Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 30 Darah Dan Integritas|
...|Legacy of Soryu|...
......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......
Shu menekan sepatu botnya lebih keras ke punggung Davian, membuat asisten itu mengaduh tertahan di lantai semen. Matanya tidak lepas dari Bara yang kini berdiri dengan tangan terikat tali di hadapannya.
"Nana," Shu memulai dengan nada rendah yang terdengar berbahaya. "Adikku..."
"Kau masuk ke kampusnya. Menggunakan nama palsu," lanjut Shu. Suaranya mulai naik satu oktav. "Lalu kau mengajaknya ke tangga darurat ke tempat sepi di jam makan siang. Kau pikir aku tidak tahu?"
"Videonya tersebar, Soryu! Seluruh kampus kini membicarakannya!" Shu berteriak tepat di depan wajah Bara. "Adikku sekarang depresi. Dia tidak mau keluar kamar, tidak mau makan, bahkan takut melihat ponselnya sendiri. Sejak kejadian itu, dia selalu menangis setiap malam karena ulahmu!"
Shu mencengkeram kerah jaket Bara, menariknya kasar hingga mereka berhadapan sangat dekat. "Katakan sesuatu, Bajingan! Kau menghancurkan reputasinya!"
"Aku tidak akan minta maaf," ucap Bara tenang. Suaranya stabil, tanpa getaran sedikit pun. "Karena maaf tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi."
Shu tertegun sejenak, tangannya yang mencengkeram kerah Bara sedikit melonggar karena terkejut dengan jawaban tersebut. Ia mengharapkan pembelaan diri atau permohonan ampun, bukan kejujuran yang dingin.
"Tapi aku akan bertanggung jawab," lanjut Bara. "Aku yang memulai skandal itu. Aku yang membawanya ke tempat itu, dan aku yang gagal mengantisipasi risikonya."
Shu tertawa sinis, lalu melepaskan cengkeramannya hingga Bara sedikit terhuyung. "Tanggung jawab? Kau pikir uang Soryu-mu bisa membeli kembali kesehatan mental adikku? Kau pikir kau siapa?"
"Aku tahu siapa aku," balas Bara. "Dan aku tahu apa yang telah kulakukan."
Shu berjalan mengelilingi Bara, mengamati musuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
"Kau tahu, aku sudah siap untuk menghancurkan pria di video itu. Aku sudah membayangkan bagaimana rasanya mematahkan setiap tulangmu. Tapi kau... kau terlalu tenang. Bahkan dengan tangan terikat dan nyawamu di ujung tanduk, kau masih tetap tenang? Itu tidak wajar."
"Aku sudah terbiasa dengan ancaman," sahut Bara singkat.
"Ancaman?" Shu berhenti tepat di belakang Bara. "Kau menganggap ini hanya ancaman harianmu?"
"Setiap hari dalam hidupku adalah ancaman, Shu Hades. Ini bukan hal baru."
Shu kembali berdiri di depan Bara, wajahnya memerah karena emosi yang meluap. "Kau menyakiti anak baik! Nana tidak pernah menyakiti siapa pun dalam hidupnya! Dan kau datang dengan rencana kotormu itu untuk menghancurkannya!"
"Aku sengaja mendekatinya," Bara mengakui, matanya menatap lurus ke arah Shu. "Tapi aku tidak pernah berniat menyakitinya."
"TIDAK BERNIAT?! TAPI KAU MELAKUKANNYA!" Shu menghantamkan tinjunya ke tembok di sebelah kepala Bara. "Apa motifmu, hah? Kenapa harus adikku yang kau incar?!"
"Wakadanna, bilang saja! Beritahu dia kalau itu semua salah paham! Mintalah maaf!" ucap Davian yang masih di bawah.
Bara melirik Davian sekilas, lalu kembali menatap Shu. "Tidak."
"Kenapa kau begitu keras kepala?!" Shu membentak lagi. "Satu kata maaf mungkin bisa meredam emosiku, tapi kau malah memilih untuk bersikap sombong!"
"Karena permintaan maaf adalah hal termudah yang bisa dilakukan oleh seorang pengecut," jawab Bara. "Permintaan maaf tidak akan menghapus video itu. Aku lebih memilih menerima kebencianmu daripada memberikan sekedar kalimat kosong."
