PERINGATAN!! HANYA UNTUK DEWASA.
Mina terbangun dari tidurnya dan mendapati dirinya berbaring di atas ranjang empuk dan lembut, perlahan Mina pun menyadari jika dirinya telah menjalani transmigrasi seutuhnya pada tubuh seorang wanita yang menjadi ibu tiri jahat.
Mina yang memiliki hati selembut Hello Kitty mana berani melakukan kekerasan pada anak kecil, apalagi pada anak lucu yang menjadi anak tirinya, Mina pun mengambil keputusan jika dirinya akan menjadi ibu tiri yang baik untuk mengambil hati anak tirinya, nyatanya bukan hanya anak tirinya yang terpikat. Bahkan suami dari pemilik tubuh ini malah terpikat padanya, Mina yang maniak pria tampan jadi bingung dengan posisinya saat ini.
Apa yang harus Mina lakukan? Tanpa sadar suaminya telah terpikat pada Mina, padahal tujuan Mina hanyalah mengambil hati anak tirinya bukan suaminya itu? Ikuti kisah selanjutnya, selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggil Aku Mina
Sudah seminggu penuh berlalu sejak insiden menegangkan di dapur malam itu, dan Arsenio masih berada di luar negeri. Sepertinya pria itu benar-benar sangat betah menghabiskan waktunya di sana. Ya, meskipun Mina tahu dari berita ekonomi dan desas-desus di rumah bahwa tujuan utama suaminya adalah untuk bekerja dan mengurus ekspansi bisnis, tetap saja menurut Mina ini sudah keterlaluan.
"Gila ya itu si kulkas berjalan. Tega-teganya dia ninggalin putra kandungnya di sini sendirian sama gue, yang di matanya jelas-jelas punya rekam jejak sebagai ibu tiri kejam yang suka menyiksa anak, batin Mina sambil menggeleng-gelengkan kepalanya heran. Jika Alicia yang asli masih ada di tubuh ini, entah apa yang akan terjadi pada Gino selama seminggu ini. Arsenio benar-benar pria yang terlalu fokus pada pekerjaan sampai-sampai abai pada keselamatan anaknya sendiri." umpat Mina dalam hati.
Untungnya, tiga pelayan bermuka dua yang kedapatan bersekongkol mengabaikan dan meracuni Gino tempo hari kini sudah dipecat secara tidak hormat. Bahkan dari gosip yang didengar Mina melalui kepala pelayan, mereka bertiga kemungkinan besar sudah dijebloskan ke dalam penjara atas perintah dingin Arsenio sebelum pria itu terbang ke London. Kini, di dalam penthouse megah itu, hanya tersisa tiga orang pelayan yang benar-benar setia, termasuk Sarah yang bertugas membantu keperluan dapur, serta Pak Heru, sang sopir paruh baya.
Bicara soal Pak Heru, pria tua itu sekarang sudah resmi beralih tugas menjadi sopir pribadi Mina. Tentu saja perpindahan tugas ini terjadi bukan karena kemauan Pak Heru sendiri, melainkan atas paksaan dan ancaman ekstrem dari Mina beberapa hari yang lalu.
Mina ingat betul bagaimana dia menatap Pak Heru dengan pandangan tajam yang dibuat-buat, lalu berkata.
"Pak Heru, mulai hari ini bapak harus jadi sopir pribadi saya. Pokoknya ke mana pun saya pergi, bapak yang anter. Kalau bapak menolak atau macam-macam, saya bakal siksa Gino lagi kayak dulu! Mau bapak lihat Gino nangis kejer tiap hari?"
Nyatanya, ancaman konyol itu sangat mujarab. Pak Heru yang sangat menyayangi Gino langsung pucat pasi dan menyetujui perintah Mina dengan tubuh gemetaran. Padahal, di dalam hatinya, Mina tertawa terbahak-bahak. Dia kan hanya bercanda! Mana tega jiwa Mina yang penyayang anak kecil ini menyiksa bocah semenggemaskan Gino? Jangankan menyiksa, melihat Gini bersin saja Mina sudah panik setengah mati mencari minyak telon.
