Di tengah duka kehilangan bayinya dan pengkhianatan suaminya, Shanum berjuang sendirian demi kesembuhan Sang Nenek, satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Bekerja sebagai ART dengan upah kecil, tak cukup untuk membiayai pengobatan jantung sang nenek di rumah sakit.
Kondisi ini menarik simpati Dokter Daniel yang menangani neneknya. Daniel sendiri tengah didera lara, ia ditinggal selingkuh oleh istrinya dan kini merawat putri kecilnya yang berusia empat bulan seorang diri.
Masalah kian pelik karena sang bayi mengalami alergi susu formula dan sangat bergantung pada donor ASI.
Didorong rasa iba dan kebutuhan yang mendesak, Daniel menawarkan Shanum pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ibu susu bagi putrinya. Bagi Shanum, ini dilema antara kehormatan dan kebutuhan ekonomi. Tanpa ia sadari, bayi kecil yang butuh dekapannya itu perlahan menjadi obat bagi trauma kehilangan buah hatinya.
Akankah pertemuan dua jiwa yang sama-sama patah ini menjadi awal dari kesembuhan luka mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35
Setelah kecanggungan akibat kepergok oleh Ningsih dan Mang Asep, Daniel dan Shanum akhirnya memutuskan untuk membawa nasi goreng spesial itu ke meja makan. Mereka duduk berhadapan untuk sarapan bersama dalam suasana yang jauh lebih hangat dan hidup.
Di sela-sela suapannya, Daniel meletakkan sendoknya sejenak. Ia menatap wajah anggun istrinya, lalu untuk pertama kalinya melontarkan sebuah tawaran yang tak pernah Shanum bayangkan sebelumnya.
"Num, nanti selesai aku bertugas di rumah sakit, kamu mau dibelikan apa?" tanya Daniel lembut. "Kebetulan nanti sore, aku ada pertemuan penting dengan beberapa rekan sejawatku di salah satu restoran di dalam Mall Indonesia. Jadi aku bisa sekalian mampir mencarikan sesuatu untukmu."
Shanum yang sedang mengunyah hampir saja tersedak. Ia menelan ludahnya pelan, merasa tak percaya dengan perhatian dan tawaran manis dari suaminya yang biasanya begitu cuek dan dingin.
"T... terserah Mas saja," ucap Shanum lirih, kepalanya menunduk dalam karena tak berani menatap langsung binar penuh cinta di mata Daniel.
Daniel tersenyum simpul melihat kepolosan istrinya. Di dalam benaknya, sang dokter mulai menimbang-nimbang hadiah apa yang kira-kira sangat cocok dan bisa membuat Shanum bahagia nanti sore.
Selesai menghabiskan sarapannya, Daniel bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Shanum dengan setia mengantarkan suaminya sampai ke teras depan rumah. Kali ini ia tidak menggendong Baby Ziva, karena putri kecil mereka itu masih tertidur sangat pulas di kamarnya setelah semalam sempat rewel akibat demam.
Sebelum membuka pintu mobil, Daniel berbalik badan menghadap Shanum. Ia menatap istrinya dengan tatapan protektif. "Aku titip Ziva ya, Num. Kamu juga harus banyak istirahat hari ini, jangan terlalu banyak aktivitas yang melelahkan. Kalau perlu sesuatu, tinggal panggil Ningsih atau Bik Sumi."
"Iya, Mas. Tenang saja, Ziva aman bersamaku," jawab Shanum sembari tersenyum manis.
Mendengar jawaban itu, Daniel melangkah mendekat. Tanpa aba-aba, ia menundukkan kepalanya dan mengecup kening Shanum dengan lembut. Namun, tidak berhenti di situ. Dengan gerakan yang teramat cepat dan tak terduga, Daniel beralih mengecup bibir Shanum sekilas!
Cup!
Shanum terperanjat tak percaya, matanya membulat sempurna dengan tangan yang reflek memegang bibirnya sendiri. Melihat reaksi menggemaskan sang istri, Daniel terkekeh geli dan buru-buru pergi setengah berlari menuju mobilnya sebelum Shanum sempat melayangkan protes karena malu.
