NovelToon NovelToon
GERILYAWAN TERAKHIR

GERILYAWAN TERAKHIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK

BOOOOM!!!

Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.

"Turun!" teriak Bayu.

Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.

*TAT... TAT... TAT...*

Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.


Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.

Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 : PENGALiH PERHATIAN

Udara di dalam gua terasa pengap dan panas. Asap dari kobaran api di luar mulai menyelinap masuk, membuat napas terasa berat dan paru-paru terasa perih. Cahaya oranye kemerahan menari-nari di dinding batu, memberikan bayangan mengerikan yang seolah ingin menelan seluruh tempat perlindungan mereka. Di luar sana, suara deru mesin tank dan langkah kaki prajurit Belanda terdengar begitu dekat, menggetarkan tanah dan hati semua orang yang ada di dalam.

Bayu berdiri di dekat mulut gua, tangannya menggenggam erat gagang kampak. Matanya menyapu satu per satu wajah warga yang berkumpul di tengah ruangan. Ada ketakutan, ada kecemasan, tapi kini juga ada harapan yang masih tersisa. Di sampingnya, Karta, Embek Gombloh, Jaka Kelitik, dan Sukria berdiri siap siaga, senjata mereka sudah siap di tangan.

"Mereka tidak akan berhenti sampai kita keluar atau gua ini runtuh," ucap Bayu dengan suara tegas namun tenang. Ia tahu waktu mereka semakin sedikit.

"Mayor Van Der Hock sudah memerintahkan untuk membakar seluruh hutan. Kita tidak bisa bertahan di sini selamanya."

"Bagaimana nasib kita, Yu?" tanya seorang nenek dengan suara gemetar.

"Ke mana kita harus pergi?"

Bayu menatap Mbah Kartareja dan Pak Somad. "Ada tempat yang lebih aman. Kamp Pengungsian Cikadu. Kapten sudah pergi ke sana, dan di sana ada banyak orang baik yang bisa melindungi kita."

Semua orang mengangguk. Mereka ingat apa yang dikatakan Kapten sebelum berangkat. Itulah satu-satunya harapan yang mereka miliki saat ini.

"Tapi kita tidak bisa pergi bersama-sama lewat depan," potong Karta.

"Mereka sudah mengepung pintu masuk. Kalau kita semua keluar sekaligus, kita akan menjadi sasaran mudah."

Bayu mengangguk tegas. Ia sudah menyusun rencana di kepalanya.

"Dengar baik-baik semua," ucap Bayu, suaranya menggelegar menenangkan suasana.

"Ini keputusan kita: Warga dan pejuang lainnya akan segera bergerak menuju jalur belakang gua. Dari sana kalian akan menuju ke arah Cikadu, di bawah bimbingan Pak Somad dan Mbah Kartareja."

"Dan bagaimana dengan kalian, Yu?" tanya Embek Gombloh, meremas gagang tongkat besinya.

"Kita lima orang: Aku, Karta, Embek, Jaka, dan Sukria," jawab Bayu sambil menunjuk ke arah teman-temannya.

"Kita akan tetap di sini. Kita akan bertindak sebagai pengalih perhatian."

Hening sejenak menyelimuti ruangan. Kata-kata itu berat. Berarti mereka yang lima akan menghadapi musuh sendirian agar yang lain bisa selamat.

"Apakah kalian yakin?" tanya Pak Somad, matanya berkaca-kaca.

"Itu bunuh diri, Nak."

"Kita tahu risikonya, Pak," jawab Bayu.

"Tapi ini satu-satunya cara. Selama musuh mengira kita masih ada di sini dan berjuang, mereka tidak akan mengejar kelompok kalian. Ini harga kecil yang harus kita bayar demi keselamatan banyak orang."

Mbah Kartareja tersenyum tipis, mengangguk mengerti. "Keberanian bukan hanya tentang bertarung, tapi tahu kapan harus membuka jalan bagi orang lain untuk selamat. Pergilah, anak-anak. Tuhan akan melindungi kalian, dan semoga kalian bisa kembali dengan kemenangan."

