Pernah tidak?! Kalian merasakan rasanya selalu di banding-bandingkan dengan orang lain atau tidak dibandingkan dengan saudara sendiri?
Jika pernah!! berarti kita SAMA ☺️
Zian Aditama, pria itu membawa ku keluar dan pergi dari keluarga yang sangat memuakkan itu.. ku fikir setelah pergi hati ku akan merasa tenang dan tak akan mengingat kenangan-kenangan menyakitkan di rumah itu lagi..
Namun nyatanya tidak..
Aku menikah dengan zian yang notabene nya adalah seorang duda anak satu.. Nadira Aditama adalah nama anaknya
Menjalani hari-hari ku bersama mereka membuat ku kembali teringat akan masa-masa tumbuh ku bersama keluarga ku
Ternyata zian memiliki sifat yg tak jauh berbeda dgn kedua orang tua ku
"Dira!!! Sudah berapa kali ayah bilang berhenti bermain-main dan fokus dengan pelajaran mu.. mau jadi apa kamu kalau hanya mementingkan karangan-karangan tidak berguna itu, lihatlah anak paman dion dia selalu meraih prestasi di segala bidang sedangkan kamu apa" omel Zian pada putri nya itu
Dira kecil hanya menunduk sambil menangis
"Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda Zian.. kau tak bisa memaksanya ini dan itu, dira adalah dira dan anak dion yah adalah anak Dion, kau tak bisa menyamakan keduanya.. berhenti mengaturnya, dia berhak melakukan apapun yang ia sukai d-" ucapan azeela terpotong kala Zian langsung menyelah
"Tau apa kau.. aku ini ayahnya aku yg lebih tau dia harus seperti apa" ucap Zian dingin
"Tidak (menggelengkan kepala) kau memang ayah nya.. tapi kau sama sekali tidak tau anak mu itu seperti apa, dira memiliki prestasi di bidang tertentu tapi kau tak bisa melihat nya karena apa?? Karena kau terlalu sibuk membandingkan nya dengan anak orang lain.. kau selalu mendoktrin nya untuk menjadi ini dan itu, dia anak mu Zian bukan sebuah boneka ataupun robot yg harus mengikuti segala keinginan mu.."
"Kenapa kau tidak bisa membuatnya menjadi diri nya sendiri?? Apa kau ini benar-benar seorang ayah??"
Zian terdiam
"Dia memang bukan anakku tapi aku tak akan pernah membiarkan mu seenaknya memperlakukan nya.. aku tau bagaimana rasa nya berada di posisi dira karena aku sudah pernah merasakan nya.."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laly Yoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Hari terus berlalu keluarga kecil Azeela dan Zian begitu harmonis dan banyak cinta di dalam nya... Dira tumbuh menjadi gadis manis yang cerdas, cantik dan sopan itu semua tak luput dari didikan kedua orang tua nya terutama sang ibu.. walaupun zeela bukan ibu kandung dira tapi zeela sangat menyayangi dira dan tidak pernah membeda-bedakan antara dira dan radit.. Zeela selalu memperlakukan keduanya sama
Selama 14 tahun berlalu zeela menyaksikan bagaimana tumbuh kembang kedua anaknya, zeela terus mengabadikan momen berharga itu, zeela begitu bangga melihat anak-anak nya tumbuh dengan segala prestasi dan bakat yang begitu luar biasa
Kini dira sudah beranjak dewasa, usia dira sudah menginjak 20 tahun dan radit sudah berusia 14 thn
Hari ini adalah hari kelulusan dira, dira mendapatkan gelar sarjana nya di usia yang bisa di bilang masih sangat muda.. apalagi dira mendapat gelar Cumlaude dengan ipk tertinggi dari semua fakultas dan tentu saja zeela dan zian begitu bangga pada anak gadis mereka itu
¶Kampus dira
Saat ini zeela, Zian, radit, kedua orang tua zian, Tn wijaya serta syila dan suaminya duduk di kursi paling depan agar bisa melihat dengan jelas dira yang akan menyampaikan sepatah dua kata
"Radit.. cepat telfon kak lian, tidak lama lagi kakak mu mau menyampaikan pidatonya" Ucap zeela pada anak bungsunya itu
"Iya mom.. ini juga lagi ditelfon"
Tak berlangsung lama Lian pun mengangkat panggilan vidcall Radit "Haloo jodoh ku apa kabar" Ucapnya membuat Tn Wijaya dan kedua orang tua Zian terkekeh
"Tck tck tck anak mu itu benar-benar" Ucap zeela pada suaminya
"Anak mu juga sayang"
.
.
"Baik Radit... Apa acara wisuda Dira sudah di mulai?"