Shanum berdiri mematung di teras, wajahnya merona merah padam, tersipu malu atas sikap suaminya yang mendadak berubah menjadi sangat romantis dan agresif.
Sementara itu, di dalam mobil yang mulai bergerak membelah jalanan, Daniel tidak bisa berhenti menyunggingkan senyuman lebar. Dadanya bergemuruh hebat, hatinya terasa sangat berbunga-bunga.
'Ternyata seperti ini rasanya jatuh cinta terhadap wanita yang tepat. Shanum... aku benar-benar sangat mencintaimu,' batin Daniel penuh kebahagiaan sembari fokus memegang kemudi menuju rumah sakit.
Langkah kaki Shanum baru saja hendak berbalik masuk ke dalam rumah ketika pandangannya menangkap sosok wanita paruh baya yang berjalan memasuki halaman pagar seorang diri. Wanita itu tampak bersahaja, berjalan perlahan sambil menjinjing sebuah rantang makanan stainless steel.
"Assalamualaikum, Shanum!" seru wanita itu dengan suara yang sangat ia kenal.
Shanum menoleh, dan alangkah terkejutnya ia saat mengenali siapa wanita tua tersebut. "Nenek...?"
Itu adalah Ibu Siti, nenek tercintanya yang selama ini menjadi sosok pengganti orang tua sekaligus pelindungnya. Rasa rindu yang membuncah membuat Shanum langsung berlari kecil menghampiri sang nenek. Ia memeluk tubuh ringkih Ibu Siti dengan sangat erat, menumpahkan segala rasa haru di dadanya.
"Waalaikumsalam, Nek... Kok Nenek ke sini tidak memberi kabar Shanum dulu?" bisik Shanum di sela pelukannya, matanya berkaca-kaca menahan tangis bahagia.
"Nenek sengaja, Nduk. Nenek kangen kamu dan Ziva, sekalian Nenek buatkan lauk kesukaanmu," jawab Ibu Siti lembut sambil mengusap punggung cucunya.
Sembari tersenyum lebar, Shanum segera melepaskan pelukannya, lalu dengan cekatan meraih rantang makanan dari tangan sang nenek. Ia menggandeng jemari keriput Ibu Siti dengan penuh kasih sayang, bergegas membimbingnya masuk ke dalam rumah megah tersebut.
*
*
Shanum melangkah keluar dari kamar bayi sembari menggendong Baby Ziva yang rupanya baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Pagi ini, putri kecil Daniel itu sudah tampak sangat rapi, segar, dan wangi. Karena takut efek demamnya kembali jika terkena air dingin, Bik Sumi tadi dengan telatennya hanya mengelap seluruh tubuh Ziva menggunakan waslap air hangat.
Ibu Siti yang sejak tadi menunggu di ruang tengah langsung berdiri. Matanya berbinar menatap sang cucu. Senyum bahagia terukir jelas di wajah keriputnya saat melihat penampilan Shanum yang terlihat jauh lebih berseri-seri. Bobot tubuh Shanum pun tampaknya sedikit bertambah, membuatnya terlihat lebih berisi, semakin cantik, dan menawan. Terlebih lagi, aura keibuan yang begitu teduh sangat terpancar dari wajah bersahajanya saat menimang Ziva.
Shanum kemudian mengajak neneknya untuk duduk bersantai di balkon lantai dasar, sebuah area nyaman yang langsung menghadap ke arah taman belakang rumah yang asri.
Sembari memperhatikan jemari mungil Ziva yang memainkan ujung jilbabnya, Ibu Siti membuka suara. "Nduk, bagaimana hubunganmu sekarang dengan Nak Dokter?" tanya beliau lembut.
Mendengar pertanyaan itu, Shanum seketika menundukkan kepalanya. Sudut bibirnya reflek menarik sebuah senyuman manis, dan ia malah tersipu malu dibuatnya.
Melihat wajah cucunya yang mendadak bersemu merah pekat bak kelopak mawar, Ibu Siti langsung tahu tanpa perlu penjelasan panjang. Naluri seorang nenek memastikan bahwa cucu tercintanya itu kini tengah hidup berbahagia dan dipenuhi rasa cinta bersama suaminya yang sekarang.
