Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Bip... Bip... Bip...
Suara gelang di pergelangan tangan Zain berbunyi kian cepat. Lampu hijau pada cincin logam itu berkedip-kedip pelan.
Lalu... suara yang telah puluhan tahun membisu mendadak memenuhi ruangan.
Wuuuuummm...
Bukan raungan mesin menyala, melainkan dengung listrik berat yang seolah baru saja terbangun dari tidur panjang.
Semua orang membeku.
Ardi buru-buru mengeluarkan alat pengukur. "Prof..." panggilnya dengan suara bergetar. "Ada aliran listrik."
Profesor mengernyit heran. "Dari mana?"
"Saya juga tidak tahu. Padahal gedung ini belum disambungkan ke jaringan listrik sama sekali."
Semua kabel utama sudah diputus bertahun-tahun lalu. Secara logika, mustahil alat itu bisa mendapat daya. Namun kenyataannya, lampu indikator di sana terus menyala.
Profesor melangkah mendekati panel utama, lalu menyapu debu tebal yang menutupi permukaannya. Di balik debu itu, terdapat sebuah layar monokrom kecil yang perlahan-lahan mulai hidup. Satu per satu, huruf berwarna hijau terang bermunculan di sana:
《IDENTITAS TERDETEKSI》
Beberapa detik kemudian, baris tulisan berikutnya menyusul:
《SUBJEK Z》
Zain menelan ludah. "Itu... nama saya?"
Profesor menggeleng. "Bukan nama. Itu kode. Tapi... kode itu sekarang mengenalimu."
Layar kembali berganti:
《SELAMAT DATANG KEMBALI》
Ruangan seketika hening mencekam. Tak ada seorang pun yang menyentuh panel. Tidak ada keyboard, juga tidak ada komputer lain yang aktif. Namun, alat itu seolah-olah sedang berbicara secara khusus kepada Zain.
Ardi dengan cepat memotret layar tersebut. "Prof... ini jelas bukan kebetulan lagi."
Profesor mengangguk pelan. "Ya. Alat ini... memang sedang menunggu seseorang."
Zain maju beberapa langkah. "Kalau benar menunggu... kenapa harus saya?"
Belum sempat ada yang menjawab, layar kembali berubah. Huruf-huruf muncul perlahan, seakan sistem tua itu sedang bersusah payah memanggil kembali ingatannya.
《OTORISASI TAHAP SATU BERHASIL》
MEMUAT LOG TERAKHIR...
Semua orang menahan napas. Layar berkedip sekali, lalu memunculkan sebuah nama:
《PROF. SURYA PRATAMA》
STATUS: BELUM MENYELESAIKAN MISI
Profesor membeku. "Misi?" gumamnya lirih. "Aku tidak pernah..."
Kalimatnya terhenti mendadak. Kepalanya berdenyut hebat secara tiba-tiba. Sekilas bayangan asing melintas cepat di benaknya: lorong putih melingkar, suara alarm yang membingakkan, tangisan seorang anak kecil, dan cahaya putih yang sangat menyilaukan.
Profesor mengerang sambil memegang kepalanya.
"Prof!" Ardi sigap menahan tubuh sang profesor agar tidak jatuh.
"Aku... aku ingat sesuatu..." bisik Profesor gagu. "Tapi masih samar..."
Di saat yang sama, Zain melangkah semakin dekat ke arah cincin logam tanpa sadar. Begitu jaraknya tersisa sekitar satu meter, gelang sensor di tangannya berbunyi nyaring dan panjang.
Biiiiiiiiip...
Bagian dalam cincin logam itu mulai memancarkan cahaya kebiruan. Tidak terlalu terang, hanya menyerupai kabut tipis yang berputar perlahan.
Profesor mendongak. Wajahnya seketika pucat pasi. "Semua mundur!" teriaknya.
Ardi langsung menarik para teknisi untuk menjauh. Namun, Zain tetap terpaku di tempatnya. Bukan karena ia enggan bergerak, melainkan karena ia merasakan ketertarikan yang aneh.
Dari balik pusaran cahaya biru itu, samar-samar terdengar bisikan suara seorang anak kecil:
"Jangan pergi..."
Mata Zain membelalak sempurna. Suara samar itu... adalah suara dirinya sendiri di masa lalu.
"Jangan pergi..."
Suara itu kembali terdengar. Sangat pelan, seolah datang dari dimensi yang amat jauh. Namun, Zain mengenali intonasinya dengan sangat pasti. Itu memang suaranya—suara seorang anak kecil berusia lima tahun.
"Zain!" teriak Ardi panik. "Mundur!"
