Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Ruangan kerja itu mendadak terasa begitu sempit. Milly menahan napas, tidak berani menggerakkan satu otot pun saat ujung jari Arkan perlahan menjauh dari bingkai kacamatanya. Kehangatan yang ditinggalkan pria itu di dekat pelipisnya kontras dengan hawa dingin AC mansion yang menusuk kulit.
"T-Tuan... Anda sedang membuat prediksi tanpa dasar statistik," bisik Milly, mencoba mengembalikan kewarasan dan memungut kembali logikanya yang sempat buyar. "Bagaimana mungkin saya memohon untuk tinggal di tempat yang penuh dengan ancaman bom, penculikan, dan hitung-hitungan denda harian seperti ini?"
Arkan menegakkan tubuhnya kembali. Ia tidak menjauh, melainkan melipat tangan di depan dada sambil menatap Milly dengan keyakinan angkuh yang begitu mutlak.
"Manusia adalah makhluk yang digerakkan oleh habituasi, Millyanita," ucap Arkan, suaranya kembali dingin namun sarat akan penekanan. "Dalam delapan tahun ke depan, setiap aspek hidupmu mulai dari keamanan ibumu, pendidikan adik-adikmu, hingga stabilitas finansialmu akan tersinkronisasi sepenuhnya dengan Mahendra Group. Saat kau terbiasa dengan perlindungan absolut, duniaku yang kau sebut berbahaya ini akan menjadi satu-satunya tempat yang kau definisikan sebagai 'rumah'."
Milly tertegun. Kata-kata Arkan barusan bukan sekadar bualan egois, melainkan sebuah analisis psikologis yang mengerikan. Pria ini tidak berniat mengikatnya dengan rantai besi, ia mengikatnya dengan rasa aman. Sebuah kenyamanan yang sengaja dirancang agar ia tidak bisa lagi melangkah di dunia luar yang penuh ketidakpastian.
"Anda benar-benar manipulatif, Tuan Arkananta," gumam Milly, ada secercah kekaguman yang bercampur dengan rasa ngeri di matanya.
"Aku menyebutnya manajemen retensi aset," sahut Arkan tanpa beban. Ia berbalik, kembali ke balik meja kerjanya dan mengambil sebuah pena mewah berujung emas. "Sekarang, tanda tangani amandemen delapan tahun itu. Jadwal tidurmu sudah terlambat dua puluh menit dari efisiensi sirkadian yang kurekomendasikan."
Milly menarik dokumen di depannya, menatap coretan angka matematika rumit yang puncaknya berakhir pada angka 8 tahun 0 bulan 0 hari datar. Mengembuskan napas panjang, ia menyambar pena dari tangan Arkan. Sentuhan singkat jemari mereka sempat memercikkan ketegangan kecil, namun Milly dengan cepat mengalihkan fokusnya dan membubuhkan tanda tangannya di samping nama besar Arkananta Mahendra.
Sret. Sret.
"Selesai," ucap Milly, menggeser kembali berkas itu. "Delapan tahun. Jangan coba-coba mencari alasan untuk menambahnya lagi besok pagi dengan bunga majemuk, Tuan."
"Tergantung pada indeks kecerobohanmu besok pagi saat gladi bersih kedua," jawab Arkan, matanya melirik sekilas ke arah tanda tangan Milly yang berdampingan dengan miliknya sebelum menutup map tersebut dengan rapi. "Bara sudah menyiapkan jalur alternatif menuju lokasi luar kota. Sisa pengikut Wijaya mungkin sudah bersih, tapi aku mendeteksi adanya pergerakan aneh dari faksi perbankan domestik yang berafiliasi dengan mereka."
Milly bangkit dari kursi direksi, membetulkan letak kacamata bulatnya. "Faksi perbankan? Bukankah Anda sudah memotong seluruh sirkuit investasi mereka tadi siang?"
Arkan mendongak, menatap Milly dengan sepasang mata elangnya yang dalam. "Potongan sirkuit investasi membuat mereka kehilangan likuiditas, yang berarti mereka akan mencoba mencari dana cepat melalui pasar gelap atau... melakukan sabotase pada acara pernikahan kita untuk menurunkan nilai saham Mahendra Group di bursa efek."
Milly merasakan debaran di dadanya kembali berkejaran. Pernikahan ini bukan lagi sekadar sandiwara domestik, melainkan medan perang finansial skala makro di mana dirinya berdiri tepat di tengah-tengah garis bidik.
"Jika begitu... kenapa kita tidak menunda pernikahannya saja?" tanya Milly cemas. "Sampai situasi benar-benar aman seratus persen?"
Arkan menyandarkan punggungnya, sebuah senyuman tipis yang dingin nan menawan terukir di wajah tampannya.
"Menunda pernikahan berarti menunjukkan kelemahan pada pasar, Milly. Dan seorang Mahendra tidak pernah mundur dari jadwal yang telah ditetapkan," ucap Arkan tegas. "Biarkan mereka mencoba menyabotase. Aku justru telah menyiapkan kalkulasi baru untuk menjatuhkan sisa-sisa dari mereka tepat di depan altar pernikahan kita nanti."