"Ini sudah di mulai tidak lama lagi kak Dira akan menyampaikan pidatonya... Btw aku tampan gak?" Menaik turunkan alisnya
Lian terkekeh melihat tingkah adik sahabat nya itu "Kau sangat tampan"
Radit mengulum senyum "Jadi apa aku sudah pantas jadi kekasih mu?" Zian menjitak kepala Radit "awww dad!!" Mengelus kepalanya
"Kau itu masih kecil sudah berani menggoda anak gadis" Menatap putranya tajam
"Cih.. aku ini sudah dewasa dad.." Kesalnya
"Sini biar mommy yang bicara dengan Lian"
"Noooo... Biar aku saja, mommy ini tidak mengerti sekali... Lian tunggu aku yah, jangan coba-coba mengkhianati ku" Syila menepuk jidatnya melihat tingkah laku keponakan nya itu
"Radit.. aku ini 6 tahun lebih tua dari mu, kenapa kau tidak pernah memanggil ku dengan sebutan kakak, dasar tidak sopan" Canda nya
"Kau kan bukan kakak ku... Tapi calon masa depan ku" Mengedipkan matanya
"Raditttttt" Pekik Lian
"Iya sayang?!! Kenapa?" Santainya
"Radit kau ini yah Benar-benar" Zeela menjewer telinga putranya itu
"Aww mom sakit... Oke-oke ampunn" Ucapnya membuat zeela melepas jeweran nya "Haa memalukan sekali... Lian, anggap saja kau tak melihat apapun tadi, oke?!"
"Iyaaa.. iyaaa" Terkekeh
"Ohh kak Dira sudah naik ke podium... Aku putar kameranya yah" Ucap Radit lalu mengganti mode kamera belakang agar Lian bisa melihat dira menyampaikan pidatonya
"Halo semua... Perkenalkan nama saya Nadira Aditama (Mengambil nafas sejenak) saya benar-benar masih belum percaya dengan pencapaian yang saya raih saat ini.. rasanya seperti mimpi bagi anak kecil yang bodoh seperti ku" Tersenyum
"Dulu aku selalu dikatai bodoh oleh teman-teman sekolah ku bahkan guru-guru ku sendiri... Dulu aku sangat sulit mendapatkan teman karena otak yanv kurang encer" Tertawa kecil
"Dulu juga aku selalu berfikir kenapa aku tidak bisa pintar seperti teman-teman ku.. kenapa aku harus terlahir menjadi orang bodoh? Dan selalu berkhayal jika suatu saat nanti aku akan pintar dan cerdas seperti teman-teman ku... Namun tak ada kemajuan sama sekali dalam diriku hingga seorang malaikat tak bersayap datang di hidup ku dan membuat hidup ku berubah 180 derajat" Menatap kearah Mommy nya
"Beliau selalu mengatakan •kamu tidak bodoh sayang.. dira hanya malas belajar, nilai bukan segalanya yang terpenting dira mau berusaha untuk mendapatkan apa yang lebih baik dari ini"
Tersenyum menatap mommy nya "Beliau selalu bangga dengan kemajuan ku walaupun kemajuan ku tidak terlalu besar.. beliau selalu menghargai hasil kerja keras ku walaupun tidak seberapa... Sekarang aku mengerti jika peran orang tua sangat penting dalam perkembangan anak...
"Mommy zeela.. terimakasih sudah hadir di hidup ku, terimakasih sudah mendidik ku dan selalu mendukung ku (meneteskan air mata) walaupun aku tidak terlahir dari rahim mommy tapi aku merasa seperti di besarkan oleh ibu kandung ku sendiri.. i love u mom" Tersenyum
Zeela terisak mendengar ucapan putrinya
"And Daddy.. terimakasih sudah merawat ku dari lahir, walaupun kadang-kadang Daddy sangat menyebalkan tapi Daddy adalah Daddy paling terbaik di dunia.. dan aku sangat menyayangi Daddy, i love u dad"
Zian tersenyum bangga dan membalas ucapan putrinya "Daddy juga menyayangi mu sayang"
"Dan untuk adik ku radit, tak ada yang lebih tau dari kamu.. jika kakak sangat beruntung memiliki adik seperti mu" Tersenyum
Radit membentuk hati yang besar menggunakan tangan nya untuk dira
"Kakek Tama dan nenek tama... Kakek jaya.. aunty syila.. uncle jeremy (suami syila)... Aku sangat beruntung memiliki keluarga seperti kalian yang begitu pengertian dan selalu mendukung ku.."
Mereka pun membentuk hati yang besar untuk dira
"Dan terakhir untuk sahabat ku Lian yang saat ini sedang di USA... Terimakasih banyak sudah mau menjadi teman ku, tak ada yang lebih tau dari mu bagaimana beruntung nya aku memiliki sahabat seperti mu... Lian, kuharap hubungan kita akan selalu terjalin dengan baik sampai kapan pun"
"Aku sangat menyayangi kalian semua... I love you All" Tersenyum
Suara riuh tepuk tangan menggema di seisi auditorium, mereka terharu dengan kisah perjalanan hidup zeela
Zian menoleh kearah istrinya lalu mengecup kening istrinya lembut "Terimakasih sudah mendidik anak-anak kita dengan baik sayang"
"Itu sudah kewajiban ku dad... Aku pun berterima kasih padamu karena sudah menjadi suami yang siaga dan Daddy yang baik untuk anak-anak kita"
"Itu sudah kewajiban ku... I love you sayang
"I love you to Daddy" Mengecup pipi zian
.
.
.
Di sisi lain Lian menangis haru, ia tau betul bagaimana perjuangan Dira untuk bisa berada di posisi ini... Ia begitu bangga pada dira, Dira membuktikan jika ia mampu dan ia bisa seperti nya
"Ayang... Nanti kalau kamu wisuda S2 kamu sebut nama aku juga kan nanti" Tanya Radit pada lian
"Ehh bocah edaann" Ucap syila mencubit pipi Radit
"Iihh apa sih aunty.. sirik ajeee" Kesalnya
.
.
.
.
.
**Vote
like
komen**