"Tante Kei, mau nggak jadi mamanya Rafka?"
"What!! Berarti jadi Ibu Persit dong? Dan jadi bini Mayor kaku kayak kanebo?"
Mayor Satria Pramudya, 33 tahun, sudah lima tahun menduda, keluarganya sudah mendesaknya untuk menikah lagi. Sementara, Rafka, anaknya sejak lahir sudah dekat dengan adik istrinya–Keisa Azzura, 21 tahun.
"Dek, kamu yakin Kakak boleh nikah lagi?"
"Ya, boleh lah, masa dilarang. Nanti ularnya bisa karatan loh ... lama-lama menduda. Lagian, Rafka juga butuh sosok ibu."
"Kalau begitu Kakak boleh melamar Adek?"
"Eh, Apa! Maksud Kak Satria gimana?
Keisa tak menyangka kakak iparnya meminang, sedangkan ia sudah punya cowok incaran. Apalagi Satria tidak pernah mengucapkan kata cinta dan ada sesuatu...
Bagaimanakah rumah tangga Satria yang kaku menghadapi Keisha yang barbar? Belum lagi ada rahasia Satria yang tiba-tiba...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Minyak Urut
Baru saja Keisha hendak membuka mulutnya lagi untuk mengeluarkan rentetan kalimat barbar, sebuah sengatan rasa sakit yang luar biasa kembali menghantam pergelangan kakinya saat Satria mulai melangkah naik.
"Auuuw! Sakit, Ibuuu!" seru Keisha akhirnya, kembali memejamkan mata rapat-rapat sambil meremas kuat kerah kaos polo biru tua yang dikenakan Satria.
Pada detik itu, rasa sakit fisik yang mendera kakinya ternyata jauh lebih besar dan mendominasi ketimbang rasa berdebar-debar di dalam dadanya. Padahal, jika dalam kondisi normal, digendong sedekat ini oleh kakak iparnya yang berwajah tampan, berpostur gagah, ditambah dengan aroma parfum maskulin bercampur wangi sabun militer yang sangat maskulin ini pasti sudah sukses membuat Keisha terkena serangan jantung saking baper-nya. Namun malam ini, Keisha hanya bisa pasrah membenamkan wajahnya di dada bidang Satria, mencari tumpuan untuk menahan rasa sakit yang membuat seluruh tubuhnya gemetar.
Satria terus melangkah naik menapaki satu per satu anak tangga kayu dengan sangat hati-hati. Setiap langkahnya begitu kokoh, memastikan tubuh dalam gendongannya tidak mengalami guncangan yang berarti.
Melalui sela-sela matanya yang terpejam, Keisha tidak bisa melihat bagaimana ekspresi wajah Satria saat ini. Di balik topeng wajah kaku dan sedingin es yang selalu pria itu tunjukkan di depan semua orang, rahang Satria sebenarnya sedang mengetat kuat. Sepasang mata tajam milik sang Mayor menatap lekat-lekat wajah pucat Keisha yang berada di dalam dekapannya. Ada kilat kepanikan dan rasa khawatir yang begitu mendalam tersorot dari manik matanya—sebuah emosi langka yang selama lima tahun ini selalu ia sembunyikan rapat-rapat di balik seragam militernya.
Satria menghela napas pendek yang terasa hangat di kening Keisha, mempercepat langkah kakinya menuju kamar lantai atas demi segera menyelamatkan gadis barbar yang entah sejak kapan mulai mengusik kedamaian hatinya yang telah lama membeku.
Tak lama kemudian, pria itu mendorong pintu kamar Keisha dengan pundaknya, lalu melangkah masuk tanpa menurunkan intensitas dekapannya sedikit pun. Ia meletakkan tubuh Keisha di atas kasur berseprai motif kotak-kotak itu dengan sangat hati-hati, memastikan punggung gadis itu bersandar nyaman pada tumpukan bantal.
Begitu dilepaskan dari gendongan, Keisha langsung menarik kedua kakinya menjauh, mencoba meringkuk di sudut kasur dekat dinding. Wajahnya yang pucat pasi menatap Satria dengan pandangan penuh kewaspadaan, mirip kucing liar yang siap mencakar jika didekati.
"Makasih Kak–"
Tok! Tok!
Pintu kamar yang terbuka lebar diketuk dua kali oleh Ibu Dania yang masuk dengan napas sedikit terengah-engah. Di tangannya sudah ada sebotol minyak urut aroma sereh dan selembar handuk kecil berwarna putih.
"Ini, Satria, minyak urutnya. Tolong dicek benar-benar ya. Ibu tadi lihat pergelangan kakinya sudah agak bengkak itu," ujar Ibu Dania sembari menyerahkan botol tersebut kepada menantunya.
"Terima kasih, Bu," jawab Satria formal.
Melihat botol minyak urut itu sudah berpindah tangan ke cengkeraman Satria, Keisha semakin panik.
"Kak, udah ... taruh situ aja minyaknya. Nanti biar Ibu atau Keisha sendiri yang balurin. Kak Satria keluar aja, gih! Kamar anak perawan enggak boleh dimasukin cowok malam-malam!" usir Keisha dengan sisa-sisa tenaganya, mencoba mencari alasan logis demi menjauhkan pria itu.