Namun, kedua kaki Zain terasa begitu berat. Bukan karena ada kekuatan gaib yang menahannya, melainkan karena rasa penasaran yang mendesak di dalam dadanya. Ia terus menatap pusaran cahaya di tengah-tengah cincin logam. Kabut kebiruan itu perlahan-lahan berputar, kian lama kian jernih.
Di sisi lain, Profesor Surya buru-buru memencet panel kendali. "Tolong hidup..." gumamnya berulang kali. Jarinya menekan beberapa tombol secara acak, tetapi tak ada respons. Sistem itu terlalu tua; hampir seluruh fungsinya telah mati. Hanya layar monokrom kecil yang masih bertahan hidup dan kini menampilkan baris tulisan baru:
AKSES MEMORI RESONANSI
STATUS: STABIL
Ardi membacanya keras-keras. "Memori resonansi?"
Profesor menggeleng cepat. "Bukan. Itu bukan memori komputer."
"Lalu apa?"
Profesor menatap pusaran cahaya itu tanpa berkedip. "Kalau dugaanku benar... itu adalah rekaman energi."
Perlahan, kabut di dalam cincin mulai membias dan berubah bentuk. Bayangan sebuah ruangan muncul secara bertahap—ruangan yang sama dengan tempat mereka berdiri saat ini, namun terlihat jauh lebih baru. Cat dindingnya masih bersih, lampu-lampu menyala terang, dan para peneliti tampak lalu-lalang di sana. Mereka seolah sedang menyaksikan rekaman masa lalu yang hidup kembali.
"Tidak mungkin..." bisik Ardi tak percaya.
Di dalam bayangan visual itu, seorang anak kecil tampak berlari gembira sambil membawa gantungan kunci berbentuk roket berwarna biru.
Zain membeku. "Itu... saya."
Tak lama kemudian, Pak Hasan versi muda masuk ke ruangan seraya menggendong Zain kecil, lalu menurunkannya di dekat meja—persis seperti adegan yang mereka lihat di kaset lama. Namun kali ini, rekamannya tidak terputus dan terus berlanjut.
Di masa lalu itu, Profesor muda tampak sedang berdiskusi sengit dengan beberapa peneliti.
"Kalibrasi selesai," ujar Profesor muda di dalam rekaman. "Inti Resonansi stabil. Kita hanya akan melakukan uji coba selama lima detik."
Ardi versi muda mengangguk. "Bagaimana kalau lebih?"
"Langsung hentikan," tegas Profesor muda.
Tiba-tiba, Zain kecil melepaskan diri dari pengawasan. Anak itu berlari riang ke arah cincin logam.
"Eh!" teriak Pak Hasan muda berusaha mengejar. Namun, ia terlambat.
Begitu jemari kecil itu menyentuh rangka logam, seluruh ruangan seketika diterjang cahaya putih yang menyilaukan—persis seperti akhir dari rekaman kaset. Bedanya, kali ini mereka bisa melihat potongan peristiwa yang selama ini hilang.
Seketika, waktu seolah berhenti berputar. Semua orang di dalam rekaman membeku di tempat. Kertas-kertas yang tadinya melayang tiba-tiba berhenti di udara, dan lampu yang berkedip mendadak diam membisu.
Hanya ada dua orang yang masih bisa bergerak di dalam keheningan waktu itu: Profesor muda dan Zain kecil.
Profesor muda memandang sekelilingnya dengan wajah pucat pasi. "Lima detik..." gumamnya bergetar. "Bukan... ini bukan sekadar lima detik..."
Di tengah pusaran cahaya, Profesor muda lalu berlutut di hadapan Zain kecil. Ia memegang kedua bahu anak itu erat-erat. Meski suaranya tidak terdengar jelas, gerakan bibirnya dapat dibaca dengan sangat mudah:
"Dengarkan baik-baik... Kalau suatu hari nanti kamu kembali ke sini... jangan biarkan kami mengulangi kesalahan yang sama."
Setelah membisikkan kalimat itu, Profesor muda mendorong pelan tubuh Zain kecil agar menjauh dari cincin logam.
Srettt!
Sesaat kemudian, cahaya putih kembali membuncah dan memenuhi ruangan. Bayangan masa lalu itu terhempas menghilang. Pusaran biru di tengah cincin mengecil dengan cepat, lalu lenyap tak berbekas.
Ruangan kembali gelap gulita. Hanya suara helaan napas mereka bertiga yang terdengar memburu. Tak seorang pun sanggup bersuara selama beberapa saat.
Hingga akhirnya, Profesor Surya terduduk lemas di lantai.
Kini ia mengerti sepenuhnya. Kalimat "Jangan ulangi kesalahan yang sama" bukanlah pesan yang ditulis untuk dirinya di masa lalu... akan tetapi petunjuk untuk dirinya di masa depan. Dan sosok yang menulis peringatan tersebut tak lain adalah dirinya sendiri