Satu malam mengubah hidup Keyla selamanya.
Dijebak oleh ibu tirinya sendiri, Keyla kehilangan kehormatan dan masa depannya. Pria yang bersamanya malam itu bukan pria sembarangan—Dominic, mafia berbahaya yang tak pernah tersentuh hukum.
Bagi Dominic, wanita hanyalah alat. Kecuali istri yang amat sangat ia cintai.
Namun tekanan dari ibunya memaksanya mencari seorang pewaris, sementara istrinya menolak memberinya anak.
Saat Keyla muncul dalam hidupnya, sebuah keputusan kejam diambil Dom terpaksa menjadikannya istri kedua.
Tapi siapa sangka, hubungan yang diawali dengan paksaan justru menumbuhkan rasa yang sulit dikendalikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16 Pelaku Sebenarnya
"Bagaimana, kau menemukan sesuatu, Marco?"
Dominic berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, matanya menatap tajam ke arah mayat pelayan yang terbujur kaku di lantai gudang.
Aroma zat kimia yang menyengat masih tertinggal di udara, sisa dari racun yang merenggut nyawa wanita itu sebelum sempat diinterogasi.
Marco menggeleng pelan, wajahnya tampak frustrasi. "Tidak, Tuan. Saya rasa pelaku sebenarnya sangat rapi. Dia sengaja menghilangkan semua jejak, dan pelayan ini hanyalah pion yang dipaksa bungkam selamanya," jawabnya setelah memeriksa saku dan sekitar TKP.
Marco baru saja selesai menggeledah kamar sempit milik pelayan itu di paviliun belakang dan hasilnya nihil.
Tidak ada ponsel, tidak ada catatan, bahkan tidak ada uang tunai mencurigakan. Semuanya bersih, terlalu bersih untuk seorang pelayan biasa yang nekat melakukan percobaan pembunuhan.
"Pelaku sebenarnya bukan dia," celetuk Dominic. Tangan kekarnya terkepal erat hingga buku jarinya memutih. "Aneh, mansion ini selalu aman sejak aku kecil. Tidak pernah ada drama murahan seperti sabotase tangga. Apa pikiranmu sekarang sama denganku, Marco?"
Dominic menoleh ke arah asisten setianya itu sembari menyeringai dingin, sebuah seringai yang menandakan dia sudah mengunci satu nama dalam kepalanya.
Marco terdiam sejenak, menimbang kata-kata tuannya.
"Awalnya saya berpikir demikian, tapi saya tidak berani mengatakannya pada anda. Saya tahu betapa anda mencintainya, Tuan," balas Marco. Ada sindiran halus yang terselip di sana.
Dominic mendengus sinis. "Cinta? Itu dulu, sebelum kepalanya dipenuhi ambisi dan hatinya berubah menjadi batu," balasnya. "Selidiki dan awasi saja gerak-geriknya. Jangan sampai dia tahu. Kalau ada yang mencurigakan, kau boleh lakukan apa pun tanpa harus menunggu izin dariku. Kau mengerti?"
"Anda yakin memberikan perintah sebesar ini pada saya?" tanya Marco memastikan. "Ini menyangkut nona model, Tuan."
"Hmm. Lakukan saja," sahut Dom mutlak.
Dominic duduk dan menyandarkan punggungnya ke sofa. Pikiran Dominic melayang jauh ke beberapa tahun silam.
Saat itu, ia dalam pelarian setelah sebuah misi bisnis gelapnya bocor. Lengan Dom tertembak, bersimbah darah di sebuah gang sempit dan bertepatan dengan itu seorang gadis kecil muncul seperti malaikat, menolongnya tanpa rasa takut.
Sejak saat itu, Dominic mengklaim gadis yang diyakini bernama Clara sebagai miliknya, memberikan segalanya sebagai bentuk balas budi dan cinta.
Namun, semakin lama, sosok Clara yang lembut itu seolah menguap. Berganti dengan wanita yang hanya peduli pada takhta sosial dan harta.
Kadang, di malam-malam yang sunyi, Dominic bertanya-tanya, apakah Clara yang sekarang dan gadis penolong di gang itu adalah orang yang sama?
"Tuan..." suara lembut Keyla memecah lamunan Dominic.
Pria itu menoleh dan mendapati Keyla berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat, masih mengenakan piyama tipisnya.
"Ada apa, gadis kecil?" tanya Dom. "Kemari lah," pintanya sembari menepuk paha, memberi isyarat agar Keyla duduk di sana.
Keyla melirik Marco dengan ragu. Marco yang mengerti situasi segera berdehem, menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dan bergegas keluar. "Saya permisi dulu, Tuan, Nona."
"Tunggu apa lagi? Duduk di sini!" perintah Dominic lagi, kali ini lebih dingin karena Keyla tak kunjung bergerak.
Keyla menurut. Ia berjalan pelan dan duduk di pangkuan Dominic. Ia bisa merasakan detak jantung pria itu yang stabil dan kuat.
Tangan kekar Dominic langsung melingkar di pinggang ramping Keyla, mengusapnya naik-turun.