"SEGERA! WAKTU KITA TIDAK BANYAK LAGI!" teriak Bayu. Suaranya mengubah suasana yang sedih menjadi urgensi yang mendesak.

"SEMUA YANG BISA BERJALAN CEPAT, IKUTI PAK SOMAD DAN MBAH KE JALUR BELAKANG! JANGAN BAWA BARANG BERAT! HANYA NYAWA KALIAN YANG PENTING!"

"JANGAN TAKUT! JALAN KE CAKADU SUDAH DI SIAPKAN! IKUTI JEJAK KITA DAN KALIAN AKAN SELAMAT!" teriak Karta menyusul, memberi semangat kepada warga.

Warga mulai bergerak. Mereka tidak lagi menangis histeris, melainkan bergerak dengan tertib dan penuh harap. Ibu-ibu menggenggam tangan anak-anak, orang tua dibantu oleh yang lebih muda. Pak Somad dan Mbah Kartareja memimpin barisan, memastikan tidak ada yang tertinggal. Langkah kaki mereka menghilang perlahan ke dalam kegelapan jalur belakang gua, menuju ke arah keamanan di Cikadu.

Saat suara langkah kaki kelompok warga sudah tidak terdengar lagi, hanya tersisa lima orang itu di depan mulut gua.

"Mereka sudah aman, sekarang giliran kita," ucap Bayu. Ia menatap keempat temannya.

"Ingat tujuan kita: Buat mereka berpikir kita masih banyak, buat mereka bingung, dan beli waktu sebanyak mungkin sampai mereka benar-benar pergi mengejar kelompok warga."

"Kita siap, Yu," jawab Embek Gombloh, otot-otot di lengannya menegang.

"Aku akan menjaga sayap kiri."

"Aku kanan!" seru Jaka Kelitik.

"Aku akan menjaga tengah dan menembak dari tempat tinggi," tambah Sukria, memegang senapan rampasan itu erat-erat.

Karta mengangguk, matanya tajam menatap keluar.

"Mereka pasti akan segera datang. Mari kita siapkan semuanya."

Tidak lama kemudian, suara teriakan kasar terdengar dari luar, disusul suara langkah kaki yang makin mendekat.

"DI DALAM SANA! KAMI TAHU KALIAN MASIH ADA! KELUARLAH ATAU KITA AKAN MELEDAKKAN GUA INI!" teriak suara Mayor Van Der Hock, penuh kemarahan.

BROOOOM!!!

Sebuah ledakan dari luar menghantam dinding batu gua, memecahkan ketenangan sejenak. Debu beterbangan, tapi gua itu tetap kokoh.

"MEREKA MARAH, TAPI MEREKA TIDAK TAU BAGAIMANA KITA BERJUANG," bisik Bayu. Ia memberi isyarat kepada teman-temannya.

"SIAPKAN JEBAKAN TERAKHIR. KITA AKAN BERGERAK SEKARANG!"

Bayu dan yang lima keluar dari celah samping yang tidak terlihat oleh mata kasar, lalu menyebar ke posisi yang sudah ditentukan. Mereka tidak berdiri di mulut gua, melainkan berpindah ke pohon-pohon besar di sekitarnya, bersembunyi namun tetap bisa melihat musuh.

Tak lama kemudian, rombongan besar prajurit Belanda mulai masuk ke area itu. Mayor Van Der Hock dan Kapten De Vries turun dari atas tank FT-17 Renault, wajah mereka merah karena marah dan tidak sabar.

"MEREKA HARUS DI SINI! AKU MELIHAT JEJAK KAKI DI DEPAN!" teriak Mayor Van Der Hock.

Tiba-tiba, dari semak-semak di sebelah kiri, terdengar suara tembakan.

TAT... TAT... TAT...

Jaka Kelitik menembak tepat di dekat kaki beberapa prajurit. Tanpa mengenai tubuh mereka, tapi cukup membuat mereka panik dan terjatuh.

"ADA DI SANA! MEREKA BERJUMLAH BANYAK!" teriak Jaka dari balik pohon, menyusun tipu daya.