Sayangnya, wajah tampan Gino itu benar-benar jiplakan mutlak dari Arsenio. Dari bentuk alisnya yang tegas, hidung mancungnya, hingga garis rahangnya, semuanya mirip dengan si pria kaku itu. Mungkin hanya bola mata bulat Gino yang sedikit berbeda dari mata abu-abu dingin milik Arsenio. Mina menebak, bagian mata itu pasti turunan dari gen emak kandungnya yang kabur itu.
Saat ini, Mina tengah berdiri di depan cermin besar kamarnya, bersiap-siap untuk pergi keluar. Dia memilih mengenakan dress berwarna butter cream yang manis, dengan hiasan rajutan berwarna merah menyala di bagian dada dan ujung lengan. Dress ini sangat sesuai dengan selera Mina; terlihat santai, feminin, namun tetap memberikan kesan ceria yang berjiwa bebas.
Di pinggiran ranjang king size, tampak Gino duduk dengan tenang menunggunya. Bocah tiga tahun itu sudah didandani dengan sangat rapi oleh Mina. Gino mengenakan kaos polos yang warnanya senada dengan dress butter cream milik Mina, dipadukan dengan celana pendek selutut berwarna putih bersih, lengkap dengan kaos kaki dan sepatu putih mini.
"Aduh, anak Mama ganteng banget sih! Gemes banget, pengen Mama karungin rasanya!" seru Mina heboh, berbalik dari cermin lalu mencubit kedua pipi gembil Gino hingga bocah itu tertawa terkekeh-kekeh.
"Mama... Ino cudah lapi! Kita mau kemana, Mama?" tanya Gino dengan suaranya yang sekarang sudah sangat ceria, banyak bicara, dan tidak gagap lagi seperti dulu.
Hari ini Mina memang berencana mau membawa Gino jalan-jalan ke taman kota yang tidak jauh dari kompleks apartemen mereka.
"Hari ini kita mau jalan-jalan ke taman, Sayang. Di sana nanti banyak rumput hijau, ada balon, ada es krim, terus ada banyak anak kecil lain yang lagi main. Gino mau, kan?"
Mendengar kata taman dan es krim, sepasang mata bulat Gino langsung berbinar-binar penuh semangat.
"Mau, Mama! Ino mau main bola di taman!" serunya riang sambil menepuk-nepuk kedua tangan mungilnya. Mina tersenyum puas. Bagaimanapun, berbaur dengan lingkungan luar dan melihat orang lain sangat bagus untuk tumbuh kembang dan pemulihan psikologis Gino setelah sekian lama dikurung di dalam rumah.
Setelah memastikan semuanya siap, Mina menyampirkan tas kecilnya di bahu, lalu menggandeng erat tangan mungil Gino yang hangat. Mereka berjalan keluar dari unit penthouse menuju lift privat. Begitu pintu lift terbuka di lobi utama bangunan apartemen mewah tersebut, sosok Pak Heru sudah berdiri tegap di samping mobil alphard hitam yang mengilat, menunggu kedatangan mereka berdua.
"Selamat sore, Nyonya, Den Gino," sapa Pak Joko dengan sikap hormat, meskipun matanya sempat melirik Mina dengan sedikit pandangan waswas karena teringat ancaman tempo hari.
"Sore, Pak Heru. Ayo kita langsung ke taman kota yang paling adem ya, Pak," jawab Mina santai dengan senyuman lebarnya yang khas.
Pak Heru dengan sigap membukakan pintu penumpang. Mina membantu Gino naik terlebih dahulu ke dalam kabin mobil yang luas, sebelum dirinya menyusul duduk di samping sang putra tiri. Setelah pintu tertutup otomatis dan mobil mulai membelah jalanan kota yang cukup ramai, Mina tiba-tiba menoleh ke arah Gino dengan raut wajah yang mendadak serius.
