NovelToon NovelToon
Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:525.2k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.

Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Hal Yang Tak Biasa

     Pagi sudah menjelang, suara kokok ayam saling bersahutan. Burung gereja berterbangan di atas dahan-dahan pohon kersen.

     Dari arah dapur wangi makanan yang menggiurkan sudah tercium harumnya, entah apa yang Nayra masak.

     Ardana bangun setengah jam lalu, ia sudah siap dengan seragam dinasnya. Hari ini ia akan ke kantornya dulu, dan menjelang siang kembali ke RSAU untuk terapi Tiana.

     Sejenak sebelum keluar dari kamar, ia menatap sekeliling kamar. Kamar itu selalu terawat wangi dan bersih. Tentu saja tangan Nayralah yang merawatnya.

     Ardana keluar dan langsung menuju meja makan, kali ini ia bersemangat dengan sarapan yang selalu disiapkan Nayra.

     Sayur sop di dalam mangkok sayur, sambal cumi, kerupuk udang, serta martabak kentang yang persis dibuat Mamanya, sudah tersaji di atas meja makan.

     Ardana mengerutkan keningnya dalam, sejak kapan Nayra mempersiapkan semua ini dan membuatnya? "Dia sendiri yang buat ini, kenapa banyak banget? Semua yang aku suka, ada di sini. Martabak kentang, sayur sop, sambal cumi. Kenapa semua disiapkan? Lalu, di mana Nayra?"

     Saat Ardana menuangkan nasi ke dalam piringnya, tiba-tiba matanya tertuju pada kantong gorengan unyil yang dia beli untuk Nayra, teronggok begitu saja masih di atas meja yang sama.

     Ardana meraih kantong itu, dan ia terkejut, ternyata isinya masih utuh. "Dia tidak memakannya satu pun, mungkin karena sudah terlanjur dingin," duganya.

     Namun, Ardana tetap melanjutkan sarapannya, meskipun pagi ini suasananya teras berbeda dan sedikit janggal.

     Beberapa menit kemudian, Ardana menyudahi sarapannya. Sejenak ia meraih ponselnya, lalu mengirimkan pesan untuk Nayra.

     "Nay, aku sudah kirim uang bulanan ke rekeningmu. Aku pergi dulu."

     Setelah mengirimkan pesan, Ardana segera bangkit dan pergi, karena pagi ini ia harus ke kantornya terlebih dahulu.

    Namun, langkah kakinya terhenti. Ardana kembali menaiki tangga dan menuju Sanggar Mini ruang favorit istrinya. Di depan pintu itu Ardana berdiri dan mengetuk pintu.

     "Nay, kamu di dalam, kan? Keluarlah sebentar, aku ingin bilang sesuatu padamu."

     Namun, tidak ada jawaban apa-apa dari dalam. Hanya terdengar suara langkah kaki sendal rumahan diseret di dalam, menandakan kalau Nayra benar-benar ada.

     Ardana menarik napasnya perlahan, dadanya merasa sesak setelah beberapa hari ia tidak lagi mendengar suara Nayra.

     Ardana menyerah, terlebih ia harus segera ke kantor dan melaksanakan apel pagi. "Aku pergi, kamu baik-baik di rumah."

     Ardana bergegas dan segera pergi ke kantor.

     Beberapa saat setelah Ardana pergi, di dalam Sanggar Mini itu, Nayra kembali meneteskan air mata. Sudah dua kali Ardana seolah-olah memberi perhatiannya, padahal selama ini belum pernah melakukan perhatian sekecil apapun.

     "Ada apa ini? Jangan sampai perhatian kecil yang semu itu menggoyahkan tekadku," gumamnya. Air mata yang janjinya tidak akan lagi menetes nyatanya muncul, dan tidak bisa dibendung.

**

     Sekitar jam 10.00 Wib, Nayra sudah bersiap. Ia meraih sebuah map tertutup. Sebelum pergi ia memeriksa kembali map itu, ia buka tali penutupnya dan mengecek satu per satu isi di dalamnya.

     "Ini sudah lengkap," gumamnya seraya memasukkan map itu ke dalam tas sampirnya.

     Air mata itu kembali menetes, ia tidak kuasa menahan semua itu. Tapi, tekadnya sudah siap.

     "Aku tidak mungkin berhenti di tengah jalan setelah beberapa hari mengumpulkan semua ini."

     "Meskipun bakal ada banyak orang tersakiti," gumamnya lagi sambil memejamkan mata.

     Nayra segera keluar dari rumah. Ia sengaja tidak menggunakan motor listriknya, kali ini ia lebih memilih menaiki grab.