"KANAN! MEREKA ADA DI KANAN!" teriak Embek Gombloh dari arah seberang, melempar batu besar yang mendarat tepat di dekat barisan musuh, menimbulkan suara ledakan palsu dari batu dan tanah.

Prajurit-prajurit Belanda mulai berlarian, menembak ke segala arah tanpa arah yang jelas.

"JANGAN BIARKAN MEREKA LARI! TEMBAK SEMUA YANG BERGERAK!" teriak Kapten De Vries, ia yakin sedang dikelilingi oleh puluhan pejuang.

Dari arah belakang gua, Bayu muncul sebentar, menebas sebatang bambu besar hingga tumbang tepat di depan jalur tank, menghalangi pandangan dan pergerakan mereka sejenak.

"INI HANYA AWAL! KITA AKAN TETAP MENGAKUI TANAH INI!" teriak Bayu, suaranya menggelegar mencampur dengan suara angin dan ledakan.

Sukria menembak lagi dari atas bukit kecil, menargetkan kompas yang dipakai oleh seorang perwira, membuat mereka bingung arah tujuan.

Mayor Van Der Hock mulai ragu. Ia melihat sekitar, hanya melihat pepohonan yang bergetar dan suara tembakan yang datang dari segala penjuru. Ia tidak menyangka perlawanan mereka akan sekuat dan secerdas ini.

"MEREKA LEBIH BANYAK DARI YANG KITA DUGA! DAN MEREKA MENYERANG DARI SEMUA SISI!" teriak seorang prajurit.

"BAKAR SEMUA! HANCURKAN SEGALANYA SAMPAI AKAR-AKARNYA!" teriak Mayor Van Der Hock, masih berusaha mempertahankan kendali.

Namun, waktu terus berjalan. Bayu dan teman-temannya terus memainkan tipu daya itu. Semakin lama, musuh semakin bingung, semakin lama mereka menembak membabi buta, semakin jauh mereka menjauh dari jalur yang ditempuh oleh warga menuju Cikadu.

Saat Bayu melihat dari kejauhan, asap dari arah Cikadu mulai terlihat samar. Tanda bahwa kelompok warga sudah selamat mencapai jalur aman.

"Cukup," bisik Bayu kepada Karta yang berada di dekatnya.

"Mereka sudah cukup lama teralihkan. Sekarang saatnya kita pergi juga."

Karta mengangguk, wajahnya memancarkan kebanggaan.

"Kita sudah melakukan tugas kita, Yu. Mereka tidak akan mengejar mereka lagi."

"SELESAI! KITA MUNDUR!" teriak Bayu, lalu memberi isyarat kepada keempat temannya.

Mereka mulai bergerak mundur perlahan, mematikan suara dan menghilang ke dalam semak-semak seolah menjadi satu dengan hutan itu sendiri.

Di luar sana, Mayor Van Der Hock masih berteriak marah, memerintahkan pasukannya untuk terus mencari, namun semangat mereka sudah menurun. Mereka merasa telah berjuang melawan musuh yang tak terlihat jumlahnya, dan merasa lelah.

Bayu, Karta, Embek, Jaka, dan Sukria berjalan perlahan menjauh dari area pertempuran yang mulai padam, menuju arah yang sama dengan warga: menuju Cikadu.

Meskipun pakaian mereka sobek, tubuh mereka lelah, dan luka-luka mulai terasa, senyum tipis terukir di wajah mereka.

"Mereka selamat," ucap Bayu pelan, menatap ke arah langit yang mulai terang.

"Rancagaok mungkin terbakar hari ini, tapi nyawa orang-orang yang kita lindungi masih ada."

"Dan kita akan bangun lagi," tambah Karta.

"LEBIH KUAT DARI SEBELUMNYA," lanjut Embek Gombloh.

Mereka terus berjalan, meninggalkan puing-puing dan kepungan musuh yang sudah mulai melonggar. Perjuangan belum selesai, tapi hari ini, mereka telah memenangkan pertarungan yang paling penting: pertarungan untuk menyelamatkan keluarga mereka.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!