Shu mengerutkan kening. Amarahnya yang meluap-luap perlahan berubah menjadi kebingungan yang nyata. Ia menatap Bara dengan seksama.
"Kau pria yang aneh," gumam Shu. "Kau tidak seperti monster yang digambarkan ayahku."
"Aku memang monster," potong Bara. "Hanya saja, aku punya standar sendiri dalam bersikap."
Shu merogoh pisau lipatnya lagi, menempelkan ujung tajamnya ke dagu Bara. "Kenapa kau tidak melawan? Aku tahu kemampuan orang-orang Soryu. Empat orangku bukan tandinganmu, bahkan dengan tangan terikat."
"Bisa saja aku melakukannya," ujar Bara datar.
"Lalu kenapa tidak?"
Bara menatap Shu dengan tatapan yang sangat dalam. "Karena aku tidak ingin menyakiti siapa pun yang memiliki hubungan darah dengan Nana. Aku sudah cukup memberikan luka padanya, aku tidak ingin menambahnya dengan melukai kakaknya."
Shu tertegun sejenak. Kalimat Bara seolah menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik. Keheningan yang mencekam menyelimuti gudang tua itu, sebelum akhirnya suara langkah kaki Andrew mendekat, memecah ketegangan.
"Tuan Muda Shu," sela Andrew dengan nada datar namun mendesak. "Saya perlu mengingatkan Anda pada tujuan awal kita. Kita di sini bukan untuk bersimpati atau mendengarkan filosofi omong kosongnya. Keluarga Soryu harus membayar harga yang setimpal atas apa yang terjadi pada Nona Nana. Waktu kita tidak banyak."
Mendengar ucapan Andrew, rahang Shu kembali mengeras. Kata-kata "tujuan awal" seolah memicu sakelar amarah di dalam kepalanya. Rasa hormat yang sempat muncul sesaat tadi langsung hangus terbakar oleh ego dan rasa protektifnya yang berlebihan terhadap adiknya.
"Kau benar, Andrew," desis Shu. Ia melipat pisau lipatnya dengan sentakan kasar dan menyimpannya di saku.
Shu kembali menatap Bara, tapi kali ini matanya merah padam oleh kemarahan yang murni. "Kau bicara seolah-olah kau adalah martir? Kau pikir dengan tidak melawan, kau jadi pahlawan di mata Nana?!"
BUGH!
Tanpa aba-aba, Shu melayangkan pukulan mentah ke pipi kiri Bara. Kepala Bara terhentak ke samping, namun ia tidak mengeluarkan suara.
"Ini untuk setiap air mata yang jatuh dari mata adikku!" teriak Shu.
BUGH!
Pukulan kedua mendarat di sisi kanan wajah Bara. Sudut bibir Bara pecah, mengalirkan cairan merah kental yang kontras dengan kulit pucatnya.
"Wakadanna! Tolong Hentikan! Tuan Shu, berhenti!" teriak Davian histeris dari bawah kaki Shu. "Jangan pukul dia lagi! Dia tidak melawan!"
Shu tidak menghiraukannya. Ia mencengkeram rambut Bara, memaksa pria itu mendongak untuk menatapnya. "Kenapa diam saja?! Lawan aku, Soryu! Tunjukkan monster yang kau banggakan itu!"
BUGH! BUGH!
Dua pukulan beruntun kembali mendarat di rahang dan pipi Bara. Wajah Bara yang biasanya rapi dan sempurna kini mulai dihiasi lebam biru yang membengkak dengan cepat. Darah dari bibirnya kini menetes ke jaket dan kausnya, namun Bara tetap menatap Shu dengan sorot mata yang sama-tenang dan tak gentar sama sekali.
"Kau... hanya pengecut yang bersembunyi di balik nama besar," cerca Shu, suaranya parau karena emosi. Ia kembali melayangkan pukulan terakhir yang sangat keras hingga Bara jatuh berlutut, napasnya mulai tersengal namun matanya tetap terbuka.
Bara meludah ke samping, membersihkan sisa darah di mulutnya. "Sudah selesai?" tanyanya dengan suara serak.
Shu berdiri di depan Bara, tangan kanannya gemetar dan buku jarinya lecet kemerahan. Ia menatap wajah Bara yang hancur, namun merasa kalah karena tidak berhasil mematahkan mental pria di hadapannya.
"Belum," jawab Shu terengah-engah. "Ini bahkan belum dimulai."
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