     Nayra seperti berpacu dengan waktu. Di tempat pertama, rasa takut begitu menguasainya. Ia diinterogasi dan ditanya dengan berbagai pertanyaan. Dan akhirnya ia bisa menyerahkan map itu, meskipun alasannya berbelit-belit dan membuat ia sedikit tertekan.

     Menjelang sore hari ia tiba di rumah, bersyukur mobil Ardana belum ada. Rasa lelah terganti dengan perasaan lega, meskipun rasa lega itu adalah rasa lega yang benar-benar semu.

     Setelah menunaikan kewajibannya sebagai istri, Nayra kembali mengurung diri di dalam Sanggar Mini. Merajut, melanjutkan rajutan yang kemarin belum selesai.

     Kemudian lanjut menulis, semua isi hatinya tumpah di sana, bukan hanya untuk Ardana melainkan kedua orang tuanya dan kedua orang tua Ardana.

     Lembaran terakhir di buku diary itu, ia menulis sebuah tempat yang indah. Kota pelajar yang dulu pernah ia idam-idamkan ketika ingin menjadi mahasiswa Undip.

     Malam semakin larut, sebelum ia melanjutkan untuk merenda mimpi, Nayra melangkahkan kakinya menuju kamarnya bersama Ardana. Ia memeriksa semua, termasuk baju seragam Ardana.

     Nayra tersenyum lega tapi berkaca-kaca, pasalnya selama ini dia hampir belum pernah gagal menyiapkan semua untuk suaminya.

     "Tapi, aku gagal dalam menggapai hatimu, Mas," bisiknya sedih.

     Suara mobil itu terdengar menderu, Ardana pulang. Masih dalam keadaan seperti tadi malam. Tapi kali ini Ardana tidak menuju ke Sanggar Mini Nayra, ia menduga Nayra sudah terlelap.

     "Besok pagi aku harus bisa bertemunya, atau kalau bisa aku paksa. Selama ini dia selalu menghindariku," gumamnya.

     Besok pun menjelang, wangi makanan sudah tercium dan menguar di udara. Ardana terbangun kesiangan. Tidak seperti biasanya saat ia masih tidur ditemani Nayra.

     Setelah bersiap, dengen tergesa ia menuruni tangga. Kali ini ia harus bisa bertatap muka dengan Nayra dan bicara.

     Namun, saat tiba di dapur, rupanya orang yang ia anggap akan menghindar ternyata sudah ada di meja makan, seakan menunggunya untuk sarapan.

     Ardana mendekat, ia seperti melihat Nayra yang berbeda. Nayra sangat cantik, memakai gaun warna pastel dan hijab pashmina warna krem.

     "Nay, kamu menunggu aku? Oh...kita sarapan sama-sama." Ardana langsung menduduki kursi makan, matanya tidak lepas dari wajah Nayra.

     Nayra tersenyum, lalu sigap meraih piring Ardana dan menuangkan nasi serta capcap dan balado telur puyuh kesukaan Ardana, tidak lupa sambal cumi, itupun kesukaan Ardana. Semua di atas meja itu adalah makanan kesukaan Arana.

     Nayra menyodorkan piring itu ke hadapan Ardana tanpa bicara.

     "Makasih, Nay." Ucapan yang hampir tidak pernah Ardana katakan di hadapannya, ucapan yang hampir saja memaksa Nayra meneteskan air mata.

     Sarapan selesai, Nayra segera bangkit dan menuju wastafel, mencuci semua piring bekas sarapan mereka.

     Ardana memperhatikan punggung Nayra yang bergerak-gerak karena sedang mencuci itu dengan tatapan tidak biasa. Ia merasa ada sesuatu yang menyesaki dadanya.

     Tiba-tiba Ardana mendekat, lalu memeluk tubuh Nayra dari belakang.

     "Mas...." seru Nayra terkejut. Itu adalah kata pertama setelah ia lama bungkam dan tidak lagi bicara pada Ardana setelah janjinya tempo hari.

     "Nay, maafkan aku." Tiba-tiba kalimat maaf itu meluncur begitu saja. Kata yang belum pernah Ardana ucapkan selama ini.

     "Mas... maaf, bajunya nanti kusut." Nayra melepas pelukan Ardana, ia berusaha menegarkan hatinya biar kuat.

     Ardana kecewa, kali ini ia merasa tidak peduli seragamnya kusut.