Satria tidak bergeming. Pria itu justru mengambil posisi duduk di tepi ranjang, tepat di dekat ujung kaki Keisha. Tatapan matanya yang tajam dan sedingin es langsung mengunci pergerakan Keisha. "Diam, Keisha. Jangan bebal. Kakak hanya ingin memastikan tidak ada tulang yang bergeser."
"Enggak ada yang geser, Kak! Ini cuma kaget aja ototnya!" bohong Keisha, padahal denyutan di pergelangan kaki kanannya sudah membuat matanya berkaca-kaca.
Namun, sebelum ia sempat merangkak mundur lebih jauh, tangan besar Satria sudah bergerak lebih cepat. Dengan gerakan yang sangat telaten namun tegas, Satria mencengkeram lembut pergelangan kaki kanan Keisha, menahannya agar tidak bisa ditarik kembali.
Kedua jemari kokoh Satria kemudian beralih ke ujung celana jin putih yang dikenakan Keisha. Saat jemari kaku itu mulai menggulung kain jin tebal tersebut ke atas hingga melewati betis, atmosfer di dalam kamar mendadak berubah drastis bagi Keisha.
Rasa canggung yang luar biasa tiba-tiba saja menyergap seluruh permukaan kulitnya. Jantung Keisha yang tadi berdegup kencang karena rasa sakit fisik, kini justru berpacu karena alasan yang sama sekali berbeda. Keisha menahan napasnya rapat-rapat, matanya menatap lurus pada jemari tangan Satria yang bersentuhan langsung dengan kulit betisnya.
Mau bagaimanapun, Keisha menyadari satu hal yang krusial malam ini: ia bukan lagi bocah ingusan berusia 12 tahun yang dulu suka merengek minta digendong atau dibelikan es krim cokelat. Sekarang dia sudah menjadi seorang wanita dewasa berusia dua puluh tahun. Sentuhan fisik dari seorang pria—meskipun pria itu adalah kakak iparnya sendiri yang selama 5 tahun ini selalu ia anggap sebagai pengganti sosok kakak kandung—terasa sangat aneh dan tidak biasa. Kulit tangan Satria yang sedikit kasar khas kapalan tentara terasa begitu hangat, bahkan cenderung membakar kulitnya yang dingin.
"Aduh, kok mendadak hawa kamarku jadi panas banget sih? Ini AC-nya rusak apa gimana?" batin Keisha panik, berusaha keras mengenyahkan pikiran-pikiran absurd dan perasaan canggung yang mulai merusak kewarasannya. "Ingat, Keisha! Dia Kak Satria! Kanebo kering yang galaknya minta ampun! Dia cuma lagi mode menolong korban kecelakaan kerja!"
Satria menuangkan beberapa tetes minyak urut ke telapak tangannya, menggosok kedua tangannya hingga hangat, lalu mulai membalurkannya ke area pergelangan kaki Keisha yang mulai tampak memerah dan membengkak. Matanya fokus, meneliti struktur tulang kaki adik iparnya dengan saksama.
"Ini akan sedikit sakit. Tahan," ucap Satria memberi peringatan singkat dengan nada suara yang teramat rendah.
"Eh? Kak, pe-pelan—"
Krek!
"ADUH MATI AKU, KAK! IBUUU, KEISHA MAU MATI!"
Jeritan melengking bagai lumba-lumba kejepit langsung lolos dari tenggorokan Keisha saat jempol besar Satria memberikan tekanan kuat, mengurut satu jalur urat yang melintir di pergelangan kakinya. Tubuh Keisha refleks melonjak ke atas, air matanya yang sejak tadi ditahan langsung merembes keluar membasahi pipi. Rasa sakitnya begitu luar biasa, seolah-olah kakinya sedang digilas oleh tank tempur.
"Keishaaa! Jangan teriak-teriak malam-malam, berisik! Nanti tetangga mengira ada pembunuhan!" tegur Ibu Dania yang ikut panik melihat anaknya histeris.
"Tapi ini sakit banget, Ibuuuu ... aaah—"
Belum sempat Keisha menyelesaikan protesnya untuk yang kedua kali, Ibu Dania dengan gerakan kilat yang tidak terduga langsung melipat handuk kecil di tangannya dan ... puk!
Ibu Dania sukses menyumpel mulut anak bungsunya itu dengan handuk putih tersebut.
"Mmmph! Mmmph!" Keisha melotot tajam ke arah ibunya dengan mata yang dipenuhi air mata, merasa dikhianati oleh ibu kandungnya sendiri di saat-saat genting seperti ini.
Bersambung...
Saya lagi harap-harap cemas nih sama retensinya, karena sudah banyak yang skip bab 😁🤣🤣. Dududu, padahal udah diusahain up sehari 2 bab demi untuk mencapai retensi di-bab 20. Kalau zonk lagi, capek mikir dan nulisnya 🤣🤣🤣
Gimana yaaa sikap ayah ibunya satria 🤭
Semangat terus author sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