"Bicaralah," bisik Dom di dekat telinganya.
"Aku ingin lanjut kuliah, apa boleh?" tanya Keyla pelan. "Jujur saja, aku bosan berada di rumah sebesar ini tanpa melakukan apa pun. Ibumu melarang ku menyentuh sapu, melarang ku ke dapur... aku tidak terbiasa berpangku tangan melihat semua orang sibuk."
Dominic menatap mata bulat Keyla yang nampak polos. "Kau lupa kau hampir mati di tangga tadi? Dan sekarang kau meminta izin untuk berkeliaran di luar?"
"Aku hanya ingin belajar, Tuan. Bukan mencari masalah."
"Jadi tetaplah diam. Ibuku benar, kau harus menurut padanya demi keselamatanmu," putus Dominic. Saat melihat binar di mata Keyla meredup, ia pun menghela napas. "Soal kuliah, aku izinkan. Tapi dengan satu syarat, kau harus diawasi oleh anak buahku setiap detik. Bagaimana?"
Keyla cemberut, pipinya menggembung lucu. "Kenapa harus diawasi? Aku bukan tahanan! Lagipula, aku tidak akan macam-macam."
"Kau memang tidak akan macam-macam. Tapi bagaimana dengan kekasih yang pernah kau sebutkan itu?" Dominic mempererat pelukannya, tatapannya berubah tajam. "Ingat, gadis kecil, kau membawa benihku. Entah itu sudah tumbuh atau belum di dalam rahimmu, kita hanya menunggu waktu. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada milikku."
Wajah Keyla berubah sedih. Ternyata perhatian Dominic bukan untuknya, melainkan untuk bayi yang mungkin belum ada di rahimnya. Ia merasa seperti wadah, bukan manusia.
"Terserah anda," ucap Keyla murung, mata sendunya menatap lantai. "Siang ini aku akan mengunjungi ayahku. Dia sedang sakit."
"Marco akan mengantarmu."
"Tidak perlu!" Keyla menolak cepat. "Tolong, jangan buat semuanya menjadi rumit. Izinkan aku pergi sendirian sekali saja. Aku hanya ingin menemui ayah, bukan melarikan diri."
Dominic menatap Keyla cukup lama, mencari kebohongan di mata itu. Namun, yang ia temukan hanyalah kejujuran.
Dominic akhirnya menyerah. Ia ingin menguji gadis ini. Ia ingin tahu, apakah Keyla akan kembali ke sangkarnya, atau justru berlari menuju kebebasan yang mungkin sudah menunggunya di luar sana.
"Baiklah. Pergilah sendiri. Tapi ingat satu hal." Dominic mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka hampir bersentuhan. "Jika kau tidak kembali sebelum matahari terbenam, aku akan meratakan rumah ayahmu dan menjemputmu dengan paksa. Mengerti?"
Keyla mengangguk pelan. "Aku mengerti... sayang," sahutnya.
Mendengar kata terakhir itu, Dominic membatu. Tanpa Dom sadari, Keyla sudah turun dari pangkuannya dan pergi untuk bersiap.
"Dasar gadis nakal!"
*
*
Keyla sudah sampai di kediaman ayahnya. Bersamaan dengan itu, ia berpapasan dengan beberapa wanita dengan gaya sosialita.
"Wah, lihat siapa yang kembali ke lingkungan ini! Bukankah ini si pembawa si-al?" seru wanita dengan alis tebal sembari melipat tangan di dada, menghadang jalan Keyla.
Keyla menghentikan langkahnya. "Permisi, Tante. Saya mau lewat."
"Permisi?" wanita dengan tahi lalat di bibir ikut menyahut menyahut dengan tawa sinis. "Eh, dengar-dengar kau sudah laku ya? Tapi jadi istri kedua? Dasar tidak tahu malu, persis seperti ibumu dulu. Jalang tetaplah jala-ng, seleranya cuma jadi simpanan suami orang!"
"Tolong jaga bicara, Tante. Saya menikah secara sah," balas Keyla sembari meremas ujung tasnya.
"Sah katamu? Sah merebut suami kakak sendiri?!" wanita itu mendekat, menatap Keyla dengan pandangan menjijikkan. "Cantik-cantik tapi murahan. Kasihan ayahmu, sudah sakit-sakitan, punya anak malah jadi perusak rumah tangga. Kau tidak takut kena karma, hah?"
Keyla hanya diam, menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan air mata yang sudah menggenang. Setiap kata yang terlontar dari mulut wanita-wanita itu terasa seperti sembilu yang menyayat hatinya.
"Sudahlah. Jangan dekat-dekat, nanti kuman murahannya menular pada kita," ejek wanita itu sembari melenggang pergi.
Keyla menarik napas panjang mencoba menguatkan kakinya yang gemetar untuk terus berjalan menuju rumah ayahnya.
gw salah, gw sadar, gw sangat mencintai lo.
pretttt🙂
masa iya orng yg punya pengalaman jatuh cinta bahkan sampai bodoh gk tau perasaannya sendiri gimana pd wanita lain🙃