     "Nay, kamu sudah belanja bulanan?" Fokus Ardana kini teralihkan saat ia melihat kitchen set sudah penuh dengan bahan pokok makanan untuk sebulan. Biasanya Nayra yang selalu mengingatkan dan mengajaknya belanja bulanan, tapi kali ini tanpa sepengetahuannya, belanja bulanan sudah terpenuhi, entah kapan Nayra membelinya padahal baru kemarin ia mengirim uang ke rekening istrinya.

     Melihat Nayra diam saja, Ardana pun terpaksa berpamitan, padahal entah kenapa pagi ini rasanya dia tidak ingin pergi.

Lanjut gak nih?

Wahai Editor Noveltoon, saya harap Anda memahami kenapa saya membuat alur ini terasa lambat? Karena saya ingin bisa mengejar 80 bab yang Noveltoon persyaratkan untuk lomba. Dan lagi, kenapa syaratnya harus 80 bab, seperti sengaja membuat penulis menyerah dan gagal raih bab terbaik. Sekian dan terimasih...

1
Rahma Lia
ceritanya bagus thor,,saya suka.. semangat berkarya thor💪💪
Lina Zascia Amandia: Terimakasih byk. Lanjut sampai tamat ya...🙏🙏🙏
total 1 replies
@Al**
/Good/
Mini Amora
berasa sesek pastinya thor
Lina Zascia Amandia: 🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Mini Amora
saya pembaca baru karyamu thor...

awal bab yg sangat menarik
smg selanjutnya trus menarik..

semangat berkarya author🩷
Lina Zascia Amandia: Makasih banyak Kak, semoga betah sampai tamat ya.
total 1 replies
Bungafitriyani
semangat kk cerita mu bagus
Lina Zascia Amandia: Makasih byk Kak...
total 1 replies
Eri Dewa
bagus ceritanya, lanjut kak
Lina Zascia Amandia: Makasih Kak..... 🙏🙏🙏🥰🥰🥰
total 1 replies
Nenie Chusniyah
luar biasa ceritanya bagus sekali
Lina Zascia Amandia: Masya Allah, mksh byk Kak...
total 1 replies
sweetpurple
Ga nyangka kalau akhirnya malah baikan lagi sama suaminya...
Ray
dasar bocil orangnya ditolak balonnya diterima 🤣🤣🤣
Lina Zascia Amandia: Wkwkwkkwk....
total 1 replies
ayu cantik
suka
Lina Zascia Amandia: Makasih Kak... lanjut ke karya lain ya...
total 1 replies
Nur Aisyah Channel
iya hrs lnjut dong..aq ska bnget sm ceritanya
Lina Zascia Amandia: Mksh Kak....
total 1 replies
Lisa Icha
kasihan ma Nayra sesakit itu diacuh ma suami sendiri apalagi mendengar dengan jelas suamimu berteleponan riang ma belahan jiwanya
Lina Zascia Amandia: 😥😥😥😥😥😥
total 1 replies
Lisa Icha
ini di pertengahan tahun 2026 aku mungkin yg terakhir baca karyamu Thor.Jalan ceritanya mudah difahami semangat berkarya
Lina Zascia Amandia: Wah makasih banyak ya Kak. Selamat datang di karya saya ya. Semoga selesai sampai tamat..... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Rina
Selalu bahagia ya kalian 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Piyah
harusnya sampe beranak dulu kembar
Lina Zascia Amandia: Hehehe.... pembaca yg lain keburu bosan Kak...
total 1 replies
Nar Sih
otw kak
Lina Zascia Amandia: Mksh byk Kak...
total 1 replies
Patrick Khan
bwt kisah anak mereka kak..pasti seru
.makasi ceritanya kak😍😍❤️
Memyr 67
𝖻𝖺𝗋𝗎 𝗌𝖺𝖽𝖺𝗋 𝗍𝖾𝗋𝗍𝗂𝗉𝗎? 𝖼𝗂𝗇𝗍𝖺 𝖻𝗂𝗄𝗂𝗇 𝖻𝖾𝗀𝗈 𝗒𝖺? 𝖺𝗋𝖽𝖺𝗇𝖺 𝗌𝖺𝗆𝗉𝖺𝗂 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝖾𝗆𝖻𝖾𝖽𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗒𝗀 𝗍𝗎𝗅𝗎𝗌 𝗆𝖺𝗇𝖺 𝗒𝗀 𝗆𝗈𝖽𝗎𝗌
Lina Zascia Amandia: 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Reni Setia
makasih untuk novelnya
Ita rahmawati
happy ending 🤗
otw cerita barunya Thor 😅
Lina Zascia Amandia: Siap Kak. Tungguin ya...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!