"Gini, dengerin Mama sebentar," kata Mina, mensejajarkan wajahnya dengan wajah polos Gini.
"Kenapa, Mama?" Leo mengerjapkan matanya, bingung melihat perubahan ekspresi ibu tirinya.
"Nanti kalau kita udah sampai di taman, terus di sana ada orang asing yang nanya, atau kalau Gino mau panggil Mama... Gino gak boleh panggil 'Mama' ya," ucap Mina santai namun penuh penekanan.
Gino langsung memiringkan kepalanya, dahi kecilnya berkerut tanda kebingungan yang amat sangat.
"Kenapa? Mama kan Mamanya Ino?" tanyanya polos, suaranya terdengar sedikit sedih karena mengira Mina tidak mau diakui sebagai ibunya lagi.
Mina memutar otak cerdiknya ,mencari alasan yang paling instan agar bocah pintar ini menuruti perkataannya tanpa banyak protes.
"Bukan gitu, Sayang. Masalahnya, wajah Mama ini kan terlalu imut, terlalu cantik, dan kelihatan kayak anak remaja umur tujuh belas tahun. Jadi, kalau di luar rumah nanti Gino panggil Mama dengan sebutan 'Mama', orang-orang bakal mengira Gino itu adik Mama. Nah, kalau ketahuan Gino itu anak Mama..." Mina menjeda kalimatnya, memasang wajah misterius yang menakut-nakuti.
"Nanti Gino bisa diculik sama monster taman karena dikira anak ilang!"
Mendengar kata "diculik" dan "monster taman", sepasang mata bulat Gino langsung melebar sempurna karena ketakutan. Tubuh mungilnya agak merapat ke arah tubuh Mina, mencengkeram ujung dress butter cream wanita itu dengan erat.
"Diculik? Ino idak mau diculik monstel, Mama!" cicitnya ketakutan.
Mina mati-matian menahan tawa melihat reaksi berlebihan dari anak tirinya.
"Makanya, biar Gino aman dan gak diculik, nanti kalau di luar rumah, Gino panggil Mama dengan sebutan 'Kakak Mina' aja, oke? Paham, Anak Pintar?"
Gino yang pada dasarnya adalah anak yang sangat penurut dan pintar langsung mengangguk-angguk pasrah dengan cepat, wajah menggemaskannya terlihat sangat serius demi menghindari penculikan imajiner tersebut.
"I-Iya, K-Kakak Mina! Ino panggil Kakak bial idak diculik!" sahut bocah itu dengan patuh.
Sementara itu, di kursi kemudi depan, Pak Heru yang sejak tadi mendengarkan seluruh percakapan absurd antara majikan dan anak majikannya melalui kaca spion tengah hanya bisa mengurut dada. Pria tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya, benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang nyonya besar yang sekarang.
"Gusti... Nyonya Alicia sekarang bener-bener berubah total jadi aneh begini," batin Pak Heru dengan wajah pasrah, menatap jalanan di depannya.
"Bisa-bisanya anak sekecil Den Gini ditakut-takuti bakal diculik cuma gara-gara masalah panggilan? Sungguh di luar dugaan. Tapi ya sudahlah... yang penting Den Gino kelihatan bahagia dan gak disiksa lagi." gumannya pelan dan hanya dia sendiri yang dengar.
Pak Heru hanya bisa menghela napas dalam-dalam, membiarkan mobil terus melaju menuju taman, sementara di kursi belakang, Mina sudah kembali asyik mengajak Gino bercanda dan bernyanyi bersama seolah tidak ada beban apa pun di pundaknya.
Bersambung....
Kalian pernah nggak seperti Mina?😭 Suruh anak sendiri manggil kakak.🤣
semngat update lagi ya kak