Namun, di balik rasa bahagianya, terselip ganjalan berat di dada Ibu Siti. Jemarinya yang keriput mulai meremas kain jarik yang dikenakannya. Sebenarnya, ia merasa sangat berat hati untuk mengatakan hal ini kepada Shanum. Namun jika tidak disampaikan, Ibu Siti telah menerima ancaman yang cukup mengerikan dari seseorang di masa lalunya Shanum yang siap merusak ketenangan hidup mereka.
"Num... ada hal penting yang ingin Nenek ceritakan sama kamu. Tapi, kamu harus tenang ya, Nduk," ucap Ibu Siti, nada suaranya mendadak berubah serius dan bergetar.
Mendengar perubahan intonasi suara neneknya, Shanum menghentikan ayunan tangannya pada Ziva. Ia mendongak, rasa penasaran sekaligus firasat buruk seketika menyergap dadanya. "Sebenarnya ada apa, Nek? Cerita saja, Shanum dengar."
Dengan napas yang terasa sesak dan gugup, Ibu Siti akhirnya memberanikan diri untuk membuka kisah masalalu yang paling dihindari oleh Shanum.
"Irwan... mantan suamimu, dia telah kembali, Num. Dia bilang dia sangat menyesal karena dulu telah menceraikan mu secara sepihak. Dan sekarang... dia datang menemui Nenek untuk meminta rujuk kembali denganmu," ungkap Ibu Siti lirih.
Deg!
Bagai disambar petir di siang bolong, Shanum langsung beranjak berdiri dari kursi rotannya dengan ekspresi wajah yang sarat akan rasa tidak percaya. Ia mempererat dekapannya pada Baby Ziva yang mulai menggeliat pelan. Dada Shanum naik turun, emosinya seketika diaduk-aduk oleh nama pria jahanam yang telah menorehkan luka teramat dalam di masa lalunya.
"Untuk apa lagi dia kembali dan mencariku, Nek?!" tanya Shanum dengan suara bergetar menahan tangis dan amarah yang bergejolak. "Setelah apa yang sudah dia lakukan terhadapku? Dia mencampakkanku, menghinaku, bahkan dia tidak peduli pada bayi yang dulu aku kandung sampai aku keguguran! Untuk apa dia datang lagi?!"
Ibu Siti ikut bangkit berdiri, ia memegang lengan Shanum dengan tangan yang gemetar, mencoba menenangkan cucunya.
"Itu dia masalahnya, Nduk... Dia tidak datang dengan baik-baik. Dia mengancam Nenek," ucap Ibu Siti dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Irwan bilang, kalau kamu menolak untuk menemuinya dan tidak mau kembali bersamanya, maka dia akan menyebarkan fitnah keji ke media dan lingkungan sekitar rumah ini."
Ibu Siti menjeda kalimatnya, menyeka air mata yang mulai luruh. "Dia... dia mengancam akan menuduhmu bahwa dulu kamu hamil karena anak selingkuhan. Kau akan dituduh telah bermain api di belakangnya dengan Ramji... teman dekatnya Irwan yang dulu pernah menolongmu saat kamu telantar, Num."
Krek!
Shanum mengepalkan tangan kanannya dengan sangat erat hingga kukunya memutih. Giginya mengatup rapat menahan badai murka yang nyaris meledak dari dadanya. Air mata kemarahannya kini luruh membasahi pipinya.
Shanum tak habis pikir, pria yang dulunya begitu ia puja, ia cintai, dan ia patuhi dengan sepenuh hati, ternyata belum puas juga menyakiti dan menginjak-injak harga dirinya. Di saat Tuhan akhirnya memberikan pengganti yang begitu mulia seperti Dokter Daniel, di saat ia baru saja merasakan setitik kebahagiaan sejati, iblis dari masa lalunya itu kembali datang untuk menariknya masuk ke dalam kubangan penderitaan yang sama.
Bersambung...
tida ada perbedaan kasta