Milly menatap ngeri ke arah peta proyeksi bursa saham yang tiba-tiba menyala di dinding ruang kerja Arkan. Garis-garis merah dan hijau bergerak fluktuatif, menampilkan grafik Mahendra Group yang kokoh namun dikelilingi oleh indikator risiko berwarna kuning pekat.
"Kalkulasi menjatuhkan mereka di depan altar?" Milly mengulang kalimat Arkan dengan nada tidak percaya. "Tuan, Anda sedang merencanakan pernikahan atau pertunjukan eksekusi finansial?"
"Keduanya," jawab Arkan lugas tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. "Faksi perbankan yang berafiliasi dengan Wijaya telah mengajukan likuiditas darurat ke pasar gelap internasional malam ini. Mereka menjaminkan sisa saham kosong mereka demi menyewa siber-tentara untuk menyerang sistem keamanan digital katedral dan meretas basis data internal Mahendra tepat saat prosesi tukar cincin."
Arkan memutar penanya, lalu mengetuk meja sekali. "Jika mereka berhasil menciptakan kepanikan massal, saham kita akan terkoreksi sebesar 4,5% dalam waktu tiga puluh menit pertama. Namun, jika kita membiarkan mereka masuk ke dalam protokol jebakan madu yang sudah kusiapkan, sisa aset mereka akan disita secara otomatis oleh sistem hukum internasional dalam waktu kurang dari sembilan puluh detik."
Milly memijat pangkal hidungnya yang terasa pening. Skala masalah pria ini selalu melompati batas imajinasinya sebagai mantan editor video lepasan. "Jadi, saya harus berdiri di sana, mengucap janji, sambil menunggu sistem Anda menyedot habis harta musuh?"
"Tepat. Dan tugasmu hanya satu, Millyanita: jangan pingsan, jangan tersandung, dan tetap pakai gaun berlapis kevlar itu dengan anggun. Biarkan sisa kalkulasinya menjadi urusanku."
Keesokan paginya, seluruh isi mansion Mahendra tampak bergerak dalam kesunyian yang mencekam namun sangat teratur. Tidak ada lagi kehebohan Madam Clarissa, yang ada hanya Bara dan puluhan teknisi keamanan siber yang sibuk memasang enkripsi tambahan pada setiap gawai yang masuk ke dalam perimeter mansion.
Milly berjalan perlahan menuju Paviliun Barat untuk menemui ibunya. Langkah kakinya terasa berat, memikirkan bahwa dalam hitungan hari, statusnya akan berubah menjadi istri dari seorang pria paling berbahaya di dunia korporat.
"Milly," panggil sang ibu lembut saat melihat putrinya berdiri di ambang pintu kamar santai. Beliau sedang melipat beberapa potong pakaian adik-adik panti yang baru selesai dicuci. "Kau tampak pucat, Sayang. Apa Tuan Arkan memberikan terlalu banyak tugas kerja untukmu?"
Milly memaksakan sebuah senyuman, lalu duduk di samping ibunya dan menyandarkan kepalanya di bahu yang terasa hangat itu. "Tidak, Bu. Hanya... agak lelah memikirkan detail acara minggu depan."
"Ibu tahu dunia mereka ini sangat besar dan asing untuk kita," ucap ibunya pelan, mengusap rambut Milly dengan penuh kasih sayang. "Tapi setiap kali Ibu melihat Tuan Arkan menatapmu, Ibu tahu dia bukan pria yang akan membiarkan seujung rambutmu pun terluka. Dia mungkin kaku seperti batu, tapi batu yang kokoh bisa menjadi fondasi rumah yang paling aman, Milly."
Milly terdiam, merenungkan kata-kata ibunya. Fondasi rumah yang paling aman.
Sore harinya, Milly kembali ke bangunan utama untuk mengambil beberapa dokumen tambahan di ruang tengah. Saat melewati koridor dekat ruang kerja, ia melihat pintu kamar Arkan sedikit terbuka. Di dalam sana, Arkan sedang berdiri di depan jendela besar, menatap lurus ke arah matahari terbenam dengan gawai satelit di tangannya.
"Pastikan seluruh dana lindung nilai diaktifkan begitu pengantin wanita melangkah di altar," perintah Arkan ke dalam sambungan telepon, suaranya terdengar dingin namun penuh keyakinan. "Pernikahan ini harus berjalan tanpa toleransi kesalahan tunggal. Aku tidak akan membiarkan apa pun merusak masa depan yang sudah kukunci untuk delapan tahun ke depan."
Milly mundur selangkah, tidak ingin mengganggu konsentrasi pria itu. Ia menyentuh cincin zamrud di jarinya yang berkilau di bawah temaram lampu lorong. Kontrak delapan tahun itu telah ditandatangani, dan entah skenario gila apa lagi yang menantinya di depan altar nanti, Milly tahu ia tidak lagi memiliki jalan untuk mundur.