yang setinggi langit, dia tetap saja mendengus pelan dan bergumam dengan suara yang sangat lirih, "Dasar pria tidak tahu malu... langsung setuju saja karena melihat kekayaan keluargaku. Awas saja kamu nanti..."
Nyonya Besar tertawa renyah, merasa sangat puas karena rencananya berjalan mulus. Pertemuan sore itu akhirnya menutup lembaran kompetisi pasar dan resmi membuka babak baru yang penuh dengan intrik dalam kehidupan Bima. Status barunya sebagai calon suami dari putri konglomerat Utara kini telah resmi dimulai, mengikat takdirnya bersama sang gadis tsundere dalam lingkaran takdir yang baru.